Kisah Sunyi Paksya Bogalakon Menjangkau yang Terlupakan

DODY COVER

Di sudut-sudut kota yang sibuk, di antara hiruk-pikuk kendaraan dan gemerlap bangunan yang menjulang, ada cerita-cerita kecil yang jarang terdengar. Cerita tentang orang-orang yang menahan sakit lebih lama dari seharusnya. Bukan karena mereka kuat, tapi karena mereka tidak punya pilihan. Sakit, bagi sebagian orang, mungkin hanya soal waktu dan biaya. Datang ke rumah sakit, diperiksa, ditebus dengan uang, lalu pulang dengan harapan sembuh. Tapi bagi sebagian lainnya, terutama mereka yang hidup di garis tipis antara cukup dan tidak, sakit adalah kemewahan yang tidak bisa dimiliki.

Mereka menunda. Mengobati dengan seadanya. Berharap tubuhnya bertahan lebih lama. Bukan karena tidak ingin sembuh, tapi karena tidak tahu harus ke mana. Ironisnya, di tengah kondisi itu, sebenarnya negara sudah menghadirkan sebuah sistem yang dirancang untuk menjangkau mereka, yaitu UHC, Universal Health Coverage. Sebuah skema penjaminan kesehatan semesta yang memungkinkan seluruh warga, khususnya yang kurang mampu, mendapatkan akses layanan kesehatan secara gratis, minimal di kelas 3.

Secara konsep, ini adalah bentuk keadilan. Secara sistem, ini adalah solusi. Namun dalam praktiknya, ada satu masalah besar yang sering luput: tidak semua orang tahu. Bagi banyak warga di Kota Bandung, terutama mereka yang hidup dalam keterbatasan, istilah UHC mungkin terdengar asing. Prosedurnya terasa rumit. Syaratnya membingungkan. Informasinya tidak sampai.

Padahal, secara administratif, langkah-langkahnya tidaklah mustahil. Warga hanya perlu membawa dua rangkap fotokopi KTP dan Kartu Keluarga, serta surat keterangan berobat atau rujukan. Setelah itu, mereka mengajukan surat rekomendasi melalui Seksi JPRK (Jaminan, Pembiayaan, dan Regulasi Kesehatan) di Bidang SDK (Sumber Daya Kesehatan) Dinas Kesehatan Kota Bandung. Dari sana, mereka akan didaftarkan sebagai peserta BPJS Kesehatan kelas 3. Sederhana di atas kertas, namun tidak selalu sederhana di lapangan. Ada jarak antara kebijakan dan kenyataan. Jarak yang sering kali diisi oleh kebingungan, ketidaktahuan, dan ketidakberanian untuk mencoba.

Dan di situlah kisah ini dimulai. Dari sebuah keprihatinan yang sederhana, tapi jujur. Seorang warga melihat sesuatu yang tidak beres. Bukan pada sistemnya, tapi pada jangkauannya. Ia melihat orang-orang di sekitarnya yang seharusnya bisa mendapatkan layanan kesehatan gratis, justru memilih diam. Menahan sakit. Menyerah sebelum mencoba. Bukan karena mereka tidak mau, tapi karena mereka tidak tahu.

Dari situ, lahir sebuah inisiatif. Tidak besar. Tidak juga didukung oleh fasilitas mewah. Hanya niat untuk membantu, serta keberanian untuk bergerak. Ia mulai mengajak beberapa orang. Bukan untuk membangun organisasi besar, tapi untuk turun langsung ke masyarakat. Menyapa. Menjelaskan. Mendampingi. Mereka tidak datang sebagai penyelamat. Mereka datang sebagai sesama manusia. Dari langkah-langkah kecil itulah, kemudian lahir sesuatu yang lebih terstruktur. Sebuah wadah yang tidak hanya bergerak, tapi juga memberi arah.

Namanya Yayasan Bogalakon Nusantara. Dan di dalamnya, ada satu semangat yang menjadi sayap gerakannya: Paksya Bogalakon. Kata “Paksya,” yang dalam bahasa Sansekerta dan Bali berarti “sayap,” bukan sekadar nama. Itu merupakan simbol tentang bagaimana gerakan ini ingin menjadi perpanjangan tangan bagi mereka yang tidak terjangkau. Menjadi sayap yang mengangkat mereka yang selama ini tertinggal.

Paksya Bogalakon tidak bekerja dengan cara yang rumit. Mereka hadir di tengah masyarakat, membawa informasi yang sering kali tidak sampai. Mereka membantu warga memahami bahwa berobat tidak selalu harus mahal. Bahwa ada hak yang bisa diperjuangkan. Lebih dari itu, mereka mendampingi. Karena sering kali, masalahnya bukan hanya soal tahu atau tidak tahu, tapi juga soal berani atau tidak berani. Banyak warga yang merasa takut berhadapan dengan sistem. Takut salah… Takut ditolak.

Di sinilah peran Paksya Bogalakon menjadi penting. Mereka menjembatani. Mereka membantu menyiapkan berkas. Mengarahkan langkah. Bahkan menemani proses pengajuan. Sesuatu yang bagi sebagian orang terlihat sepele, tapi bagi yang membutuhkan, sangat berarti. Perlahan, perubahan mulai terasa. Orang-orang yang sebelumnya pasrah, mulai mencoba. Mereka yang dulu menahan sakit, mulai berani berobat. Bukan karena tiba-tiba punya uang, tapi karena akhirnya tahu bahwa mereka punya akses.

Dan di balik setiap proses itu, ada satu hal yang tidak bisa diukur dengan angka, yaitu harapan. Harapan bahwa hidup tidak selalu harus seberat yang dibayangkan. Harapan bahwa masih ada yang peduli. Harapan bahwa sistem yang ada, jika dipahami dan dijangkau, bisa benar-benar membantu. Apa yang dilakukan oleh Paksya Bogalakon mungkin tidak terlihat besar dari luar. Tidak ada sorotan media yang berlebihan. Tidak ada panggung yang megah. Tapi justru di situlah letak kekuatannya. Mereka bekerja dalam diam. Menjangkau yang tidak terlihat. Menyentuh yang sering dilupakan.

Di tengah dunia yang sering kali sibuk dengan hal-hal besar, gerakan seperti ini mengingatkan kita pada sesuatu yang sederhana: bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari atas. Ia bisa lahir dari kepekaan. Dari keberanian untuk peduli. Dari keputusan untuk tidak diam ketika melihat ketidakadilan.

Yayasan Bogalakon Nusantara, melalui Paksya-nya, telah menunjukkan bahwa menjadi “sayap” tidak harus menunggu kuat. Kadang, cukup dengan niat yang tulus dan langkah yang konsisten. Karena bagi mereka yang selama ini tidak tahu harus ke mana, satu tangan yang mengarahkan bisa berarti segalanya. Mengutip pendapat saudara saya Kang Dody Satya Ekagustdiman, “mengertikah makna kehidupan ini, bahwa konsep kehidupan burung adalah menjadi petani sejati untuk menyelamatkan Alam Buana ini.” Dan mungkin, di dunia yang semakin sibuk ini, kita memang butuh lebih banyak “sayap” seperti itu. Yang tidak terlihat, tapi terasa.


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *