NATA SUKMA COMPLEX

nata sukma

TENTANG NASKAH DRAMA
“NATA SUKMA COMPLEX”
Karya; Tatang R. Macan

Penulisan naskah drama Nata Sukma Complex, karya ini diangkat dari latar belakang masa “tanam paksa” kopi di tanah Priangan (Preanger Stelsel), pada tahun 1833 di bawah kekuasaan kolonialisme Belanda di tanah Sunda. Gagasan karya dan kandungan peristiwa naskah drama, mengangkat pikiran-pikiran kolektif masyarakat agraris, yang mengalami kontaminasi kolonial dan dekolonialisasi hidup dari zaman – ke zaman hingga kini. Karya ini ditampilkan dalam kontek kekinian sebagai respons penulis terhadap kondisi kontaminasi industri pada masyarakat urban. Bentuk drama diwujudkan sebagai kredo karya “seni pernyataan”. Gagasan yang diangkat, merupakan suatu upaya untuk “menata tatanan masyarakat yang setara, inklusif, dan selaras” dalam meraih ruang hidup harmonis di Indonesia bahkan dunia.

Naskah drama Nata Sukma Complex, sebelumnya telah ditulis dengan judul; Nata Sukma. Karya ini semula berupa cerita tutur karya sastra Sunda klasik yang ditulis anonim tahun 1833 dengan Judul “Wawacan Nata Sukma”. Wawacan ini ditulis oleh masyarakat Kabupaten Bandung dalam gejolak masa “tanam paksa” kopi (Preanger Stelsel). “Wawacan Nata Sukma” was written anonymously by the people of Banjaran, the slopes of Mount Cupu, Barusalam Pangalengan village, in Bandung Regency. This Wawacan was written in Pegon (Arabic) letters in Sundanese around 1833 AD (19th century) during the “forced cultivation” period of growing coffee in Pangalengan. “Wawacan Nata Sukma” was transcribed from Arabic letters into Latin letters in Sundanese in 1983 by Drs. Pepen MEZ. This discourse is in the form of a fictional story about the life of a poor mountain person named “Nata Sukma” (Rusmana, 2024). Teks kemudian secara bertahap telah dilakukan penelitian, seminar, dan simposium nasional dan internasional.

Simposium yang berkelanjutan yang difasilitasi dan diselenggarakan oleh Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa Indonesia) diantaranya; Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara di FIB UI 2022, Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara XIX di FIB UGM 2023, dan Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara XX di BRIN 2025. Tahapan kerja penelitian, kemudian dipublikasikan pada Book Chapter; Buku Kajian Naskah Nusantara Artefaktualitas dan Kontekstualitas oleh Manassa Yogyakarta dan Oceania Press, 2024; Technium Social Sciences Journal, Vol. 54, 276-291, February, 2024; dan Jurnal Ilmiah Mudra ISI Denpasar tahun 2018. Dalam kerja berkelanjutan, teks wawacan tersebut diadaptasi oleh penulis menjadi naskah drama dalam bentuk sastra kontemporer dengan judul; Nata Sukma (2024-2025), selanjutnya penulisan bertumbuh menjadi; Nata Sukma Complex (2026). Realitas penulisan dan adaptasi teks ditujukan sebagai “wujud peristiwa perjuangan anak manusia yang berusaha merebut hak hidup merdeka, hak hidup harmonis dari tekanan kolonialisme dari zaman ke zaman”. Hati-hati bahwa kolonialisme sesungguhnya tidak pernah berhenti.

DRAMATIK PERSONIL
“NATA SUKMA COMPLEX”
Karya : Tatang R. Macan

  1. MARHAEN: Petani Miskin dari Pinggiran.
  2. PARA MARHAEN: Para Petani Miskin dari Pinggiran.
  3. MULTATULI: Abdi Kerajaan Belanda, Saksi zaman pada masa Kolonialisme Belanda.
  4. NATA SUKMA : Pemuda Anak Ki Miskin yang tumbuh dalam tekanan Kolonialisme.
  5. IBU / MARHAENI: Ki Miskin, Sosok Ibu bumi.

BAGIAN 1;

KETIKA PANGGUNG DIBUKA. TERDENGAR RAUNG PERINGATAN SUARA ALARM PERANG DUNIA. MERAUNG-RAUNG BISING MEMENUHI PANGGUNG DAN TEMPAT PENONTON. PANGGUNG SEOLAH-OLAH HAMPARAN LAHAN, SAWAH, HUTAN, BAHKAN KOTA ANTAH BERANTAH. DI BAGIAN ATAS BACKDROUP LAYAR PUTIH BELAKANG, TELAH TERGANTUNG SEBUAH KURSI BESAR KERAJAAN BERWARNA KUNING KEEMASAN. POSISINYA MENGHADAP KEARAH BAGIAN TENGAH PANGGUNG DAN KEARAH PENONTON. DISOROT CAHAYA PUTIH KUAT. SEMENTARA BAGIAN SELURUH PANGGUNG DIPENUHI CAHAYA MERAH. BUNYI-BUNYIAN PENGUSIR BURUNG, TIKUS, BABI, ULAR DAN HAMA LAINNYA DI SAWAH DAN HUTAN, GEMERINCING DISETIAP SUDUT RUANG. DUA, TIGA, EMPAT ORANG DARI PARA MARHAEN MEMAINKAN (BEBEGIG) ORANG-ORANGAN SAWAH. MEREKA SALING SAHUT DENGAN TERIAKAN, KADANG LENGKINGAN YANG DITEMBANGKAN (SEPERTI BELUK) SATU DENGAN YANG LAINNYA. MASING-MASING DARI MEREKA, DATANG DARI ARAH YANG BERBEDA SEPERTI ADA YANG SEDANG DIBURU. SUARA MEREKA DITIMPALI SUARA LENGKINGAN TEMBANG DAN DENTING DARI TUKANG KECAPI (RAJAH, ATAU TARAWANGSA) YANG MASUK MENYISIR MENGIRINGINYA. MEREKA TERUS BERGERAK SAMBIL MEMAINKAN  ORANG-ORANGAN SAWAH. LALU PADA LAYAR BELAKANG, MUNCUL LINTASAN VISUAL LANDSCAPE LADANG DAN SAWAH YANG MANDUL, POHONAN MERANGGAS, PARA PETANI, DAN TUKANG BAJAK PEMBALIK TANAH DIPETAKAN SAWAH DITARIK KERBAU YANG SESAK NAFAS. PENGGUNDULAN HUTAN, DAN MUNCULNYA SEMARAK PERKEBUNAN SAWIT MENGHIJAU, LALU LONGSORAN BANJIR BANDANG DATANG DARI BERBAGAI ARAH, MENYERET LONGSOSRAN KAYU-KAYU GELONDONGAN MENGHANTAM PERMUKIMAN RAKYAT DAN KOTA-KOTA BESAR. DERETAN PABRIK DAN CEROBONG ASAP PABRIK, HIRUK PIKUK KEBISINGAN KOTA. PARA MARHAEN DAN MARHAEN, PARA PETANI MISKIN ITU TELAH BERDIRI DI ATAS PANGGUNG. MATA MEREKA  SEJURUS KEDEPAN.

MARHAEN (1) :
Akan tiba saatnya, akan datang waktunya, setiap borjuis akan menerima Bom nya. Kalian Kapitalism…Kami berdiri bersama Petani
MARHAEN (2) :
Akan tiba saatnya, akan datang waktunya, setiap borjuis akan menerima Bom nya. Kalian Imperialism…Kami berdiri bersama Buruh
MARHAEN (1) :
Kami rakyat yang menanggung bencana, sementara kalian selalu berpesta pora
MARHAEN (2) :
Kami rakyat yang menerima malapetaka, sementara kalian munafik pendusta.
MARHAEN :
Saudara-saudara, penduduk negeri berantak. Kami berharap kehadiran kami kali ini tidak mengganggu kenyamanan. Perkenalkan nama kami Marhaen, lengkapnya Mar-hae-nis,..seorang petani miskin dari pinggiran. Kami bertani hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dan tidak untuk yang lain-lain. Kami bertani dengan satu harapan, agar anak-anak yang lahir dari rahim tanah ini kedepan mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Harapan kami, anak-anak yang tumbuh nanti tidak dicekoki hutang Asing Saudara-saudara, penduduk negeri berantak. Sebutan nama kami, kemudian menjadi pemicu, Sikap kaum proletar negeri ini, untuk keluar dari garis kemiskinan. Kami adalah Mar-hae-nis…! (DIIKUTI PARA MARHAEN YANG LAIN).
MARHAEN (1) :
(KUAT, LANTANG) Ya, kami Mar-hae-nis…!
MARHAEN (2) :
(KUAT, GERAM) Kami Mar-hae-nis…!
MARHAEN (3) :
(GEARAM) Mar-hae-nis…!
MARHAEN:
(TENANG, KUAT, KADANG GERAM) Kami Marhaenis, Rakyat kecil yang selalu dijadikan tangga pijakan, baik golongan atau pun partai untuk mencapai kapitalisme kekuasaan. Nah, saudara-saudara, terlepas dari ingatan tentang pahitnya kolonialisme masa lalu. Hari ini saya dan para Marhaen ingin mengabarkan seseorang, hari ini telah datang pada saya, seorang laki-laki miskin, putra dari Si Miskin. Ia datang dari masa lalu yang kelam, Ia datang menyelami perjanan waktu yang makin hari makin gaduh dan bertambah rapuh.
Saudara-saudara penduduk negeri berantak.Tolong di ingat, Bangsa ini pernah dihinakan oleh satu semboyan yang menyakitkan, “Verboden voor Honden en Inlander” “Di larang Masuk untuk Andjing dan Priboemi”. Dan laki-laki ini telah banyak menyaksikan penderitaan, diantara tanah milik rakyat, hutan belukar yang diperkosa kaum liberal dan oligarki yang turun temurun menikmatinya. Ia bangkit dengan jiwa bergetar, Ia pernah berdiri diantara kaum penjajah dan bangsa pribumi yang menanggung bencana.
Laki-laki ini bukan siapa-siapa, Ia tidak memiliki tahta atau pun silsilah para raja. Namun, siapa pun bisa kerasukan karenanya. (BERSAMBUNG DENGAN PARA MARHAEN SATU PERSATU SALING SAUTAN) Kata-katanya adalah penderitaan rakyat,
MARHAEN (1) :
Kata-katanya luka para petani,
MARHAEN (2) :
Kata-katanya adalah perlawanan para buruh,
MARHAEN (3) :
Kata-katanya teriakan kaum tertindas,
MARHAEN :
Kata-katanya adalah cahaya dari kegelapan. Laki-laki ini bernama Multatuli !

BAGIAN 2;

PARA MARHAEN, MARHAEN, DAN NATA SUKMA MENYAMBUT KEDATANGAN MULTATULI DI ATAS PANGGUNG. MULTATULI MASUK MENEPUK NEPUK TANGAN, IA TAMPAK TENANG, TAPI TIDAK KEHILANGAN KARISMA SEBAGAI PEMIKIR, DAN KRITIKUS YANG KERAS DAN TEGAS. IA MASUK DARI ARAH KIRI PANGGUNG. DIA MENYISIR PANGGUNG BERBICARA PADA PARA MARHAEN DAN KEPADA PENONTON.

MULTATULI :
Tuan tuan dan Nyonya nyonya, Terimalah Salam saya ! Nama saya Multatuli datang dari masa lalu. Dahulu saya abdi Kerajaan Belanda. Ditugaskan di Rangkasbitung Ibu kota Lebak Banten saat itu. Saya telah menyaksikan satu pengalaman yang penuh dengan ujian Seluruh Rakyat masih ditindas oleh Bupati mereka sendiri.
MARHAEN :
(DENGAN GERAM)… Bangsat! Pengkhianat! (MENDEKAT PERLAHAN) Tuan datang membawa cerita…
tapi cerita itu lahir dari penderitaan kami. Kami tidak butuh nama yang datang dari masa lalu. Kami butuh tanah yang tidak terus dirampas hari ini.
MARHAEN (1) :
(DENGAN GERAM) Rakus…
MARHAEN (2) :
(DENGAN GERAM) Babi…
MULTATULI :
Petani, buruh, dan nelayan hanya bisa tunduk dan berkeringat Tidak bisa tertawa. Dan hak-hak pribadi mereka diperkosa demi kepentingan penjajahan.
MARHAEN :
(MENGAKUI BUKAN BERARTI KALAH) Tuan tidak perlu mengulang luka kami. Kami hidup di dalamnya, bukan membacanya. Setiap hari kami berkeringat tanpa pilihan. Dan Tuan datang seolah penderitaan itu baru saja ditemukan.
MULTATULI :
Kerajaan Belanda dan para raja di negeri ini, telah berseketu dengan kejahatan. Saya telah menyaksikan bagaimana keadilan telah dikalahkan oleh para penguasa, Dengan gaya yang anggun dan sikap yang gagah. Tanpa ada ungkapan kekejaman di wajah mereka.
MARHAEN:
Dan Tuan tetap berdiri di dalamnya. Tuan melihat kekuasaan bekerja dari dekat. Tapi kami yang dihancurkan oleh keputusan itu. Jangan samakan melihat dengan menanggung akibat.
MULTATULI :
Dengan bahasa yang rapi mereka keluarkan keputusan-keputusan yang tidak adil terhadap rakyat.
Serta dengan budi bahasa yang halus mereka saling berbagi keuntungan yang mereka dapatkan dari keringat rakyat yang kehilangan tanah, perkebunan, ternak dan sawahnya. Ya, semuanya dilakukan Sebagai suatu kewajaran.
MARHAEN :
(LEBIH KERAS, MENANTANG) Bahasa mereka rapi karena kami dibungkam. Keputusan mereka halus karena kami dipaksa diam. Keuntungan mereka besar karena kami kehilangan segalanya. Dan Tuan masih menyebutnya sebagai sesuatu yang “disaksikan”.
MULTATULI :
Mereka,… Menghayati gaya peradaban hidup yang tinggi, Bersama sanak keluarga. Menghindari perkataan yang kotor, dan selalu berbicara dalam tata bahasa yang patut, sambil membanggakan keuntungan besar dari candu kekuasaan, sebagai hasil yang efisien dari tanam paksa, dari pajak di tanah jajahan negeri ini.
MARHAEN :
(SINIS, MENEKAN PELAN) Peradaban itu dibangun di atas tubuh kami. Kesopanan itu berdiri di atas penderitaan kami. Bahasa halus itu menutup suara jeritan kami. Dan Tuan datang membawa semua itu sebagai cerita.
MULTATULI :
Dengan perasaan yang mulia dan banggga, mereka berbicara tentang suksesnya penaklukan dan penjajahan. Mereka telah memerintahkan para prajurit, intelejen agar membantai Demonstran, yang mencoba melawan dan mempertahankan kedaulatan mereka !Ya, mereka adalah bangsa yang tidak pernah lupa mencuci tangan.
MARHAEN :
(EMOSI NAIK, TAPI TERKENDALI) Dan Kami tidak pernah lupa darah itu. Tanah ini masih menyimpannya sampai hari ini. Tapi Tuan bisa pergi setelah melihatnya. Kami tidak pernah punya jalan keluar dari luka itu.
MULTATULI :
Tuan tuan dan Nyonya nyonya.. Tentu tidak hanya saya saja yang merasa gelisah, terhadap dawat hitam yang menodai iman kita. Pikiran yang lurus menjadi bercela karenanya, karena kita tidak pernah bisa tuntas dalam menangani keadilan.
MARHAEN :
(PELAN, DALAM, MENUSUK) Kegelisahan Tuan adalah pilihan. Penderitaan kami adalah keadaan. Tuan bisa datang dan pergi dari rasa itu. Kami tidak pernah bisa keluar darinya.
MULTATULI :
Bagaimana keadilan bisa ditangani, dengan pikiran kita yang selalu tersekat-sekat ? Ya, saya rasa kita memang lelah. Tetapi kita tidak boleh berhenti di sini. Bukankah keadaan keadilan di negeri ini, belum lebih baik dari zaman penjajahan? Dahulu, rakyat tidak memiliki hak hukum apabila mereka berhadapan kepentingan dengan para Bupati.
Sekarang apakah rakyat kecil, sudah mempunyai hak hukum, Apabila mereka berhadapan kepentingan dengan Bupati-bupati, Wali Kota dan pejabat-pejabat masa kini ?
Dahulu para Bupati bisa lolos dari jerat hukum. Sekarang Bupati, Wali Kota, pejabat-pejabat yang kejam dan serakah itu, apakah sudah bisa dituntut oleh hukum ? Bukankah kemerdekaan yang sempurna itu, adalah kemerdekaan Negara dan Bangsa ? Negara anda sudah merdeka. Tetapi apakah bangsa anda juga sudah merdeka ? Apakah bangsa tanpa hak hukum bisa disebut bangsa merdeka ?
Saya mengatakan semua ini, Karena Saya sedang melawan perasaan sia-sia. Saya melihat, Negara Negara maju memberikan bantuan, ekonomi. Dan sebagai hasilnya, banyak rakyat dari Negara berkembang kehilangan tanah mereka, supaya orang kaya bisa bermain Golf, Supaya orang kaya bisa menggunakan Jet pribadi, atau supaya ada bendungan yang memberikan sumber tenaga listrik, bagi industri dengan modal asing.
MARHAEN :
Tuan,… Dari Barat hingga ke Timur tanah ini milik rakyat, Namun kini telah dikuasai korporasi Asing yang mengubahnya menjadi hijaunya lahan Sawit…. Anda tahu, sekarang di tanah ini kami yang menerima akibat, Setiap tahun longsoran besar gelondongan kayu dan batu memporak porandakan permukiman kami… Belum terhitung berapa ribu orang yang mati, bahkan hilang tinggal sebutan.
MULTATULI :
Tuan-tuan, dan Nyonya-nyoya… Tetapi para rakyat yang malang itu, Ya, Tuhan, Mereka hanya mendapat ganti rugi, Untuk setiap satu meter persegi dari tanahnya, dengan uang yang sama nilainya, dengan satu Pak Sigaret bikinan Amerika. Barangkali kehadiran saya sekarang, mulai tidak mengenakan suasana ? Keadaan ini, dulu sudah saya alami. Apakah orang seperti saya, harus dilanda oleh sejarah ? Tetapi ingat; Sementara sejarah selalu melahirkan masalah ketidakadilan, tetapi ia juga selalu melahirkan orang seperti saya.
Nama saya Multatuli, Saya bukan buku yang bisa dilarang dan dibakar. Saya Juga bukan benteng yang bisa dihancurkan. Saya Multatuli, Sebagian dari hati nurani tuan-tuan sendiri. Oleh karena itu,
Saya tidak bisa disamaratakan dengan tanah. (MENGAMBIL NAFAS) Baiklah, Tuan-tuan, para penguasa, Apabila ada keadaan yang celaka, apakah perlu ditambah lebih celaka lagi ? Pada intinya inilah pertanyaan sejarah kepada anda semua.
Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya, Waktunya sudah habis untuk kehadirann saya saat ini,
Saya harus berbagi waktu dengan Nata Sukma, dan para Marhaen yang akan turut memberi kesaksian betapa kejamnya tanam paksa di tanah jajahan di dalam negeri ini. Ini lah Nata Sukma… (MENGANGKAT TANGAN, MENUNJUK DAN MEMPERSILAHKAN KEPADA NATA SUKMA SERTA PARA MARHAEN. RUANG TEGANG. CAHAYA MERAH DOMINAN. KURSI RAJA DI LAYAR BELAKANG TETAP TERGANTUNG, PUTIH KEEMASAN SEPERTI BENDA YANG TIDAK JATUH, TAPI JUGA TIDAK HIDUP. PARA MARHAEN MASIH TETAP BERDIRI, TAPI BELUM SEREMPAK. SEPERTI TUBUH YANG BELUM SEPAKAT MENJADI SATU SUARA. NATA SUKMA MASIH BERDIRI DI ANTARA PARA MARHAEN)
NATA SUKMA :
Aku berdiri di sini bukan karena aku dipilih. Aku berdiri di sini karena tidak ada lagi tanah yang mau diam. Dari tahun 1833 sampai hari ini… Tanah ini tidak pernah selesai menjadi luka. Kami tidak sedang hidup di masa lalu. Kami sedang ditarik terus-menerus ke dalamnya. (MARHAEN MULAI MERESPONS PELAN, TAPI BELUM SATU SUARA.) Sementara anda dikenal sejak kisah tahun 1887
Jangan anda bilang ini sejarah. Sejarah itu terlalu rapi untuk sesuatu yang masih berdarah hingga hari ini. (HENING. NATA SUKMA MENATAP MULTATULI).
MULTATULI :
Aku datang dari waktu yang sudah selesai bagi tubuhku…tetapi belum selesai bagi kata-kataku. (IA BERHENTI. LALU MENGANGKAT TANGAN SEDIKIT, KE NATA SUKMA.) Aku menyerahkan waktu ini…
kepada yang masih berada di dalamnya. (IA MENUNJUK KE ARAH NATA SUKMA, MULTATULI MENGAKUI KETERBATASANNYA. NATA SUKMA CURIGA TERHADAP PENYERAHAN ITU).
NATA SUKMA :
Menyerahkan? Tuan datang dari masa lalu…tapi bicara seperti orang yang sedang mengembalikan barang pinjaman.
MULTATULI :
Karena aku bukan pemiliknya.
NATA SUKMA :
Atau karena Tuan tidak pernah benar-benar masuk ke dalamnya? Kalau Tuan menyerahkan waktu…
apa Tuan juga menyerahkan akibatnya?
MULTATULI :
Aku tidak bisa menyerahkan apa yang tidak pernah aku kuasai.
MARHAEN :
Kalau begitu… siapa yang menanggung kami?
NATA SUKMA :
Kami.
MULTATULI :
Dan aku hanya melihat.
NATA SUKMA :
(LANGSUNG TAJAM) Nah. Itu selalu cukup bagi sejarah ?.
MULTATULI :
Aku tidak datang untuk menjadi pusat.
NATA SUKMA :
Tapi Tuan selalu berada di tempat yang membuat orang lain menjadi latar.
MULTATULI :
Aku hanya saksi.
NATA SUKMA :
Dan saksi selalu paling aman karena tidak ikut jatuh ke dalam akibat.
MULTATULI :
Kalau begitu…aku akan berbicara sebentar, lalu pergi.
NATA SUKMA :
Pergi adalah kemewahan yang tidak dimiliki tanah ini. (HENING. MULTATULI MENATAP NATA SUKMA LAMA. NATA SUKMA BICARA DENGAN TEGAS)
MULTATULI :
Mungkin karena aku bukan tanah.
NATA SUKMA :
Itulah yang membuat Tuan selalu bisa menjadi cerita. (RUANG MASIH TEGANG. KURSI RAJA DI BELAKANG BERDENYUT PELAN) Pergi. Kata yang selalu terdengar ringan di mulut orang yang tidak ditinggalkan.
MULTATULI :
Aku tidak meninggalkan kalian. Aku hanya tidak bisa tinggal di dalam waktu yang bukan lagi milikku.
NATA SUKMA :
(TAJAM) Waktu tidak pernah meminta izin, Tuan. Ia hanya menempel di tubuh yang masih hidup. (HENING SINGKAT. MULTATULI MENATAP RUANG, LALU NATA SUKMA.)
MULTATULI :
Aku tahu kalian curiga padaku.
NATA SUKMA :
(MEMOTONG, TEGAS) Bukan curiga. Kami hanya sudah terlalu sering diberi suara yang datang tanpa luka yang sama.
MULTATULI :
Aku pernah melihat penderitaan itu secara langsung.
NATA SUKMA :
(LANGSUNG, DINGIN) Melihat. Itu kata yang selalu aman. Tidak pernah mengubah apa pun.
MULTATULI :
Kau ingin aku menjadi apa?
NATA SUKMA :
Bukan menjadi apa-apa. Justru itu masalahnya. Semua yang datang ke sini selalu ingin “menjadi sesuatu”. (MARHAEN 1 BERGERAK GELISAH. MARHAEN 2 MULAI TIDAK SINKRON.)
MULTATULI :
Kalau aku diam, penderitaan itu tidak hilang.
NATA SUKMA :
Tapi kalau anda bicara… Penderitaan itu berubah menjadi cerita yang bisa diperdebatkan.
