Ketika Dunia Berpindah ke Layar Disrupsi Digital dan Nasionalisme yang Diam-Diam Memudar

Ketika Dunia Berpindah ke Layar

Bukankah semesta telah memberikan contoh yang paling nyata? Perhatikanlah bagaimana bumi berputar mengelilingi matahari dengan kecepatan yang luar biasa. Meski ia bergerak dalam perjalanan kosmik yang dahsyat, kita tidak merasakan guncangan atau desing suaranya. Kita tetap berpijak dengan tenang, hanya menyadari kehadirannya melalui pergantian waktu siang dan malam.

Seperti itulah perubahan besar bekerja, ia bersifat konstan namun senyap, hingga tanpa kita sadari, kita telah berada di titik yang sama sekali baru dalam garis waktu peradaban. Ia tidak selalu datang dengan dentuman revolusi atau teriakan perubahan. Kadang, ia bergerak pelan, hampir tak terasa, sampai suatu hari kita tersadar. Bahwa semuanya sudah berbeda.

Kita hidup di jaman itu. Jaman ketika layar lebih sering kita tatap daripada wajah manusia. Ketika percakapan lebih banyak terjadi lewat jempol daripada suara. Ketika jarak bukan lagi soal kilometer, tapi soal koneksi internet. Disrupsi digital telah mengubah hampir semua aspek kehidupan kita. Dari cara kita bekerja, belajar, berbelanja, hingga cara kita berinteraksi. Bahkan, sesuatu yang dulu paling konkret, yakni uang, perlahan kehilangan bentuk fisiknya.

Uang hari ini bukan lagi sekadar alat tukar. Uang telah menjadi komoditas. Diperdagangkan, diinvestasikan, diputar dalam sistem yang sering kali tidak sepenuhnya kita pahami. Nilainya bisa naik turun dalam hitungan detik, bukan karena kerja keras, tapi karena algoritma dan sentimen pasar. Kita tidak lagi memegang uang. Kita memegang angka. Alat transportasi pun berubah. Dari yang dulu konvensional, menunggu angkutan di pinggir jalan. Kini cukup dengan satu sentuhan di layar. Mobil datang, motor datang. Bahkan makanan pun datang tanpa kita harus keluar rumah. Semua terasa lebih mudah. Lebih cepat. Lebih efisien. Namun di balik kemudahan itu, ada sesuatu yang perlahan bergeser, yaitu cara kita memandang dunia.

Internet dan kecerdasan buatan (AI) bukan hanya alat. Mereka adalah kekuatan yang membentuk ulang realitas sosial kita. Media sosial, misalnya, bukan lagi sekadar ruang berbagi. Ia telah menjadi ruang utama interaksi generasi muda. Di sanalah mereka belajar, berpendapat, mencari identitas, bahkan menentukan nilai-nilai yang mereka anggap penting. Masalahnya, ruang tersebut tidak mengenal batas negara. Anak-anak hari ini bisa lebih akrab dengan budaya luar dibandingkan budayanya sendiri. Mereka tahu siapa Kapten Amerika, tapi mungkin belum pernah benar-benar mengenal siapa Jenderal Soedirman. Mereka hafal alur cerita film global, tapi gagap ketika diminta menceritakan sejarah bangsanya sendiri.

Apakah ini salah mereka? Belum tentu. Karena ini bukan sekadar persoalan pilihan individu. Ini adalah persoalan struktural dan kultural. Kita hidup dalam sistem global yang membuat informasi mengalir tanpa filter. Algoritma media sosial bekerja bukan untuk mendidik, tapi untuk menarik perhatian. Konten yang menarik, cepat, dan menghibur akan selalu lebih unggul dibandingkan konten yang mendalam tapi “berat.”

Dalam kondisi seperti ini, nasionalisme tidak lagi bisa diajarkan dengan cara lama. Tidak cukup hanya dengan hafalan. Tidak cukup hanya dengan upacara bendera. Tidak cukup hanya dengan slogan. Karena generasi hari ini tidak hidup di dunia yang sama dengan generasi sebelumnya. Mereka hidup di dunia yang serba cepat, serba visual, dan serba instan. Jika kita tetap memaksakan cara lama, maka yang terjadi bukanlah penanaman nilai, tapi penolakan diam-diam. Nasionalisme menjadi terasa jauh, kaku, tidak relevan. Dan di situlah erosi itu terjadi.

Bukan karena generasi muda tidak peduli, tapi karena mereka tidak menemukan makna. Padahal, nasionalisme bukan tentang menghafal nama pahlawan. Namun, tentang rasa memiliki, tentang kesadaran bahwa kita adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar. Persoalannya, rasa itu tidak bisa dipaksakan. Rasa harus dibangun, dan untuk membangunnya, kita harus masuk ke dunia mereka. Kita tidak bisa lagi berdiri di luar dan berharap mereka datang. Kita harus mendekat. Memahami cara mereka berpikir, cara mereka berinteraksi, dan cara mereka melihat dunia. Di sinilah digitalisasi seharusnya tidak dilihat sebagai musuh, namun sebagai alat. Pertanyaan sederhananya adalah, siapa yang menggunakannya, dan untuk tujuan apa?

Jika kita mampu memanfaatkan teknologi untuk menyampaikan nilai-nilai kebangsaan dengan cara yang relevan, maka nasionalisme tidak akan hilang. Ia justru bisa menemukan bentuk baru. Bayangkan jika kisah Jenderal Soedirman dikemas dalam bentuk yang menarik, seperti film pendek, animasi, konten media sosial yang dekat dengan keseharian anak muda. Atau bahkan buat kompetisi perancangan permainan digital bertema kepahlawanan Jenderal Soedirman. Bayangkan jika nilai-nilai perjuangan diterjemahkan dalam bahasa yang mereka pahami.

Bukan tidak mungkin, mereka akan lebih tertarik. Karena pada dasarnya, manusia selalu tertarik pada cerita, dan bangsa ini punya banyak cerita. Kita hanya perlu menceritakannya dengan cara yang berbeda. Ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan, bahwa adaptasi tidak berarti kehilangan jati diri. Kita bisa masuk ke dunia digital tanpa harus larut di dalamnya. Kita bisa memanfaatkan teknologi tanpa harus kehilangan nilai. Seperti yang pernah ditulis dalam buku The Art of War, “Kenali musuhmu dan kenali dirimu sendiri, maka dalam seratus pertempuran kamu tidak akan pernah terancam.” Dalam konteks ini, “musuh” bukanlah teknologi. Musuhnya adalah ketidaksadaran.

Ketidaksadaran bahwa kita sedang berubah. Ketidaksadaran bahwa nilai-nilai bisa terkikis jika tidak dijaga. Ketidaksadaran bahwa identitas bisa memudar jika tidak diperkuat. Dan “diri sendiri” adalah jati diri kita sebagai bangsa. Jika kita tidak mengenalnya, bagaimana kita bisa mempertahankannya? Maka, tugas kita hari ini bukan menolak perubahan, tapi memahami dan mengarahkannya. Kita tidak bisa menghentikan disrupsi digital. Namun kita bisa menentukan bagaimana kita meresponsnya.

Apakah kita akan menjadi penonton yang pasif? Atau pelaku yang sadar dan aktif? Apakah kita akan membiarkan generasi muda tumbuh tanpa akar? Atau membantu mereka menemukan identitasnya di tengah arus global? Bermacam pertanyaan ini tidak punya jawaban instan. Tapi satu hal yang pasti, kita tidak bisa diam. Karena perubahan akan terus berjalan, dengan atau tanpa kita. Dan jika kita tidak ikut membentuknya, maka kita akan dibentuk olehnya.

Mungkin, ini saatnya kita melihat nasionalisme bukan sebagai beban masa lalu, tapi sebagai energi masa depan. Bukan sesuatu yang kaku, tapi sesuatu yang hidup. Bukan sesuatu yang harus dipaksakan, tapi sesuatu yang bisa dirasakan. Karena pada akhirnya, bangsa bukan hanya tentang batas wilayah. Tapi lebih kepada rasa. Dan rasa itu harus terus dijaga, di tengah dunia yang semakin digital, semakin cepat, dan semakin tanpa batas.

HARMONI OTAK DAN SENI
Baca Tulisan Lain

HARMONI OTAK DAN SENI


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *