Apa kabarnya Kang? To the poin saja, ya Kang, sebab aku tak bisa basa basi. Begini: ada satu hal yang selalu terasa sulit aku jelaskan saat melihat Kang Iman menghidupkan syair dan lakon-lakon itu: mengapa rintihan tentang tanah bisa terasa begitu dekat, bahkan kadang lebih jujur dari ribuan baris kata demonstrasi. Barangkali karena sejak awal, apa yang Kang Iman bagikan memang tidak pernah berdiri di satu ranah saja. Ia adalah sebuah kerja kebudayaan yang bergerak secara serempak; dimulai dari bagaimana Kang Iman menuliskan bait demi bait puisi tentang petani, lalu meramunya menjadi lagu “Ode Petani” pada 2021, hingga memuncak pada lakon teater “Bedol Desa” di tahun 2022 yang kita saksikan bersama di ruang terbuka CCL.
Aku teringat pernyataan Kang Iman bahwa petani bukan hanya menanam tumbuhan, tetapi menumbuhkan kehidupan. Kesadaran ini bukan sekadar kiasan indah, melainkan sebuah kenyataan hidup yang merambat masuk ke dalam setiap karya Kang Iman. Saat Kang Iman menyuarakan nasib tanah yang terampas, yang pertama kali bergerak di dadaku bukanlah logika politik, melainkan getaran rasa yang mendalam. Secara batiniah, lengkingan suara Kang Iman dalam alunan lagu yang perih itu langsung menyentuh pusat emosiku. Ia menyambar perasaan paling dalam bahkan sebelum otakku sempat menyusun alasan. Lengkingan itu bukan sekadar teknik olah vokal atau sekadar suara yang enak didengar; ia adalah getaran yang menghantam kesadaran kita yang paling murni. Di sini, musik tidak lagi menjadi sesuatu yang asing di luar diri, melainkan menjadi kekuatan yang menuntun cara kita merasakan kepedihan ekosistem pertanian kita. Ini membuktikan bahwa seni bukan hanya soal keindahan, melainkan soal getaran yang mampu menembus batasan nalar manusia.
Lalu, ada saat di mana aku tidak lagi sekadar mendengar, tetapi aku merasa seolah-olah “menubuh” dan menyatu ke dalam nasib yang Kang Iman ceritakan. Inilah saat di mana raga kita ikut merasakan apa yang kita saksikan melalui penyatuan pikiran dan rasa. Kang Iman tidak hanya menyanyikan lirik atau melatih pemain mahasiswa, tetapi Kang Iman sedang memindahkan penderitaan fisik petani—ancaman penggusuran, hilangnya lahan, hingga kekerasan yang dialami mereka—ke dalam gerak dan suara pertunjukan yang sangat nyata.
Terutama saat lengkingan “Jaleuleu Ja” itu keluar dari Ode Petani—di sela-sela ingatanku kala mengenang lakon Bedol Desa (2022) yang kulihat sebagai kelanjutan napas dari pementasan Tanah-Ode Kampung Kami—seluruh syarafku seolah-olah ikut merasakan perihnya kepedihan dan protes itu. Ada sebuah proses di mana jiwa kita ikut meniru rasa yang Kang Iman tampilkan. Kang Iman sedang menjalankan rasa kehilangan itu melalui bunyi dan gerak, sedangkan aku, tanpa perlu diberi tahu, ikut merasakan luka yang serupa melalui kerja syaraf peniru di dalam kepala. Di situlah terjadi pertemuan batin yang utuh; batas antara aku sebagai penonton dan Kang Iman sebagai seniman runtuh menjadi satu kesatuan rasa. Kita tidak lagi sekadar merasa kasihan pada petani, tetapi kita merasa menjadi bagian dari nasib mereka. Pengalaman ini adalah bukti bahwa seni Kang Iman mampu melampaui sekadar tontonan, melainkan menjadi sebuah peristiwa batin yang mendalam.
Kesadaran ini menjadi semakin mendesak ketika kita melihat kenyataan pertanian hari ini, Kang. Rendahnya keberpihakan nyata dari pemerintah—yang terlihat dari anggaran yang sangat kecil (hanya sekitar 2% APBN), kebijakan impor pangan yang justru dilakukan saat petani sedang panen raya, hingga pembiaran hilangnya lahan pertanian secara besar-besaran—adalah akar dari kemiskinan para petani yang Kang Iman suarakan. Data ini menunjukkan bahwa kemiskinan petani bukanlah takdir, melainkan hasil dari kebijakan yang tidak berpihak. Barangkali ketimpangan ini sudah Kang Iman baca jauh-jauh hari dan disuarakan selama dua puluh tahun lebih melalui tempat berkarya di CCL Bandung. Kang Iman benar, petani harusnya milik semua lapisan karena mereka adalah penjaga kehidupan yang kini kian habis.
Namun, semua rasa ini tidak akan sampai ke hati jika kita mengabaikan tempat di mana suara itu lahir. Pengalaman musik dan teatermu tidak pernah terjadi di ruang hampa yang steril. Kondisi lingkungan sekitar memainkan peran yang sangat penting sebagai pengikat makna. Ekosistem CCL di belakang Terminal Ledeng—ruang terbuka dengan kursi semen, batu, pepohonan rindang, dan bambu-bambu yang apa adanya—bukanlah sekadar latar tempat. Ruang itu ikut bernapas dan memberikan jiwa pada pesan yang disampaikan. Suasana lingkungan ini menentukan sejauh mana “pintu hati” penonton bisa terbuka lebar. Pertunjukan ini menjadi sangat kuat justru karena ia lahir dari tanah yang nyata, sebagai upaya mengajak kita untuk kembali “pulang” menghidupi tanah kelahiran yang sedang terluka.
Kang Iman, jika aku satukan semuanya, karya-karyamu adalah sebuah Peristiwa Kebudayaan yang Utuh. Emosi memberi bahan dasar pedihnya, keterlibatan raga kita membuka jalannya, dan lingkungan sekitar memberi bentuk pada kepedulian yang sedang diperjuangkan. Hasilnya adalah sebuah ruang pengalaman yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun, karena ia menyatukan puisi, lagu, teater, dan kenyataan hidup menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Sebagai penutup, aku merenungi kembali syair “Jaleuleu Ja” yang merupakan warisan tradisi lisan Ki Sunda. Secara harfiah, bait-bait itu mungkin sulit diterjemahkan secara kaku; ia penuh dengan perlambang alam yang terasa ajaib. Namun, ketika lirik itu dinyanyikan, ia memberikan sebuah nuansa lain yang mengiris hati.
Sebab Kang Iman hanya melantunkan “Jaleuleu Ja”-nya saja, aku pun mencoba menyambungnya dalam gumamku sendiri. Ketika baris “Ucing katinggang songsong” itu coba aku nyanyikan dengan lengkingan penuh luka, tiba-tiba aku ditarik kembali mengenang masa kanak-kanak. Sebuah kenangan yang kini bersenyawa dengan rasa pedih melihat nasib petani kita. Di situ aku sadar, syair itu tidak butuh kamus untuk dimengerti. Ia hanya butuh hati yang mau mendengar jeritan rakyat kecil yang tertimpa beban kebijakan yang menindas. Melalui olah rasa itulah, Kang Iman telah merawat ingatan sekaligus menyalakan api kesadaran dalam diriku.
Mungkin di situlah letak mengapa setiap pertunjukan Kang Iman selalu benar-benar hidup. Bukan karena semuanya sempurna secara hitungan teknis, tetapi karena seluruh kondisi yang Kang Iman ciptakan memungkinkan sesuatu yang sangat manusiawi terjadi di dalam diri penonton—sebuah upaya menghormati petani sebagai penumbuh kehidupan. Hal ini tidak bisa dipaksakan oleh teori, tetapi hanya bisa dihadirkan melalui keselarasan antara puisi yang dituliskan, lagu yang diciptakan, dan ruang hidup yang nyata.
Hatur nuhun, Kang, sudah terus menghidupkan getaran itu. []









