Ia datang membawa cerita tentang masa depan. Tentang rumah yang suatu hari akan ditempati berdua, perjalanan yang belum pernah dilakukan, dan usaha yang bisa dirintis bersama. Semua itu terdengar begitu wajar ketika datang dari seseorang yang kita cintai.(Source: kosapoin.com/cinta)
Kita pun mulai menyisihkan ruang. Mula-mula untuk cerita-ceritanya, lalu untuk urusan-urusannya. Ada uang yang harus segera dikirim, urusan yang tak boleh ditunda, atau keadaan darurat yang pada saat itu, memang terasa perlu kita bantu. Kita membantu karena orang itu sudah kita anggap bagian dari hidup sendiri.(Source: kosapoin.com/cinta)
Setelah itu, bantuan bergeser menjadi kebiasaan. Kita mulai menjemput, mengantar, mencarikan sesuatu, mengurus birokrasi, hingga menghubungi orang-orang penting. Waktu kita perlahan ikut tersita, tenaga pun tersedot untuk menyelesaikan hal-hal yang sejak awal tidak pernah ada dalam agenda hidup kita. Barangkali memang begitulah sebuah hubungan merapat: bukan lewat satu peristiwa besar, melainkan melalui banyak hal kecil yang perlahan menjadi biasa.(Source: kosapoin.com/cinta)
Sampai suatu hari kita sadar, ia tidak hanya mengenal kita. Ia juga mengenal teman-teman kita, tahu kepada siapa kita biasa meminta pertolongan, tahu keluarga kita, bahkan tahu bagaimana berbicara kepada orang-orang terdekat kita. Semua itu tidak diperolehnya dengan susah payah. Kita sendiri yang membukakan pintu sambil berkata, “Ini orang yang saya percaya.” Kalimat sederhana, tetapi cukup untuk membuat orang lain ikut percaya.(Source: kosapoin.com/cinta)
Mereka percaya karena kita percaya. Ketika orang itu suatu hari datang membawa masalahnya, yang ikut terseret ke dalam pusaran bukan lagi sekadar dirinya. Nama kita ikut berdiri di belakangnya.(Source: kosapoin.com/cinta)
Di situlah kehilangan menjelma dalam bentuk yang lain. Persoalannya baru benar-benar terasa ketika orang-orang mulai menyebut nama kita dalam urusan yang sama sekali bukan milik kita. Kita mencoba mengulang ingatan: sejak kapan semua ini lepas kendali? Mungkin sejak transfer pertama. Mungkin sejak kalimat “tidak apa-apa, aku bantu” terlalu sering keluar dari mulut kita. Atau mungkin jauh sebelum itu, ketika kita mulai mempercayai sebuah masa depan yang belum pernah benar-benar ada.(Source: kosapoin.com/cinta)
Tidak ada pencurian yang gaduh. Tidak ada pintu yang didobrak paksa dari luar. Yang berpindah tangan sedikit demi sedikit adalah sesuatu yang kita serahkan sendiri: uang, waktu, tenaga, kepercayaan, dan pada akhirnya, nama. Barangkali yang membuat semua itu sulit dikenali adalah caranya datang. Ia tidak dimulai dengan kebohongan besar. Ia bisa datang sebagai perhatian, kebutuhan yang mendesak, atau sebuah mimpi tentang hidup bersama.(Source: kosapoin.com/cinta)
Sementara kita sibuk merancang rumah yang belum berwujud, rupanya ada yang lebih dulu menghitung apa saja yang kita punya. Dan kalkulator itu tidak pernah berbunyi. Ia bekerja dalam sunyi, setiap kali kita berkata, “Biar aku yang urus.” (Source: kosapoin.com/cinta)
GUGUR KABUT(Source: kosapoin.com/cinta)
ada yang datang membawa jawaban
seperti pagi mengetuk jendela
kita membuka pintu dengan percaya
lalu menyebutnya sebagai angan(Source: kosapoin.com/cinta)
burung yang singgah kita kira menetap
cahaya di kaca kita kira fajar
sebuah senyum kita kira benar
sebab hati lebih dulu menangkap(Source: kosapoin.com/cinta)
tak semua tanda menyimpan makna
tak semua jejak menuju diri
tak semua suara mengenal kita(Source: kosapoin.com/cinta)
namun cinta pandai menutup sunyi
membuat yang kita ingin menjadi nyata
hingga harapan terbaca sebagai pasti(Source: kosapoin.com/cinta)
2010(Source: kosapoin.com/cinta)









