Suara yang Berisik

Suara yang Berisik

—Hybrid Working PT Swara Daripada(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

Dan tiba-tiba saja motor ‘tong setan’ itu muncul! Suara berisik dari knalpot ditimpali suara rem berderit, seperti jerit tangis orang tertindas yang meminta belas kasih dari tuannya. Knalpot bocor, rem yang haus pelumas, dan water resistance alias kebal mandi. “Melihat motor ini lebih menyedihkan ketimbang film ratapan anak tiri!” begitu kata orang-orang. Dan pemiliknya pun malah seperti tersanjung dengan memberi validasi tawa paket hemat: “Haha.”(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

Melihat penampakan motor ini jangan pakai kacamata normatif; bisa-bisa gagal paham! Tidak seekstrim yang awam bayangkan seperti motor ‘raradutan’, masih ada estetika yang tersembunyi. “Hanya gagal perawatan… haha!” timpalnya suatu kali. Tentu saja suara berisik itu menjadi perhatian orang-orang. Pengalaman sebelumnya pernah menakuti bayi dan ibunya yang hendak berobat, juga memancing pandangan menyeringai dari orang yang minta surat rujukan ke rumah sakit jantung!(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

“Berisik, njirr!” candaku. “Haha…!” tertawa ia.(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

Pagi itu, si bro, kawan seperjuangan, datang tergopoh dengan badannya yang gemuk dan motor antiknya. Ia nampak repot dengan bagasi tambahan yang dipenuhi barang-barang! Kemunculannya tepat saat aku sedang sibuk—biar terkesan keren sebut saja “ngantor!”—berkantor di depan rumah dan halaman dokter praktik di samping rumah.(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

“Kita butuh suara berisik manakala kehidupan kita terusik! Haha…!” Kata pengantar itu, plus bonus tawa, disampaikan dari sisa kepulan asap terakhir yang ia isap tepat di filternya.(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

Tanpa perintah, si ‘Renegade’ ini sudah paham menempatkan parkir motornya di luar jejeran parkir resmi. Motor itu cukup terlatih: tahu etika—setidaknya berdasarkan kriteria tak tertulis pandangan umum—dan bijak menempatkan status keberadaannya. Mereknya gak jelas karena chasing-nya adalah campuran dari eks motor rongsok plus penderitaan pemiliknya.(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

“Cita-citanya sih dimodif jadi motor hybrida, cuma belum kesampaian! Atau… motor ini sebetulnya si Optimus Prime, robot Transformer yang bijak lagi menyamar… Haha!” Begitulah cara berkelit si bro mereduksi “penghinaan” menjadi seakan pujian. Jurus ampuh berkomunikasi menahan pukulan smash dengan balasan backhand (backhanded compliment?).(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

Berpuluh tahun melekat dalam jalinan satu harmoni. “Mereka” (pemilik, motor, dan barang bawaannya) menyatu seperti sampo: 3-in-1. Personal dan khas banget dalam wujud penampilannya yang teatrikal! Di jalan raya, pasangan serasi ini tentunya sering menuai sorotan. Pembeda ini mungkin dikira peserta karnaval yang tercecer dari rombongan.(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

Anti-mainstream. Mendobrak kemapanan. Begitulah si bro bersembunyi di balik kata itu sambil mencari makna keberadaan yang sesungguhnya. Sering kali—katakanlah berstrategi—mentertawakan “penderitaan” diri sendiri dengan stilasi kekonyolan (humor satir), entah itu untuk menyembunyikan “luka derita yang sebenarnya”.(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

“Gaya komunikasi (lisan dan penampilan) nan ironi dan kadang sarkasme, di balik semua itu tentu saja ada maksud ‘perlawanan’ yang hendak disampaikan.”(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

Ada pola tersamarkan, bahkan dengan cara paradoks. “Memperluas perspektif tidak selalu melihat sesuatu hanya berbanding lurus dari satu perspektif, bisa jadi dari sisi lain justru menemukan makna dan keberhasilan. Solusi yang sepadan, selaras dengan kesanggupan. Tantangan yang muncul ditempatkan dalam ukuran keberhasilan tertentu!”(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

Diskusi dengan si bro, bagi orang yang tak paham, mungkin bisa jadi menjengkelkan—tapi bagiku, si bro adalah lawan main catur yang menyenangkan; selalu ada wacana yang layak untuk dipertimbangkan. Bahkan suatu kali, alih-alih mendapat solusi namun justru berujung blunder: menjadi derita sesungguhnya! Lagi dan lagi di ujung tangis Bombay, curhatannya seperti menguap, berakhir dalam tawa irit “haha…!” Sebuah senjata pengalihan yang bisa jadi arti sesungguhnya adalah “narimakeun!” “Yah, dalah dikumaha!” mungkin seperti itu.(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

“Begitulah kalau berkehendak mencari makna kehidupan, bersiaplah dengan risiko penderitaan! Justru yang dicari manusia adalah kebahagiaan, derajat kebahagiaan bisa kita raih dengan berbagai upaya, melewati berbagai kesulitan. Jadi, usaha itu kewajiban kita sebagai manusia!” tambahnya.(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

Di balik semua itu, si bro adalah orang yang serius dan juga “bedegong” (idealis, kukuh dalam pendirian). “Renegade” adalah film favorit yang menjadi representasi tampilan, dan lagu kebangsaan “Bongkar” dari Swami menjadi lagu wajib keseharian: “Di jalanan kami sandarkan cita-cita. Sebab di rumah tak ada lagi yang bisa dipercaya!” Meski tahu “membongkar” itu tak semudah realita di lapangan, ia bermodal keyakinan. Hanya satu kata: Lawan! Ujarnya selalu. Kutipan puisi Widji Thukul ini disampaikan dengan berapi-api.(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

Bagiku ini sedikit berbeda, aku tak segila si bro! Meskipun samar, secara simbolik relatif ada kesamaan memaknai perlawanan! “Negaraku kecil: rumah dan keluarga!” Central perhatian yang mesti diperhatikan. Titik nadirku sekarang adalah serangan dari dalam tubuh sendiri. Memanfaatkan potensi yang ada menjadi benteng terakhir. Bargaining antara peluang dengan kondisi tubuh yang mulai rapuh. Tak ada yang bisa memaksa ketika vonis: “Tubuhmu yang minta pensiun. Tak terelakkan, berobat jalan, check-up tiap bulan, pilih kerja yang sesuai dengan kondisi tubuhmu!” Begitu ujar para dokter—dokter jantung, dokter tulang, dokter syaraf—nyaris pada ujung kesimpulan yang sama.(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

Pilih kerja?… Sayang sekali tak ada yang berani memilihku jadi CEO, direktur, manajer, atau…? Tak mau disebut penyakitan apalagi pengangguran, pada akhirnya aku mengangkat diri sendiri sebagai apa pun dengan bertugas rangkap dari CEO, direktur, s.d. office boy, dan juga cleaning service!!(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

“Bangsat! Kumaki tubuh ini!”(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

Setelah berbulan menikmati sakit dalam kepasrahan, support dan doa bersahutan di grup WhatsApp memberiku semangat. Perlahan bangkit. Amarah dan kondisi keterpurukan ini akhirnya tak perlu aku kutuk lama. Bermitra dengan kawan-kawan yang sama-sama “gundul”, entah karena efek mikir resah berkelanjutan atau karena senantiasa kami sering saling jambak? (Silih jenggut jeung nu dugul).(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

Pekerjaan itu bermula—kalau boleh dibilang pekerjaan—berkarya mengutak-atik barang bekas, dari mulai limbah plastik, besi, kayu, bambu… apa pun! Ruh semangat yang kugambarkan sebagai “samurai tanpa pedang” (Hideyoshi Toyotomi), bermodal keterampilan dan keuletan nyaris tanpa dukungan kapital. Ide “nyeleneh” itu kutawarkan daripada senantiasa keasyikan berisik menggugat negara, badut politikus, dan serakahnya oligarki. Ketika berisik yang hanya menyisakan ampas kopi dan juga menggerogoti kuota, bahan bakar protes dan narsis kegelisahan di medsos. Bukan tak setuju jika akhir pertimbangan berujung pada kesimpulan kecewa, justru kemudian kesulitan itu malah semakin mengkilat! Dengan kata lain, hanya dengan speak up, itu tak cukup mampu menghapus derita, terutama sulitnya keuangan karena tak ada suplai penghasilan dari pekerjaan.(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

“Satu-satunya keberhasilan, kita tak pernah terlibat korupsi! Karena pekerjaan saja gak punya! Apa yang mau dikorupsi?” Berisik dan gelak tawa kami memang cuma katarsis.(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

Dan tawaran itu ragu ditimbang! Meski kubilang anggap saja ini darurat perang: “Kita lawan keterpurukan ini dengan apa yang kita punya, soal ide belakangan. Targetnya bersenang-senang.” Musyawarah itu yang sering buntu. Modal kapital yang selalu mereka pikirkan. Struktur garis koordinasi akhirnya berubah menjadi seperti garis komando:(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

“Lupakan semua teori, targetkan saja masing-masing punya kerjaan seketemunya apa pun dan di mana pun!” Pada kenyataannya, empat jari melipat ini menunjuk pada diri sendiri. Dan anugerah: ‘kerjaan seketemunya’ itu datang.(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

Ketika juru parkir dokter (samping rumah) mengundurkan diri, serta-merta aku mengajukan diri agar aku diangkat jadi ‘staf ahli dokter’ spesial bagian… parkir! Ya, tugas parkir kendaraan pengantar pasien-pasien yang berobat. Jam kerja dua sif: pagi dan sore sesuai jam praktik. “Deal…!” begitu ujar dokter sumringah. Dokter samping rumahku bukan saja tempat faskes utamaku, beliau tetangga yang baik, memberi ruang empathy.(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

“Daripada merekrut tukang parkir orang lain, daripada ruang menganggur, toh, pekerjaan ringan ini masih bisa dikerjakan sambilan dengan pekerjaan lain!” Begitu kolaborasi ini disimpulkan. Maka kini wilayah ‘kantorku’ melebar sampai depan rumah dokter. Satu sisi situasi ini saling menguntungkan. Halaman dan trotoar depan rumahku menjadi bebas jadi tempat parkir resmi bersama. Dan penghasilan dari parkir… koreh-koreh cok ini mampu membuatku—mampu menjamin ketersediaan kopi, udud, dan sedikit extra food (camilan). Sedikit banyak suplai keuangan berkontribusi pula pada kelancaran ‘usaha’ di “kantor pusat!”. Lebih jauh aku tak minta lagi subsidi “rokok dan kuota” dari istri dan anakku yang sudah cukup lama mencari penghasilan sendiri dari tempat pekerjaan yang berbeda. (Istriku selalu pergi pagi pulang sore ke dan dari tempat kerja yang tidak terlalu jauh dari rumah. Sementara anakku—lulus kuliah—kini bekerja di ibukota dan terkadang bertugas ke tempat yang jauh, ke luar pulau Jawa). Alhamdulillah, plus sepetak sawah warisan, satu yang kemudian menjadi benteng ketahanan pangan. Namun tetap saja “perputaran uang” belum cukup mengisi pundi tabungan.(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

Aktivitas work from home ini otomatis hanya aku sendirian!? Tak selalu sendirian akhirnya. Sering di halaman rumah—kantor pusatku—aku ditemani beberapa kawan seperjuangan, di antaranya si bro yang sama-sama hobi ngulik barang bekas dari besi. Kedatangannya yang selalu bebas tanpa jam kantor… (kuma karep!). ‘Karena pekerjaan ini tak memiliki jadwal rutin, gak konsisten penghasilan!” celetuk si bro suatu waktu memberi alasan!(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

Dan kami sepakat; PT Swara Daripada! Sementara kami namai begitu, Persekongkolan Terbatas ini, yang diniatkan sebagai ‘daripada’ menganggur dan stres mikiran “negara” dan juga benci—entah iri—pada Sembilan Naga yang selalu kami curigai tak pernah merasakan makan nasi dengan bala-bala… hehehe…! Ajaib juga dari ‘keisengan’ ini walau tak sering, tiba-tiba muncul order pekerjaan yang tentu saja menghasilkan cuan! Tagline kami memang: “Nampi rupi-rupi padamelan!” Tidak terpaku pada satu pekerjaan (ngulik barang bekas).(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

Sejatinya dari pekerjaan ‘ngulik’, satu sisi bisa memancing minat konsumen tertentu yang membutuhkan tenaga dan jasa kami. Bahkan jasa make-up artist, meronce konde, las teralis, EO tahlilan, sampai dengan gali sumur pernah dijabanin. Tentu saja aku sendiri hanya mendapat porsi pekerjaan yang ringan. “Kerja di kantor (work from office), kerja di rumah (work from home), kerja di mana pun / panggilan (work anywhere), dan terutama kerja… apa pun (odd jobs). Kalau mau dianggap keren atau buat gagah-gagahan, sebut kami freelancer’s atau gig workers. Sekalian jangan tanggung kalau mau gagah… gagah dalam kemiskinan! Haha…!” Barangkali seloroh memantas-mantas diri seperti yang dikatakan si bro ini semata cuma mereduksi emosi untuk sekadar penghiburan. Namun pada akhirnya kami menyadari kami cuma sosok-sosok yang menolak disebut pecundang, bekerja apa pun di mana pun mengais rezeki untuk menopang kehidupan pribadi dan keluarga yang di mata umum usaha konglomerasi ini dilabeli sebagai pekerja… serabutan! Tak terbantahkan! ‘Tunggu dulu, itu label tak keren! Di internal mesti kita sepakati, nama: Hybrid Working!(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

Hybrid Working PT Swara Daripada. Siapa tahu brand ini bisa memancing Pangeran Charles atau Ratu Spanyol tertarik memakai jasa kita! Imajinasi si bro memang selalu mengesankan! Soulmate sesama penyintas membuat kami cukup saling surti, kadang dari satu kalimat: “Suara berisik dan terusik cukup memberi pemahaman: ini hanya halaman penghantar karena kemudian isinya bisa setebal novel atau setebal yellow pages.”(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

Sebelum halaman pertama “percakapan” dibuka, dilepasnya bagasi. Barang itu senjata ngulik: machine tools dari mulai mesin bor, las listrik, mesin gerinda, dan sekotak peralatan yang berkaitan dengan urusan besi! Semua dikeluarkan. Sudah kuduga, pengagum Tom Morello, gitaris Rage Against The Machine (RATM) ini, ingin melepas hasrat berisik seperti musik metal: sebuah kerinduan “bercinta” mengutak-atik besi, terutama proses memotong dengan mesin gerinda atau memukul besi pastinya menimbulkan lenguh “berisik”. Absurd dan anomali. Kalau sudah kebelet, cinta memang kadang tanpa logika, begitu kata syair lagu dari Agnes Monika.(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

Tepat jam 10 pagi, aktivitas pelayanan dokter selesai. Tak ada lagi parkir penghantar pasien! Dan si bro entah mau bikin apa. Foreplay dimulai, rangsangan lembut perlahan—memilah bahan, menimbang ide sesuai bentuk bahan—yang akan menuju puncak orgasme, yakni: suara besi beradu dan raungan mesin memotong plat atau besi, dan bersenang-senang menikmati proses dan hasil pekerjaan.(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

“Now you do what they told ya!” Berulang-ulang syair “Killing in the Name” dari Rage Against The Machine ini menggiring suasana pelampiasan emosi menjadi keseruan dan kesatuan irama.(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

Di balik semua kenyataan dan kekonyolan adalah rasa kasihan. Si bro—katanya—nyaris dua bulan tanpa penghasilan memadai, hanya mengandalkan BLT dari orang tua, sedikit sumbangan sukarela dari saudara, juga jual beli: jual barang yang ada di rumah buat beli beras dan juga keperluan mendesak lainnya! Indahnya penderitaan belum lengkap: dua bulan itu istrinya tak memberi jatah! Demo mogok cinta: dengan menekan titik lemah menutup Selat Hormuz maka pasokan senjata biologis tak bisa disalurkan. Entah mungkin terinspirasi dari cerita naskah absurditas Albert Camus, namun yang jelas… Kepala Caesar “bro” Caligula berdenyut, stres memuncak ketika: “Teu dipasihan…!”, dan… absurd!(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

“Suara-suara berisik itu kode yang berarti bisa apa pun! Bisa lisan bisa perbuatan!” ujar si bro. “Plus ketika terusik mulut bini yang sering menginterupsi ruang sidang! Pada konvensi meja makan: ‘Anggaran belanja defisit, dana fiskal menurun, perlu jaminan kolateral, perlu anu dan ini… cash money segera!’ Kurang lebih mungkin seperti itu!” lanjut si bro. “Cukup dikira-kira karena susah juga mentranslate-nya ketika syair rap dikoplo dengan metal.”(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

“Lieur aing…!” Ini bini apa debt collector? Besi itu kadang sulit dibentuk seperti yang kita inginkan. Hantaman palu dalam nada amarah diayun si bro: “Fuck you! I won’t do what you tell me!” Berkali dan berulang kali: “Fuck you! I won’t do what you tell me!” Kutipan indah De La Rocha, vokalis RATM ini, kemudian diakhiri dengan: “Kumaha aing we nya!!??”(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

(Hehe, siapa bilang kami tak pernah korup? Lagu “Killing in the Name” dengan seenak dewe kami kutip dan kami salahgunakan untuk jadi pelampiasan pribadi. Ah, bisa jadi malah penciptanya merasa senang). Bukan lari dari masalah.(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

Sambil menunggu order pekerjaan yang malas muncul, kesempatan kecil di kantorku menjadi pilihan walau hanya terkesan pelampiasan, bagiku tak perlu diperdebatkan apalagi misal menuntutnya untuk bekerja secara profesional! Diinisiasi dari kebiasaan berkumpul yang tak sekadar membuncah resah gelisah. Secara intuitif gudar-gedor, utak-atik menjadi umpan balik. Efek sublim menjadi penting sebagai langkah awal, alih-alih mencari solusi instan ketika keterbatasan menjadi hambatan yang kemudian melahirkan dekonstruktif. Menempa diri dalam laku kreatif, menguji mental dan kesabaran. Tidak pasif menunggu peluang datang tapi berusaha menciptakan peluang. Ruang yang mandiri dan… profesional?(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

Kata itu kini bagiku terasa membagongkan. Teringat masa sebelumnya, kata itu pernah tertera sebagai cap di tulang punggung. Sejatinya membanting tulang, kerja lebih keras dibanding dengan sekarang. Jabatanku cukup mentereng: menangani berbagai proyek lapangan dari tempatku berkantor. Dan penghasilanku cukup bisa membuat para gadis desa terpana dan janda-janda terpesona. Bukan karena tak ada kesempatan melakukan itu… karena istri dan keluarga jauh lebih penting! “It’s a man’s world!” Ini adalah dunia lelaki! Dan aku bangga menjalani itu.(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

“But it’s nothing without a woman or a girl!” (Cuplikan bait lagu “It’s a Man’s World” – James Brown). Dan perempuan itu, istriku: kesetiaan yang tak terbantahkan. Saat kondisiku berkali-kali jatuh sakit, istriku selalu menemani. Kemudian vonis itu: Angina pectoris (penyempitan pembuluh darah) dan bekas accident yang menyebabkan sedikit retakan di tulang ekor mengharuskanku resign dari pekerjaan. Tak boleh lagi ‘kerja keras’, aku beralih ke mode ‘kerja cerdas’? Namun pada saat yang sama, kebutuhan kuliah anakku serta kebutuhan lain tanpa ada pemasukan cukup menguras tabungan. Mengeja langkah dari titik 0. Bahkan mundur selangkah—dari minus—mencoba mengoreksi kelemahan dasar, sejujurnya rasa gengsi susah untuk dilucuti. Mentalitas dan pengetahuanku latih untuk menjadi seseorang yang pantas mampu mencapai tujuan. Proses yang panjang dan berulang kali jatuh bangun. Zona nyaman itu tak semudah lepas: waktu yang lama membuatku terlena.(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

Jejeran motor, mobil, dan uang kecil yang kutip menunjukkan bahwa aku belum lagi beranjak dari urusan fundamental! Dan peluit pengais rezekiku sama berisiknya dengan suara deru mesin tools, juga dentam palu menghantam keterbatasan. Bahkan mungkin lebih berisik lagi ketika bercampur bising deru motor si mamang cilok, sopir angkot, ojek, pedagang sayur, dan para sales yang mengejar target penjualan. Tiap tetes bahan bakarnya adalah harapan yang ditunggu keluarga. Harus bijak menghemat dan selalu taat bayar pajak. Dari semua yang ada dan nampak terasa, hanya perasaan saling berbagi empathy yang tersisa!(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

“Perjuangan apalagi yang mesti kita lakukan di tengah sengkarut carut-marut negeri? Jika penguasa mendzalimi rakyatnya. Mereka sibuk mengeruk keuntungan pribadi dan kelompoknya.”(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

“Mereka lebih peduli pada sogokan para oligarki yang sama serakahnya. Dengan mengeruk kekayaan alam dan kerusakan yang ditimbulkan mengakibatkan bencana yang mesti ditanggung oleh rakyat. Para pejabat, para politisi busuk sibuk berbagi hasil dari korupsi dan kolusi!”(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

Tak sekedar narasi apologi dari ketidakmampuan. Pada akhirnya kita bicara kausalitas sebuah negeri sengkarut carut-marut manakala dipimpin para serigala berbulu…!” Soliloqui itu menyembur dari mulut si bro memaksa pendengarnya manggut-manggut.(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

“Puas, Bro?” tanya-ku. Ia hanya menoleh. “Kenapa enggak kau tulis saja itu di medsos?” Pertanyaan konyol memang!(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

“Hidup tanpa harta, tanpa takhta, tanpa cinta… terakhir gak kebeli kuota!” begitu ujarnya terbahak. Kami—dua suami, dua sahabat—terkadang rindu masa muda. Pada masanya sebagai teman satu almamater selalu terlibat dalam berbagai pergerakan baik di dalam maupun di luar kemahasiswaan.(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

Lagi dan lagi “Bongkar”! Lagu kebangsaan yang dulu lantang kami sering nyanyikan di jalanan… dan kini suara berisik itu selalu akan kita nyanyikan! Mungkin kini bukan untuk siapa-siapa, ini untuk kami. Suara yang berisik di lingkup kecil PT Swara Daripada… Persekongkolan Terbatas sahabat senasib. Di balik penamaan Swara Daripada hanyalah fiktif manipulatif. Apa yang kami lakukan pada akhirnya hanyalah menjalani hari-hari… tidak menunggu masa depan… bisa jadi hari ini kami sedang merancangnya. [](Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)

Tidak Tahu Jalan
Baca Tulisan Lain

Tidak Tahu Jalan

Ephron Herry

(Source: kosapoin.com/suara-yang-berisik)


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *