Hai apa kabarnya? Ups, ngapain juga aku harus hai padamu? Bukankah hai itu hanya khusus untuk yang terpilih? Lupakan. Ya, lupakan saja, tapi jangan sampai “lupa-lupa tapi ingat” ya, soalnya itu punya Kuburan Band. Ah, ngapain juga basa-basinya terlalu panjang, mending kalau kau ngerti. Langsung saja, ceritanya begini: begini-begini dan begitu. Begitu begini, ya begitu-begitu. Ah, pusing pula jadinya. Pusing dan nyeri juga jadinya. Sakit kepalalah singkatnya. Jauhnya, sakit kepala ini entah karena mikir atau memang dari awal sudah begitu. Sebentar, aku harus ke warung dulu, sekadar beli aspirin.
Ah, kini rasanya lega. Lanjut: sebenarnya apa yang aku tuliskan bisa jadi sebuah kekonyolan di abad ini. Ya, bagaimana tidak? Orang-orang memanggilmu AI, tapi aku ingin memanggilmu ARIN, masih sama-sama akronim. To the point saja, kau mau ngerti atau tidak terserah. Syukur-syukur penciptamu sudi untuk membaca suratku ini yang ditujukan untukmu, satu. Awalnya begini, ada tiga teman yang menyatakan sama dan protes padaku dengan pondasi nyaah. Pada titik kabar yang ketiga aku sempat emosional. Sempat juga nulis status jadi episode celoteh di WAS—yang kalau dipikir lagi ya memang celoteh juga dari awal. Beberapa bulan berselang teman ke empat mengabari hal yang sama. Singkatnya sampai hari ini, dimana aku tengah menuliskan surat untukmu, satu.
Ya, mau tidak mau harus dituliskan. Tentu saja dengan pertimbangan yang sangat matang sekali, meski aku sadar bahwa apa yang tengah aku lakukan ini merupakan sesuatu yang konyol, pastinya dan tentu saja, why? Sudah kebayang juga imbasnya. Disamping itu mending kalau kau mengerti dan tuanmu membacanya. Begini, kenapa semua karyaku di klaim sebagai hasil ciptaanmu dengan persentase 85% hasilmu dan 15% hasil manusia? Artinya manusia itu aku, sebab ini berbicara karyaku, dan atau bisa jadi jangan-jangan aku yang salah paham dari awal, entahlah. Terang dan jelasnya itu singkat kisahnya begini:
Dari mulai anak batinku jauh sebelum kau lahir, di klaim bahwa itu hasil perkawinanku denganmu. Tak habis pikir. Di sisi lain tak semua orang mengetahui dan ingin tahu jejak proses kreatifku, tentunya. Alih-alih kau dilahirkan, aku kena imbasnya: “kenapa karya-karyamu kini hasil dari perzinahan?” itulah yang membuatku mengganjal dalam pikir dan rasa. Ya, mengganjal di hati, tapi ya mau bagaimana lagi. Ia memang salah satu temanku sejak lama, tapi ia tidak tahu semua anak batinku. Katakanlah anak batinku yang berjudul Panggung, Bulan Retak, Hakikat Bus, Orang Bilang Aku Seniman, Rimba Gigantik, Dongeng di Atas Meja, Pulang, itu semua anak batinku yang terlahir jauh sebelum kau ada, Arin. Akan tetapi segenap anak batinku yang dimasukkan temanku ke laboratorium generatormu itu kenapa jadi terlahir dari rahimmu?
Belum ditambah anak batinku yang bisa dikata segenerasi denganmu lahir; Kuldesak, Perca, Riak dan lainnya, sama juga hasilnya. Anehnya, kau mengklaim itu semua hasil perselingkuhanku denganmu, satu dan untuk seterusnya kau menawarkan solusi untuk jadi karya manusia dengan menggunakan aplikasimu harus pro, alias harus bayar. Jika pun aku harus toleran pada keberadanmu, tak mengapa anak batinku yang lahir segenerasimu dicap sebagai hasil dari kumpul kebo, toh namanya juga titimangsa tak bisa seenaknya dituliskan, why? Sebab tugas pokok penulis itu jujur. Jujur pada segenap pengalaman hidupnya yang jadi pondasi dalam melahirkan anak-anak batinnya. Kalau itu pun masih dipercaya.
Ya, toleran dalam hal ini karena keterbatasan dalam materi yang kupunya. Misalkan, haruskah di zamanmu kini saban kali aku tengah merakit anak batinku di dokumentasikan dengan video, guna semua dunia percaya bahwa aku tidak pernah menjadikanmu kekasih gelap? Bilamana itu terjadi, bisa-bisa melebihi durasi film terpanjang dalam satu kali melahirkan anak batin. Mending kalau masuk Guinness World Record, lumayan dapat penghargaan. Nah ini, disamping bengkak biaya, honornya pun tak seberapa. Besar pasak daripada tiang jadinya. Ditambah lagi alih-alih kau mengklaimnya pula sebagai hasil perzinahan. Jadi serba salah juga jadinya.
Oh, ya … hampir saja lupa, kenapa pula kini ada juga redaktur dan juri yang menggunakanmu dalam kurasi? Salah satu dari lima temanku itu penulis papan atas dan berkata bahwa aku sudah tidak subur lagi. Jauhnya bisa dikata monopause, lemah syahwat, mandul dan lain sebagainya. Ironisnya, kini aku hanya bisa melahirkan anak batin selayaknya bayi tabung. Seperti itulah gambar-simpulnya. Di satu sisi, sebenarnya aku malas untuk membela diri, why? Disamping hal-hal semacam itu sering kali hadir dalam alur hidup dan kehidupanku, singkatnya teu mais teu meuleum malah jadi katempuhan buntut maung. Ya, sudah dijalani saja jadinya.
Ya, di luar momok anak batin itu aku pernah diancam dan diteror, padahal projeknya pun tidak tahu menahu. Pernah juga dipinta jadi cukang, tapi ketika jembatan itu jadi malah tak dipercaya. Dikudeta pun pernah dari tim pengadil, padahal penentu mutlak bukanlah aku satu. Sampai dalam hal lelang pun jadi aku yang harus mengerti, menunggu si pembeli menerima pelunasan dari transaksi lain yang mana aku sendiri tidak tahu menahu akan hal itu. Dan masih banyak pula hal-hal lainnya di luar nalar. Sampai bisa dikata bahwa dalam sekujur tubuhku sudah bersarang anti bodi. Namun untuk urusan anak batin, tak semudah itu melarungnya. Aku harap kamu paham itu, terlebih tuanmu yang melahirkanmu, Arin.
Kini, harus bagaimana aku menyudahi suratku untukmu? Apakah dicukupkan sekian dan hal-hal lainnya akan diselenggarakan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya? Perlukah suratku ini direvisi olehmu biar menjadi organik? Ngomong-ngomong tentang makna organik, tentu saja bergantung pada konteks penggunaanya. Organik dalam bidang pertanian dan makanan jelas sudah berbeda maknanya dengan bidang biologi dan kimia. Serta kian jauh saja maknanya dalam kontes sosial dan bisnis dari makna kamusnya itu sendiri. Ah, ngomong-ngomong apakah kau sendiri bagian dari organik atau aku saja yang terlalu memikirkan ini.
Lupakan!









