Tepuk Tangan yang Tertinggal Di Kepala

tepuk tangan yang tertinggal di kepala

Kadang-kadang sebuah kalimat memenangkan sesuatu sebelum sempat diperiksa. Ia keluar dengan susunan yang nyaris sempurna, menyentuh bagian yang tepat dari perasaan pendengarnya, lalu meninggalkan keheningan yang disangka sebagai tanda bahwa persoalan telah selesai. Orang-orang mengangguk. Sebagian tersenyum karena merasa menemukan pembenaran bagi sesuatu yang sejak lama dipercayainya. Sebagian lagi mengingat kalimat penutupnya, membawanya pulang, lalu menyelipkannya ke dalam percakapan lain. Tidak ada yang keliru dari menikmati kecakapan seseorang menyusun kata. Persoalan mulai tampak ketika kekaguman itu menetap: sebuah pernyataan telah memperoleh tempat dalam pikiran, tetapi jalan yang mengantarkannya ke sana belum tentu pernah dilalui.(Source: kosapoin.com/tepuk-tangan-yang-tertinggal-di-kepala)

Kita mengenal bunyi sebuah pendapat jauh lebih cepat daripada mengenal cara pendapat itu bekerja. Dalam percakapan yang bergerak cepat, kalimat yang tajam mempunyai keuntungan: ia segera dikenali, mudah diingat, dan tidak menuntut banyak waktu untuk dikagumi. Sebaliknya, pemeriksaan terhadap alasan membutuhkan kesediaan tinggal lebih lama pada bagian yang tidak selalu menyenangkan. Kita harus mengikuti bagaimana sebuah kesimpulan dilahirkan, melihat apakah alasan yang diajukan memang mengarah ke sana, dan memperhatikan saat sebuah istilah berubah arti di tengah pembicaraan. Pekerjaan semacam itu tidak selalu menghasilkan kalimat yang pantas dikutip. Bahkan, sesekali ia merusak kenikmatan yang baru saja kita peroleh dari sebuah ucapan.(Source: kosapoin.com/tepuk-tangan-yang-tertinggal-di-kepala)

Di sinilah kecerdasan retorika memperlihatkan dua wajahnya. Ia dapat menolong pikiran menemukan bentuk yang sebelumnya sulit diucapkan, tetapi ia juga dapat membuat kekurangan penalaran luput dari pandangan. Sebuah kesimpulan terdengar masuk akal bukan karena alasan yang menopangnya cukup kuat, melainkan karena susunan kalimat berhasil menghapus jarak di antara keduanya. Kita seperti diajak melompati sebuah parit tanpa sempat melihat seberapa lebar parit itu. Sesudah tiba di seberang, yang diingat adalah keberhasilan sampai, bukan kenyataan bahwa sebagian jalan tadi tidak pernah benar-benar dilewati.(Source: kosapoin.com/tepuk-tangan-yang-tertinggal-di-kepala)

Persoalan menjadi lebih rumit ketika kata-kata yang terdengar kokoh berhadapan dengan keadaan yang menuntut penerapannya. Keterbukaan dipuji, tetapi penjelasan atas pendirian sendiri dianggap tidak perlu; kritik diterima sebagai bagian dari percakapan, lalu kehilangan nama baiknya ketika datang dari arah yang tidak dikehendaki. Prinsip yang sama seolah tetap berada di tempatnya, padahal batas pemakaiannya telah bergeser. Tidak diperlukan pernyataan yang secara terang-terangan membatalkan ucapan terdahulu. Cukup dengan mengubah cara sebuah keadaan disebut, seseorang dapat mempertahankan bunyi pendapatnya sambil menghindari akibat yang semestinya mengikuti pendapat tersebut. Bahasa, dalam keadaan seperti ini, bukan hanya menyampaikan pikiran. Ia turut menentukan bagian mana dari pikiran yang bersedia diperlihatkan.(Source: kosapoin.com/tepuk-tangan-yang-tertinggal-di-kepala)

Tentu saja, manusia tidak diwajibkan tinggal selamanya di dalam pendapat yang pernah diucapkannya. Pengalaman dapat membatalkan keyakinan, pengetahuan baru dapat mengubah kesimpulan, dan keberanian mengakui kekeliruan kadang-kadang jauh lebih berarti daripada keteguhan mempertahankan ucapan lama. Karena itu, perubahan pendapat tidak dengan sendirinya menunjukkan kelemahan nalar. Persoalannya terletak pada hubungan antara perubahan dan alasannya. Ada orang yang mengubah pandangan karena menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui; ada pula keadaan ketika ukuran penilaian berganti tanpa penjelasan, tepat pada saat ukuran lama mulai menghasilkan kesimpulan yang tidak disukai. Dari luar keduanya mungkin terdengar sama-sama meyakinkan. Perbedaannya baru terlihat ketika kita tidak berhenti pada bunyi pernyataan, melainkan mengikuti apa yang membuatnya berubah.(Source: kosapoin.com/tepuk-tangan-yang-tertinggal-di-kepala)

Akan tetapi, mengapa sebuah ketidaksesuaian dapat lewat begitu saja, bahkan di hadapan orang-orang yang sebenarnya mampu melihatnya? Barangkali karena kita tidak datang ke setiap percakapan dengan tangan kosong. Kita membawa nama yang kita hormati, kelompok yang ingin kita bela, pengalaman yang membentuk keberpihakan, juga kesimpulan yang diam-diam ingin kita menangkan. Ketika sebuah ucapan mendukung semua itu, kita cenderung memberinya jalan yang lebih lapang. Bagian yang janggal terasa kecil; penjelasan yang kurang memadai dianggap bisa dilengkapi nanti. Sebaliknya, pendapat yang berseberangan dapat kita periksa sampai ke titik yang paling rapuh. Di sana, kecakapan retorika seseorang bukan satu-satunya persoalan. Cara kita membagikan kelonggaran kepada gagasan yang berbeda juga ikut menentukan apa yang akhirnya kita sebut masuk akal.(Source: kosapoin.com/tepuk-tangan-yang-tertinggal-di-kepala)

Sesudah percakapan berakhir, sebuah kalimat dapat bertahan lebih lama daripada alasan yang melahirkannya. Ia berpindah dari satu ingatan ke ingatan lain, dipetik dari konteksnya, kemudian dipakai untuk menerangkan keadaan yang tidak pernah menjadi bagian dari pembicaraan semula. Pengulangan membuatnya akrab; keakraban perlahan menyerupai kebenaran. Orang yang mengutipnya belum tentu mengetahui pertanyaan yang dahulu hendak dijawab, apalagi batas kesimpulan yang dapat ditarik darinya. Kalimat itu hidup, tetapi kehidupannya telah terpisah dari perjalanan pikirannya. Mungkin karena itulah beberapa ucapan terasa semakin kuat setelah kehilangan konteks: bukan karena maknanya bertambah dalam, melainkan karena bagian-bagian yang dapat mengganggu penerimaannya telah tertinggal di belakang.(Source: kosapoin.com/tepuk-tangan-yang-tertinggal-di-kepala)

Saya tidak melihat keindahan bahasa sebagai sesuatu yang perlu dijauhkan dari pemeriksaan. Kata-kata yang dipilih dengan cermat dapat memperlihatkan kerumitan yang sebelumnya tidak terbaca; sebuah perumpamaan dapat membuka jalan ke arah pemahaman yang tidak dicapai oleh uraian biasa. Justru karena bahasa memiliki daya seperti itu, kita perlu membedakan kemampuannya menerangi persoalan dari kemampuannya membuat kita terpesona. Keduanya dapat hadir dalam kalimat yang sama, tetapi tidak saling menjamin. Keindahan bukan bukti bahwa sebuah pemikiran keliru, sebagaimana ketajaman bunyi bukan bukti bahwa pemikiran itu benar. Di antara keduanya terdapat pekerjaan yang lebih sunyi: memeriksa apakah apa yang dikatakan sungguh ditopang oleh alasan yang menyertainya.(Source: kosapoin.com/tepuk-tangan-yang-tertinggal-di-kepala)

Tepuk tangan tidak selalu berbunyi. Kadang-kadang ia berlangsung di dalam kepala, ketika sebuah kalimat terasa begitu cocok dengan keyakinan kita sehingga tidak lagi terpikir untuk mengajukan pertanyaan. Di situlah sebuah pendapat dapat lolos tanpa pemeriksaan, bukan lantaran tidak memiliki kelemahan, melainkan lantaran kita telah lebih dahulu menyukai bentuknya. Kalimat yang baik tentu boleh tinggal dalam ingatan. Namun, ketika ia hendak dijadikan pegangan, ada sesuatu yang perlu ikut dibawa: bukan hanya bunyi yang membuatnya dikenang, melainkan alasan yang membuatnya layak dipercaya. Selebihnya, kita mungkin hanya sedang menyimpan gema, lalu keliru menganggapnya sebagai suara pikiran sendiri. [](Source: kosapoin.com/tepuk-tangan-yang-tertinggal-di-kepala)

Doni Muhamad Nur

Apakah artikel ini membantu?
IP: 216.73.217.128
Negara: United States (Ohio)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *