Mengeruk Endapan Menjadi Ikan-Ikan Puisi

jean

cover antologi puisi Pada Debar Akhir Pekan & foto Rendy Jean Satria

—Tamasya Batin di Akhir Pekan

Konon katanya, menulis puisi itu mudah, tapi untuk memuisi itu sulit. Jadi, secara hakikat bahwa sebuah puisi ditulis tidak bisa sembarang jadi, sebab; menulis sebuah puisi harus melewati banyak rambu yang sudah disepakati hingga menjadi sebuah teori—begitulah menurut aturan yang ada, yang dipelajari di bangku akademisi sastra. Apakah sebuah puisi yang terlahir mampu menuangkan seluruh aturan baku itu semua? Atau hanya sebagian aturan bakunya saja? Ataukah tidak ada sama sekali menggunakan aturan baku yang sudah disepakati menjadi sebuah teori tersebut? Teori lahir berdasarkan pengalaman yang kemudian disepakati atau diamini khalayak ramai. Jadi, bisa dikata bahwa sebuah teori itu benar, ketika Anda sepakat.

Saya bukanlah lulusan sastra, terlebih ahli sastra; khususnya sastra puisi. Jadi, dalam tulisan yang hendak saya tuliskan di bawah ini mohon maaf jika Anda tidak mendapatkan apa yang digambarkan di paragraf awal, sebagai ilustrasi dalam hakikat menulis puisi yang sudah ada aturan bakunya berdasarkan teori akademisi. Lantas apa yang ingin saya tawarkan dalam tulisan ini? Saya sendiri tidak tahu. Ya, tidak tahu. Memang benar tidak tahu dan serius tidak tahu; hanya yang saya rasakan adalah kesan dari jejak baca (dan atawa dari jejak batin), itu saja. Ya, itu saja; tidak lebih. Ketidaktahuan ini pulalah yang membiarkan saya masuk ke dalam ruang puisi tanpa beban-beban hukum estetika yang kaku.

Jejak baca selalu meninggalkan kesan yang berlainan bagi semua pembaca pada satu objek yang sama. Konon katanya hal ini pun dipengaruhi oleh suasana batin tiap para pembaca yang berbeda-beda dengan objek yang dibacanya. Ada juga pengalaman batin yang sama atau mirip dengan objek batin yang dibacanya sehingga objek batin yang sudah dibacanya oleh seorang pembaca itu seolah-olah mewakili pengalaman empiriknya si seorang pembaca tersebut. Ada juga ketika seorang pembaca berusaha netral dan tidak mengaitkan dengan teori yang berlaku; hanya membaca saja sifatnya, tidak lebih. Ada juga seorang pembaca yang ketika membaca sebuah objek langsung mengaitkannya dengan teori yang tentu saja sudah dikuasai dan dibacanya terlebih dulu sehingga membaca sebuah objek menjadi sebuah pekerjaan dalam proyek penelitiannya. Lantas, saya termasuk pembaca yang mana? Saya sendiri pun tidak tahu termasuk yang mana; ini serius. Terang dan jelas, saya hanya menikmati antrean kata-kata yang menjadi rangkaian frasa, klausa dan kalimat pada sebuah bait puisi yang menjadi utuh sebuah tubuh puisi. Lamat-lamat saya rampung membaca utuh sebuah antologi puisi yang diberi judul Pada Debar Akhir Pekan karya penyair muda Rendy Jean Satria (RJS) dengan tiga subjudul; puisi masih bekerja untukmu, puisi masih bisa kutulis, ditegur kata-kata, dan kesemua subjudul itu jika dicermati selintas-pintas menjadi sebuah isyarat yang kembali pada judul utama antologi puisi tersebut; Pada Debar Akhir Pekan yang dicetak-terbitkan oleh Penerbit Basabasi, Februari 2018 dengan penyunting Tia Setiadi.

Ada apa dengan debar akhir pekan yang dirasakan oleh penyair muda RJS dalam perjalanan batinnya tersebut, jika dikaitkan dengan anggapan bahwa fondasi sebuah puisi bisa lahir berdasarkan pengalaman empirik; baik empirik murni maupun empirik terapan. Benarkah itu? Lamat-lamat pada hasil jejak baca, saya menemukan hal itu dalam kumpulan antologi tunggalnya: di antara gang-gang/ Kecil penuh coretan tangan, lorong berlumut/ Warna-warna perasaan, … (Di Jalan Nyengsret, Bandung; 2016). Lalu: “Temani aku, dengan resiko apa pun/ Jangan biarkan aku tergerus sedu sedan.”, (Padamu yang Sabar Mendengar; 2016). Kemudian: Bagai sebatang pohon segar di depan halaman/ Yang tumbuh dalam ketidakpastian/ Dalam cuaca yang samar-samar (Sajak yang Ditulis pada Usia 26 Tahun; 2015).

Dan: Di kamar belakang/ Paling Pedih itu, kaktus-kaktus mati diusapi/ Waktu dan kehilangan kesakitannya (Kami Mencintaimu, Kami Juga Membencimu; 2016), dan larik lainnya. Rangkaian kalimat dalam beberapa larik puisinya ini, bagi saya merupakan gambaran murni yang dialami olehnya hingga menjadi debar yang terbawa ke akhir pekan dalam alur hidup kesehariannya. Adakah rangkaian kalimat tersebut jika disatukan menjadi sebuah kunci kegelisahan batinnya RJS selama ini? Entahlah, sebab hakikatnya dari hasil jejak membaca hanya mampu menduga dalam arti simpulan pembacaan itu hanya melahirkan kemungkinan: mampu mendekati pada kenyataan yang sudah dialami, atau boleh jadi menjadi kecemasannya sampai kini.

Terang dan jelas, ketika saya mencoba memahami makna kandungan napas Pada Debar Akhir Pekan, ada banyak endapan waktu yang kembali dikeruk, sepertihalnya belalai bulldozer yang mampu menguras habis endapan tersebut dari sebuah kubangan sisa penggalian pasir besi, semisal; hingga kubangan itu kembali bisa bersih dari segala rupa sampah waktu yang dihanyutkan oleh banjir kenangan, yang menderas datang dari batinnya RJS yang tertampung di sana. Kemudian kubangan itu didatangi lagi oleh RJS yang kini menjelma bulldozer; tentu saja, kedatangannya itu untuk mengeruknya sampai bersih, supaya mampu menampung air hujan yang datang dari musim yang lain dengan jernih, tentunya. Akan tetapi endapan-endapan ragam sampah waktu yang dikeruk-kurasnya itu menjelma ikan-ikan yang berloncatan dan kembali berenang di kubangan tersebut yang berubah menjadi kolam batin dengan diberi papan nama Pada Debar Akhir Pekan yang memuat ragam perjalanan RJS dengan segudang kenangannya. Sampah waktu itu rupanya adalah endapan rasa yang justru menyuburkan kehidupan baru di dalam kolam batinnya. Kenangan-kenangan tersebut selayaknya sebuah objek wisata yang meninggalkan kesan hingga sulit untuk dilupakan.

Ya, sebuah kenangan apa pun itu kenangannya, memang sulit untuk dilupakan dalam satu tarikan napas panjang, meski kini, katakanlah dengan seiringnya waktu berjalan, bahwa debit air yang mengisi kubangan tersebut dari curah hujan yang turun di musim lain. Maka sangatlah wajar jika RJS berkata: puisiku masih bekerja untukmu, artinya; ruang luas batin RJS yang terpetak-petak masih menyimpan kamar-kamar kenangan untuk kembali didatangi, dihisap sari patinya dan jadilah tubuh-tubuh puisi utuh, sehingga RJS berkata lagi; puisi masih bisa kutulis. Kemudian puisi-puisi yang ditulisnya dibaca lagi oleh dirinya, sehingga RJS kembali berkata; ditegur kata-kata yang menandakan bahwa hakikat sebuah puisi adalah perenungan, baik untuk kembali direnungkan oleh dirinya sendiri maupun publik pembacanya. Di mana sebuah puisi tidak bisa lepas dari alur napas hidup itu sendiri, sehingga bisa dikata, bahwa hidup adalah rangkaian perjalanan yang harus dihayati untuk dimengerti.

Hemat saya, pada dasarnya puisi-puisi yang terkandung di dalam antologi ini merupakan hasil dari endapan-endapan sampah waktu di masa lalunya yang bermetamorfosis jadi ikan-ikan dengan rasa masa lalu yang dikemas menjadi rasa masa kini (baca: jejak terbit, 2018) sehingga samar dalam jejak baca pada pengalaman empirik murni batinnya. Hal ini terjadi karena adanya perkawinan dengan pengalaman empirik terapan, baik dari asupan yang didapatnya dari segudang bacaannya maupun dari mendengar curhatan, dan lainnya yang dikemas dengan cukup apik dan intens dalam pemilihan kata dalam bahasa sehari-hari.

Akhirnya satu kesatuan dari ragam perjalanan empiriknya menjadi samar dalam jejak murni rasanya itu, ketika sudah menjadi tubuh-tubuh utuh puisi yang dibingkainya dengan judul Pada Debar Akhir Pekan. Dikitabkan oleh Basabasi, buku ini menawarkan ragam rasa yang bukan sekadar basa-basi semata; ada rasa sendu, melankolis, religi, riang dan gembira yang beraduk menjadi satu—bergemuruh di sebalik dadanya—selayaknya seorang remaja yang tengah dimabuk ragam rasa. Ragam rasa itu terlahir tentu saja tidak bisa dilepaskan dari hakikat cinta itu sendiri pada jejak kenangan dalam alur perjalanan hidup dan kehidupan yang sudah dan tengah dijalankannya tersebut.

Sehingga bisa dikata, bahwa sebuah karya apa pun itu bentuknya (baik itu puisi), terlahir dari pecahnya konvensi di masyarakat yang menjadi penanda bagi si penulisnya sendiri yang subjektif sifatnya, tetapi kesubjektifan itu terkadang masih bisa disepakati publik pembacanya; sebagaimana satu buah puisinya ini:

Pada kamu yang sedang tertidur
Baik-baiklah di dalam mimpimu
Ajaklah aku menemuimu di dalamnya
Walau di dunia nyata kita tak sering
Bertemu. Barangkali di mimpimu
Kita bisa saling mengucapkan
Cinta, berciuman dan pura-pura
Menjadi satu keluarga

Di dalam mimpi tak ada dosa
Kita bisa melebur dalam ranjang
Tak ada yang kehilangan
Tak ada air mata yang jatuh
Tak ada yang tersakiti

Jangan terlalu cepat terbangun
Sebab diam-diam aku ingin
Menjadi abadi di dalam mimpimu
Menggali kuburku di sana
Agar senantiasa kamu bisa
Mendoakanku, tanpa pernah kehilangan

Puisi itu diberi judul Pada Mimpi Tidurmu yang ditulis pada tahun 2015. Terlepas dari teori dalam menulis utuh sebuah puisi yang saya kemukakan di paragraf awal; saya pikir, antologi puisi tunggalnya RJS ini layak untuk diapresiasi publik. Mengapa? Sebab antologi ini membuktikan bahwa “memuisi” adalah upaya melampaui rambu-rambu itu sendiri. Seperti Sutardji bilang atau lebih tegasnya, menurut Sutardji; sebuah tulisan bisa disebut puisi kalau diniatkan penulisnya sebagai puisi. Saya kira kumpulan puisi ini juga demikian, kalau RJS meniatkannya selesai menjadi sebuah antologi puisi berarti sudah selesai menjadi utuh sebuah antologi puisi. Selamat tamasya batin di akhir pekan. Salam sastra. [22.04.2018 revisi 29.04.2018]


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *