WORKSHOP: Mengapa Harus Belajar Menulis Kritik Seni?

worshop menulis kritik seni 1

JAKARTA | Workshop Menulis Kritik Seni ini lahir dari Forum Kritik Seni, Kerjasama Masyarakat Kesenian Jakarta, dengan PDS HB Jassin Lt 4, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta; Selasa, 19 Mei 2026; Pukul 08.30–12.00 WIB. Acara ini diselenggarakan bersama para narasumber berpengalaman, yaitu: Arie F. Batubara (Kritikus Seni/Penulis Kritik Film terbaik Ffi 1986), Bambang Bujono (Kritikus Seni Rupa), Mustafa Ismail (Redaktur Budaya Tempo), serta Moderator: Rintis Mulya (Pegiat Seni dan Praktisi Pendidikan).

Pikir Rasa Kritik dari Arie F. Batubara secara Edukasi dalam Masyarakat Pertunjukan Seni memberikan landasan bahwa pemikiran kritik Arie F. Batubara dalam konteks edukasi masyarakat pertunjukan seni dapat dibaca sebagai upaya membangun kesadaran budaya, bukan sekadar hiburan. Kritik seni bukan hanya “menghakimi pertunjukan bagus atau jelek”, tetapi membantu masyarakat memahami: nilai estetik, konteks sosial, simbol budaya, relasi kuasa, dan arah peradaban yang sedang dibentuk oleh seni itu sendiri. Dalam masyarakat pertunjukan hari ini—terutama era media sosial dan industri event—sering muncul fenomena “masyarakat tontonan”: seni menjadi cepat, viral, visual, tetapi miskin kedalaman makna. Di titik inilah kritik edukatif menjadi penting.

Kritik Seni itu adalah sebagai Pendidikan Kesadaran. Dalam pendekatan edukatif, kritik ala Arie F. Batubara dapat dipahami sebagai: “Seni harus dibaca, bukan hanya ditonton.” Artinya: penonton tidak pasif, seniman tidak kebal kritik, dan pertunjukan tidak boleh berhenti pada efek kagum. Kritik membantu publik bertanya: Mengapa karya ini dibuat? Nilai apa yang dibawa? Siapa yang diuntungkan? Apakah tradisi diperdalam atau hanya dijadikan dekorasi? Maka kritik seni menjadi bagian dari literasi budaya masyarakat.

Dalam Masyarakat Pertunjukan: Antara Estetika dan Komoditas, dan pada saat ini banyak pertunjukan; megah secara visual, kuat secara teknis, tetapi kehilangan “ruh kebudayaan”. Contohnya: musik tradisional hanya dijadikan latar eksotis, ritual adat dipotong demi durasi panggung, simbol leluhur dipakai sebagai gimmick visual, pertunjukan wedding menjadi kosmetika budaya. Di sinilah kritik edukatif bekerja; bukan membunuh kreativitas, tetapi menjaga agar seni tidak tercerabut dari akar makna. Misalnya dalam pertunjukan: kacapi, biola, saxophone, gamelan modern, multimedia panggung, kritik tidak sekadar menilai harmoni bunyi, tetapi; apakah instrumen saling berdialog? apakah dramaturgi punya jiwa? apakah tradisi hadir sebagai kesadaran atau hanya dekorasi kosmetika art?

Kritik Bukan Serangan Personal: Dalam masyarakat kita sering terjadi adalah; kritik dianggap hinaan. Padahal tradisi intelektual seni justru tumbuh dari dialog kritis. Kritik edukatif yang seharusnya itu; membangun, argumentatif, berbasis pengetahuan, dan membuka ruang refleksi. Bukan berarti; menjatuhkan, menyerang pribadi, atau sekadar sensasi. Karena tujuan kritik seni adalah; meningkatkan kualitas kesadaran artistik masyarakat. Seni sebagai Cermin Peradaban: Pertunjukan seni sebenarnya memperlihatkan kondisi batin masyarakatnya. Jika masyarakat; konsumtif, serba instan, dangkal simbol, kehilangan akar budaya, maka panggung seni pun sering menjadi; penuh efek, miskin kontemplasi, ramai tapi kosong. Sebaliknya, masyarakat yang sehat budayanya akan melahirkan seni yang: reflektif, berani, manusiawi, dan spiritual. Maka kritik seni memiliki fungsi sosial; menjaga arah kebudayaan agar tidak sekadar hanya menjadi industri hiburan.

Relevansi bagi Masyarakat Sunda/Nusantara: Dalam perspektif Sunda/Nusantara, seni bukan hanya tontonan tetapi; tuntunan, ritual rasa, media harmoni manusia–alam–leluhur. Karena itu kritik seni idealnya juga memiliki; rasa hormat, etika budaya, dan kesadaran spiritual. Misalnya dalam; ruwatan bumi, tembang Cianjuran, wayang, kacapi suling, atau musik kontemporer Sunda, dan kritik itu perlu melihat; hubungan simbol, struktur rasa, fungsi sosial, dan makna kosmologisnya. Bukan hanya aspek teknis panggung.

Tantangan Zaman Digital: Era digital menciptakan “kritik instan”: komentar cepat, viral, tanpa pendalaman. Dan akibatnya; diskusi seni menjadi dangkal, publik kehilangan kemampuan membaca simbol, dan seniman terdorong mengejar algoritma daripada kualitas batin karya. Karena itu edukasi kritik seni kehadirannya menjadi sangat penting; agar masyarakat kembali belajar; mendengar, merasakan, membaca makna, dan berdialog secara dewasa.

Kesimpulannya: Pemikiran kritik edukatif dalam masyarakat pertunjukan seni dapat dipahami sebagai usaha; membangun literasi budaya, menjaga kedalaman makna seni, menghubungkan estetika dengan etika, dan menjadikan pertunjukan sebagai ruang kesadaran sosial. Karena seni yang sehat bukan hanya membuat orang terhibur, tetapi juga; lebih sadar, lebih manusiawi, dan lebih memahami dirinya sendiri serta waktu dan dimensi sosial kebudayaannya.

Sekian Terimakasih
Bandung, 10.Mei.2026


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *