Sudah setahun lebih, saya membaca tulisan-tulisan yang masuk ke meja redaksi. Lamat-lamat saya memahami banyak hal, baik itu dari khas gaya bahasa seorang penulis, sampai penambahan pengetahuan, dan itu sangat menguntungkan saya bisa belajar sekaligus mendapatkan ilmu secara gratis. Meski demikian, tentu saja tidak semua tulisan bisa diterbitkan, musabab banyak hal yang tak bisa dijabarkan dalam tulisan ini.
Lantas, apa yang ingin saya jabarkan selanjutnya? Saya sendiri tidak tahu, akan tetapi dari frasa ‘tidak tahu’ inilah yang pada akhirnya saya ingin menuliskannya di sini. Lamat-lamat saya kian paham dengan bahasa organik. Lamat-lamat saja juga kian mengetahui bahasa generik. Lamat-lamat memahami kecendungan sang penulis. Lamat-lamat semakin paham kenapa pelatihan kecerdasan buatan sampai masuk ke ruang-ruang akdemis dan fokus utama yang dilatihnya untuk para pengajarnya. Singkatnya, sampel didapat dengan simpulan guna meringankan kerja.
Laju, hubungannya dengan meja redaksi itu apa? Terlalu klise jika berkata demi menjaga orisinalitas sebuah tulisan, sebab kita sendiri adalah ‘sisa-sisa’. Sebagaimana kata-kata memang sekadar kata-kata, tak ada yang berubah secara drastis dalam susunan kamus pun dengan pembendaharaan kata di ruang ingatan. Maka, ungkapan ‘kita adalah sisa-sisa’ menyoroti sifat dinamis dan siklus dari peradaban itu sendiri. Peradaban tidak pernah statis, melainkan terus mengalami perubahan, pertumbuhan, dan kemunduran. Setiap peradaban meninggalkan jejaknya dalam bentuk artefak, bangunan, teks, dan gagasan yang kemudian diwarisi oleh peradaban berikutnya. Namun, tidak semua aspek dari peradaban tersebut akan bertahan. Seiring waktu, beberapa aspek akan hilang atau terlupakan, sementara yang lain akan tetap relevan dan memengaruhi peradaban berikutnya.
Dengan demikian, setiap peradaban adalah ‘sisa-sisa’ dari peradaban sebelumnya, yang terus berproses dan beradaptasi dengan perubahan zaman. Manusia, sebagai bagian dari peradaban, juga merupakan ‘sisa-sisa’ dari masa lalu, yang terus berproses dan beradaptasi dengan perubahan zaman. Jelasnya, ungkapan “kita adalah sisa-sisa” mengandung makna mendalam tentang posisi manusia dalam arus waktu dan peradaban. Manusia, sebagai individu maupun kolektif, adalah produk dari sejarah panjang yang penuh dengan peristiwa, gagasan, dan pencapaian. Setiap generasi mewarisi warisan dari generasi sebelumnya, baik berupa pengetahuan, teknologi, maupun nilai-nilai budaya.
Namun, warisan ini tidak pernah diterima secara utuh. Manusia selalu memilih, memodifikasi, dan menafsirkan ulang warisan tersebut sesuai dengan konteks dan kebutuhan zamannya. Dalam proses ini, beberapa aspek dari warisan tersebut akan hilang atau terlupakan, sementara yang lain akan tetap relevan dan berkembang. Sebagaimana fenomena tahunan, katakanlah dalam ungkapan ucapan selamat hari raya dan permohonan maaf merupakan bukti konkret yang otentik bahwa kita adalah sisa-sisa dari ungkapan dan bahasa yang sudah ada dengan cukup meng-copy paste saja.
Seperti itulah kecerdasan buatan menjamur begitu pesat alias copy-paste, jadilah bahasa generik. Uniknya bahasa generik bisa hadir dalam genre sastra apa saja. Katakanlah satu kalimat itu bisa ada dalam karya fiksi, sekaligus bisa hadir dalam tulisan ilmiah, padahal jika meliat genre-nya pun jelas sudah berbeda, tapi satu rangkalain kalimat generik itu bisa masuk di keduanya dengan tidak keluar dari makna paragraf utuh yang dibuatnya, sebagai contoh: “Di balik keadaan yang tampak biasa, tersimpan sesuatu yang menarik untuk dipahami lebih jauh.” Kalimat ini bisa menjadi pembuka sebuah peristiwa dalam karya fiksi, baik cerpen, novel atau puisi esai dan balada. Dalam tulisan ilmiah atau esai, serta reportase, kalimat ini juga bisa menjadi pengantar pembahas suatu fenometa.
Dengan terus mencermati kalimat-kalimat generik yang kian banyak muncul pada tulisan-tulisan yang dikirim ke meja redaksi, saya pikir ini bukan lagi plagiasi, melainkan penyeragaman pikiran. Apalagi ketika dihubungkan dengan pelatihan-pelatihan pemakaian alat kecerdasan buatan yang kian masuk ke ruang-ruang akademisi. Kembali ke sample yang di dapat dengan pengalaman menjadi juri penulisan cerpen baik di tingkat FLS3N dan sample yang sudah saya sebutkan di atas, dalam lomba cerpen 97% bahasana generik, padahal beda pembimbing, beda sekolah, beda alur kisah dan wilayahnya pun berjauhan, tersekat kecamatan dan kelurahan, meski masih satu kota.
Begitu pun dengan sample tugas-tugas ruang akademis mutlak sudah gaya bahasanya 100% sama. Kini, soalnya adalah, apakah fungsi keceradan buatan itu untuk menyeragamkan pikiran di seluruh dunia? Jika tujuannya demikan, katakanlah, jauhnya itu akankah tercipta kedamaian di muka bumi ini, sebab sudah merasa satu visi dan misi? Namun hal itu terbantah sudah dengan prinsip. Katakanlah secara visi dan misinya itu sepakat dalam membuat gelas, tapi prisip yang akan membedakannya meski bahan materinya sama. Ada yang jadinya cangkir, mug, meski sama-sama bercangklek dan fungsinya berbeda meski sama-sama alat minum.
Pertanyaan mendasar berikutnya yang kembali mencuat dalam benak saya, apakah dengan penyeragaman pola pikir yang dimulai dengan gaya bahasa akan menciptakan suatu siklus yang harmonis, ke depannya? Saya pikir tidak akan terjadi juga, sebab dari hasil simpulan wawancara didapatkan makna—yang penting tugas selesai tepat waktu. Artinya bisa saja tugas-tugas yang dibuatnya itu tak pernah dibaca. Arti lainnya lagi bahwa diciptakannya kecerdasan buatan itu disamping untuk membantu meringankan pekerjaan sekaligus berimbas atau berdampak pada malas dalam arti menjadi sebuah cara termudah dalam mengendalikan manusia itu dengan membuatnya berhenti membaca. Justru di sinilah bahayanya itu—mereka yang berhenti membaca, biasanya mempercayai apa saja. Jauhnya, tulisan dalam laporan akademisi yang dibuatnya itu beda betul dengan praktiknya di lapangan.
Jadi, apakah yang sebenarnya tengah terjadi dengan hadirnya kecerdasan buatan dan kini marak digunakan oleh banyak kalangan? Adakah kita tengah digiring secara masif untuk membodohi diri kita sendiri dengan lamat-lamat menjadi kebiasaan. Maka ketika sudah menjadi kebiasaan tak lagi merasa berdosa. Sebagaimana melakukan dosa pertama begitu takut dan menghantui pikiran, kemudian melakukan lagi untuk yang ke dua kalinya, ke tiga kalinya, ke empat kalinya sampai hal itu menjadi pola yang lumrah bagi dirinya—tak menganggap lagi itu perbuatan dosa.
Di sisi lain, jika Tuhan ingin menyeragamkan pikiran, tentu saja sudah dilakukan sejak kali pertama alam semesta ini dibuat. Musabab itulah mengapa ada penutup nabi dan rasul sebagai penyempurna dari agama sebelumnya, meski secara teologis, makna rahmatan lil alamin bukan merujuk pada konsep wujud atau zat Tuhan itu sendiri yang dalam akidah Islam disebut sebagai Tauhid, melainkan sebagai sebuah misi keagamaan dan cerminan dari sifat-sifat Tuhan. Istilah ini menggambarkan esensi serta tujuan utama ajaran Islam sebagai instrumen pembawa kebaikan, kedamaian, dan kesejahteraan bagi seluruh makhluk hidup, baik manusia, hewan, tumbuhan, maupun alam semesta.
Namun makna secara umum dan luasnya dari kalimah rahmatan lil alamin adalah sebuah konsep tentang cinta kasih universal dan perdamaian yang melintasi segala batas agama, suku, budaya, hingga spesies. Konsep ini menegaskan bahwa di tengah keberagaman pola pikir yang ada, kehadiran suatu ajaran atau sistem nilai harus mampu menjadi solusi kebaikan yang memberi dampak positif bagi kehidupan semua makhluk di bumi.
Pertanyaan krusialnya, apakah dengan hadirnya kecerdasan buatan akan mengambil posisi itu atau merupakan sebuah upaya dalam meruntuhkan sensibility kepenulisan, dan jauhnya bisa saja jadi secara hakikatnya sama dengan makna neokolonalisme yang tanpa adanya paksaan dalam melakoninya. Sementara banyak sudah sebelum haridrnya kecerdasan buatan perihal kasus-kasus dalam gugatan dengan bahasa yang sama meski beda isi alur kisah—harus selesai di meja perundingan sebagaimana judul cerpen dan lagu yang sama. Aplagi ini dengan ragam karya dan beda penulis, tapi secara gaya bahasa generik, singkatnya, bisakah kita benar-benar menilai tulisan-tulisan itu dengan netral? Tentu saja masih bisa dalam tingkat ide, meski tersimpan dalam kalang ‘sisa-sisa’. Namun secara murni? []
=========
CATATAN KHUSUS:
Sebelumnya saya menulis tulisan dengan judul Fenomena Legalitas Bahasa dari Daur Ulang Sisa-Sisa









