DARI MASA LALU YANG KELAM MENUJU JALAN PEMBERDAYAAN

dari masa lalu

Ia bukan pejabat, bukan orang yang memiliki kekayaan berlebih atau lulusan kampus bergengsi. Namun, Yopi Panirwan Hastia, atau lebih dikenal dengan panggilan Udel, memiliki semangat yang tidak sederhana, yakni mengajak orang-orang yang telanjur disebut sampah masyarakat untuk kembali menemukan harga diri melalui keterampilan dan pekerjaan.(Source: kosapoin.com/dari-masa-lalu-yang-kelam-menuju-jalan-pemberdayaan)

Udel tidak sekadar mengajak mereka meninggalkan kebiasaan buruk. Ia mengarahkan, mengenalkan keterampilan, dan membuka jalan agar mereka memiliki penghasilan. Ia sendiri terus meningkatkan kemampuan hingga menjadi ahli di bidang fiberglass. Keterampilan itu dipraktikkan, dikembangkan, kemudian diperkenalkan kepada orang-orang yang selama ini lebih sering menerima penghakiman daripada kesempatan.(Source: kosapoin.com/dari-masa-lalu-yang-kelam-menuju-jalan-pemberdayaan)

Namun, jalan yang ditempuh Udel tidak bermula dari kehidupan yang tertata. Dalam wawancara, ia mengisahkan masa kecilnya sebagai anak nakal yang akrab dengan pergaulan preman. Kedua orang tuanya masih ada saat ia masih SD, namun ia memilih membiayai sekolah sendiri. Salah satu caranya dengan menjadi calo di Terminal Cicaheum.(Source: kosapoin.com/dari-masa-lalu-yang-kelam-menuju-jalan-pemberdayaan)

Ketika SMP, ia sempat mengenyam pendidikan pesantren dan memperoleh dasar pengetahuan agama. Memasuki SMA Negeri 51 Rancaekek, pergaulannya semakin dekat dengan geng Brigez. Bahkan, untuk membayar uang sekolah, ia membagikan formulir keanggotaan Brigez pada teman-teman sekolahnya. Dari setiap pembayaran Rp50 ribu untuk memperoleh KTA dan kaus, ia mendapatkan bagian 40% untuk biaya sekolah.(Source: kosapoin.com/dari-masa-lalu-yang-kelam-menuju-jalan-pemberdayaan)

Kehidupannya diwarnai perkelahian hingga hampir dikeluarkan dari sekolah. Ia bertahan karena pihak sekolah masih melihat prestasi yang dimilikinya. Seusai kelulusan, konflik dengan kelompok lain berujung kecelakaan serius. Ia dikejar, mengalami tabrakan, dan menderita patah serta remuk pada kaki dan tangan. Setelah menjalani pengobatan alternatif di Tasikmalaya atas ajakan temannya, kondisinya berangsur pulih.(Source: kosapoin.com/dari-masa-lalu-yang-kelam-menuju-jalan-pemberdayaan)

Udel kemudian memutuskan untuk mencoba keberuntungan di Kotagede, Yogyakarta, selama empat tahun. Di sana ia menikah dengan seorang gadis setempat namun tidak bertahan lama, lalu kembali ke Bandung. Pertemuan dengan Adit Barli terjadi ketika ia bergabung dengan Sundawani. Sosok yang dikenal dengan BOGALAKON itu kemudian menjadi sumber inspirasi penting dalam perjalanan hidupnya.(Source: kosapoin.com/dari-masa-lalu-yang-kelam-menuju-jalan-pemberdayaan)

Udel menganggap Adit sebagai kakak, dan menyapanya dengan panggilan Ki Lanceuk. Sejak saat itu, ia memperhatikan apa yang dilakukan Adit Barli. Baginya, BOGALAKON bukan sekadar lambang identitas, melainkan sebuah inspirasi untuk mengubah energi negatif menjadi sesuatu yang positif dan bermanfaat.(Source: kosapoin.com/dari-masa-lalu-yang-kelam-menuju-jalan-pemberdayaan)

Dalam perspektif sosiologi, perjalanan Udel memperlihatkan bahwa identitas manusia tidak pernah sepenuhnya selesai dibentuk oleh masa lalu. Stigma dapat mengurung seseorang dalam label yang dilekatkan masyarakat. Ironisnya, masyarakat sering menuntut seseorang berubah, tetapi tetap memperlakukannya berdasarkan kesalahan yang pernah dilakukan. Di sinilah persoalan kemanusiaan muncul. Kita mudah menyebut seseorang sebagai sampah masyarakat, tetapi jarang bertanya apakah lingkungan sosial telah menyediakan jalan baginya untuk kembali. Padahal, pengucilan justru dapat memperpanjang keterasingan dan mempersempit kemungkinan perubahan.(Source: kosapoin.com/dari-masa-lalu-yang-kelam-menuju-jalan-pemberdayaan)

Secara psikologis, perjumpaan dengan figur yang dianggap sebagai teladan dapat memengaruhi pembentukan perilaku. Namun, inspirasi tidak otomatis menghasilkan perubahan. Ia membutuhkan kesediaan untuk mengolah pengalaman, mengendalikan dorongan, mengembangkan kemampuan, dan mengambil tanggung jawab. Udel memperlihatkan proses itu melalui keterampilan fiberglass yang kini menjadi sarana pemberdayaan orang lain.(Source: kosapoin.com/dari-masa-lalu-yang-kelam-menuju-jalan-pemberdayaan)

Di sinilah keteladanan Adit Barli menemukan maknanya. Menjadi contoh ternyata lebih berarti, daripada sekadar memberi contoh. Nasihat dapat terdengar sesaat, tetapi tindakan yang konsisten meninggalkan kesan dan kemungkinan untuk ditiru. Udel tidak berhenti hanya dengan mengagumi sosok yang menginspirasinya; ia menerjemahkannya menjadi tindakan nyata.(Source: kosapoin.com/dari-masa-lalu-yang-kelam-menuju-jalan-pemberdayaan)

Secara filosofis, hijrah bukan hanya perpindahan dari perilaku buruk menuju perilaku baik. Hijrah juga merupakan perubahan cara memandang manusia, termasuk mereka yang pernah jatuh. Nilai seseorang tidak semestinya dibekukan oleh kesalahan masa lalunya.(Source: kosapoin.com/dari-masa-lalu-yang-kelam-menuju-jalan-pemberdayaan)

Udel bukan orang penting yang memegang kekuasaan. Namun, berkat keahlian dan kepeduliannya pada mereka yang tersisih, ia melakukan hal yang paling hakiki: mengembalikan harga diri manusia. Masyarakat sering membicarakan perubahan, tetapi belum tentu bersedia menerima orang yang sedang berubah. Kisah Udel mengingatkan kita bahwa kesempatan kedua bukan hadiah bagi orang yang sempurna. Ia adalah ruang kemanusiaan bagi siapa pun yang bersedia memperbaiki hidupnya. Sebab, peradaban tidak diukur dari seberapa cepat kita memberi cap kepada orang yang pernah jatuh, melainkan dari kesediaan kita membuka jalan agar mereka dapat berdiri kembali. (jbp 04/11/2026)(Source: kosapoin.com/dari-masa-lalu-yang-kelam-menuju-jalan-pemberdayaan)

Jossy Belgradoputra M.H.

Apakah artikel ini membantu?
IP: 46.248.185.246
Negara: Poland (Pomerania)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *