Menilik Dimensi Puitik Politik ‘Pesta Babi’ dan ‘Amangkurat Amangkurat’

Menilik Dimensi Puitik Politik Pesta Babi dan Amangkurat Amangkurat

Dalam hal ini memang ada garis sinkronisasi yang sangat kuat antara film dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” karya Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale, dengan Teater Monolog “Amangkurat–Amangkurat” karya Goenawan Mohamad. Meskipun bentuk artistiknya berbeda; satu dokumenter investigatif, satu monolog puitik-teater, yang keduanya sebenarnya berbicara tentang tema yang sama: bagaimana kekuasaan modern kehilangan hubungan etis dengan manusia dan tanah. Dan nampak Keduanya melihat negara bukanlah hanya sebagai institusi administratif, tetapi sebagai struktur psikologis dan simbolik yang bisa berubah menjadi mesin ketakutan.

Sinkronisasi Tema Besar: Kekuasaan yang Terasing dari Kehidupan dalam “Amangkurat–Amangkurat”, kekuasaan tampil sebagai paranoia seorang raja yang kehilangan hubungan dengan rakyatnya. Sedangkan dalam “Pesta Babi”; kekuasaan tampil sebagai; negara pembangunan, oligarki, industri ekstraktif, dan proyek kolonial modern. Tetapi struktur batinnya sama: Amangkurat, Pesta Babi,  Raja yang takut kehilangan tahta,  Negara takut kehilangan kontrol, Kekuasaan dibangun lewat represi, dan Pembangunan dibangun lewat penguasaan ruang, juga Rakyat dianggap menjadi ancaman, dan Masyarakat adat dianggap hambatan. Tanah adalah wilayah kekuasaan; dan Tanah dianggap menjadi komoditas investasi. Di sini Amangkurat bukan sekadar tokoh sejarah. Ia berubah menjadi arketipe kekuasaan Indonesia modern.

Tubuh yang Dikorbankan: Dalam monolog Goenawan; tubuh rakyat hadir sebagai bayangan kekerasan, pembantaian, ketakutan, dan sunyi. Sedangkan dalam “Pesta Babi”: tubuh masyarakat adat, tubuh hutan, tubuh sungai, tubuh ekologis Papua, menjadi korban pembangunan. Yang keduanya memperlihatkan pola yang sama: Kekuasaan mempertahankan dirinya dengan mengorbankan tubuh lain. Dan kemudian pada titik ini, politik bertemu dengan tragedi.

Tanah sebagai Entitas Spiritual: (Ini sinkronisasi paling penting). Dalam “Pesta Babi”, tanah bukan sekadar aset ekonomi. Tanah adalah: leluhur, memori, kosmologi, dan ruang hidup sakral. Sedangkan dalam “Amangkurat–Amangkurat”, kerajaan kehilangan harmoni karena kekuasaan terputus dari dimensi spiritual. Jadi artinya: Ketika tanah direduksi menjadi komoditas, dan ketika rakyat direduksi menjadi objek, maka kekuasaan kehilangan legitimasi kosmiknya. Dalam filsafat Jawa maupun kosmologi adat Papua: penguasa yang merusak keseimbangan bumi sebenarnya sedang menghancurkan dirinya sendiri.

“Puitika Kesunyian”, Kedua karya yang sama-sama menggunakan “sunyi” sebagai strategi artistik. Di dalam “Amangkurat–Amangkurat”,  Sunyi muncul sebagai; ruang batin raja, gema rasa bersalah, dan kehampaan kekuasaan. Dalam “Pesta Babi”, Sunyi hadir melalui; lanskap Papua, tatapan masyarakat adat, hutan yang rusak, ruang yang perlahan kehilangan suara alamnya. Keduanya memakai kesunyian bukan sebagai kekosongan, tetapi sebagai; ruang tempat kekerasan yang terasa paling nyata.

 Kritik terhadap Kolonialisme Internal: Goenawan memakai sejarah Mataram untuk mengkritik otoritarianisme modern. Dalam “Pesta Babi” memakai Papua untuk memperlihatkan kolonialisme kontemporer. Prinsip keduanya memang mengandung gagasan; bahwa penjajahan tidak selalu datang dari bangsa asing. Penjajahan bisa hadir; dari pusat terhadap pinggiran, negara terhadap masyarakat adat, modal terhadap ruang hidup, bahkan dari elit bangsa sendiri terhadap rakyatnya. Di sini “Amangkurat” dan “Pesta Babi” bertemu: Kekuasaan nasional bisa memiliki watak kolonial terhadap bangsanya sendiri.

Dramaturgi Ketakutan: Amangkurat hidup dalam paranoia.Negara dalam “Pesta Babi” juga tampak bekerja melalui logika ketakutan;pengamanan wilayah,kontrol narasi,pembubaran diskusi,stigma separatis,dan pembatasan ruang kritik.Di sini keduanya menunjukkan:Kekuasaan yang takut kritik akan selalu menciptakan musuh.Dan ketika negara mulai takut pada percakapan, seni berubah menjadi ancaman politik.

Perbedaan Pentingnya: Walaupun sinkron, tapi keduanya punya pendekatan berbeda. Amangkurat–Amangkurat,  Pesta Babi–Internal, Psikologis–Eksternal, Sosial, Fokus pada batin penguasa–Fokus pada korban pembangunan. Puitik dan simbolik, Dokumenter dan observasional, Tragedi personal dan Tragedi struktural, Tetapi justru walaupun berbeda medium, keduanya saling melengkapi. “Amangkurat” memperlihatkan: Bagaimana kekuasaan rusak dari dalam. “Pesta Babi” memperlihatkan: Bagaimana kerusakan itu menjalar keluar menjadi kolonialisme modern.

Jadi kesimpulan Filosofis jika disatukan, kedua karya ini membentuk satu tesis besar: Ketika kekuasaan kehilangan hubungan etis dengan manusia, tanah, dan spiritualitas, maka negara berubah menjadi mesin kekerasan yang memakan rakyat sekaligus jiwanya sendiri. Amangkurat adalah wajah psikologisnya. “Pesta Babi” adalah manifestasi sosial-ekologisnya. Yang satu berbicara dari dalam istana. Yang satu berbicara dari pinggir hutan Papua. Tetapi gema yang terdengar sama: kekuasaan tanpa empati, pembangunan tanpa kosmologi, dan negara tanpa kemanusiaan, akan melahirkan tragedi yang terus menerus berulang dalam sejarah Indonesia.

“Pengingat bahwa kekuasaan tanpa kesadaran kemanusiaan akan selalu cenderung berubah menjadi tragedi sejarah” Kalimat itu adalah sesungguhnya berbicara tentang pola yang terus berulang dalam sejarah manusia. Ketika kekuasaan; kehilangan empati, memutus hubungan dengan penderitaan rakyat, dan merasa dirinya paling benar, maka negara perlahan berubah dari pelindung kehidupan menjadi alat dominasi. Sejarah dunia penuh dengan contoh seperti itu; kerajaan runtuh karena tirani, kolonialisme lahir dari keserakahan, perang terjadi atas nama ketertiban, pembangunan menghancurkan masyarakat yang justru ingin “dimajukan”.

Dalam banyak tragedi sejarah, kekuasaan biasanya tidak merasa dirinya jahat. Ia sering datang dengan bahasa: stabilitas, keamanan, kemajuan, pembangunan, atau keselamatan bangsa. Tetapi ketika manusia tidak lagi dipandang sebagai jiwa yang bermartabat, melainkan sekadar; angka produksi, objek politik, atau hambatan ekonomi, maka kekerasan menjadi mudah dibenarkan. Di situlah seni, sastra, teater, dan film memiliki fungsi penting. Karya seperti: “Amangkurat–Amangkurat”, “Pesta Babi”, puisi perlawanan, teater rakyat, musik kritik sosial, bukan hanya ekspresi artistik, tetapi semacam “alarm kebudayaan”.

Dan ia telah mengingatkan bahwa; negara bisa kuat secara militer, tetapi hancur secara moral. Dan sering kali keruntuhan sebuah kekuasaan dimulai bukan ketika istana diserang, melainkan ketika nurani kolektif mulai mati. Karena itu dalam tradisi kebudayaan Nusantara, pemimpin ideal bukan hanya kuat, tetapi juga: mampu menjaga keseimbangan, melindungi yang lemah, menghormati tanah, dan sadar bahwa kekuasaan bukan milik pribadi. Ketika kesadaran itu hilang, kekuasaan mulai memakan: rakyatnya, lingkungannya, kebudayaannya, bahkan legitimasi dirinya sendiri.

Maka tragedi sejarah sebenarnya bukan hanya tentang jatuhnya sebuah rezim, tetapi tentang; hilangnya rasa kemanusiaan di dalam tubuh kekuasaan. Ketika tanah hanya dipandang sebagai barang, manusia hanya dipandang sebagai alat, dan spiritualitas hanya dijadikan slogan, maka peradaban mulai kehilangan pusat nuraninya. Alur kalimat itu menggambarkan krisis terdalam dalam sebuah peradaban; bukan sekadar krisis ekonomi atau politik, tetapi krisis makna dan nurani.

Ketika tanah hanya dipandang sebagai barang, hubungan manusia dengan bumi berubah dari relasi hidup menjadi relasi eksploitasi. Hutan tidak lagi dipandang sebagai: sumber kehidupan, ruang sakral, rumah makhluk lain, atau warisan leluhur, melainkan sekadar: angka investasi, cadangan tambang, kawasan industri, dan objek transaksi. Dalam logika seperti itu, alam kehilangan martabatnya. Lalu manusia pun perlahan mengalami nasib yang sama. Manusia tidak lagi dihargai karena: kebijaksanaannya, kreativitasnya,

cintanya, atau jiwanya, tetapi dinilai berdasarkan: produktivitas, efisiensi, daya beli, dan manfaat ekonomi. Dan akibatnya, masyarakat modern sering menghasilkan paradoks: teknologi makin maju, tetapi kesepian meningkat; pembangunan meluas, tetapi keterasingan manusia makin dalam. Kemudian spiritualitas juga mengalami reduksi. Ia hadir di ruang publik; sebagai slogan moral, simbol identitas, seremoni formal, atau alat legitimasi kekuasaan, tetapi kehilangan daya transformasi batinnya.

Padahal spiritualitas sejatinya bukan sekadar ritual, melainkan kesadaran tentang: keterhubungan manusia dengan sesama, hubungan dengan alam, dan tanggung jawab etis terhadap kehidupan. Ketika spiritualitas hanya menjadi simbol, agama atau nilai budaya bisa terdengar keras di permukaan, tetapi kehilangan “elan vital” di dalam tindakan sosial. Di titik itulah peradaban mulai kehilangan pusat nuraninya. Artinya: Kemajuan tidak lagi dipandu kebijaksanaan, kekuasaan tidak lagi dipandu empati, dan pembangunan tidak lagi dipandu keseimbangan hidup.

Secara lahiriah, sebuah bangsa mungkin tampak megah; gedung tinggi, teknologi maju, ekonomi tumbuh, tetapi secara batin mengalami kekosongan. Karena pusat nurani peradaban sesungguhnya bukan pada kemewahan material, melainkan pada kemampuan menjaga; martabat manusia, keseimbangan alam, dan kedalaman makna hidup. Dalam banyak tradisi Nusantara, termasuk Sunda dan Jawa, keseimbangan itu selalu menjadi inti; manusia tidak boleh rakus terhadap bumi, kekuasaan harus menjaga harmoni, dan kehidupan dilihat sebagai jaringan relasi, bukan kompetisi tanpa batas. Ketika prinsip itu runtuh, peradaban mungkin tetap berkembang secara teknis, tetapi perlahan kehilangan jiwanya sendiri.

Sekian Terima kasih,

Bandung, 15.Mei.2026


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *