adegan Sobrat dengan ratu siluman dan mongkleng beserta pengikut setia. Dok. foto Nko Kusnandi.
TASIKMALAYA | Atmosfer Gedung Kesenian Tasikmalaya (GKT) mendadak berubah menjadi panggung pergolakan batin yang riuh pada Sabtu malam, 18 April 2026. Kelompok Teater 28 Universitas Siliwangi baru saja menuntaskan pementasan naskah monumental karya Arthur S. Nalan, Sobrat. Pertunjukan yang dimulai tepat pukul 20.00 WIB hingga usai ini merupakan titik awal dari rangkaian tur yang direncanakan menyambangi empat kota: Tasikmalaya, Garut, Semarang, dan Madura.
Lakon ini memotret kelamnya era penjajahan Belanda, di mana perbudakan, perjudian, dan kepingan emas menjadi penentu kebenaran. Terinspirasi dari tragedi penambang emas liar di Gunung Pongkor, Jawa Barat sekitar tahun delapan puluh-an serta kisah nyata seorang pria bernama Jaman yang bersekutu dengan jin demi nomor buntut, kisah ini menyoroti Sobrat, pemuda yang terjebak tipu muslihat Inang Honar hingga masuk ke dunia perjanjian roh demi memuaskan nafsu dan dendam. Meski berhasil menaklukkan Bukit Kemilau dan merebut kembali pujaan hatinya, Rasminah, dari Tuan Balar melalui bantuan gaib Silbi, Sobrat berakhir dalam penyesalan mendalam. Kematian ibunya serta pengkhianatan janji terhadap Silbi membuatnya terbangun dalam kondisi bisu dan tuli setelah ditiup serta dicium oleh sang jin dalam mimpi—sebuah dramatisasi gelap tentang nasib bangsa kuli yang tak pernah berhenti hingga fenomena pengiriman TKI saat ini.
Di tangan sutradara Perry Pebrianto, teks tersebut bertransformasi menjadi pertunjukan bertenaga. Sobrat—sang tokoh utama—digambarkan sebagai manusia yang koyak oleh ambisi dan cinta gagal. Kisahnya berpusat pada pencarian jati diri seorang lelaki yang terjebak dalam pusaran dendam dan nafsu kekuasaan. Ia rela menggadaikan nyawa demi status dan kekayaan. Naskah yang ditulis pada tahun 2003 ini masih sangat kontekstual dengan realitas zaman sekarang. Fenomena manusia menghalalkan segala cara demi harta—baik melalui jalan gelap, korupsi, hingga tindakan yang menyengsarakan rakyat—menemukan cerminnya dalam sosok Sobrat.

Secara konsep pemanggungan, pementasan ini berhasil menjaga tensi dramatik dengan durasi lebih dari satu jam. Mengingat naskah Sobrat menuntut perenungan matang dan jarang dimainkan karena tingkat kerumitannya, keberanian Teater 28 menaklukkan durasi tersebut patut diacungi jempol. Keberhasilan teknis dan kerapian floor plan pementasan ini memukau. Ketelitian pada pola lantai menuntut konsentrasi penuh dari para pemain. Terlihat para aktor masih sangat berhati-hati menjaga presisi teknis panggung. Eksplorasi terhadap penjiwaan dan kedalaman peran terasa masih menyisakan ruang untuk lebih dimerdekakan pada kota-kota selanjutnya. Stamina para pemain dalam menjaga konsistensi postur tubuh—seperti transisi dari posisi membungkuk ke tegak—masih memerlukan perhatian lebih agar karakter terjaga utuh hingga akhir. Penggunaan permainan handprop juga tampak masih dalam tahap pembiasaan, di mana properti tangan tersebut sesekali belum terolah secara organik untuk menyatu dengan emosi karakter. Tempo permainan pun sesekali melaju cepat, seolah ada dorongan ingin segera menyelesaikan perpindahan fragmen. Tantangan teknis ini niscaya semakin matang seiring berjalannya jadwal tur.
Catatan menarik muncul pada relasi antara Sobrat dan Mongkleng. Sebagai bayangan sekaligus personifikasi sisi gelap, kehadiran Mongkleng dalam naskah aslinya memang harus terasa kuat, tapi secara artistik ia idealnya menjadi penguat bagi kerapuhan tokoh utama. Pada pementasan kali ini, Mongkleng tampil sangat dominan, sebuah pilihan berani yang di sisi lain memberikan tantangan bagi sosok Sobrat agar tidak kehilangan gravitasi pusat ceritanya. Kehadiran sosok imajiner semacam ini tidak selamanya harus hadir secara fisik; adakalanya ia cukup hadir melalui kekuatan suara (voice over) untuk menciptakan teror batin yang lebih sunyi. Jika mengambil studi kasus pada tokoh Gollum, kehadiran sosok imajiner semacam ini biasanya mencapai titik paling magis saat berinteraksi intens secara batin dengan tokoh utama. Keseimbangan proporsi antara dominasi “sang bayangan” dan penderitaan “sang tuan” menjadi ruang eksplorasi yang menarik untuk semakin disinkronkan dalam perjalanan tur berikutnya.
“Sobrat adalah kita yang gagal berdamai dengan masa lalu,” bisik salah seorang penonton di barisan tengah yang berbisik pada kekasihnya, mungkin. Kekuatan pementasan kali ini tetap terletak pada kemampuan para aktor menjaga tempo batin di tengah keriuhan laga. Mereka mampu menyeimbangkan adegan maskulin dengan momen-momen liris menyayat hati. Unsur musik hadir secara live di sisi panggung memberikan denyut penjaga detak jantung pertunjukan. Penonton ditarik masuk ke dalam lingkaran nasib Sobrat yang tragis. Selain itu, adegan Adu Dogong dihadirkan sebagai eksperimen bentuk tersendiri. Meskipun secara mimesis belum sepenuhnya menyerupai realitas Adu Dogong di dunia nyata, tawaran estetika ini menjadi catatan menarik untuk terus dikembangkan agar energinya semakin menyatu dengan denyut tradisionalitas aslinya.
Gedung Kesenian Tasikmalaya malam itu tampak penuh. Kehadiran komunitas seni, mahasiswa, legion 28 hingga tokoh budaya menunjukkan haus akan tontonan bermutu di Tasikmalaya masih sangat tinggi. Teater 28 Universitas Siliwangi mengambil risiko besar memilih naskah berat ini. Keberanian tersebut berhasil menghidupkan kembali wacana teater modern yang tetap berpijak pada akar tradisi. Pementasan berakhir dengan tepuk tangan panjang (standing ovation). Sobrat mungkin mati di akhir cerita. Di panggung GKT malam ini, ia hidup kembali untuk mengingatkan penonton tentang harga—sebuah harga diri dan bahaya pengkhianatan nurani. []









