SINGGAH

singgah

Dik, adakah kau tahu makna kata dari singgah? Ia bukan sekadar jejak kaki yang lelah lalu diam di beranda rumah asing, atau musafir yang menghentikan langkah di warung sunyi sebelum meneruskan jalan panjang. Singgah adalah cara semesta mempertemukan dua garis takdir: debar kedatangan, lalu senyap kepergian. Sebuah jeda ketika waktu menatap kita tepat di mata.(Source: kosapoin.com/singgah)

Lihatlah hujan yang membasuh genting atau senja yang menyalakan jingga di ujung hari. Keduanya tidak pernah meminta untuk menetap. Hujan undur diri meninggalkan aroma tanah basah, senja merelakan dirinya direnggut malam. Kita baru benar-benar belajar mencintai manakala tahu sesuatu di hadapan kita tengah bersiap pergi.(Source: kosapoin.com/singgah)

Begitu pula manusia yang datang. Tak perlu waktu panjang untuk terukir dalam silsilah; cukup satu perjumpaan singkat untuk membelokkan arah kompas bicaramu. Pertemuan satu sore sanggup menjelma gema yang berdengung sepanjang sisa umur. Dan kau pun tahu satu hal, bahwa yang sebentar tidak pernah bermakna kecil, sebab yang singgah selalu menorehkan sidik jari di sebalik dada.(Source: kosapoin.com/singgah)

Ya, selama ini kita kerap tersesat oleh rasa memiliki. Kita mengira pelukan hangat adalah sertifikat abadi dan kursi di sebelah kita adalah hak mutlak yang dijamin waktu. Padahal cinta sejati tidak pernah meminta untuk diresmikan. Seseorang boleh hadir mengisi hari-harimu, lantas berjalan menuju ufuknya sendiri karena jalurnya memang berbeda. Ketika raganya lenyap dan ruang menjadi kosong, ia tetap singgah lewat hal-hal sederhana: sayup lagu di jendela, bias cahaya sore di sudut kamar, atau kabar angin yang membawamu pulang ke masa lalu. Sebagaimana Dik pernah berkata perihal ingatan itu bukanlah arsip mati, melainkan tamu yang mengetuk pintu batin tanpa diundang di malam yang paling sunyi.(Source: kosapoin.com/singgah)

Padahal maut tidak pernah datang sebagai peristiwa yang megah. Ia hanya menyelinap lewat kesunyian kecil di sudut kamar: sebuah kursi yang kehilangan lekuk tubuhmu, atau udara yang mendadak kaku di tempat suaramu biasa singgah. Dan yang paling menyayat, dunia ternyata bergeming. Orang-orang berlari di jalanan, lampu-lampu kota menyala tepat pada waktunya, sementara burung-burung tetap bernyanyi di atas dahan seolah tiada nama yang tanggal dari bumi. Kita lelah merajut rencana, menggenggam ambisi yang sia-sia, hingga akhirnya waktu mengajarkan bahwa segala yang ada di bumi ini memang diciptakan untuk bergerak, bukan membeku.(Source: kosapoin.com/singgah)

Kehilangan selalu meninggalkan ruang kosong yang enggan beranjak. Kita sering memanggil kembali nama-nama yang telah pergi di tengah sunyi, berharap gema itu menjelma wujud, meski tahu udara hanya membalasnya dengan dingin yang membeku. Di titik inilah kita dipaksa melihat diri sendiri tanpa topeng: betapa ringkihnya setiap helai napas yang kita pertahankan dengan gigih. Segala hal yang kita kumpulkan dengan cemas—sebutan, ingatan, hingga rasa memiliki—rupanya hanyalah pinjaman yang harus dikembalikan tanpa syarat.(Source: kosapoin.com/singgah)

Maka di atas tanah yang dingin ini, raga pun menua, musim berganti, rumah masa kecil menyusut dalam kenangan. Kita tidak pernah benar-benar memiliki hari ini, sebab alur napas detik demi detik merembes menjadi kemarin. Saban hari alam mengajarkan ikhlas kala melepaskan embun pagi, menyadarkan bahwa kita hanyalah peziarah yang membebaskan laku dari beban untuk menguasai dunia. Kita tidak diciptakan untuk menjadi penguasa, melainkan diberi anugerah singkat untuk hadir secara utuh. Sebagaimana Dik pun pernah berkata; “Jika kita tahu pertemuan ini fana, kita akan mendengarkan suara orang yang kita kasihi tanpa terbagi oleh bayang-bayang esok hari.”(Source: kosapoin.com/singgah)

Dari gelisah inilah karya dan kebaikan lahir. Manusia menulis dan mempersembahkan cinta karena mereka tahu napas berbatas waktu. Karya hanyalah tanda kecil di dinding zaman bahwa kita pernah melewati bumi ini. Kelak, ketika raga ini lelah dan kembali pada tanah, dunia tidak akan berhenti berputar, tetapi cinta yang kau beri tetap bernapas di udara.(Source: kosapoin.com/singgah)

Dik, di atas pusara sunyi ini aku akhirnya mengerti: hidup bukan tentang seberapa lama kita menetap, melainkan seberapa tulus kita singgah. Sambutlah setiap kehadiran dengan tangan terbuka, lepaskan kepergian dengan doa yang paling terang. Kita datang untuk merangkai makna, lalu berjalan kembali dalam dekap keabadian.(Source: kosapoin.com/singgah)

Musabab itulah, di hadapan sunyi yang memanjang ini, kutitipkan kembali Surat Rindu yang dulu kutulis hanya untukmu satu:(Source: kosapoin.com/singgah)

SURAT RINDU(Source: kosapoin.com/singgah)

Mungkin kau lupa akan raut wajahku
Mungkin kau lupa akan bentuk tulisanku
Tapi aku masih setia padamu
(Source: kosapoin.com/singgah)

Kau mampu menarik pintu sukmaku
Dengan doa-doa paling inti
Dengan tali kesabaran kau
(Source: kosapoin.com/singgah)

mampu menuruni
Bahkan memahami
Palung jiwaku yang kelam
(Source: kosapoin.com/singgah)

Rindu Cahaya Maha Cahaya
Datanglah dengan segenap rindu
Ke ranjang hatiku yang sunyi!
(Source: kosapoin.com/singgah)

2002(Source: kosapoin.com/singgah)

Doni Muhamad Nur

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *