Ada kata-kata yang begitu sering singgah di bibir kita hingga ia kehilangan bobotnya. Pulang adalah salah satunya. Kita mengucapkannya nyaris setiap hari—pulang sekolah, pulang kerja, pulang malam, pulang kampung—seolah ia hanyalah perpindahan sederhana dari satu tempat ke tempat lain.(Source: kosapoin.com/pulang)
Namun, semakin jauh seseorang berjalan, semakin ia tahu bahwa pulang tidak sesederhana itu. Ada yang kembali ke alamat yang sama, tetapi tidak lagi merasa berada di rumah. Ada pula yang terus berpindah dari satu kota ke kota lain, ibarat mencari sesuatu yang tidak pernah benar-benar mempunyai alamat tetap. Di situlah maknanya mulai bergeser: ia bukan lagi soal ke mana tubuh kembali, melainkan apa yang dicari manusia setelah terlalu lama berjalan.(Source: kosapoin.com/pulang)
Ketika kecil, pulang tidak membutuhkan penjelasan. Hari mulai gelap, suara ibu dari halaman sudah cukup menjadi penunjuk arah. Ada pintu, kamar, serta orang-orang yang mengenal kita bahkan sebelum kita mampu menjelaskan siapa diri kita. Rumah pada masa itu adalah sebuah kepastian—tempat kita bisa masuk dengan lutut kotor atau mata sembab tanpa perlu membawa prestasi atau menyembunyikan ketakutan.(Source: kosapoin.com/pulang)
Kemudian kita tumbuh. Sekolah dan pekerjaan mengharuskan kita pergi lebih jauh, dan perjalanan mempunyai harga yang harus dibayar. Kita membawa kenangan itu di dalam ingatan, sementara rumah itu sendiri perlahan berubah. Kita belajar hidup sendiri, menghadapi kegagalan, dan membuat keputusan-keputusan besar. Kita bertambah kuat, tetapi bersama kekuatan itu, kita melepaskan kepolosan.(Source: kosapoin.com/pulang)
Suatu hari, ketika kita kembali, rumah mungkin masih berdiri di tempat yang sama, tetapi kita bukan lagi orang yang dulu pergi. Pohon bertambah tinggi, perabotan bergeser, dan beberapa wajah hilang dari ruang makan. Di sinilah kita menyadari batas dari segalanya: suatu hari nanti, tidak semua kepulangan fisik akan dapat dilakukan karena pintu tertutup oleh kematian atau waktu yang merenggut orang-orang tercinta. Kita tidak pernah merindukan bangunan fisiknya, melainkan kenangan, suara, atau cara cangkir tua di meja makan menyimpan memori yang tidak dapat disentuh lagi. Di sisi lain, tidak semua orang beruntung memiliki rumah sebagai tempat pertama untuk merasa dicintai; bagi sebagian yang lain, rumah justru menjadi tempat pertama yang ingin ditinggalkan karena pertengkaran atau rasa asing, sehingga mereka harus menciptakan ruangnya sendiri.(Source: kosapoin.com/pulang)
Jauh di lubuk hati, seseorang kadang berkata ingin pulang, ketika yang sebenarnya ia maksudkan adalah keinginan untuk berhenti berpura-pura. Di luar sana, kita mengenakan banyak wajah: menjadi kuat ketika rapuh dan berhasil karena takut gagal. Di sanalah kita bertemu diri sendiri—sebuah pertemuan yang penuh kelelahan. Pulang kepada diri sendiri berarti berani tinggal bersama kerapuhan itu, memaafkan masa lalu, dan menolak membawa beban mental ini lebih jauh.(Source: kosapoin.com/pulang)
Sebab rumah bukan sekadar soal tempat yang menerima tubuh, melainkan kehadiran yang membuat keberadaan kita terasa sah. Ia bisa hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: seseorang yang bersedia mendengarkan atau doa yang hanya terdiri dari beberapa kata. Pada titik inilah, pulang meninggalkan bentuk geografisnya dan menjelma menjadi arah batin.(Source: kosapoin.com/pulang)
Kita menghabiskan hidup untuk pergi agar dapat melihat dunia, dan kembali agar dapat memahami apa yang berarti. Perjalanan hidup memang menuntut kita melangkah jauh, tetapi selama hati masih mengenal arah, setiap lelah, kegagalan, dan hati yang patah akan menemukan maknanya. Sebab kalimat paling menyelamatkan di dunia bukanlah “Sudah berhasil apa?”, melainkan: “Pulanglah. Tidak perlu membawa apa-apa. Datang saja.”(Source: kosapoin.com/pulang)
Dan ketika suatu hari kita benar-benar sampai, mungkin tidak ada perayaan. Hanya ada keheningan dan perasaan yang sangat sederhana: hati tidak lagi merasa asing terhadap tempat ia berada, melebur ke dalam kerinduan yang sejak awal telah tinggal di dalam diri—sebuah sajak lama yang diam-diam masih menyimpan jalan pulang:(Source: kosapoin.com/pulang)
Terminal Senja(Source: kosapoin.com/pulang)
Fi
Jalan ini telah aku pahami
Sebagai muara paling sunyi dari hidup
Yang kutempuh; setelah jarak
Memisah kita(Source: kosapoin.com/pulang)
Sebuah percakapan
Hilang sudah ditelan gerimis
Yang berjatuhan dalam bayang-bayang
Rambutmu. Dan kau tak di sampingku(Source: kosapoin.com/pulang)
Fi
Dalam bait-bait puisi
Aku istirahatkan ruhku
Setelah tidur dalam pangkuanmu
Semata sekar impian(Source: kosapoin.com/pulang)
2002(Source: kosapoin.com/pulang)









