PARADIGMA EPOS: Dramaturgi Sekam di Amben Abah

epos dakikosapoin.com

Saya baca esai DRAMATURGI SEKAM: Membaca Properti Perang dari Amben Abah ini sambil lalanggiran bari rada ngantuk. Tiba-tiba saja, saya seperti “hadir” menjadi tetangga Abah. Hadir mengintip percakapan mereka yang ditulis dengan sangat asyik oleh Kang Cahya Munggaran.

Sudah sekian lama, saya tidak benar-benar “mencoba berpikir” tentang di mana keberadaan (status) saya sebagai suami dan kepala keluarga yang berdiam di pilemburan. Sebuah eksistensi yang tentu saja melekat erat dengan habitatnya. Tak mau lah saya diposisikan apakah saya cukup berdamai dengan diri sendiri, atau harus menerima “kekalahan” sebagai bukan bagian dari pergulatan dunia yang lagi carut-marut.

Atau, apakah saya masih ingin mencoba menjadi “pahlawan” lewat opini, bahkan lewat komentar ala warung kopi? Saya mencoba menelan bulat-bulat semua itu ke dalam alam pikiran, seolah-olah saya berada di Neverland, dunia entah, atau di dunia konon suronon… yang sesekali tiba-tiba saja pikiran ini “mulas” dan berhamburan di meja percakapan bersama rekan yang sama-sama orang lembur.

Struktur Perasaan di Pucuk Cangkul

Ya, saya ingin agar keluarga—anak dan bini—tidak ikut terdistorsi narasi besar “perang ekonomi”. Jujur saja, mereka lebih peduli dengan dunia masing-masing dan nyaris luput perhatian pada diksi “perang dunia”. Justru yang saya tahu, mereka tidak ingin njelimet berpikir jauh. Mereka secara alamiah mengikuti pola pikir dan pola tindak si Ambu.

Mereka lebih sibuk bergulat dengan apa yang ada, yang nampak tersedia: di tanah yang seadanya mencoba menanam singkong dan cabai, atau membenahi aliran sungai agar sepetak sawah terawat subur. Sejatinya, secara naluriah mereka mengamini konsep Mang Momon (Raymond Williams) mengenai structures of feeling. Betapa perubahan besar dalam politik global ternyata beresonansi langsung pada perasaan dan pengalaman sehari-hari rakyat jelata di pelosok desa.

Kalau dibilang sama sekali “tak memikirkan itu”, tentu saja tidak juga. Hanya saja, keterbatasan pengetahuan itu justru menggiring mereka ke arah yang lebih bijak. Pacul dan otot sendi terasa lebih berbicara, sambil menyediakan diri untuk meneguhkan eksistensi karumasa: “Aku mah begini adanya!” Ya, kurang lebih sesederhana itu.

Daki Penderitaan dan Suluh Kapitalisme

Perasaan waswas dan kecewa berat ketika membaca kabar dunia itu pasti ada. Namun, sebagaimana narasi di level bawah, reaksinya mungkin beragam, tapi nadanya sama! Ya, sebagaimana apa yang dialami Lamsijan dan Iteung dalam dimensi sehari-hari; tanpa diucapkan pun, “penderitaan” itu sudah seperti daki yang melekat. Tak perlu diratapi, tapi dirasakan keberadaannya setiap hari.

Tak seorang pun di dunia ini yang tak ingin damai. Namun sering kali gelora “syahwat dunia” begitu menggoda. Capitalism itu seperti suluh membara yang memberi dampak buruk bagi kesehatan jiwa; membawa kita pada keserakahan, menyulut kita menjadi api perang. Hasrat untuk berkuasa bagi para penguasa, apalagi. Isrewel dan Donal Bebek itu memang pantas jadi api neraka!

Cekas

Esai ini bukan sekadar tentang perang di kejauhan, tapi tentang bagaimana kita yang di lembur tetap menjaga kewarasan di atas amben, di tengah kepungan asap sekam yang mulai memanas. Menjaga agar sisa umur tidak habis terbakar oleh api yang dinyalakan dari negeri antah-berantah.


Apakah artikel ini membantu?

Tulisan Lain dari Penulis :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *