Ada orang yang ketika punya masalah tidak cukup puas menyelesaikannya dengan orang yang menjadi sumber masalah itu. Ia merasa perlu bercerita kepada orang lain. Mula-mula kepada satu orang yang dianggap dekat, lalu kepada orang lain yang dipercaya. Ceritanya pun berjalan. Bukan sebagai cerita yang utuh, sebab yang dibawa biasanya hanya bagian yang paling mengganggu perasaan: ucapan seseorang, perlakuan yang dianggap menyakitkan, atau kejadian yang masih membuatnya kesal ketika diingat. Dari situlah sebuah persoalan mulai mempunyai kehidupan di luar orang-orang yang semula mengalaminya.(Source: kosapoin.com/pengusiran-yang-tidak-pernah-terjadi)
Tidak seorang pun yang mendengar berada di tempat kejadian. Ia tidak tahu apa yang terjadi sebelum pertengkaran, bagaimana percakapan itu bermula, atau apa yang membuat seseorang sampai mengucapkan kalimat tertentu. Yang sampai kepadanya hanyalah satu sisi, lalu dari sana tumbuh sebuah kesan. Besok ketika bertemu dengan orang yang namanya ada dalam cerita, ia sudah mempunyai sesuatu di kepalanya. Belum tentu ia mempercayai semuanya. Namun kewaspadaan sudah terpasang. Cara orang itu berbicara diperhatikan. Candaan yang biasanya lewat begitu saja bisa terasa berbeda. Hal kecil yang dahulu tidak berarti mulai dicari hubungannya dengan cerita yang pernah didengar.(Source: kosapoin.com/pengusiran-yang-tidak-pernah-terjadi)
Perubahan semacam itu jarang datang dengan bunyi yang keras. Tidak ada yang mengatakan seseorang harus dijauhi. Hanya ada percakapan yang mendadak lebih pendek, ajakan yang mulai jarang, atau pertemuan yang diketahui setelah semuanya selesai. Ketika terjadi sekali, orang masih bisa menganggapnya kebetulan. Setelah berulang, ia mulai merasa ada sesuatu yang tidak sedang dibicarakan kepadanya. Lingkungannya masih sama, orang-orangnya masih sama, tetapi cara mereka memperlakukannya sudah tidak lagi sama.(Source: kosapoin.com/pengusiran-yang-tidak-pernah-terjadi)
Kalimat sederhana sering menjadi pintu masuknya. “Saya hanya ingin kamu tahu.” Atau, “Saya tidak mau ikut campur, tapi sebaiknya kamu hati-hati.” Tidak ada larangan di sana. Tidak pula ada perintah untuk menjauh. Namun orang yang mendengarnya pulang membawa pertimbangan baru yang sebelumnya tidak ia punya. Ketika bertemu dengan orang yang diceritakan, ia mulai melihat dengan kewaspadaan yang sudah lebih dulu ditanamkan. Sesuatu yang tadinya biasa dapat terasa ganjil hanya karena sekarang ia tahu harus mencurigainya.(Source: kosapoin.com/pengusiran-yang-tidak-pernah-terjadi)
Cerita kemudian berpindah dari mulut ke mulut dan tidak pernah benar-benar tinggal dalam bentuk semula. Ada kata yang berubah, ada bagian yang terlupa, ada kesimpulan yang ikut masuk tanpa disadari. Orang terakhir yang mendengarnya mungkin sudah tidak tahu siapa yang pertama kali bercerita. Ia hanya tahu bahwa seseorang dianggap bermasalah. Di titik itu, cerita tidak lagi bergantung kepada orang yang memulainya. Ia sudah menjadi pengetahuan bersama, meskipun tidak seorang pun benar-benar mengalami kejadian yang menjadi sumbernya.(Source: kosapoin.com/pengusiran-yang-tidak-pernah-terjadi)
Baru setelah beberapa kali tidak diajak, seseorang biasanya mulai menyadari perubahan itu. Teman yang dulu mudah diajak bicara sekarang seperti menjaga jarak. Orang yang biasanya menghubungi tiba-tiba tidak pernah muncul. Ketika datang ke sebuah tempat, beberapa orang mendadak sibuk dengan telepon atau percakapan masing-masing. Pertanyaan sederhana pun sering dijawab dengan kalimat yang sama: tidak ada masalah, biasa saja, jangan dipikirkan. Ia pulang membawa jawaban yang tidak menjelaskan apa-apa.(Source: kosapoin.com/pengusiran-yang-tidak-pernah-terjadi)
Pikiran kemudian bergerak ke arah yang tidak menyenangkan. Barangkali ia memang melakukan kesalahan. Barangkali ada ucapan yang tidak ia ingat. Ia memeriksa kembali percakapan lama, mencoba menemukan titik yang mungkin menjadi awal perubahan. Sementara itu, orang-orang lain sudah lebih dulu mempunyai kesimpulan tentang dirinya. Ia sibuk mencari kejadian, sedangkan lingkungan sudah sibuk mengurus kesan.(Source: kosapoin.com/pengusiran-yang-tidak-pernah-terjadi)
Pada keadaan seperti itu, persoalan pribadi dapat berubah menjadi kudeta sosial. Seseorang tidak perlu diusir dari sebuah ruangan untuk kehilangan tempatnya. Cukup jika orang-orang yang biasa menyediakan tempat itu mulai menahannya. Kursinya masih ada, tetapi tidak lagi ditawarkan. Namanya masih dikenal, tetapi tidak lagi dicari. Ia masih boleh hadir, hanya saja kehadirannya tidak lagi disambut dengan kelonggaran yang sama. Secara resmi tidak terjadi apa-apa. Secara sosial, sesuatu telah dicabut darinya.(Source: kosapoin.com/pengusiran-yang-tidak-pernah-terjadi)
Masalah menjadi lebih rumit ketika orang yang dijauhi mulai bereaksi. Ia marah karena merasa diperlakukan tidak adil. Ia bertanya mengapa orang-orang berubah. Ia mungkin menuntut penjelasan. Kemarahan itu kemudian terlihat tanpa sebab yang mendahuluinya. Orang-orang hanya melihat seseorang yang sedang marah dan merasa cerita yang pernah mereka dengar mendapatkan pembenaran. Sejak saat itu, diam dapat dicurigai, penjelasan dianggap pembelaan diri, dan menjauh pun bisa dibaca sebagai tanda bersalah. Satu cerita telah menyediakan tafsir untuk hampir semua tindakannya.(Source: kosapoin.com/pengusiran-yang-tidak-pernah-terjadi)
Bentuk manipulasi seperti ini tidak selalu membutuhkan kebohongan. Ancaman pun tidak diperlukan. Satu pengalaman buruk yang diceritakan berulang kali sudah cukup untuk membuat orang merasa mengenal seseorang yang sebenarnya tidak pernah mereka alami sendiri. Pengaruhnya justru menjadi kuat ketika keputusan untuk menjauh terasa seperti keputusan pribadi. Orang merasa sedang menjaga diri, padahal sebelum keputusan itu dibuat, sudah ada cerita yang menentukan apa yang layak dicurigai dan siapa yang sebaiknya dihindari.(Source: kosapoin.com/pengusiran-yang-tidak-pernah-terjadi)
Luka yang dibawa seseorang ke dalam percakapan bisa saja nyata. Ia mungkin benar-benar disakiti, kecewa, atau diperlakukan buruk. Tidak ada yang perlu menyangkal kemungkinan itu. Yang berubah adalah ketika luka tersebut mulai menentukan bagaimana orang lain harus memandang seseorang yang tidak sedang berbicara di hadapan mereka. Pengalaman pribadi yang semula hanya menjadi beban bagi satu orang telah memperoleh kekuasaan atas hubungan banyak orang.(Source: kosapoin.com/pengusiran-yang-tidak-pernah-terjadi)
Dari sana, lingkungan dapat bergerak tanpa pernah merasa sedang membuat keputusan bersama. Ada yang memilih aman karena takut ikut terseret. Ada yang mengikuti sikap kelompok karena tidak ingin menjadi satu-satunya orang yang masih dekat. Ada yang sebenarnya tidak tahu banyak, tetapi merasa lebih baik tidak bertanya. Satu orang mundur sedikit, yang lain mengikuti, kemudian yang lain lagi. Tidak ada rapat. Tidak ada keputusan tertulis. Namun jarak yang dilakukan bersama-sama akhirnya mempunyai akibat yang sama seperti sebuah larangan.(Source: kosapoin.com/pengusiran-yang-tidak-pernah-terjadi)
Yang aneh, setelah semua berlangsung cukup lama, hampir tidak ada yang merasa sebagai pelakunya. Orang pertama dapat berkata bahwa ia hanya bercerita. Yang lain hanya mendengar. Yang berikutnya hanya menjaga jarak. Orang setelahnya hanya mengikuti keadaan. Masing-masing mempunyai alasan yang terasa masuk akal ketika berdiri sendiri. Tetapi ketika semuanya terjadi terhadap orang yang sama, alasan-alasan kecil itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar: seseorang kehilangan tempatnya di antara orang-orang tanpa pernah ada yang merasa telah mengeluarkannya.(Source: kosapoin.com/pengusiran-yang-tidak-pernah-terjadi)
Di situlah kudeta sosial menemukan bentuknya yang paling halus. Tidak ada pintu yang dibanting di hadapan seseorang. Yang terjadi justru lebih sunyi: pintu-pintu yang dahulu terbuka mulai dibiarkan tertutup. Ia masih boleh datang, masih boleh menyapa, masih boleh duduk. Hanya saja, orang-orang yang dahulu membuatnya merasa berada di antara mereka tidak lagi melakukan hal-hal kecil yang dulu membuatnya merasa demikian. Ketika ia bertanya apa kesalahannya, tidak ada satu keputusan yang bisa ditunjukkan, tidak ada satu orang yang merasa bertanggung jawab. Lingkungan telah bergerak sedikit demi sedikit, sampai seseorang tersingkir tanpa pernah merasa dirinya pernah diusir. [](Source: kosapoin.com/pengusiran-yang-tidak-pernah-terjadi)









