FILOSOFI ‘NATA SALIRA’ MENUJU ‘NATA NAGARA’ DALAM KONSEP IDUL QURBAN

FILOSOFI NATA SALIRA MENUJU NATA NAGARA DALAM KONSEP IDUL QURBAN 1

Di tengah gegap gempita Idul Adha, tak jarang qurban hanya berhenti sebagai ritual tahunan: membeli kambing, menyembelih sapi, membagikan daging, lalu selesai. Padahal, di balik darah yang mengalir dan gema takbir yang berkumandang, tersimpan satu pesan besar tentang bagaimana manusia seharusnya membangun dirinya, masyarakatnya, bahkan negaranya.

Dalam khazanah kearifan Nusantara, khususnya tradisi Sunda, terdapat tiga konsep penting: nata salira, nata waluya, dan nata negara. Ketiganya bukan sekadar ungkapan budaya, melainkan filsafat hidup tentang bagaimana manusia membangun peradaban secara bertahap: menata diri, menata kesejahteraan bersama, lalu menata negara.

Menariknya, seluruh tahapan itu sesungguhnya tercermin sangat kuat dalam filosofi qurban.

Qurban dan Krisis Manusia Modern

Hari ini, dunia justru mengalami krisis pengorbanan. Banyak orang ingin dihormati tanpa mau berjuang, ingin kaya tanpa proses, ingin berkuasa tanpa pengabdian. Kita hidup di zaman ketika manusia berlomba memperbesar kepentingan diri sendiri.

Media sosial menjadi contoh paling nyata. Banyak orang rela mempertontonkan kesalehan, tetapi enggan berbagi. Ada yang sibuk memamerkan hewan qurban dengan sudut kamera terbaik, tetapi lupa bahwa inti qurban bukan pada dokumentasi, melainkan pengendalian ego.

Di titik inilah konsep nata salira menjadi relevan.

Qurban pertama-tama adalah proses menata diri. Nabi Ibrahim AS tidak diuji dengan sesuatu yang ia benci, tetapi justru dengan sesuatu yang paling ia cintai. Artinya, pengorbanan sejati selalu berkaitan dengan kemampuan manusia mengalahkan dirinya sendiri.

Maka, qurban bukan sekadar menyembelih kambing, melainkan menyembelih keserakahan, egoisme, dan nafsu kekuasaan dalam diri manusia.

Kita bisa melihat realitas hari ini: korupsi merajalela bukan karena kurangnya orang pintar, tetapi karena gagalnya manusia menata dirinya. Banyak pejabat memiliki pendidikan tinggi, memahami hukum, bahkan hafal ayat agama, tetapi tetap mencuri uang rakyat. Di sinilah problem bangsa sebenarnya: krisis nata salira.

Sebab manusia yang tidak mampu mengendalikan dirinya akan menggunakan jabatan untuk memperkaya diri, bukan melayani masyarakat.

Dari Qurban Menuju Solidaritas Sosial

Setelah manusia mampu menata dirinya, qurban bergerak menuju dimensi sosial: nata waluya.

Dalam tradisi Islam, daging qurban tidak boleh dinikmati sendiri. Ia harus dibagikan. Ada pesan penting di sini: kebahagiaan tidak boleh dimonopoli.

Qurban mengajarkan bahwa kesejahteraan sosial dibangun melalui distribusi, bukan penumpukan.

Ironisnya, dunia modern justru bergerak sebaliknya. Segelintir orang menguasai kekayaan berlimpah, sementara sebagian masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Ketimpangan sosial semakin nyata: gedung pencakar langit berdiri megah, tetapi di bawahnya masih ada rakyat yang berebut bantuan sembako.

Karena itu, qurban sejatinya adalah kritik terhadap individualisme ekonomi.

Di kampung-kampung, kita masih melihat nilai luhur qurban bekerja secara nyata. Saat Idul Adha, warga bergotong royong memotong hewan, membagikan daging tanpa memandang pilihan politik, status sosial, bahkan agama. Ada rasa persaudaraan yang lahir dari kebersamaan.

Momentum seperti ini memperlihatkan bahwa harmoni sosial tidak selalu dibangun oleh pidato elite atau program negara yang rumit, tetapi justru dari kesediaan manusia berbagi.

Di sinilah nata waluya menemukan maknanya: menghadirkan keselamatan, kesejahteraan, dan ketenteraman bersama.

Ketika Negara Kehilangan Semangat Qurban

Puncak dari seluruh filosofi itu adalah nata negara.

Negara yang sehat sesungguhnya dibangun di atas semangat pengorbanan, bukan kerakusan. Jabatan publik seharusnya dipahami sebagai amanah untuk melayani rakyat, bukan alat memperkaya kelompok sendiri.

Namun realitas politik kita sering bergerak sebaliknya. Banyak elite berbicara tentang rakyat saat kampanye, tetapi melupakan rakyat setelah memperoleh kekuasaan. Anggaran publik diperebutkan, proyek dijadikan bancakan, dan kebijakan sering kali lebih melindungi kepentingan oligarki dibanding masyarakat kecil.

Padahal, filosofi qurban mengajarkan bahwa semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula pengorbanan yang harus ia berikan.

Pemimpin ideal bukan yang paling banyak dilayani, tetapi yang paling siap berkorban untuk rakyatnya.

Dalam sejarah Islam, Umar bin Khattab pernah berkata bahwa jika ada seekor keledai terperosok di Irak karena jalan rusak, ia khawatir akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Pernyataan itu menunjukkan bahwa kekuasaan dipahami sebagai tanggung jawab moral, bukan privilese.

Sayangnya, politik modern sering kehilangan dimensi etik semacam itu.

Akibatnya, negara menjadi gaduh bukan karena kurang aturan, melainkan karena minim keteladanan pengorbanan.

Qurban sebagai Jalan Peradaban

Karena itu, Idul Adha seharusnya tidak berhenti sebagai ritual tahunan. Ia harus menjadi momentum refleksi kebangsaan.

Bangsa ini tidak kekurangan orang cerdas. Indonesia juga tidak miskin sumber daya. Yang sering hilang justru adalah semangat pengorbanan demi kepentingan bersama.

Padahal, peradaban besar selalu lahir dari manusia-manusia yang rela memberi, bukan sekadar mengambil.

Maka, filosofi qurban sesungguhnya dapat dibaca sebagai jalan membangun bangsa:

  • menata diri agar tidak dikuasai keserakahan (nata salira),
  • membangun solidaritas sosial agar kesejahteraan dirasakan bersama (nata waluya),
  • lalu menghadirkan negara yang adil dan berkeadaban (nata negara).

Di titik itulah qurban menemukan maknanya yang paling dalam: bukan hanya ibadah tentang hewan yang disembelih, melainkan tentang manusia seperti apa yang ingin dibentuk oleh sebuah peradaban.

SARAPAN PAGI
Baca Tulisan Lain

SARAPAN PAGI

Dykasakti Azhar Nytotama

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *