Dody Satya Ekagustdiman: Ketika ‘Kegilaan’ Lebih Dihargai di Luar Negeri daripada di Rumah Sendiri

Dody Satya Ekagustdiman Ketika ‘Kegilaan Lebih Dihargai di Luar Negeri daripada di Rumah Sendiri

Ada satu hal yang sering terjadi di negeri ini, tapi jarang benar-benar kita akui. Kita kerap terlambat menghargai orang-orang yang berjalan terlalu jauh di depan zamannya. Mereka dianggap aneh, ditolak, kadang bahkan disingkirkan secara halus. Namun, ketika dunia luar mulai mengakui mereka, kita baru menoleh, dengan sedikit rasa bangga yang terlambat. Kisah itu, jika mau jujur, juga terjadi dalam perjalanan seorang Dody Satya Ekagustdiman, saya memanggilnya dengan sebutan kang Dody.

Ia bukan sekadar pendidik, ia adalah kegelisahan yang berjalan. Seseorang yang sejak awal tampaknya tidak pernah benar-benar nyaman berada di jalur yang “aman.” Sejak muda, ia sudah memilih jalan yang tidak banyak dipilih orang. Kang Dody mendalami seni karawitan secara formal di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia di Bandung, hari ini dikenal sebagai SMK Negeri 10. Lulus tahun 1981. Lalu melanjutkan ke Akademi Seni Tari Indonesia, sekarang Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung.

Di titik ini, mungkin banyak orang akan berpikir: selesai. Jalurnya jelas. Menjadi seniman tradisi, mengajar, dan hidup dalam lingkaran yang sudah mapan. Namun kang Dody tidak berhenti di sana. Tahun 1989, ia mendapat beasiswa dari Goethe Institut dan DAAD Jerman. Lalu pada tahun 1991, ia kembali mendapatkan kesempatan yang lebih dalam, yaitu belajar di Jerman, di bawah bimbingan seorang profesor yang dikenal dengan pendekatan radikal dalam musik kontemporer, Prof. Mathias Spahlinger di Musikhochschule Freiburg.

Di sinilah cerita menjadi menarik. Setiap hari Selasa, kang Dody tidak hanya belajar. Ia berdebat secara empat mata dan intens. Membawa catatan konsep, membawa partitur musik, mempertahankan gagasan-gagasan yang bahkan mungkin belum sepenuhnya ia pahami sendiri. Bukan sekadar diskusi akademik, namun lebih kepada pertarungan ide. Anehnya, di situlah ia justru hidup. Perdebatan itu berlangsung hingga tahun 1994. Bayangkan, bertahun-tahun mengasah diri bukan hanya dengan belajar, tapi dengan mempertanyakan, menggugat, dan mempertahankan. Sesuatu yang mungkin tidak terlalu populer dalam budaya pendidikan kita, yang sering kali lebih nyaman dengan kesepakatan daripada perbedaan.

Ketika ia kembali ke Bandung pada pertengahan 1994, semangat itu ia bawa pulang. Dan di sinilah ironi dimulai. Kang Dody mulai mengajar Titi Laras menggunakan pendekatan not balok. Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar biasa. Tapi bagi sebagian lainnya, terutama yang terbiasa dengan sistem Daminatila (not 1-2-3-4-5), ini dianggap ancaman.

Mahasiswa baru karawitan angkatan 1994 bahkan melakukan demonstrasi. Ya, demonstrasi. Bukan karena kang Dody tidak mengajar. Tapi justru karena ia mengajar dengan cara yang berbeda.  Ia dituduh merusak seni tradisi Sunda, dianggap mempersulit pembelajaran, bahkan dipertanyakan identitasnya, “sudah tidak Sunda lagi, agamanya apa?” Dan yang lebih menyakitkan, demonstrasi itu tidak lahir murni dari mahasiswa. Ada oknum dosen yang ikut memprovokasi.

Di titik ini, kita harus bertanya: siapa sebenarnya yang takut? Apakah kang Dody yang membawa perubahan? Atau mereka yang tidak siap menghadapi perubahan itu? Karena sering kali, yang disebut “menjaga tradisi” justru adalah bentuk ketakutan untuk berkembang. Padahal, tradisi yang sehat bukanlah yang membeku. Tapi yang mampu berdialog dengan zaman. Kang Dody tampaknya memahami itu. Tapi memahami tidak selalu berarti diterima. Ia tetap berjalan.

Tahun 1995, ia mendapat kepercayaan dari Peter Starnagel, Direktur Goethe Institut, untuk menggarap proyek musik dalam perayaan HUT Goethe Institut. Ia menampilkan karya “Reubeudieu” dengan dukungan mahasiswa IKIP/UPI jurusan musik. Sebuah karya yang tidak lahir dari kenyamanan, tapi dari keberanian. Pengakuan pun mulai berdatangan.

Tahun 1997, ia meraih penghargaan sebagai penulis partitur terbaik dari Siemens. Tahun 1999, ia dinobatkan sebagai komposer terbaik di Liga Komposer Asia Pasifik. Tahun 2003, ia menjadi dosen terbang di Wellington University. Puncaknya, tahun 2004, di laboratorium musik kontemporer Donaueschingen Musiktage di Jerman, salah satu forum musik kontemporer paling prestisius, ia mendapat pujian langsung dari Prof.Mathias Spahlinger “Du bist wirklich der geile verrückt komponist.” (Kamu benar-benar komposer gila yang keren). Kalimat itu mungkin terdengar liar. Tapi di dunia seni, itu adalah pengakuan tertinggi. Kata “gila” di sini bukan cacian. Itu adalah bentuk penghormatan. Bahwa seseorang berani melampaui batas. Berani tidak biasa. Berani menjadi dirinya sendiri.

Ironisnya, di tempat ia mengajarnya, ISBI… pengakuan itu terasa… biasa saja. Ia hanya mendapatkan piagam sebagai dosen inspiratif. Itu pun untuk memenuhi syarat administratif BKD. Tidak lebih. Tidak kurang. Dan hari ini, 13 Mei 2026, Dody Satya Ekagustdiman resmi menerima SK pensiun 39 tahun mengajar. 39 tahun berjalan di jalur yang tidak mudah. 39 tahun menghadapi resistensi, kesalahpahaman, dan mungkin juga kesepian intelektual. Lalu semuanya ditutup dengan satu dokumen administratif, pensiun purna bakti. Selesai.

Di titik ini, kita tidak bisa hanya diam. Karena ini bukan sekadar cerita tentang satu orang. Ini cermin. Tentang bagaimana kita memperlakukan mereka yang berpikir berbeda. Tentang bagaimana sistem pendidikan kita kadang lebih sibuk menjaga kenyamanan daripada mendorong keberanian. Kita sering mengatakan ingin maju. Tapi ketika ada yang mencoba mendorong batas, kita justru menariknya kembali.

Kita ingin inovasi. Tapi takut pada perubahan. Dan kang Dody adalah salah satu yang memilih untuk tetap berjalan, meski jalannya tidak selalu disambut. Mungkin, kita tidak semua harus menjadi seperti kang Dody. Tidak semua harus “gila” dalam arti melampaui batas. Tapi setidaknya, kita bisa belajar satu hal, bahwa keberanian untuk berbeda bukanlah ancaman. Itu adalah kemungkinan. Dan pertanyaannya sekarang sederhana, ketika seseorang di sekitar kita mulai berpikir di luar kebiasaan, apakah kita akan mendengarkan? Atau justru ikut berteriak… seperti demonstrasi tahun 1994 itu? Karena bisa jadi, di balik “kegilaan” itu, ada masa depan yang belum kita mengerti.

Hapunten.


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *