Dua hari kemudian saya kembali menyambangi kediaman Kang Dody Satya Ekagustdiman. Percakapan kami tentang rajah, memang belum tuntas. Semakin dibicarakan, semakin banyak lapisan makna yang terbuka. Seperti kain tua yang ketika dibentangkan ternyata menyimpan motif yang tidak terlihat ketika dilipat.(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Menurut Kang Dody, ada beberapa bagian rajah yang memiliki makna sangat kuat, misalnya “Urang jeung alam teu aya antarana”; “Ka Luhur – Ka Handap – Ka Gigir – Ka Tukang – Ka Hareup”; serta “Sanghyang Mangsa – Sanghyang Wayah – Sanghyang Wanci.”(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Saya mulai menangkap, bahwa rajah bukan sekadar lantunan pembuka sebuah pertunjukan atau ritual. Rajah adalah cara sebuah kebudayaan, yang menempatkan manusia dalam hubungan dengan ruang, waktu, alam, dan kehidupan sosial.(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
“Masih ada dua lagi yang nanti Kang Jossy dengarkan,” kata Kang Dody.(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
“Berarti belum selesai, Kang?” “Teu acan,” jawabnya pendek. Ia pun kemudian melakukan amit.(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Saya menyadari, bahwa dalam kebudayaan yang mengenal amit, manusia tidak memulai sesuatu, dengan merasa dirinya sebagai pusat. Ada kesadaran, bahwa setiap tindakan berlangsung di dalam ruang kehidupan, yang telah lebih dahulu ada.(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Kemudian Kang Dody berkata, “Ieu rajah Pamunah.” Rajah penutup. Ia pun mengambil kecapi, dan petikan pertama terdengar. Lalu ia melantunkan:(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Cihaliwung nunjang Ngidul,
Cisadane nunjang Ngaler,
Cipeucang nunjang Ngetan,
Cikadongdong nunjang Ngulon,
Nerus na ka Gunung Sembung…(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Cihaliwung ca’ah isuk,
Cisadane ca’ah beurang,
Kiruh ti hilir ti girang,
Ti tengah canembrang herang,
Pamuruyan Gajah Putih,
Paranti Dewata siram,
Nuncleb ka bakalan dewata dua…(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Pun Sapun…(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Neda Agung Ampun Paralun,
Neda Jembar HampuraNa,
Bisi kaula diajar dina héjona,
Motong catang kumalimpang,
Meperan sirung sangrana…(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Mangga nyanggakeun ka Buana Panca Tengah,
Bray Ca’ang Alam Padang Narawangan,
Run Turun Bayu Rahayu,
Sirna-sirna sagala rereged,
Gemah ripah repeh rapih,(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Silih Asah,
Silih Asih,
Silih Asuh…(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Pun Tabe-Tabe Pun…(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Saya terdiam, kali ini saya tidak hanya mendengar bunyi dan irama. Ada rangkaian gagasan yang bergerak, dari satu titik ke titik lainnya. Sungai, arah, air, kesalahan, alam, cahaya, kebersihan, lalu hubungan antarmanusia. Kemudian bertanya kepada Kang Dody tentang maknanya.(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Sungai yang Mengajarkan Arah(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Bagian awal rajah menyebut beberapa sungai:(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Cihaliwung nunjang Ngidul.
Cisadane nunjang Ngaler.
Cipeucang nunjang Ngetan.
Cikadongdong nunjang Ngulon.(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Sungai hadir bersama arah. Saya tertarik pada hubungan keduanya. Dalam kesadaran modern, sungai sering direduksi menjadi angka: debit, panjang, luas daerah aliran, kapasitas, atau potensi ekonomi. Padahal sungai juga mempunyai sejarah sosial, menghubungkan hulu dengan hilir. Menghidupi sawah. Menjadi sumber air. Membentuk permukiman. Menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Karena itu, saat sungai disebut dalam rajah, yang muncul bukan sekadar nama geografis. Ada kesadaran, bahwa manusia hidup di dalam jaringan ruang yang saling berhubungan. Kita sering lupa, bahwa apa yang dilakukan di hulu tidak berhenti di hulu. Limbah bergerak ke hilir. Kerusakan hutan memengaruhi debit sungai. Penutupan lahan mengubah aliran air. Keputusan di satu tempat, dapat menjadi bencana di tempat lain.(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Dalam ekologi, tidak ada batas administratif yang mampu menghentikan hubungan sebab-akibat. Sungai, mengajarkan hal itu dengan cara paling sederhana. Bahwa apa yang kita buang ke dalamnya, pada akhirnya akan mencari jalannya sendiri.(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Kiruh ti Hilir ti Girang(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Keruh dari hilir sampai hulu, terasa sangat dekat dengan kehidupan kita. Sungai tercemar oleh limbah rumah tangga. Sampah mengalir dari permukiman. Industri membuang sisa produksinya. Tanah kehilangan kemampuan menyerap air. Hutan berkurang. Kemudian ketika sungai meluap, kita menyebutnya bencana alam.(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Padahal tidak semua bencana yang berkaitan dengan alam sepenuhnya merupakan urusan alam. Sebagiannya, adalah konsekuensi dari keputusan manusia sendiri. Membuang sampah, kemudian marah ketika sampah kembali bersama banjir. Menutup tanah dengan beton, lalu bertanya mengapa air tidak meresap. Mengurangi ruang sungai, kemudian heran saat sungai mencari ruangnya sendiri.(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Alam tidak sedang menghukum. Ia hanya bekerja menurut hukumnya. Yang sering bermasalah, justru manusia yang mengira hukum alam dapat dinegosiasikan seperti sebuah kontrak.(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Di sinilah rajah mempunyai daya kritik yang halus. Yang tidak berbicara tentang lingkungan dengan istilah teknokratis, cukup mengingatkan hubungan. Hulu dan hilir. Manusia dan alam. Tindakan dan akibat.(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Permintaan Maaf kepada Alam(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Kemudian, muncul bagian yang menurut saya sangat menarik:(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Neda Agung Ampun Paralun.
Neda Jembar HampuraNa.(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Meminta ampun, meminta maaf. Lalu:(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Bisi kaula diajar dina héjona,
motong catang kumalimpang,
meperan sirung sangrana…(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Ada pengakuan bahwa manusia mungkin melakukan kesalahan ketika mengambil sesuatu dari alam. Memotong batang, merusak tunas. Mengganggu kehidupan yang sedang tumbuh. Bagi saya, ini bukan semata-mata soal ritual. Ada etika di dalamnya. Manusia mengakui bahwa mengambil sesuatu dari alam bukan tindakan yang sepenuhnya bebas nilai.(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Hari ini kita menggunakan istilah “pemanfaatan sumber daya alam”. Istilah itu terdengar netral. Tetapi di baliknya, selalu terdapat keputusan tentang apa yang boleh diambil, seberapa banyak, untuk kepentingan siapa, dan siapa yang menanggung akibatnya. Rajah mengajukan pertanyaan yang lebih sederhana: Apakah setelah mengambil, manusia masih merasa perlu meminta maaf?(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Pertanyaan itu penting, karena manusia modern memiliki kemampuan mengambil yang luar biasa besar. Teknologi memungkinkan kita menggali lebih dalam, menyedot lebih banyak, membangun lebih luas, dan memproduksi lebih cepat. Tetapi, kemampuan mengambil tidak otomatis disertai kemampuan memulihkan. Di sinilah kemajuan membutuhkan etika.(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Buana Panca Tengah(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Nyanggakeun ka Buana Panca Tengah.(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Saya menyukai bagian ini, karena menempatkan manusia di sebuah ruang kehidupan, bukan di luar kehidupan. Manusia hidup di bumi. Menghirup udara. Menggunakan air. Mengolah tanah. Mengonsumsi hasil alam. Tetapi, sering kali kita bertindak seolah-olah semua itu tersedia tanpa batas. Ketika alam dilihat hanya sebagai sumber daya, hubungan berubah menjadi transaksi. Hutan menjadi kayu. Sungai menjadi air. Tanah menjadi properti. Gunung menjadi bahan tambang. Dan, kebudayaan menjadi komoditas.(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Masalahnya, bukan semua itu tidak memiliki nilai ekonomi. Tentu saja memiliki. Masalahnya, muncul ketika nilai ekonomi menjadi satu-satunya cara kita menilai sesuatu. Sebab, tidak semua yang berharga, dapat dihitung dengan uang.(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Ada sungai yang berharga karena menghidupi sebuah kampung. Hutan yang berharga karena menjaga mata air. Tanah yang berharga karena menjadi ruang hidup. Bahkan tradisi yang berharga, karena membuat suatu masyarakat mengenali dirinya sendiri. Maka, ketika semua hal dipaksa masuk ke dalam bahasa harga, ada sebagian makna kehidupan yang hilang.(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Dari Alam yang Keruh ke Masyarakat yang Keruh(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Bray Ca’ang Alam Padang Narawangan (terang, terbuka, jelas)(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Saya merasa, ungkapan ini dapat dibaca melampaui alam fisik. Suatu masyarakat juga dapat mengalami kekeruhan. Bukan karena airnya keruh, melainkan karena batas antara benar dan salah semakin kabur.(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Korupsi disebut kebiasaan.
