Pendidikan Indonesia, tanpa disadari perlahan mengalami suatu kehilangan. Yakni kemampuan untuk memandang manusia sebagai manusia. Sekolah semakin pandai menghitung nilai, menyusun indikator, mengejar peringkat, mengukur kompetensi, dan memproduksi sertifikat. Namun gagap saat dihadapkan dengan satu pertanyaan yang paling sederhana sekaligus paling mendasar: manusia macam apa yang hendak dibentuk oleh pendidikan?(Source: kosapoin.com/pendidikan-yang-kehilangan-seni)
Persoalan ini bukan sekadar perubahan kurikulum. Namun lebih menyentuh cara sebuah peradaban memahami manusia. Pendidikan yang kehilangan dimensi seni, bukan hanya kehilangan estetika. Melainkan kehilangan kepekaan, imajinasi, empati, keberanian bertanya, dan kemampuan membaca kehidupan, lebih dari satu perspektif.(Source: kosapoin.com/pendidikan-yang-kehilangan-seni)
Oleh sebab itu,Seni Pendidikan perlu dipahami, bukan sebagai pendidikan seni dalam pengertian sempit. Namun sebuah gagasan bahwa pendidikan merupakan seni membentuk manusia, tanpa mereduksinya menjadi objek pembentukan. Dalam hal ini, pendidikan memiliki akar yang kuat dalam pengalaman pedagogis Nusantara. Misalnya, manusia dididik melalui keteladanan, pengalaman hidup, hubungan sosial, alam, kebudayaan, dan penghayatan terhadap nilai. Pendidikan tidak dipisahkan secara brutal dari kehidupan masyarakat.(Source: kosapoin.com/pendidikan-yang-kehilangan-seni)
Gagasan Ki Hadjar Dewantara mengenai pendidikan memperlihatkan orientasi tersebut. Pendidikan, ditempatkan sebagai proses menuntun kekuatan kodrat yang ada pada anak, agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat, dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya (Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa Yogyakarta, 1977). Kata menuntun di sini dapat di artikan, bahwa pendidikan bukan proses menyeragamkan manusia menurut cetakan yang telah tersedia, melainkan membantu manusia menemukan kemungkinan dirinya.(Source: kosapoin.com/pendidikan-yang-kehilangan-seni)
Di sinilah persoalan pendidikan modern perlu dibaca secara kritis.(Source: kosapoin.com/pendidikan-yang-kehilangan-seni)
Sistem pendidikan modern, berkembang sejalan dengan tuntutan industri dan kebutuhan negara akan tenaga kerja yang terampil. Michel Foucault menunjukkan, bagaimana institusi modern, termasuk sekolah, memiliki karakter disipliner. Di mana tubuh dan perilaku manusia diatur melalui waktu, ruang, pengawasan, pemeriksaan, serta mekanisme penilaian (Foucault, 1995). Sementara itu, kritik terhadap hidden curriculum menunjukkan, bahwa sekolah tidak hanya menyampaikan pengetahuan formal. Namun juga dapat membentuk kepatuhan terhadap struktur sosial dan kebiasaan tertentu (Field, 2010).(Source: kosapoin.com/pendidikan-yang-kehilangan-seni)
Karena itu, metafora “kacamata kuda” relevan digunakan untuk membaca kecenderungan pendidikan kontemporer. Anak diarahkan agar melihat satu jalur yang dianggap benar. Seperti masuk sekolah, memperoleh nilai, mendapatkan ijazah, memasuki pasar kerja, menjadi tenaga produktif. Diakui atau tidak, siklus tersebut selalu terulang. Ukuran keberhasilan manusia, perlahan dipersempit menjadi kemampuan beradaptasi dengan kebutuhan pasar.(Source: kosapoin.com/pendidikan-yang-kehilangan-seni)
Masalahnya bukan pada pekerjaannya. Masyarakat tetap membutuhkan dokter, insinyur, guru, petani, pekerja teknologi, birokrat, pengusaha, dan berbagai profesi lainnya. Yang patut dipersoalkan adalah, manusia sudah diajari cara mencari uang dan bekerja. Sementara mereka belum sempat dikenalkan cara memahami dirinya sendiri.(Source: kosapoin.com/pendidikan-yang-kehilangan-seni)
Dalam kerangka ekonomi-politik global, kecenderungan tersebut tidak muncul secara tiba-tiba. Agenda pendidikan internasional, semakin sering menggunakan bahasa skills, employability, produktivitas, daya saing, dan kebutuhan pasar kerja. UNESCO sendiri mengakui bahwa pendidikan berhadapan dengan perubahan teknologi, dunia kerja, ketimpangan, serta kebutuhan untuk membangun masyarakat yang lebih manusiawi dan berkelanjutan (Laporan UNESCO, 2022). Artinya, pendidikan memang selalu berhubungan dengan ekonomi, tetapi tidak boleh ditaklukkan sepenuhnya oleh ekonomi.(Source: kosapoin.com/pendidikan-yang-kehilangan-seni)
Indonesia mempunyai problem yang lebih rumit, di mana kita sering mengimpor sistem tanpa cukup serius menimbang ekologi kebudayaan sendiri.(Source: kosapoin.com/pendidikan-yang-kehilangan-seni)
Nusantara, memiliki tradisi pengetahuan yang tidak memisahkan manusia dari alam, masyarakat, moralitas, spiritualitas, dan kebudayaan. Pengetahuan tumbuh melalui praktik kehidupan. Oleh sebab itu, jika model pendidikan industrial, dipindahkan begitu saja ke dalam masyarakat yang memiliki struktur sosial dan kebudayaan berbeda, yang muncul bukan kemajuan. Namun, dapat melahirkan keterasingan.(Source: kosapoin.com/pendidikan-yang-kehilangan-seni)
Paulo Freire menyebut pendidikan yang memperlakukan manusia sebagai wadah penerima pengetahuan sebagai banking education. Pendidikan semacam itu, membuat peserta didik lebih banyak menerima, daripada mempertanyakan realitas yang membentuk kehidupannya (Freire, 2000). Kritik Freire relevan bagi pendidikan yang terlalu sibuk menghasilkan manusia “siap kerja.”(Source: kosapoin.com/pendidikan-yang-kehilangan-seni)
Namun, kurang memberi ruang untuk menghasilkan manusia yang mampu bertanya: Siapa sebenarnya yang memutuskan mana pekerjaan yang penting, siapa yang diuntungkan dari aturan itu, dan akan jadi seperti apa masyarakat kita ke depannya? Oleh sebab itu, Seni Pendidikan bukan nostalgia terhadap masa lalu. Ia adalah proyek koreksi terhadap masa depan.(Source: kosapoin.com/pendidikan-yang-kehilangan-seni)
Pendidikan seni, budaya, dan pengalaman sosial harus menjadi inti pembelajaran, bukan sekadar pemanis kurikulum. Tapi, sebagai jalan untuk membangun manusia yang mempunyai rasa. Seorang anak yang menggambar pohon bukan sekadar sedang menghasilkan gambar. Ia sedang dikenalkan bagaimana cara melihat. Anak yang memainkan musik, bukan hanya mengenal nada. Ia sedang dikenalkan pada harmoni. Anak yang mendengarkan cerita rakyat, bukan sekadar menerima cerita. Ia sedang dikenalkan pada ingatan kolektif masyarakatnya.(Source: kosapoin.com/pendidikan-yang-kehilangan-seni)
Pada titik inilah, pendidikan menjadi persoalan peradaban. Bangsa yang hanya mendidik manusia menjadi pekerja, akan memperoleh tenaga kerja. Begitu pun bangsa yang mendidik manusia agar mampu merasa, berpikir, mencipta, dan mempertanyakan ketidakadilan, akan memperoleh warga negara.(Source: kosapoin.com/pendidikan-yang-kehilangan-seni)
Perbedaannya tampak kecil dalam ruang kelas, tetapi menentukan masa depan sebuah bangsa.(Source: kosapoin.com/pendidikan-yang-kehilangan-seni)
Sebab pendidikan yang sejati, tidak seharusnya memasangkan kacamata kuda kepada anak, agar ia hanya melihat jalan yang telah dibuat orang lain. Pendidikan, seharusnya memberi kemampuan untuk melepas kacamata itu. Melihat cakrawala, kemudian mempunyai keberanian untuk bertanya: apakah jalan yang sedang kita tempuh memang jalan yang kita kehendaki? (jbp 03/09/2026)(Source: kosapoin.com/pendidikan-yang-kehilangan-seni)
Referensi(Source: kosapoin.com/pendidikan-yang-kehilangan-seni)
Field, A. (2010). Schooling in Capitalist America: Educational Reform and the Contradictions of Economic Life. By Samuel Bowles and Herbert Gintis. New York: Basic Books, 1976. The Journal of Economic History, 37(2), 491–492. https://doi.org/10.1017/S002205070009714X(Source: kosapoin.com/pendidikan-yang-kehilangan-seni)
Foucault, M. (1995). Discipline and Punish: The Birth of the Prison. (Translated by Alan Sheridan, Ed.). New York: Vintage Books. https://doi.org/10.4324/9781315775357(Source: kosapoin.com/pendidikan-yang-kehilangan-seni)
Freire, P. (2000). PEDAGOGY of the OPPRESSED. (Translated by Myra Bergman Ramos, Ed.). New York: Continuum. Retrieved from https://fsi-ebcao.princeton.edu/sites/g/files/toruqf1411/files/media/freire.pdf(Source: kosapoin.com/pendidikan-yang-kehilangan-seni)
Laporan UNESCO. (2022). Mengimajinasikan Membali Masa Depan Kita Bersama untuk Pendidikan. Retrieved from http://www.unesco.org/open-access/terms-use-ccbysa-en(Source: kosapoin.com/pendidikan-yang-kehilangan-seni)
Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa Yogyakarta. (1977). Karya Ki Hadjar Dewantara bagian pertama : pendidikan (Cet ke 3). Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa. Retrieved from https://books.google.co.id/books?id=oX1dmgEACAAJ(Source: kosapoin.com/pendidikan-yang-kehilangan-seni)

Seni Menggerakkan Jiwa dalam Kekuatan Retorika Kepemimpinan Modern
Negara: United States (Iowa)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Chrome








