ENIGMA BUKU DALAM BUKU

enigma buku dalam buku 1

Dulu saya bisa membaca enam buku dalam sehari. Satu belum selesai, tangan sudah mencari yang lain. Novel, puisi, esai, naskah drama, psikologi, agama, hukum—apa saja yang kebetulan sampai ke tangan. Pagi membaca, siang membaca, malam masih membaca. Buku-buku seperti punya antrean sendiri di meja. Sekarang tiga atau empat buku saja kadang baru selesai beberapa hari kemudian. Sebuah buku bisa terbuka di meja, ditinggal karena pekerjaan lain, lalu saya kembali kepadanya beberapa jam setelahnya. Ada kalimat yang saya baca dua kali. Bukan karena lupa. Kali kedua saya membacanya karena ingin tinggal sedikit lebih lama di sana. Dulu saya mengejar tamat. Sekarang saya lebih sering tertahan di tengah.(Source: kosapoin.com/enigma-buku-dalam-buku)

Semasa kuliah di Kota Kembang dan Kota Metropolitan, toko buku mempunyai cara sendiri menghabiskan uang saku. Lapak buku loak lebih pandai lagi. Saya bisa datang hanya untuk melihat-lihat, lalu pulang membawa beberapa buku yang namanya bahkan tidak ada dalam rencana. Kamar kontrakan semakin sempit. Buku-buku menumpuk di bawah meja, di samping tempat tidur, sampai ke sudut yang masih saya perlukan untuk berjalan. Beberapa saya pinjamkan kepada teman. Ada yang kembali setelah sekian lama. Ada yang tidak. Sesekali saya masih teringat sebuah buku ketika melihat rak. Saya tahu pernah memilikinya, tetapi tidak tahu sekarang tinggal di mana. Ada buku yang rupanya lebih pandai merantau daripada pemiliknya.(Source: kosapoin.com/enigma-buku-dalam-buku)

Ada pula kitab-kitab yang ikut berpindah bersama saya. Dari pengajian ke pesantren, dari satu kota ke kota lain sebagai santri kalong. Jika seluruh masa itu dijumlahkan, kira-kira sembilan tahun. Tetapi sembilan tahun itu terpotong-potong: dua tahun, berhenti; kembali sekitar empat tahun, berhenti lagi; kemudian setahun, beberapa bulan, bahkan pernah sebulan. Pesantren berganti, kota berganti, guru berganti. Kadang baru hafal halaman dan jalan menuju tempat mengaji, saya sudah harus pergi lagi. Kitab dibuka, diberi tanda, ditutup. Beberapa hal ikut dibawa meski kitabnya tertinggal.(Source: kosapoin.com/enigma-buku-dalam-buku)

Sebagian buku yang sekarang ada di rak berasal dari perpustakaan pribadi almarhum kakak saya. Setelah ia tidak ada, buku-buku itu tetap tinggal, kemudian berpindah kepada saya. Saya mengenali beberapa di antaranya bukan dari judul. Ada sudut halaman yang dilipat. Ada garis pensil. Ada nama di halaman depan. Ada secarik kertas yang terselip di antara dua halaman. Sampulnya mungkin sudah kusam, tetapi bekas tangan orang yang pernah membacanya masih ada. Kadang saya memegang sebuah buku dan membayangkan kakak pernah membawanya pulang, membukanya, lalu meletakkannya kembali di tempat yang tidak saya ketahui. Dulu saya bisa bertanya mengapa ia memilih buku itu. Sekarang bukunya masih ada. Pertanyaannya tidak.(Source: kosapoin.com/enigma-buku-dalam-buku)

Suatu hari saya mengambil salah satunya tanpa melihat judul. Saya buka dari halaman mana saja. Sebuah garis pensil berhenti di satu kalimat. Saya membacanya sekali. Kemudian sekali lagi. Tidak ada yang istimewa pada kalimat itu, setidaknya bagi saya. Tetapi seseorang yang saya kenal pernah berhenti di sana sebelum saya. Saya menutup buku, meletakkannya di meja. Beberapa menit kemudian saya membukanya lagi. Garis itu masih di tempatnya. Tipis, pendek, diam. Yang membuatnya sudah tidak ada.(Source: kosapoin.com/enigma-buku-dalam-buku)

Dari buku-buku itu saya mulai menulis puisi, cerpen, esai, reportase, kritik, lirik lagu, naskah drama, dan skenario. Meja dan ruang kerja berpindah-pindah: meja redaksi, ruang kelas, depan kamera, ruang latihan teater. Ada masa ketika yang saya perhatikan adalah bingkai dan cahaya. Di panggung, pemain yang diam di sudut kadang justru menarik mata. Dua orang yang berdiri berjauhan dapat terasa lebih dekat daripada dua orang yang berdiri berdampingan. Ada adegan yang terasa lengkap justru karena satu bagian dibiarkan kosong. Di ruang kelas, perubahan kecil kadang berlangsung tanpa suara. Di meja redaksi, kata-kata datang dengan bentuk lain.(Source: kosapoin.com/enigma-buku-dalam-buku)

Bonsai datang kembali ketika sebuah hubungan berakhir. Padahal almarhumah Ibu sudah mengajari saya membonsai sejak kelas SD. Dulu saya tidak mengerti mengapa pohon harus dipotong, diikat kawat, dipindahkan ke pot, lalu dibiarkan tumbuh berbulan-bulan. Bagi saya pohon adalah pohon. Gunting adalah gunting. Tanah ya tanah. Setelah dewasa, bonsai saya tinggalkan. Sampai suatu hari kepala saya terlalu ramai dan tangan membutuhkan pekerjaan. Saya mencari kembali pot, kawat, gunting, dan pohon-pohon kecil yang dulu saya kerjakan bersama Ibu. Sebuah pohon kecil kembali tinggal di meja saya.(Source: kosapoin.com/enigma-buku-dalam-buku)

Saya mulai lagi dengan kawat, gunting, pot, dan tanah. Pot saya putar berkali-kali. Dari depan bagus, dari samping berantakan. Cabang yang tampak pas dari satu arah ternyata terlalu maju ketika dilihat dari arah lain. Saya pangkas satu, membiarkan yang lain, lalu mundur beberapa langkah. Kawat mengarahkan cabang ke posisi yang saya inginkan. Saya putar lagi potnya. Mundur lagi. Ada bagian yang dibiarkan kosong. Ada cabang yang saya tahan meski ingin segera dipotong. Pohon tidak bergeser ketika saya menghendakinya. Ia tumbuh menurut caranya sendiri.(Source: kosapoin.com/enigma-buku-dalam-buku)

Sering kali saya sudah yakin sebuah cabang harus dipotong. Beberapa minggu kemudian cabang itu tumbuh dengan arah yang tidak saya duga. Yang saya kira mengganggu ternyata mengisi ruang kosong. Yang saya pertahankan dengan susah payah justru membuat pohon tampak sesak. Pohon tidak pernah mengatakan saya keliru. Ia hanya tumbuh. Suatu hari saya berdiri di depannya sambil memegang gunting dan bertanya-tanya siapa sebenarnya yang sedang mengatur siapa.(Source: kosapoin.com/enigma-buku-dalam-buku)

Di meja itu, buku dan bonsai sering berdekatan. Saya membaca beberapa halaman, kemudian berdiri melihat pohon. Saya duduk lagi dan membaca. Kadang tangan masih memegang gunting ketika mata berhenti pada satu kalimat. Kadang sebuah cabang terlihat berbeda setelah pot diputar. Malam bergerak di antara kursi dan meja, antara halaman dan cabang. Buku terbuka. Pohon diam. Tangan belum juga turun.(Source: kosapoin.com/enigma-buku-dalam-buku)

Galeri bonsai saya bangun dari hasil menjual bonsai-bonsai lama. Mula-mula saya lebih sering duduk sendiri di sana, membaca atau menulis sambil melihat daun dan cabang berubah sedikit demi sedikit. Kemudian orang-orang mulai datang. Ada yang membeli bonsai. Ada yang berbicara tentang pohon. Ada yang duduk lebih lama dan membawa persoalannya sendiri. Kadang persoalan itu diletakkan begitu saja di atas meja, di antara pot kecil dan cangkir kopi. Saya mendengarkan sebisanya. Teu mais teu meuleum, katempuhan buntut maung. Seorang tetangga pernah berkata, “Yang bikin ulah mah keur ongkang-ongkang bari liburan, urang dieu yang ketimban tangga.” Saya tertawa waktu itu. Setelahnya, kalimat itu beberapa kali muncul sendiri ketika saya sedang sendirian.(Source: kosapoin.com/enigma-buku-dalam-buku)

Rumah hanya beberapa langkah dari galeri. Suara dari sana kadang sampai ke kamar. Anak-anak ikut terganggu. Istri pun merasakannya. Malam yang semestinya turun pelan menjadi panjang. Saya menyeberang ke galeri, tetapi saung di sana sudah ditempati. Saya kembali ke rumah, dan buku di meja masih terbuka pada halaman yang sama. Gunting tergeletak di samping pot. Kawat belum dipasang. Ada daun yang mengering. Satu pohon kehilangan bentuknya. Yang lain mati. Kalimat yang hendak saya tulis berhenti sebelum titik.(Source: kosapoin.com/enigma-buku-dalam-buku)

Hari-hari kemudian berjalan seperti pintu yang tidak sempat ditutup. Satu cerita masuk sebelum cerita sebelumnya benar-benar keluar. Saya mendengar, menjawab seperlunya. Ada yang pulang, lalu yang lain datang. Meja tetap menyimpan beberapa buku yang terbuka. Halaman-halaman itu berpindah di bawah mata saya, tetapi tidak banyak yang sampai ke halaman terakhir.(Source: kosapoin.com/enigma-buku-dalam-buku)

Ada buku yang bahkan tidak pernah saya buka. Saya menemukannya sesekali di rak: masih rapi, masih bersegel plastik. Saya ingat membawanya pulang. Saya ingat pernah membayangkan akan membacanya. Sekarang saya bahkan tidak ingat mengapa dulu begitu ingin membelinya. Buku itu tetap di sana. Tidak marah. Tidak pergi. Seperti seseorang yang pernah saya undang pulang, lalu saya biarkan duduk sendirian di ruang tunggu.(Source: kosapoin.com/enigma-buku-dalam-buku)

Kadang sebuah kata dalam percakapan membawa pulang suara seseorang yang sudah lama tidak saya dengar. Bau tertentu membuat sebuah ruangan terasa seperti tempat yang jauh. Cahaya yang jatuh di meja pada jam tertentu pernah membawa kembali sebuah sore yang sudah lama berlalu. Ada pula kalimat yang pernah saya baca bertahun-tahun silam. Ia diam lama sekali, kemudian muncul ketika saya sedang berhadapan dengan sesuatu yang lain. Yang pulang kadang bukan nama atau wajah. Hanya sebuah kata. Sesuatu bergerak sebentar di dalam kepala, lalu diam lagi.(Source: kosapoin.com/enigma-buku-dalam-buku)

Pada malam yang menyisakan sedikit ruang, saya membuka salah satu buku. Tidak selalu dari halaman pertama. Saya membaca beberapa halaman sampai mata mulai berat, lalu menyelipkan pembatas. Dari luar kamar mungkin masih ada suara yang belum selesai. Saya menutup buku dan memandang ke samping tempat tidur. Bonsai yang tadi saya pangkas masih berada di tempat semula. Ada satu cabang kecil yang sejak sore saya lihat dari depan, dari samping, dari belakang. Saya sudah memegang gunting beberapa kali, tetapi kemudian meletakkannya kembali di meja. Cabang itu masih di sana.(Source: kosapoin.com/enigma-buku-dalam-buku)

Buku itu juga. [](Source: kosapoin.com/enigma-buku-dalam-buku)

Kalampeda
Baca Tulisan Lain

Kalampeda

Doni Muhamad Nur

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *