Teater yang Kehilangan Percakapan

Teater yang Kehilangan Percakapan

Ada ironi yang perlahan mengendap dalam kehidupan teater Indonesia hari ini. Di berbagai kota, panggung-panggung terus menyala. Festival bermunculan, komunitas tumbuh, ruang alternatif dibuka, dan media sosial dipenuhi dokumentasi pertunjukan yang tampak memikat. Dari luar, semuanya memberi kesan bahwa teater sedang berada dalam masa yang subur. Namun, jika menelisik lebih dalam, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: benarkah yang bertumbuh adalah teaternya, atau sekadar aktivitas pertunjukannya? Musababnya itu adalah ketika bicara teater bukan hanya atau sekadar soal naik panggung semata. Ia adalah ruang berpikir, ruang menggugat, sekaligus ruang tempat masyarakat bercermin. Ketika fungsi-fungsi itu melemah, teater berisiko berubah menjadi sekadar peristiwa artistik yang selesai begitu lampu panggung dipadamkan. Penonton pulang membawa foto untuk media sosial, sementara pertanyaan yang seharusnya terus hidup ikut menghilang bersama tepuk tangan.(Source: kosapoin.com/teater-yang-kehilangan-percakapan)

Salah satu gejala yang paling terasa adalah bergesernya orientasi dari penciptaan menuju penyelenggaraan. Festival demi festival digelar dengan semarak. Proposal disusun rapi, sponsor dicari, publikasi dipoles, dokumentasi diproduksi secara profesional. Namun, di balik semua itu, diskusi mengenai kualitas artistik sering kali tenggelam. Pertunjukan dinilai dari jumlah penonton, kemeriahan acara, atau banyaknya unggahan digital, bukan dari keberanian estetik maupun kedalaman gagasannya.(Source: kosapoin.com/teater-yang-kehilangan-percakapan)

Padahal, perkembangan teater Indonesia merupakan hasil dari pergulatan pemikiran, eksperimen estetik, dan keberanian membaca ulang realitas sosial sepanjang sejarahnya. Akar teater modern Indonesia dapat ditelusuri sejak lahirnya Komedi Stamboel yang didirikan August Mahieu pada 1891. Kelompok ini memperkenalkan sistem pertunjukan profesional yang memadukan tradisi lokal dengan teknik panggung modern. Tradisi tersebut kemudian berkembang melalui Miss Riboet’s Orion yang didirikan Tio Tik Djien pada 1925 dengan Miss Riboet sebagai primadona utamanya. Setahun kemudian, Dardanella yang didirikan A. Piedro (Willy Klimanoff) pada 1926 semakin memantapkan profesionalisme seni pertunjukan di Hindia Belanda melalui sistem produksi, manajemen rombongan, dan jaringan pementasan yang melintasi berbagai wilayah Nusantara hingga Asia Tenggara.(Source: kosapoin.com/teater-yang-kehilangan-percakapan)

Memasuki era pascakemerdekaan, pembaruan teater memperoleh momentum melalui Studiklub Teater Bandung (STB) yang didirikan Suyatna Anirun pada 1958. STB bukan sekadar kelompok pementasan, melainkan ruang pendidikan aktor, penyutradaraan, dramaturgi, dan pembentukan pemikiran teater modern Indonesia yang melahirkan banyak seniman dan pemikir teater berpengaruh lintas generasi. Di Yogyakarta, Bengkel Teater yang didirikan W.S. Rendra menjelma sebagai laboratorium pencarian artistik yang mengawinkan disiplin tubuh, puisi, spiritualitas, dan kritik sosial. Sementara itu, Teater Ketjil yang didirikan Arifin C. Noer pada 1968 menghadirkan pembaruan yang revolusioner dengan mengawinkan tradisi teater rakyat—seperti lenong, ludruk, wayang, komedi stambul, hingga musik pesisir—ke dalam dramaturgi modern Indonesia. Melalui karya-karya seperti Kapai-Kapai, Mega-Mega, dan Sumur Tanpa Dasar, Arifin membuktikan bahwa teater Indonesia tidak harus tunduk pada realisme Barat, tetapi mampu membangun bahasa estetiknya sendiri yang berpijak pada pengalaman sosial masyarakat Indonesia.(Source: kosapoin.com/teater-yang-kehilangan-percakapan)

Perjalanan itu kemudian diteruskan oleh berbagai kelompok yang memperluas cakrawala estetika teater Indonesia. Teater Koma yang didirikan Nano Riantiarno pada 1977 menghadirkan kritik sosial-politik melalui satire dan metafora yang tajam sekaligus komunikatif kepada publik luas. Setahun kemudian (1987), Teater SAE yang dipelopori Afrizal Malna bersama Boedi S. Otong mendobrak dramaturgi konvensional melalui konsep teks panggung yang menjadikan tubuh, benda, ruang, dan bahasa sebagai satu kesatuan estetik. Karya-karya seperti Biografi Yanti Setelah 12 Menit dan Migrasi dari Ruang Tamu menjadi tonggak penting perkembangan teater pascamodern Indonesia. Pada 1982, Teater Payung Hitam yang didirikan Rachman Sabur di Bandung melahirkan bahasa pertunjukan yang radikal melalui eksplorasi tubuh, bunyi, ruang, dan visual sehingga teater tidak lagi bergantung pada dominasi teks. Memasuki dekade 1990-an, Teater Garasi yang lahir di Yogyakarta pada 1993, dengan Yudi Ahmad Tajudin sebagai salah satu figur sentralnya, mengembangkan praktik teater berbasis riset, penciptaan kolektif, dan kolaborasi lintas disiplin yang mempertemukan teater dengan seni rupa, musik, teknologi, dan kajian sosial.(Source: kosapoin.com/teater-yang-kehilangan-percakapan)

Pada 1995, Laskar Panggung Bandung (LPB) yang dipelopori Yusef Muldiyana bersama Deddy Koral, Anton Justian, Gaus FM, Doni Achmad, Aendra Medita, Dyanto, dan Sarwoko menghadirkan teater independen yang memadukan tradisi realis-intelektual Studiklub Teater Bandung dengan keberpihakan Teater Ketjil pada realitas sosial rakyat, serta konsisten mengembangkan naskah-naskah orisinal yang kritis terhadap persoalan sosial-politik. Satu hal yang menarik dari LPB dalam setiap tahunnya selalu menerima PKL dari kelas 12 Jurusan Teater SMKN 10 (SMKI) Bandung dan selalu diakhiri dengan pementasan teater, sebagai bahan evaluasi dari hasil PKL. Kiprah LPB ini dimulai sejak tahun 2009 sampai dengan sekarang dengan tetap konsisten membawakan naskah orisinal.(Source: kosapoin.com/teater-yang-kehilangan-percakapan)

Memasuki era Reformasi, Komunitas Celah-Celah Langit (CCL) yang didirikan Iman Soleh pada 1998 semakin memperluas fungsi teater sebagai praktik kebudayaan berbasis riset, pemberdayaan masyarakat, dan kerja-kerja kolaboratif bersama masyarakat. Seluruh kelompok tersebut lahir bukan karena tuntutan festival atau kebutuhan administratif, melainkan dari kegelisahan intelektual, keberanian estetik, dan hasrat untuk terus menemukan bentuk baru bagi teater Indonesia. Tentu, masih banyak kelompok teater lain di berbagai daerah yang tidak mungkin seluruhnya disebutkan dalam tulisan ini. Namun, satu benang merah yang dapat ditarik adalah bahwa sebagian besar lahir dari kegelisahan terhadap zamannya, bukan semata-mata karena adanya agenda festival.(Source: kosapoin.com/teater-yang-kehilangan-percakapan)

Hari ini, kegelisahan itu perlahan digantikan oleh kebutuhan untuk tetap terlihat aktif. Sebuah kelompok merasa harus memproduksi pertunjukan setiap tahun agar tidak dianggap mati. Seniman berlomba mengikuti festival demi festival karena di sanalah peluang tampil tersedia. Akibatnya, proses kreatif sering dipercepat oleh tenggat waktu administrasi. Pertunjukan selesai dipentaskan, lalu segera berganti proyek berikutnya. Tidak ada waktu yang cukup untuk mengevaluasi, mengembangkan, atau bahkan mengkritik karya yang baru saja lahir. Ruang latihan yang dahulu menjadi tempat paling subur bagi perdebatan artistik dan pencarian estetik kini kerap dipersempit oleh tuntutan jadwal produksi, sehingga proses pencarian sering kali kalah cepat oleh kebutuhan untuk segera tampil.(Source: kosapoin.com/teater-yang-kehilangan-percakapan)

Bukan berarti festival teater tidak penting. Sebaliknya, di tengah semakin terbatasnya ruang pertunjukan, minimnya dukungan pendanaan, dan belum meratanya ekosistem teater di berbagai daerah, festival justru menjadi salah satu simpul penting yang menjaga denyut kehidupan teater Indonesia. Festival membuka ruang perjumpaan antarkelompok, memperluas jejaring, mempertemukan berbagai pendekatan estetik, menjadi wahana regenerasi seniman, sekaligus menghadirkan kesempatan bagi publik untuk menyaksikan keragaman praktik teater yang mungkin tidak pernah mereka temui dalam keseharian. Tanpa festival, banyak kelompok teater akan kehilangan ruang untuk bertemu, berdialog, dan menguji capaian artistiknya.(Source: kosapoin.com/teater-yang-kehilangan-percakapan)

Persoalannya bukan terletak pada festival itu sendiri, melainkan pada bagaimana festival diselenggarakan. Ketika orientasi penyelenggaraan lebih menekankan banyaknya peserta, kemeriahan acara, atau pemenuhan target administratif daripada kualitas artistik, fungsi kebudayaan festival perlahan memudar. Di sinilah kurasi menjadi jantung sebuah festival. Kurasi bukan sekadar mekanisme seleksi, melainkan pernyataan estetik sekaligus tanggung jawab intelektual untuk membaca arah perkembangan teater Indonesia. Kurator tidak cukup hanya memilih pertunjukan yang layak tampil, tetapi juga harus mampu membaca perkembangan estetika teater Indonesia, keberagaman bahasa artistik, relevansi gagasan, serta keberanian sebuah karya menawarkan kemungkinan baru. Festival yang dikurasi secara matang bukan sekadar menjadi panggung pertunjukan, melainkan ruang dialektika yang memperkaya perjalanan teater Indonesia.(Source: kosapoin.com/teater-yang-kehilangan-percakapan)

Lebih mengkhawatirkan lagi adalah krisis kritik teater. Dahulu, sebuah pementasan hampir selalu diikuti oleh ulasan panjang di surat kabar atau majalah kebudayaan. Kritik menjadi ruang dialog antara seniman dan masyarakat. Hari ini, sebagian besar tulisan tentang teater berubah menjadi laporan kegiatan atau promosi. Kalaupun ada kritik, sering kali berhenti pada pujian yang sopan atau komentar yang terlalu umum. Kritik yang benar-benar membedah dramaturgi, penyutradaraan, akting, tata artistik, hingga posisi ideologis sebuah pertunjukan semakin sulit ditemukan.(Source: kosapoin.com/teater-yang-kehilangan-percakapan)

Padahal, tanpa kritik, seni kehilangan cermin. Seniman mungkin terus berkarya, tetapi tidak memiliki ruang refleksi yang memadai. Penonton menyaksikan pertunjukan tanpa memperoleh panduan untuk membaca lapisan-lapisan makna yang tersembunyi. Sejarah pun kehilangan dokumentasi intelektual yang kelak akan menjelaskan mengapa suatu karya penting bagi zamannya. Persoalan lain yang tidak kalah serius adalah lemahnya regenerasi penonton. Banyak komunitas berhasil melahirkan aktor, sutradara, dramaturg dan penulis lakon muda, tetapi tidak cukup berhasil membangun generasi penonton yang kritis. Pementasan sering kali hanya disaksikan oleh sesama pelaku teater. Ironisnya, yang duduk di bangku penonton adalah mereka yang esok hari akan bergantian naik panggung. Percakapan menjadi berputar di lingkungan yang sama, tanpa benar-benar menembus masyarakat yang lebih luas.(Source: kosapoin.com/teater-yang-kehilangan-percakapan)

Fenomena ini diperparah oleh logika media sosial. Pertunjukan yang fotogenik lebih mudah menarik perhatian dibanding pertunjukan yang menawarkan gagasan rumit. Estetika visual kadang lebih diprioritaskan daripada kekuatan dramaturgi. Potongan video berdurasi satu menit lebih cepat menyebar daripada diskusi dua jam tentang makna sebuah lakon. Tidak ada yang salah dengan teknologi, tetapi persoalannya muncul ketika teknologi mulai menentukan arah penciptaan, bukan sekadar menjadi medium penyebaran. Akibatnya, yang sering menjadi viral bukan gagasan pertunjukannya, melainkan citra pertunjukannya.(Source: kosapoin.com/teater-yang-kehilangan-percakapan)

Meski demikian, bukan berarti masa depan teater Indonesia suram. Justru di tengah berbagai keterbatasan, banyak komunitas di daerah menunjukkan daya hidup yang luar biasa. Mereka membangun ruang latihan secara mandiri, menciptakan lakon yang berangkat dari persoalan lokal, berkolaborasi dengan seniman lintas disiplin, bahkan menjadikan teater sebagai bagian dari kerja-kerja pemberdayaan masyarakat. Di luar sorotan media nasional, denyut kehidupan teater sesungguhnya masih berlangsung dengan tekun. Harapan itu tentu saja akan menjadi lebih besar jika ekosistem teater tidak berhenti pada produksi pertunjukan. Justru, yang dibutuhkan adalah keberanian untuk memperpanjang usia sebuah karya melalui diskusi, kritik, dokumentasi, penelitian, publikasi, serta kolaborasi yang lebih erat antara komunitas teater, perguruan tinggi, akademisi, media, dan lembaga kebudayaan untuk membangun tradisi pembacaan yang berkelanjutan. Sebab, sebuah pertunjukan yang selesai dipentaskan seharusnya baru memulai kehidupan intelektualnya, bukan justru mengakhirinya.(Source: kosapoin.com/teater-yang-kehilangan-percakapan)

Singakat simpulnya, ukuran kemajuan teater bukanlah berapa banyak festival yang diselenggarakan atau berapa sering panggung dipenuhi cahaya. Kemajuan teater diukur dari kemampuannya melahirkan percakapan yang terus hidup setelah tirai ditutup. Sebab teater yang baik tidak selesai ketika para aktor meninggalkan panggung. Ia justru mulai bekerja ketika penonton pulang dengan pikiran yang terus terusik, keyakinan yang mulai dipertanyakan, dan keberanian untuk melihat dunia dengan cara yang berbeda. Sebab makna sebuah pertunjukan tidak pernah sepenuhnya lahir di atas panggung, melainkan juga di dalam kesadaran penontonnya. Di situlah hakikat teater sesungguhnya: bukan sekadar seni mempertontonkan kehidupan, melainkan seni menghidupkan kesadaran. Dan selama kesadaran itu mungkin dibangunkan, teater Indonesia akan selalu memiliki alasan untuk terus berdiri di atas panggung sejarah. [](Source: kosapoin.com/teater-yang-kehilangan-percakapan)

Dom Puntila

(Source: kosapoin.com/teater-yang-kehilangan-percakapan)


Apakah artikel ini membantu?

One thought on “Teater yang Kehilangan Percakapan

  1. Pada paragraf terakhir ada kalimat “hakikat teater sesungguhnya: bukan sekadar seni mempertontonkan kehidupan, melainkan seni menghidupkan kesadaran.” Menurut hemat saya, ini bagian terpentingnya, kata “seni” sesungguhnya bukan tentang keindahan semata. Keren kang !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *