Implementasi Kebijakan dan Kebijaksanaan Di Bumi Allah

Implementasi Kebijakan dan Kebijaksanaan Di Bumi Allah

Semua keputusan pada dasarnya lahir dari sebuah kepala. Kepala keluarga, Kepala Rumah Tangga, Kepala Negara, Kepala Pemerintahan dan kepala-kepala yang lain, atau bahkan kepala bagi dirinya sendiri sebagai manusia yang personal dan identitas. Yang tentunya harus mampu memilah itu biar tak keliru-keliru. Tentu saja, setiap keputusan adalah hasil dari proses yang tidak berdiri begitu saja. Di dalamnya terdapat dasar yang dirujuk, pertimbangan yang dipikirkan, dan metode yang ditempuh sebelum akhirnya diputuskan.

Karena itu, sebuah keputusan yang tepat tidak lahir dari sikap asal-asalan. Ia lahir dari usaha memahami keadaan, mempertimbangkan berbagai kemungkinan, lalu memilih jalan yang dianggap paling tepat untuk dijalani. Dalam pemahaman saya, terdapat perbedaan antara kebijakan dan kebijaksanaan. Kebijakan adalah keputusan yang telah dipadatkan menjadi aturan, ketentuan, atau produk yang berlaku dalam suatu organisasi, lembaga, atau pemerintahan. Ia bersifat formal dan mengikat.  Sedangkan kebijaksanaan lebih bersifat muatan ruhani dari pribadi yang merupakan pelakunya. Ia hidup dalam diri manusia yang mampu melihat sesuatu secara lebih utuh daripada sekadar bunyi aturan. Kebijaksanaan tidak hanya bertanya apa yang benar menurut ketentuan, tetapi juga apa yang baik untuk manusia yang terlibat di dalamnya. Sehingga Kebijakan memerlukan kebijaksanaan dari setiap pemutusnya agar kehidupan bersama memiliki arah yang jelas dalam pelaksanaannya.

Putusan yang bijaksana bukanlah putusan yang mencari siapa yang harus disalahkan. Ia juga bukan putusan yang sekadar memindahkan beban dari satu pihak kepada pihak lain. Putusan yang bijaksana berusaha menghadirkan manfaat, mengurangi mudarat, dan membuka kemungkinan bagi perbaikan bersama dalam skalanya. Karena itu, kebijaksanaan tidak lahir dari satu sumber saja. Ia tumbuh dari wawasan, pengetahuan, pengalaman, empati, kesediaan mendengar, dan kemampuan memahami kenyataan secara lebih luas. Semakin kaya pengalaman seseorang dalam memahami kehidupan, semakin besar peluangnya untuk bertindak dengan bijaksana. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali menempatkan hukum/aturan sebagai puncak penyelesaian masalah. Padahal hukum hanyalah salah satu lapisan dalam kehidupan manusia.

Hukum diperlukan untuk menjaga ketertiban. Ia bekerja dengan kategori yang tegas: benar dan salah, sah dan tidak sah, boleh dan tidak boleh. Namun karena sifatnya yang formal, hukum sering kali memerlukan proses yang panjang, rumit, dan melelahkan. Bahkan dengan hukum dan aturan yang merupakan padatan bisa juga meangkibatkan pertengkaran. Karena dalam hukum hanya berlaku kanan atau kiri, atas atau bawah, bayangin saja kalau dalam sebuah mobil ada 3 orang saja misal. Yang satu ke kiri, yang satu ke kanan, yang satu lagu lurus. Wah rame sekali itu isi mobilnya. 

Mungkin karena itulah banyak orang yang memahami hukum justru lebih dahulu mendorong penyelesaian melalui jalur kekeluargaan maksudnya ini dengan cinta dan kasih sayang. Bukan karena hukum tidak penting, melainkan karena ada lapisan lain yang kadang lebih mampu menyelesaikan persoalan secara utuh. Di atas hukum terdapat akhlak: Akhlak tidak lagi bertanya semata-mata apakah sesuatu itu sah atau tidak sah. Akhlak bertanya apakah sesuatu itu baik atau buruk. Seseorang bisa saja memenangkan perkara secara hukum, tetapi belum tentu bertindak baik. Sebaliknya, seseorang dapat mengalah secara hukum demi menjaga hubungan, kedamaian, atau kemaslahatan yang lebih besar.

Namun di atas akhlak masih ada satu hal lagi, yaitu cinta. Cinta melihat kehidupan dari wilayah yang berbeda. Ia tidak berhenti pada kategori benar dan salah, baik dan buruk. Cinta merangkum semuanya. Cinta merangkul semuanya. Cintq hanya bercerita tentang keindahan. Apakah sesuatu menghadirkan keindahan bagi kehidupan? Apakah ia mendekatkan manusia kepada kasih sayang, pengertian, dan kedamaian? Di hadapan Tuhan, manusia mungkin tidak memiliki banyak hal untuk dibanggakan. Jika mengandalkan kebenaran diri sendiri, siapa yang dapat memastikan dirinya selalu benar? Jika mengandalkan ibadah, siapa yang dapat mengatakan ibadahnya sudah sempurna? Jika mengandalkan akhlak, siapa yang dapat mengaku bahwa perilakunya telah sepenuhnya baik?

Kita semua membawa kekurangan. Kita semua memiliki dapur kehidupan yang sering kali berantakan, penuh pekerjaan yang belum selesai, dan kesalahan yang terus berulang. Apakah karena pekerjaan diluar kegiatan keluarga bergantung kehidupan keluarganya? Tidak juga kan. Nabi Muhammad sampai akhir hayatnya dalam sejarah tidak beres mengurusi sebagian keluarganya yang tidak mau masuk islam. Lantas apakah itu membuat berhenti untuk menyampaikan islam?

Manusia tak bisa mengurusi urusan yang diluar kemampuan manusia. Manusia hanya bisa melakukan berbagai macam teknis saja. Sisanya yah tawaqal.  Karena itu, mungkin yang dapat dipersembahkan manusia hanyalah kesungguhan. Kesungguhan untuk ngemong pada siapa saja, merangkul siapa saja, menerima kritik, masukan, siapa saja. Kesungguhan untuk terus belajar. Kesungguhan untuk terus memperbaiki diri. Kesungguhan untuk tetap berjalan meskipun sering tersandung-tersandung. Yah namanya juga manusia. Wajarlah sedikit-sedikit mah. Asal jangan kebangetan dan belegug-belegug teuing. Dan di dalam kesungguhan tindakan itu terdapat cinta: Cinta yang membuat manusia tetap bertahan ketika pengetahuan tidak cukup. Cinta yang membuat manusia tetap berbuat baik ketika hukum tidak mampu menjangkau semuanya. Cinta yang membuat manusia tetap berharap meskipun sadar akan segala kekurangannya. Cintalah yang senantiasa menyimpan harapan. Cintalah yang membuat kita sebening senja. 

Mungkin pada akhirnya, kebijakan mengatur kehidupan bersama, kebijaksanaan menuntun keputusan pribadi, akhlak memperhalus perilaku, dan cinta memberi ruh yang suci bagi semuanya menuju Allah. Rahmatan Lil ‘Alamiin. Tanpa cinta, hukum dapat menjadi kaku. Tanpa akhlak, kebijaksanaan dapat kehilangan arah. Tanpa kebijaksanaan, kebijakan dapat menjadi beban.  Tanpa Allah apalah manusia. Tetapi ketika semuanya berjalan bersama, Allah-Rosulullah-Manusia akan memiliki kesempatan untuk hidup dengan lebih nikmat. []

Nagaratengah, 2 Juni 2026

Widi S Kudo

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *