Aku menyebutnya sang kutu loncat. Bisa dikata kecerdasannya melebihi kutu buku. Sebab kutu loncat itu praktik. Terangnya itu ia adalah tipe manusia langka yang mampu membaca arah mata angin sebelum angin itu berhembus. Ia tidak pernah punya sawah, ladang dan kebun, tapi selalu panen di sawah, ladang dan kebun. Saban musim tandur, ia mendatangi para pekerja sawah di daerah yang berbeda, bahkan berkenalan dengan pemiliknya. Ya, hanya sekadar berkenalan dengan pemiliknya saja. Tidak sok kenal dan mengakrabkan diri, terlebih berani meminjam, baik barang apalagi uang. Setelah cukup berkenalan, ia pun pergi begitu saja.(Source: kosapoin.com/sang-kutu-loncat)
Katakanlah sawah-sawah di kampung itu beres sudah masa musim tandurnya. Ketika senja turun yang masih menyisakan bau pekat lumpur, di situlah ia mulai menyusun rencana. Malamnya ia berkeliling ke petak-petak sawah sambil menaburkan biji gendot, bayam, dan benih kangkung di pinggir-pinggir sawah yang berdekatan dengan pematangnya. Suasana malam yang sepi menjadi saksi bagaimana buku-buku jemarinya bekerja dengan sangat rapi, nyaris tanpa jejak. Ia tahu betul siklus air dan kapan pupuk subsidi akan ditebar oleh pemilik lahan. Binatang malam seperti jangkrik, tikus, ular dan katak menjadi saksi kelincahannya ketika ia mulai menyusup di antara pematang, tanpa meninggalkan bekas alas kaki.(Source: kosapoin.com/sang-kutu-loncat)
Dua puluh hari dari sana, ia kembali ke tempat itu dengan pagi-pagi sekali, ketika bulir-bulir kabut tipis masih menggelayut di atas pucuk-pucuk daun padi. Sambil menunggu pemilik atau pengurus sawah datang, lalu ia meminta izin dengan dalih ingin memanen kangkung, bayam atau gendot yang mampu menghambat pertumbuhan padi. “Pak, sayur-sayur liar ini kalau dibiarkan bakal memakan pupuk padi jelita sampeyan,” ujarnya sopan, dengan memasang wajah polos seorang pemuda yang hanya ingin mencari lauk untuk sarapan.(Source: kosapoin.com/sang-kutu-loncat)
Ya, bagi petani tumbuhan itu kalau tumbuhnya subur di sawah menjadi penghambat dalam asupan nutrisi. Tentu saja aksinya itu tanpa pernah meminta imbalan, setelah mendapatkan ijin untuk membersihkan sawah-sawah mereka, mulailah ia beraksi dengan begitu cekatan. Para petani justru merasa berutang budi karena ladang mereka dibersihkan secara sukarela. Bayangkan saja, berapa petak sawah yang dipanen olehnya dalam perharinya, kalau petakan sawah sekampung itu sudah ia tanami biji-biji itu? Singkatnya sampai sebulan lebih ia bisa panen setiap hari dan hasilnya dijual ke pasar induk. Sebuah siasat sederhana yang menghasilkan pundi-pundi tanpa modal tanah. Dari upah sayur liar yang ditanamnya itulah, ia bisa membeli kemeja necis dan minyak rambut wangi—sampai bisa ngumpulin modal buat kawin di KUA.(Source: kosapoin.com/sang-kutu-loncat)
Begitu pula di kebun singkong atau kebun kayu, ia suka menabur biji-biji peria, waluh, markisa, pokoknya jenis tumbuhan yang bisa merambat ke batang pohon. Modusnya sama—izin membersihkan tanpa meminta bayaran bila sudah berbuah. Aroma tanah basah dan rimbunnya dedaunan seolah menjadi panggung sandiwara yang sempurna baginya. Lama-lama kegiatannya itu ada yang memperhatikannya. Tiada lain yang memperhatikannya itu teman sewaktu duduk di bangku esde. Seorang pria bermata tajam yang langsung melihat potensi besar di balik ketenangan sang kutu loncat. Mula-mula ia ditawari sebagai tim sukses dari mulai pencalonan RT, RW, Kuwu, Camat, Wakil Rakyat, sampai Capres.(Source: kosapoin.com/sang-kutu-loncat)
Singkatnya, tahap demi tahap itu dilaluinya, anehnya lagi apakah ini sebuah kebetulan atau tidak, terang dan jelasnya begini—siapa pun calonnya yang mana ada ia sebagai tim suksesnya selalu menang. Ini semua berkat dukungan kawan sebangku esde-nya yang berkata, bahwa ia punya kemampuan untuk menyusup dan mengendalikan pasar dengan bukti tak ada satu pun pemilik sawah, ladang dan kebun yang curiga padanya. Simpunya, bagi teman esde-nya itu ia dianggap ahli siyasah yang tak bisa diragukan lagi kemampuannya.(Source: kosapoin.com/sang-kutu-loncat)
“Kau bukan sekadar pembersih gulma,” bisik temannya itu suatu hari di sebuah kedai kopi tua yang remang, “Kau adalah pengendali arus.” Tukasnya. Kepulan-kepulan asap rokok mengudara di antara wajah mereka yang serius, sampai menjelma layar-layar pentas kehidupan di benak masing pribadinya. “Politik itu persis seperti-sawah-sawah yang kau datangi, baik di waktu ramai pun sepi. Rakyat adalah tanahnya, janji kampanye adalah benihnya, dan kekuasaan adalah panennya. Selama ini kau menanam tanpa tanah dan memanen tanpa modal. Jika kau bisa menipu naluri para petani tua yang berpengalaman, kau pasti bisa mengendalikan isi kepala para pemilih di bilik suara. Kau adalah pengendali arus yang sesungguhnya.”(Source: kosapoin.com/sang-kutu-loncat)
Mendengar pemaparan yang panjang lebar seperti itu, sang kutu loncat hanya tersenyum tipis dengan hidung kembung kempis. Selebihnya ia menyesap sisa kopinya. Lamat-lamat ada yang tumbuh di ruang imajinya, ia menyadari betul bahwa kini panggungnya bukan lagi lumpur, melainkan karpet merah. Sesuai arahan teman esde-nya ia pun mulai menjajal kemampuannya itu dimulai dari strata akar rumput dan tentu saja teman esde-nya itu menjadi mentor langsungnya, tanpa ada perantara di antara mereka.(Source: kosapoin.com/sang-kutu-loncat)
Kariernya pun meningkat, dari mulai orang kepercayaan RT sampai menjadi staf khusus Wakil Rakyat. Lama-lama gelar di belakang dan di depan namanya disandang dari berbagai universitas ternama. Bukti-bukti ia masuk dunia kuliah otentik, tanpa adanya jejak manipulasi beli izasah palsu. Ia memanfaatkan waktu senggang di antara lobi politik untuk membaca buku-buku teori sosial, lalu mendaftar kuliah semester pendek yang legal sekaligus prestisius. Ia melompati sekat-sekat sosial dengan keanggunan yang mengerikan. Seiring usianya yang semakin menua, lama-lama bisnisnya berkembang dan terbagi jadi dua periode. Satu tahun berjibaku sebagai tim sukses di ring utama. Empat tahun membuka perusahaan, tegasnya menjalankan tender sesuai program yang dijalankan jagoaannya pasca memenangkan pemilu. Begitu terus dan seterusnya.(Source: kosapoin.com/sang-kutu-loncat)
Anehnya lagi, ia punya intuisi yang tak pernah meleset, jika ia meloncat dari yang semula didukungnya, benar saja yang bakal jadi pemenang adalah majikan baru yang didukungnya. Hal itu menjadikan grafik dalam statistik yang bisa dikata sebagai algoritma pengekor. Tidak jarang ada juga yang banyak mengikuti jejaknya. Singkatnya, kemana pun ia meloncat, pastilah yang lain pun ikut meloncat dan merapat—menyatakan diri jadi pasukan di bawah kepemimpinannya dengan satu catatan—yang penting tidak pernah serakah dalam potong kue dan ia tetap sebagai pucuk pimpinan. Mereka memujanya seperti kompas moral politik, tanpa tahu bahwa kompas itu hanya menunjuk ke arah keuntungan pribadinya. Baginya, kesetiaan adalah barang mewah yang tidak punya nilai tukar di pasar kekuasaan.(Source: kosapoin.com/sang-kutu-loncat)
Apakah kisah hidupnya ini termasuk ke dalam kisah absurd atau surealis? Entahlah. Terangnya aku hanya ingin menceritakan perihal sosoknya saja yang selalu ada dalam kalang kemujuran, seperti halnya di ini kisah pada episode lain waktu, lain hari, lain juga alurnya: Ia ditawari jabatan setingkat mentri. Gedung-gedung tinggi ber-AC kini menggantikan aroma lumpur sawah masa lalunya. Tanpa berpikir panjang ia pun menerima jabatan itu dan sukses sudah jabatannya dalam menggawangi komunikasi, baik yang beredar di tingkat birokrasi pun di masyarakat sipil, sampai ke akar rumputnya. Pidatonya tertata, senyumnya karismatik, dan retorikanya mampu menjinakkan demonstran paling beringas sekalipun. Singkat kisahnya, semua orang tunduk pada sihir komunikasinya.(Source: kosapoin.com/sang-kutu-loncat)
Kesuksesannya tersebut, tentu saja membawa efek domino yang semakin membesarkan namanya. Sampai tak terasa putaran pemilu pun tiba, ia yang nampak loyal dan setia—satu tahun menjelang jabatan jagoannya berakhir, sudah mengundurkan diri dan berpindah pada tuan baru. Sebagaimana biasanya para pengekor pun ikut berbondong-bondong pindah haluan. Namun, kali ini ia benar-benar menggunakan siyasah, ingin menyingkirkan para pengekor yang jumlahnya semakin banyak. Baginya, gerombolan pengekor ini tak lebih dari sekadar hama yang menguras nutrisi kuenya, persis seperti gulma-gulma di sawah tempo dulu. “Terlalu banyak mulut yang harus diberi makan membuat kue ini cepat habis,” pikirnya dingin. Toh yang menang adalah petahana dan ia tetap berada di garis petahana pasca kembali terpilih. Singkatnya, ia memotong tali sekoci, membiarkan para pengekor itu tenggelam dalam kalkulasi politik yang salah. Dengan satu manuver di media massa yang disiarkan malam hari, ia membalikan opini publik dan membuat para pengekor dituduh sebagai pembelot yang tak tahu diri.(Source: kosapoin.com/sang-kutu-loncat)
Hal ini tentu saja memanen tanya dan seru di kalangan para pengekornya. Suasana yang semula penuh sanjungan berubah menjadi hawa dingin yang mencekam. Satu demi satu kabar burung berdatangan dengan ragam kisah yang berbagai-bagai. Konon katanya ia sudah jengah dengan alur politik pengekor yang hanya ingin nikmatnya saja. Namun hal ini pulalah yang juga menjadikannya tak pernah kembali nyaman kala ia tengah berada dalam ruang dan peristiwa apa pun itu paradigmanya. Setiap langkah kakinya kini dihantui oleh bayang-bayang masa lalu. Ia dianggap sebagai pengkianat kelas berat yang kini sering mendapatkan ancaman dari berbagai lini.(Source: kosapoin.com/sang-kutu-loncat)
Bagaimana tidak: Gawainya tak henti bergetar menerima pesan-pesan gelap, dan setiap kali ia memandang ke luar jendela mobil mewahnya yang anti peluru, ia merasa sedang diawasi oleh mata-mata dendam yang siap menerkam sang kutu loncat—yang kali ini, mungkin, telah salah mendarat. Ya, hari-harinya kini tidak ada lagi ketenangan pagi, seperti ketika ia menunggu petani di pematang sawah. Setiap kali ia melangkah ke luar dari sebuah gedung pertemuan, rombongan pengawal berbadan tegap harus mengelilinginya ketat—keadaan terbalik ini dengan ia yang dikenal anti pengawal. Sang kutu loncat yang cerdas itu kini sadar, dalam lompatan terakhirnya ini, ia mungkin telah mendarat di atas jaring laba-laba yang siap menghisap balik seluruh keberuntungannya. [](Source: kosapoin.com/sang-kutu-loncat)










Sebuah realis yang selalu terjadi di dunia pewayangan. Gaya bahasanya menawan, memiliki ciri khas. Lanjutkan dan terus berkarya kang.
Cerpen ini bagi saya sebuah tips jitu untuk mendapatkan milyaran rupiah