MULTATULI :
Dan jika tidak ada cerita?
NATA SUKMA:
Kami tetap ada di dalamnya. Tanpa perlu diterjemahkan.
MULTATULI :
Aku tidak datang untuk mewakili kalian.
NATA SUKMA :
Tapi sejarah selalu lebih cepat mengubah niat menjadi peran.
MULTATULI :
Aku tidak bisa mengendalikan bagaimana aku dipahami.
NATA SUKMA :
(MENUSUK) Nah. Itu kalimat yang paling jujur dari jarak.
MULTATULI :
Apa yang kau inginkan dariku?
NATA SUKMA :
Tidak ingin. Itu yang paling sulit dipahami orang seperti Tuan. Kami tidak selalu “ingin sesuatu”.
Kadang kami hanya ingin tidak ditafsirkan.
MULTATULI :
Kalau aku salah, maka seluruh kesaksianku tidak berarti.
NATA SUKMA :
Tidak. Kesaksian anda tetap berarti. Masalahnya bukan di arti. Masalahnya di siapa yang menggunakannya.
MULTATULI :
Dan kau tidak mau itu digunakan?
NATA SUKMA :
Kami tidak punya kuasa untuk mencegah itu. Kami hanya tahu: setiap kata yang terlalu jauh dari tubuhnya… akan dipakai orang lain.
MULTATULI :
Aku merasa kalian tidak menerima kehadiranku.
NATA SUKMA :
(LEBIH PELAN, TAPI LEBIH DALAM DAN TAJAM) Kami menerima kehadiran Tuan. Yang kami tolak adalah posisi Tuan di dalamnya.
MULTATULI :
Posisi itu bukan pilihan.
NATA SUKMA :
Justru itu yang kami takutkan. Hal-hal yang tidak terasa sebagai pilihan biasanya sudah menjadi struktur.
MULTATULI :
Aku pernah berada di dalam kekuasaan. Aku tahu bagaimana ia bekerja.
NATA SUKMA :
Tapi Tuan selalu bisa keluar untuk menceritakannya.
Kami tidak.
MULTATULI :
Aku memang bukan bagian dari kalian.
NATA SUKMA :
(KERAS, TEGAS) Tuan tidak pernah benar-benar di luar. Itu masalahnya. Tuan selalu di batas. Dan batas selalu lebih bebas dari tanah.
MULTATULI :
Kalau begitu aku pergi.
NATA SUKMA :
(TIDAK MENAHAN, TAPI MENUSUK PELAN) Pergilah, Tuan. Sejarah akan tetap rapi setelah orang seperti Tuan selesai berbicara. (MULTATULI TIDAK MENJAWAB. IA BERGERAK KELUAR KEARAH PENONTON.) Dan kalau Tuan pergi… Tuan menjadi suara yang tidak bisa lagi kami sanggah. (MULTATULI MENGANGGUK PELAN. BUKAN KALAH—TAPI SADAR BATAS REPRESENTASI. DIA BICARA DIAREA PENONTON)
MULTATULI :
Maka biarlah aku keluar dari panggung ini. Bukan karena aku selesai. Tapi karena aku tidak bisa lagi menjadi ruang bagi kalian. (IA MULAI BERGERAK.)
NATA SUKMA :
Hati-hati, Tuan Multatuli. Di luar panggung ini… Tuan akan berubah menjadi sejarah yang selalu terlihat benar.
MULTATULI :
Aku sudah lama menjadi itu.
NATA SUKMA :
(HAMPIR KE DIRINYA SENDIRI) Orang asing… selalu merasa yang paling jujur ketika sudah tidak perlu tinggal di dalam akibatnya. (MULTATULI KELUAR. RUANG TIDAK SELESAI. KURSI RAJA TETAP TERGANTUNG, TIDAK RUNTUH, HANYA MENGAWASI.)
MARHAEN :
Kalau dia bukan bagian dari kita… lalu kenapa kita merasa suaranya pernah benar?
MARHAEN (2) :
Kita hanya terbiasa percaya pada suara yang datang dari jauh?
MARHAEN (3) :
Atau kita terlalu lelah untuk membedakan siapa yang benar-benar luka…
dan siapa yang hanya menceritakan luka? (HENING. NATA SUKMA TIDAK LANGSUNG MENJAWAB)
NATA SUKMA :
Kalian mulai bertanya pada arah yang salah.
MARHAEN :
(MULAI MENANTANG) Justru kita baru mulai bertanya dengan benar?
NATA SUKMA :
Tadi kalian percaya. Sekarang kalian ragu. Besok kalian akan apa?
MARHAEN (2) :
Kami tidak tahu lagi siapa “kami”.
NATA SUKMA :
(TAJAM) Nah. Itu yang paling berbahaya. (SUASANA MENEGANG. KURSI RAJA BERKEDIP PELAN, SEPERTI “MENGAMATI PERUBAHAN LOYALITAS”.)
MARHAEN :
Kita baru sadar…bahwa “kami” ini selalu dibentuk oleh siapa yang paling keras bicara?
NATA SUKMA :
Kalian sedang menguji aku sekarang?
MARHAEN :
Kami sedang mencoba mengerti.
NATA SUKMA :
Kalian mulai tidak percaya? Talian lupa sesuatu. Tanpa suara… kalian tidak pernah ada di panggung ini sejak awal.
MARHAEN :
(PELAN, TAPI TAJAM) Mungkin kita ada… Tapi suara kita selalu dipinjam.
NATA SUKMA :
Kalian ingin siapa sekarang? Multatuli? Atau aku?
MARHAEN :
Kami tidak tahu lagi apakah harus memilih.
NATA SUKMA :
(NAIK TEKANAN) Tidak memilih juga adalah pilihan.
Jangan kalian balikkan ini.
MARHAEN :
Kami tidak membalikkan. Kami hanya melihat bahwa tanah ini tidak hanya ditindas… tapi juga ditafsirkan terus-menerus.
NATA SUKMA :
Kalau kalian mulai tidak percaya pada kesaksian… lalu apa yang tersisa?
MARHAEN :
Mungkin hanya tubuh. Yang tidak perlu dijelaskan. Yang tidak perlu diwakili.
NATA SUKMA :
Kalau begitu… aku juga hanya tubuh?
MARHAEN (1) :
Kami tidak tahu. Itu yang membuat kami mulai berhati-hati.
MARHAEN (3) :
Karena bahkan yang paling dekat dengan kami… bisa berubah menjadi suara yang terlalu jauh.
NATA SUKMA :
Jadi sekarang…aku juga mulai dipertanyakan.
MARHAEN (3) :
Sebagai bagian dari luka ini.
NATA SUKMA :
Siapa yang kalian anggap benar sekarang?
MARHAEN :
Kami belum tahu apakah “benar” masih ada di sini.
NATA SUKMA :
Multatuli sudah pergi… dan kalian mulai kehilangan aku.
MARHAEN :
Justru kita baru mulai melihat semuanya tanpa bayangan.
NATA SUKMA :
Multatuli sudah menjadi sejarah. Itulah masalahnya. Sejarah selalu terdengar benar, justru ketika luka masih belum selesai.

BAGIAN 3;

SERINE ALARM PERANG DUNIA KEMBALI MERAUNG-RAUNG MEMENUHI RUANG PANGGUNG DAN AREA PENONTON. NATA SUKMA TELAH BERDIRI DI ATAS DANGAU. PARA MARHAEN BERDIRI DI BAWAHNYA, LAIKNYA PENGAWAL YANG SETIA TERHADAP NATA SUKMA. MEREKA BERDIRI DI KIRI DAN KANAN DANGAU. SUARA SERINE ALARM MULAI TURUN.

NATA SUKMA :
(DENGAN NADA KESAL DAN GERAM). Alangkah sesaknya dunia ini. Dikawal Pohon-pohon beton, rumah pencakar langit, korporasi-korporasi yang masih bermain memeras keringat rakyat, pertanian mandul, petambangan liar, dan kerumunan manusia berbenturan dengan kebisingan kota mendesak mataku. Mereka bilang kemajuan peradaban, pergerakannya sangat cepat, datang silih berganti. Mereka sebenarnya kehilangan Cahaya, Mereka tetap bertahan mencari keuntungan hidup diruang gelap. Seolah tidak ada bedanya saat masa tanam paksa, dengan hari ini yang disebut kemajuan hidup manusia beradab. Sesungguhnya mereka telah menghidupkan kembali bara api !
Saudara-saudara, kita tahu, Waktu telah lompat jauh ke depan, tepatnya 191 tahun yang lalu, kita telah berhadapan dengan masa tanam paksa yang kejam, dan hari ini kita berdiri di atas kemajuan peradaban, tetapi kita tetap saja hidup sebagai burung garuda yang terkurung dalam sangkarnya

(PARA MARHAEN, MENYANYIKAN LAGU GARUDA PANCASILA, NAMUN SUATU NYANYIAN YANG TIDAK BIASA, MEREKA LAIKNYA ORANG ORANG YANG TRANS KESURUPAN. TUBUH MEREKA BERPUTAR-PUTAR. KADANG AMBRUK DAN BERDIRI LAGI SAMBIL BERPUTAR. LALU KELUAR MENINGGALKAN PANGGUNG. NATA SUKMA MELIHAT KE ARAH JAUH)

Ohh… Mengapa orang-orang yang hiruk-pikuk di sana berlarian? Nah, di sebelah sana juga berlarian,.. di sebelah sana juga..! Ini mungkin bayang ketakutan hilangnya sesuatu, (MENYADARI AKAN KEBERADAAN LINGKUNGAN DAN DIRINYA) Saudara-saudara… perasaan ini datang karena rasa gelisah. Gelisah oleh sebab harapan anak petani yang rindu sawah ladang-nya tetap tergarap. Namun sebagian harapan itu kini hilang dimakan rubah peradaban. Rubah peradaban, rubah pula adat ritus manusianya.
Masih banyak perjalanan petani di negeri ini. Yang tertekan oleh Rubah peradaban. (MENYADARI DIRI) Sebagai manusia biasa, saya memiliki pening dikepala, saya rindu kata-kata pemandu… Ibu saya selalu menggelorakan darah menjadi kencang karenanya…Ia selalu berkata;
“Nata Sukma; Aku tidak mewariskan benda-benda, kecuali lahan tani, turunlah engkau ke sawah dan bawalah kerbau, tanami lahan padi karena enkau makan daripadanya”. Kata-kata itu selalu terngiang dalam ingatanku.

(ORANG-ORANG (PARA MARHAEN) MUNCUL MELINTAS PANGGUNG. MEMBAWA SEPERTI RANTING-RANTING POHON DAN MEMUNDAK PADI YANG SEDANG TUMBUH DI ATAS KEPALA, TAMPAK TANAH BASAH DIBAGIAN AKAR, MELULUR KEBADAN MEREKA). SESEORANG BERDIRI DIANTARA MEREKA, LAIKNYA ALGOJO DENGAN HENTAKAN CAMBUK.

Saya tidak ingin menjadi penggerutu! Saya pernah menyusuri pulau-pulau sejak dataran timur, laju ke tengah dan arah barat negeri ini. Saya mendapatkan serupa kegelisahan,.. Semacam rasa takut, setelah tanah rakyat, dan panen kopi dirampas, diperkosa dalam masa tanam paksa dua abad yang lalu, akibat kekejaman Anjing penjajah Belanda, yang kerasukan… kita tahu rakyat Maluku dibantai, tanah Pasundan jadi kawasan Preanger Stelsel, dan seluruh Java jadi Cultuur Stelsel. Lebih sarkas lagi perlakuan mereka pada perpajakan orang-orang di Tanah Kamang, hingga terjadi perang Kamang meletus.
Oh…Kejamnya politik kekuasaan, Ingat saudara-saudara, saat itu mereka bukan bangsa berdaulah, saat itu mereka kalah perang…dalam perang Spanyol, bahkan kalah perang, dalam perang menghadapi Belgia, tetapi nazisnya,.. malah kita yang dijajah oleh sebuah bangsa yang belum merdeka, Anjing-anjing itu sedang dijajah bangsa lain…Nazisnya pula, dulu di negeri ini disetiap pintu kantor tertulis “Di larang Masuk untuk Andjing dan Priboemi”. Semboyan itu, bahkan disebar disetiap ruang kota di negeri ini.
Maka untuk menunjukan rasa dendam dan kebencian kami pada Belanda, yang telah mengijak derajat kami manusia lebih rendah dari seekor Anjing. Utuy Tatang Sontani telah menikam dan membunuh Si Tumang dengan sebilah Kujang dalam cerita Sangkuriang-Dayang Sumbi. Si Tumang adalah An-jing. Si Tumang adalah Belanda..!

(ORANG-ORANG (PARA MARHAEN) MUNCUL MELINTAS PANGGUNG. MEMBAWA SEPERTI RANTING-RANTING POHON DAN MEMUNDAK PADI YANG SEDANG TUMBUH DI ATAS KEPALA, TAMPAK TANAH BASAH DIBAGIAN AKAR, MELULUR KEBADAN MEREKA).

Saudara-saudara, kita sekarang telah masuk pada masa adab dan merdeka, kita masih pula punya ikatan perjanjian yang menjerat leher menjadi sesak karenanya.. Freeport di tanah Papua, masih 30 tahun tersisa. Tapi saya tidak ingin ditinggalkan Sang Hiyang Sri, Nyi Pohaci, Dewi Uma, Trusna Wati… (NATA SUKMA BERGERAK MEMUTARI DANGAU, HINGGA AKHIRNYA DIA BERDIRI DI ATASNYA) Oh, Dewi padi aku merindukan dirimu dari permukaan pertiwi tempat tumpah bakti.
MARHAENI (IBU) :
(MENYAMPAIKAN SEMBAH) Riuh… Riuh gemuruh dikejauhan, Riuh… Riuh gemuruh dalam dadaku. Rasaku rasa seorang Ibu. Ya Tuhan, Rasaku naik dan turun mendengar dan menyaksikan raungan bising di Buana. Ya, Tuhan bila bising itu pertanda baik, cepat pudarlah duka lara. Namun bila bising itu pertanda buruk, maafkan lah murka anak-anakku. Mafkanlah perilaku dan ulah kasarnya Nata Sukma dan Marhaen. Perasaan ini menjadi luluh lantak karena ketakutan hamba oleh jiwa-jiwa yang tersesat.
Ya, Tuhan Hyang Agung yang bertempat di Buana Nyungcung, Tuhan yang bertahta di alam Awang-awang Uwung-uwung, Nyata-Nya Yang Maha Kuasa Gusti Allah, Pemilik Cahaya Langit dan Cahaya Bumi. Kini sembahku akan kunaikan ke atas langit. (HENING SESAAT DAN MENGAWASI SEKELILING. LALU BERTANYA PADA NATA SUKMA DAN MARHAEN) Marhaen, Nata Sukma sudah sampai dimana kalian menanam ? Marhaen… Nata Sukma.., Apakah kalian tidak merasa sepertinya ada hal yang aneh, setiap kali kita menaman. Petakan ladang dan sawah ini selalu berubah?
NATA SUKMA :
(MENEGASKAN) Ibu,… tidak ada lagi tanah di sini yang mau diam.Sampai hari ini… Tanah ini tidak pernah selesai menjadi luka.
MARHAENI (IBU) :
Lalu apa yang kalian tanam, Jika tanah ini tidak henti-hentinya meninggalkan bercak darah…
NATA SUKMA :
Kami menanamkan pikiran serta akal budi, Supaya kita tidak lagi menjadi lahan empuk kaum penjajah.
MARHAENI (IBU) :
(MENDENGARKAN) Nata Sukma, Marhaen,… Aku mendengar raungan tadi itu, suara miliknya hama.
Lengkingan tadi itu, suara bibit penyakit. Ayoo…kita pergi pindah ke atas gunung di atasnya bukit.
(MENJELASKAN) Sebenarnya, derita tentang tersisihnya Pertiwi, tanah air kaum petani sudah lama tersiar. Bila dihitung jaraknya sudah makan waktu ratusan tahun. Sejak runtuh kekuasaan di buana sebelumnya.
Bila diingat sebelum masa kejadian sekarang, dahulu petani masih dapat menanam padi setahun sekali yang hasilnya lebih berisi, butir-butirnya berisi seperti berisinya Nyi Pohaci. Elok rupa dan padat buahnya, kencang, seperti padatnya payudara perawan. (MENJELASKAN DAN MENGIYAKAN) Tapi kini,.. Aku hanya berusaha melaksanakan.
Tentu harapan anak-anaku, akan kuusahakan sebatas aku punya kemampuan, yang mampu Aku lakukan..(MENGHISAP NAFAS) Namun, Perubahan hidup manusia, hanya manusia itu sendiri yang mampu melakukan perubahan. Biarkan saja manusia masuk kedalam percobaan, karena hanya manusia yang punya kemampuan untuk keluar dari percobaan. Biar saja mereka menata diri dan membuat jalannya sendiri. Sekarang, lakukan saja apa yang menjadi tugas kalian berdua.
Marhaen, Nata Sukma… (IBU BERKELILING SAMBIL MEMANGGIL-MANGGIL MARHAEN DAN NATA SUKMA. LALU KELUAR PANGGUNG).
NATA SUKMA:
Oh, Sunan Ambu..Oh, Bundo Kandung… Sejauh aku berjalan yang kutemukan di sini hanyalah bayang-bayang tanah ladang, sawah keramat yang digantikan gemuruh pikuk kota yang pongah, raungan mesin-mesin dan polusi udara mengurung rumah, bau busuk gunungan sampah membius kota,… limbah pabrik yang bergelimang di antara sungai dan sawah… udara panas… lahan mandul.… keluhan di hulu para petani ladang….. keluhan di hilir para petani sawah.
Seharusnya saya sekarang berdiri di atas pematang di atas tanah gembur… tanah yang berabad-abad diturunkan leluhur memberikan susu dan madu. Tanah tempat dipersemaikan Dewi Sri jelmaannya berwarna-warni jenis padi. Dahulu di sini pernah tertanam keadaban hidup yang terhormat dan berbudi. Namun kini telah di rusak, diperkosa kaum liberal yang haus kekuasaan. (MENGHISAP NAFAS. LALU DIA MENUTURKAN KISAH. PADA LAYAR BELAKANG MUNCUL FILM VISUAL POHON-POHON, LADANG DAN SAWAH MERANGGAS).
Sejauh mata memandang di antara bayang-bayang lintang pematang, Aku merasakan masih ada bau warna jenis padi…Tapi aneh, padi-padi ini sangat berbeda ….. Mungkin ini hanya perasaan, Ketika kita tidak bisa lagi panen padi di ladang atau di sawah di belakang rumah. Ini sungguh perasaan yang berlebihan. Coba sekarang kita bayangkan…(DIAM SEBENTAR LALU MELANJUTKAN) Bila tidak ada tanaman padi,…berarti tidak ada kehidupan!. Berarti kita mati karenanya.
Apakah kita akan selalu suka cita, untuk mendatangkan beras dari pihak luar? Baiklah saudara-saudara untuk menjawab hal ini, Saya harus menghubungi Marhaen. (NATA SUKMA MEMANGGIL-MANGGIL MARHAEN).
MARHAEN :
(MARHAEN MUNCUL TIBA-TIBA. MASUK PANGGUNG BERDENDANG (BELUK), DAN BERPUTAR, MENGITARI NATA SUKMA BERSAMA PARA MARHAEN. MEMUNDAK PADI DI ATAS KEPALA, PADI YANG SEDANG TUMBUH BERBUAH DALAM BAKUL) Pertanyaan Nata Sukma itu sangat menggangu perasaan dan pikiranku. Pertanyaan itu tidak bisa dijawab oleh petani dan buruh miskin ! Pertanyaan itu harus dijawab oleh pemimpin yang terpilih.
Rakyat negeri ini memiliki martabat, dan bukan binatang, tidak bisa disejajarkan dengan seekor Anjing atau Babi. Penduduk rakyat negeri ini bangsa merdeka ! Apabila ada diantara pemimpin yang sesat, adili dalam mahkamah peradilan rakyat.
Apabila pertanyaan Nata Sukma sungguh-sungguh terjadi, Alamat para pemimpin negeri ini gemar mencuci tangan, atas nama kesenangan sendiri, atas nama candu kekuasaan.
Itu sungguh suatu perilaku biadab. Menunjukan kelakuan tidak produktif dan bodoh.
Seharusnya kita mampu berdiri di atas kaki sendiri. Tidak pantas bila sebatas Beras, Jagung, Gandum, Cangkul, harus mendatangkan dari negeri asing.
Ini suatu tindak penghinaan. Aib besar bagi para petani dan buruh. Penghinaan terhadap kemampuan pande besi, yang tersebar di sudut-sudut kampung. (BERSAMA PARA MARHAEN ) Kami para petani rakyat, Kami Buruh, Kami Garu, Kami Bajak, dengan ini …….

(DIALOG MEREKA TERHENTI. SUARA RAUNGAN ALARM SERINE PERANG DUNIA MASUK MEMUNUHI RUANG. PARA MARHAEN DENGAN GESIT MENJAGA DAN SELALU WASPADA TERHADAP PADI YANG TELAH BEBUAH YANG MEREKA BAWA. MEREKA DENGAN EKSPRESIF LAKUKAN PENJAGAAN DENGAN GERAK YANG MIRIP PENCAK SILAT. MEREKA SEPERTI MENARI DAN BERKELAHI DALAM PERMAINAN SILAT).

NATA SUKMA :
(NATA SUKMA MELANJUTKAN) Rubah peradaban, Rubah pula adat ritus manusianya,
Segalanya kikis, dimakan Rubah Kesultanan baru. Sekarang aku menginginkan mereka kembali datang…! Aku ingin menjelma menjadi padi, Aku ingin tumbuh menjadi padi semacam padi yang pernah tumbuh, Padi hitam, padi kuning, padi putih, padi merah, Aku ingin menjadi padi yang matang, ketika tumbuh berisi makin merunduk tafakur ke Bumi. (TENGADAH KE ATAS LANGIT)
Oh, Wahai,…Para penjaga pintu langit… bukakan pintu langit dan turunkan guntur… datangkan kilat dan halilintar… turunkan hujan di muka bumi, menyirami ladang dan sawah para petani. Oh, Cahaya….Aku butuh Cahaya…cahaya…cahaya…

(RAUNGAN ALARM ATAU SIRENE PERANG DUNIA KEMBALI MEMENUHI PANGGUNG. PARA MARHAEN SERENTAK BERDIRI DIANTARA DANGAU DENGAN ORANG-ORANGAN SAWAH (BEBEGIG) DITANGAN MEREKA. NATA SUKMA MASIH BERDIRI DI ATASNYA. LALU TURUN BERDIRI DIANTARA MARHAEN. IBU KEMBALI MASUK AREA PANGGUNG. BERJALAN DAN BERDIRI DI ATAS DANGAU. RAUNGAN SERINE ALARM MULAI TURUN. PARA MARHAEN, DAN MARHAEN, SERTA NATA SUKMA KEMUDIAN DUDUK DILANTAI AGAK SEDIKIT BERJONGKOK. MEMBENTUK SETENGAH LINGKARAN, MENGHADAP KE ARAH PADI YANG TELAH BERBUAH YANG MEREKA BAWA TADI).

BAGIAN 4;

MARHAENI (IBU) :
(IBU BERDIRI DI ATAS DANGAU. MATANYA SEJURUS KEARAH DEPAN. KE AREA PENONTON) Aku melihat bangsa ini telah tergadai nuraninya, para penguasa bersekutu dengan mahkota, ijazah palsu menjadi tangga menuju kekuasaan, dan kini meja dinas menjelma altar kepentingan.
Lihatlah… lihatlah ! Para wakil rakyat menyentuh pundi yang bukan miliknya, sementara pemimpin daerah melupakan tanah, yang kelak akan menjadi peristirahatan terakhir.
Anak-anakku, Nata Sukma,.. Marhaen… Bangsa ini kini menatap cermin sejarah, mereka melihat wajahnya sendiri yang pudar. Dengan dandanan kemegahan, dan wewangian jabatan, mereka bersumpah atas nama kekuasaan, mereka bersumpah bukan atas nama rakyat yang lapar dan tersisih. Sumpah jabatan pun perlahan menjadi gema hampa, seperti nyanyian tanpa makna di tengah kesunyian nurani.
Anak-anakku, Marhaen…Nata Sukm … Aku teringat pesan Soekarno: “Kami mudah melawan penjajah yang datang dari luar, tetapi sulit bagi kalian melawan penjajahan yang tumbuh dari dalam diri sendiri.” Karena itulah duri di dalam daging.
Maka lihatlah hari ini, betapa beratnya melawan keserakahan yang berwajah sahabat, melawan kebusukan di tengah jeritan rakyat. Sumpah para pejabat seharusnya menjadi sumpah pengabdian dan doa, bukan gema licik dari hati yang kering iman.
Mereka bersumpah, namun sering hanya menjadi kabut yang menutupi luka-luka tanah ini… (NATA SUKMA DAN PARA MARHAEN, MEREKA DENGAN TEGAS, SEREMPAK BERULANGKALI MENYAMPAIKAN PERNYATAAN). Akan tiba saatnya, akan datang waktunya,….(NATA SUKMA TETAP BERDIRI DI ATAS DANGAU. PARA MARHAEN TETAP BERDIRI SAMBIL MELENGKINGKAN TEMBANG BELUK ).

Padang-Padang Panjang, April 2026….

(Menggandakan, dan memproduksi Naskah Drama ini, harus seizin dari pengarang; Tatang R. Macan, HP/WA. 081394888597, E-mail; teaterperlawanan@gmail.com

LURUH
Baca Tulisan Lain

LURUH


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *