Bandung semakin padat, jalan raya penuh kendaraan. Permukiman, bergerak ke segala penjuru, harga tanah melambung, dan ruang terbuka semakin menjadi barang mewah. Kota yang dahulu memiliki cukup ruang untuk bernapas, kini dipaksa menampung semakin banyak manusia, kendaraan, bangunan. Berbagai pusat perdagangan, kawasan industri, perumahan, hotel, vila, dan berbagai bentuk aktivitas ekonomi. Kita kemudian menyebutnya urbanisasi.(Source: kosapoin.com/kota-yang-terlalu-penuh-dan-desa-yang-terlalu-sepi)
Orang datang dari berbagai daerah dengan alasan yang sangat sederhana, yakni mengadu nasib. Mereka datang membawa harapan, bahwa kota menyediakan pekerjaan, pendidikan, penghasilan, dan kehidupan yang lebih baik. Tidaklah adil jika mereka disalahkan. Mereka hanya mengikuti arah yang ditunjukkan oleh struktur pembangunan. Namun, justru di situlah pertanyaan yang lebih besar harus diajukan, mengapa masa depan selalu tampak berada di kota?(Source: kosapoin.com/kota-yang-terlalu-penuh-dan-desa-yang-terlalu-sepi)
Mengapa seseorang harus meninggalkan desa untuk memperoleh kehidupan yang dianggap layak? Mengapa menjadi petani tidak lagi menjadi cita-cita yang menarik bagi sebagian anak muda? Mengapa tanah pertanian yang ditinggalkan kemudian lebih mudah berubah menjadi perumahan, kawasan industri, vila atau pusat komersial daripada menjadi ruang regenerasi pertanian?(Source: kosapoin.com/kota-yang-terlalu-penuh-dan-desa-yang-terlalu-sepi)
Pertanyaan tersebut membawa kita kepada persoalan yang jauh lebih dalam, daripada sekadar kepadatan Bandung. Urbanisasi adalah gejala ketimpangan pembangunan. Kota menjadi magnet, bukan semata karena kota begitu menarik. Tetapi karena desa terlalu lama kehilangan daya hidup ekonominya.(Source: kosapoin.com/kota-yang-terlalu-penuh-dan-desa-yang-terlalu-sepi)
Saat Tanah Menjadi Komoditas(Source: kosapoin.com/kota-yang-terlalu-penuh-dan-desa-yang-terlalu-sepi)
Tanah memiliki dua wajah. Bagi pasar, tanah merupakan aset. Sedangkan bagi manusia, tanah adalah ruang kehidupan.(Source: kosapoin.com/kota-yang-terlalu-penuh-dan-desa-yang-terlalu-sepi)
Ketika nilai ekonomi menjadi ukuran utama, sawah yang menghasilkan pangan selama puluhan tahun, dapat dianggap kalah produktif dibandingkan sebidang tanah yang diubah menjadi kompleks perumahan. Kebun, yang dahulu menghasilkan buah, sayur, atau kayu, dianggap kurang bernilai dibandingkan bangunan komersial. Lanskap pertanian, yang menyimpan pengetahuan ekologis dan kebudayaan berubah menjadi kavling.(Source: kosapoin.com/kota-yang-terlalu-penuh-dan-desa-yang-terlalu-sepi)
Inilah kapitalisasi tanah. Saat tanah perlahan dipisahkan dari fungsi sosial dan ekologisnya, maka semakin kuat ia diperlakukan sebagai komoditas. Padahal negara sendiri menyadari persoalan tersebut. Hingga, pada tanggal 4 Februari 2026, Perpres Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pengendalian Alih Fungsi Lahan Sawah, diterbitkan pemerintah. Hal tersebut antara lain ditujukan untuk meningkatkan ketersediaan lahan sawah dan mendukung kebutuhan pangan nasional.(Source: kosapoin.com/kota-yang-terlalu-penuh-dan-desa-yang-terlalu-sepi)
Artinya persoalan alih fungsi lahan, bukan sekadar kegelisahan romantik tentang hilangnya sawah. Namun telah menjadi persoalan tata ruang, pangan, lingkungan, bahkan keberlanjutan kehidupan. Dokumen perencanaan Jawa Barat juga mengakui, bahwa berkurangnya kualitas tutupan lahan, alih fungsi hutan menjadi nonhutan, urbanisasi yang tidak terkendali, dan lemahnya pengendalian pemanfaatan ruang, berdampak pada daya dukung lingkungan. Maka, ketika sawah berubah menjadi beton, yang sebenarnya sedang berubah bukan hanya warna permukaan bumi. Namun, hubungan manusia dengan alam.(Source: kosapoin.com/kota-yang-terlalu-penuh-dan-desa-yang-terlalu-sepi)
Pendidikan yang Diam-Diam Mengusir Anak dari Sawah(Source: kosapoin.com/kota-yang-terlalu-penuh-dan-desa-yang-terlalu-sepi)
Ada persoalan lain yang jarang dibicarakan, yakni pendidikan. Selama bertahun-tahun, anak-anak dikenalkan pada sebuah keberhasilan, melalui profesi yang berada jauh dari tanah. Profesi dokter, insinyur, pengacara, pegawai, pengusaha, dan berbagai pekerjaan sektor formal lainnya, sering ditempatkan sebagai simbol keberhasilan. Diakui atau tidak, profesi sebagai petani, jarang hadir sebagai gambaran masa depan yang membanggakan. Anak mulai mengenal, bahwa sekolah adalah jalan untuk “keluar” dari kehidupan desa. Kalimat itu tampak sederhana, tetapi memiliki konsekuensi kebudayaan yang besar.(Source: kosapoin.com/kota-yang-terlalu-penuh-dan-desa-yang-terlalu-sepi)
Jika pendidikan terus-menerus dipahami sebagai kendaraan untuk meninggalkan sawah, jangan heran apabila generasi muda tidak lagi melihat pertanian sebagai jalan kehidupan. Yang terjadi kemudian adalah lingkaran yang ironis. Desa, kehilangan generasi mudanya. Pertanian, kehilangan regenerasi. Tanah pertanian, kehilangan penggarap, maka otomatis, tanah tersebut semakin mudah masuk ke dalam logika pasar.(Source: kosapoin.com/kota-yang-terlalu-penuh-dan-desa-yang-terlalu-sepi)
Padahal, persoalannya bukan apakah anak desa harus menjadi petani. Tidak.(Source: kosapoin.com/kota-yang-terlalu-penuh-dan-desa-yang-terlalu-sepi)
Persoalannya adalah, apakah menjadi petani diberi kesempatan untuk menjadi profesi yang bermartabat, modern, berteknologi, menguntungkan, dan memiliki masa depan?(Source: kosapoin.com/kota-yang-terlalu-penuh-dan-desa-yang-terlalu-sepi)
Petani masa depan, seharusnya tidak identik dengan kemiskinan. Peluang kariernya sangat luas, mulai dari petani modern, pengelola hasil panen dan ekowisata, ahli teknologi dan benih pertanian, hingga pengusaha berbasis produk alam. Teknologi, seharusnya tidak hanya membawa anak muda menuju layar komputer di kota. Teknologi, harus membawa pengetahuan baru ke sawah.(Source: kosapoin.com/kota-yang-terlalu-penuh-dan-desa-yang-terlalu-sepi)
Desa Tidak Boleh Menjadi Ruang Tunggu(Source: kosapoin.com/kota-yang-terlalu-penuh-dan-desa-yang-terlalu-sepi)
Kita sering membicarakan desa, seolah-olah desa adalah ruang yang harus ditinggalkan, agar seseorang dapat disebut maju. Di sinilah pembangunan perlu melakukan introspeksi. Desa bukan ruang tunggu, sebelum seseorang pindah ke kota. Desa adalah bagian dari struktur peradaban.(Source: kosapoin.com/kota-yang-terlalu-penuh-dan-desa-yang-terlalu-sepi)
Nenek moyang kita, mengenal kehidupan agraris dan maritim. Tanah, air, hutan, sungai, dan laut, bukan sekadar sumber ekonomi. Namun bagian dari kebudayaan. Pengetahuan mengenai musim, tanaman, laut, angin, dan alam, diwariskan melalui pengalaman hidup.(Source: kosapoin.com/kota-yang-terlalu-penuh-dan-desa-yang-terlalu-sepi)
Modernisasi, kemudian membawa masyarakat menuju industri. Tidak ada yang salah dengan industri. Persoalannya muncul, ketika industri berkembang dengan cara mengorbankan ruang yang menopang kehidupan. Pabrik membutuhkan tanah. Perumahan membutuhkan tanah. Hotel membutuhkan tanah. Jalan membutuhkan tanah. Semua membutuhkan tanah.(Source: kosapoin.com/kota-yang-terlalu-penuh-dan-desa-yang-terlalu-sepi)
Tetapi, manusia juga membutuhkan tanah untuk menghasilkan pangan. Di sinilah, politik pembangunan berhadapan dengan etika. Apakah semua tanah harus dinilai berdasarkan berapa rupiah yang dapat dihasilkan darinya? Jika jawabannya iya, maka kita sedang menyederhanakan peradaban menjadi transaksi.(Source: kosapoin.com/kota-yang-terlalu-penuh-dan-desa-yang-terlalu-sepi)
Siapa yang Sebenarnya Bersalah?(Source: kosapoin.com/kota-yang-terlalu-penuh-dan-desa-yang-terlalu-sepi)
Kita dapat dengan mudah menyalahkan pendatang, karena Bandung semakin padat. Tetapi, itu terlalu sederhana. Orang datang karena pekerjaan terkonsentrasi di kota. Mereka datang, karena fasilitas pendidikan dan kesehatan lebih tersedia. Mereka datang, karena desa belum memberikan kesempatan ekonomi yang sebanding.(Source: kosapoin.com/kota-yang-terlalu-penuh-dan-desa-yang-terlalu-sepi)
Maka, jangan menyalahkan manusia yang bergerak, ketika sistem memang mendorong mereka untuk bergerak. Yang perlu dipertanyakan adalah, struktur yang membuat kota menjadi pusat segala sesuatu.(Source: kosapoin.com/kota-yang-terlalu-penuh-dan-desa-yang-terlalu-sepi)
Ketimpangan desa-kota, bukan sekadar persoalan pendapatan, namun ketimpangan kesempatan. Saat modal, pendidikan, teknologi, pekerjaan, fasilitas kesehatan, dan akses kebijakan, terkonsentrasi di kota, urbanisasi menjadi konsekuensi sosial yang hampir tak terhindarkan.(Source: kosapoin.com/kota-yang-terlalu-penuh-dan-desa-yang-terlalu-sepi)
Bandung, akhirnya menerima seluruh akibatnya. Kemacetan, tekanan permukiman, kebutuhan air, sampah, polusi, dan berkurangnya ruang ekologis. Sementara, desa kehilangan anak-anak mudanya. Maka, kita tidak sedang menghadapi dua persoalan terpisah. Kota yang terlalu penuh, dan desa yang terlalu sepi, adalah dua sisi dari masalah yang sama.(Source: kosapoin.com/kota-yang-terlalu-penuh-dan-desa-yang-terlalu-sepi)
Jangan Sampai Kita Kehilangan Rumah(Source: kosapoin.com/kota-yang-terlalu-penuh-dan-desa-yang-terlalu-sepi)
Sudah waktunya pembangunan berhenti bertanya, tentang berapa banyak kawasan ekonomi baru yang dapat dibangun. Kita perlu bertanya, berapa banyak sawah yang masih dapat dipertahankan? Berapa banyak anak muda yang ingin kembali ke desa? Berapa besar pendapatan petani? Berapa banyak teknologi yang benar-benar masuk ke sektor pertanian? Berapa kuat perlindungan terhadap tanah produktif? Dan, apakah pendidikan kita, telah mengenalkan pertanian sebagai bagian dari masa depan?(Source: kosapoin.com/kota-yang-terlalu-penuh-dan-desa-yang-terlalu-sepi)
Pembangunan, bukan berarti membuat desa menyerupai kota. Justru masa depan, mungkin membutuhkan kota yang belajar kembali dari desa. Tentang batas, kesederhanaan, keberlanjutan, pangan, gotong royong, dan hubungan manusia dengan alam. Sebab, kota tidak dapat memanen beton, tidak mungkin makan gedung.(Source: kosapoin.com/kota-yang-terlalu-penuh-dan-desa-yang-terlalu-sepi)
Kota, sebenarnya sangat bergantung pada desa, mulai dari sawah, petani, hingga sungainya. Meskipun kota sering mengabaikan desa, dan menganggapnya tidak punya masa depan. Kesalahan terbesar kita, bukan karena terlalu banyak orang datang ke kota. Melainkan, membuat terlalu sedikit alasan bagi manusia, untuk tetap tinggal dan membangun kehidupan di tanah kelahirannya.(Source: kosapoin.com/kota-yang-terlalu-penuh-dan-desa-yang-terlalu-sepi)
Dan, ketika suatu hari Bandung benar-benar tidak lagi memiliki ruang untuk bernapas, jangan buru-buru menyalahkan urbanisasi. Mungkin, yang sedang kita hadapi bukan kota yang terlalu penuh, melainkan kita sedang berhadapan dengan desa yang terlalu lama kita tinggalkan. (jbp 24/09/2026)(Source: kosapoin.com/kota-yang-terlalu-penuh-dan-desa-yang-terlalu-sepi)