Kebohongan disebut strategi.
Manipulasi disebut komunikasi.
Kekerasan verbal disebut hiburan.
Ketidakadilan disebut konsekuensi.(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Pada titik tertentu, masyarakat tidak lagi terganggu oleh keburukan karena keburukan itu telah menjadi bagian dari keseharian. Itulah rereged yang lebih sulit dibersihkan. Bukan sampah di sungai, melainkan sampah dalam cara berpikir. Dan itu tidak dapat dibersihkan hanya dengan peraturan. Hal tersebut membutuhkan keberanian moral.(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Saya melihat bagian ini, justru sebagai titik sosial dari seluruh rangkaian rajah. Setelah berbicara tentang sungai, arah, alam, waktu, dan kesalahan manusia. Rajah kembali kepada hubungan antarmanusia.(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Silih asah mengandaikan bahwa manusia saling mempertajam pikiran. Artinya, perbedaan tidak harus menjadi permusuhan. Kritik tidak harus menjadi penghinaan. Perdebatan tidak harus berakhir dengan kebencian. Silih asih mengingatkan, bahwa kecerdasan tanpa kasih, dapat menjadi dingin dan kejam. Sedangkan silih asuh mengandung tanggung jawab, di mana yang kuat tidak meninggalkan yang lemah. Yang lebih tahu, tidak merendahkan yang belum tahu, dan yang lebih tua tidak memutus hubungan dengan generasi yang akan datang.(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Bukankah ini justru yang sedang kita butuhkan? Di tengah masyarakat, yang semakin mudah terbelah oleh politik identitas. Media sosial, fanatisme kelompok, dan algoritma, yang cenderung mempertemukan kita dengan orang-orang yang berpikir sama. Silih asah, silih asih, silih asuh menawarkan etika pergaulan yang sederhana tetapi tidak sederhana akibatnya. Berbeda tanpa saling meniadakan. Mengkritik tanpa merendahkan. Mengasihi tanpa kehilangan akal sehat. Mengasuh tanpa menguasai.(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Rajah Tidak Harus Dibawa Mundur(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Saya tidak ingin menjadikan rajah, sebagai sesuatu yang harus dipuja, hanya karena ia berasal dari masa lalu. Tradisi juga harus dapat dibaca secara kritis. Tidak semua warisan otomatis benar, dan harus dipertahankan.(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Tetapi ada kesalahan yang sama berbahayanya, yaitu menganggap sesuatu tidak bernilai, hanya karena ia berasal dari masa lalu. Modernitas seharusnya bukan proses menghapus ingatan. Namun, seharusnya menjadi kemampuan untuk membawa nilai yang masih relevan ke dalam situasi baru.(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Kita tidak perlu menyalin masa lalu. Kita hanya perlu memahami apa yang ingin dikatakannya. Dan, dalam rajah Pamunah, saya menemukan sebuah gagasan yang sangat sederhana. Bahwa setiap tindakan membutuhkan penutupan yang bertanggung jawab.(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Manusia tidak cukup hanya memulai. Ia harus tahu bagaimana mengakhiri. Jika mengambil, harus memulihkan. Jika merusak, harus memperbaiki. Jika bersalah, harus meminta maaf. Jika hidup bersama, harus saling menjaga. Jika menerima warisan, harus memikirkan apa yang akan diwariskan.(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Di situlah Pamunah memperoleh makna yang jauh lebih luas, bukan sekadar akhir dari sebuah lantunan. Ajakan untuk tidak meninggalkan kehidupan, dalam keadaan lebih buruk daripada ketika kita menerimanya.(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Kang Dody meletakkan kecapi, “Pun tabe-tabe pun,” ucapnya. Saya tersenyum. Kali ini saya tidak bertanya lagi. Saya hanya memandangi kopi yang mulai dingin. Di kepala saya masih terngiang tiga kata terakhir, silih asah, silih asih, silih asuh.(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)
Saya merasa, bahwa rajah pamunah menemukan maknanya. Bukan sekadar mengakhiri rajah, melainkan mengingatkan manusia bagaimana seharusnya kembali. (jbp 22/09/2026)(Source: kosapoin.com/rajah-pamunah-saat-manusia-belajar-menutup-dengan-kesadaran)

Ngobrol Salse Bersama Mantan Santri Kalong
Negara: United States (Ohio)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown








