Ada kata yang sejak pertama kali meluncur dari mulut sudah membawa kabar buruk. Jatuh adalah salah satunya. Dalam percakapan sehari-hari, kata ini hampir selalu bertaut dengan sial dan rugi: sesuatu kehilangan keseimbangan, bangunan ambruk, atau tubuh terhempas ke tanah.(Source: kosapoin.com/jatuh)
Kita kadung percaya bahwa hidup yang benar harus selalu bergerak ke atas—karier menanjak, penghasilan naik, rumah membesar, jabatan meninggi. Begitu ada yang melorot, alarm kecemasan langsung berbunyi, seolah hidup adalah grafik linier yang lurus ke langit, padahal ia lebih mirip jalanan berliku yang sesekali memaksa kita mencium tanah.(Source: kosapoin.com/jatuh)
Pengalaman pertama manusia mengenal dunia justru dimulai dari sana. Seorang anak belajar berjalan bukan lewat teori fisika, melainkan lewat jatuh yang berulang: berdiri, melepaskan pegangan, lalu brukk. Ia menangis, bangkit, seterusnya mencoba lagi tanpa ada rapor merah untuk lutut yang benjut. Tubuh baru benar-benar mengenal titik tumpu setelah ia berkenalan dengan gravitasi.(Source: kosapoin.com/jatuh)
Anehnya, ketika dewasa, pengetahuan sederhana itu seperti dihapus massal. Fokus kita bergeser dari “bagaimana cara berdiri” menjadi “siapa yang sedang menyaksikan.” Rasa malu mendadak jauh lebih galak daripada luka itu sendiri; orang dewasa jatuh sambil melirik sekeliling, lebih takut pada pandangan saksi mata ketimbang benturan di bawah.(Source: kosapoin.com/jatuh)
Bentuk kejatuhan pun beraneka rupa. Ada yang terang-terangan—pekerjaan hilang, usaha bangkrut, nama baik remuk—di mana seseorang masih bisa tersenyum di luar meski bilik hatinya porak-poranda. Namun, ada pula jatuh yang jauh lebih sunyi: ketika seseorang terlalu lama mengenakan topeng demi standar sukses yang bukan miliknya, hingga ia tanpa sadar tergelincir dari diri sendiri tanpa meninggalkan memar di kulit.(Source: kosapoin.com/jatuh)
Kesunyian malam biasanya menjadi tempat di mana gema itu terdengar paling jelas. Siang hari kita sibuk berpindah kewajiban agar tidak perlu mendengar suara kepala sendiri. Namun ketika dunia menyusut menjadi satu kamar, kita dipaksa bertemu dengan hal-hal yang seharian diusir: kesalahan lama, ketakutan hari esok, dan pertanyaan yang tak terjawab.(Source: kosapoin.com/jatuh)
Manusia juga bisa jatuh dari ketinggian yang ia bangun sendiri. Jabatan, uang, dan pujian membuat seseorang merasa agung, padahal semakin tinggi ia berdiri, semakin jauh pula jaraknya dari pijakan asli. Ketika ia terperosok, tepuk tangan berubah menjadi ruang kosong. Di atas tanah yang rata, gelar kehilangan bunyinya, kartu nama tak bisa jadi tongkat, dan kekuasaan gagal mengobati lutut yang berdarah, sebab bumi tidak pernah mengenal pangkat.(Source: kosapoin.com/jatuh)
Bahkan urusan hati pun menggunakan kata yang sama: jatuh cinta. Bukan naik cinta. Mencintai berarti merelakan diri kehilangan kendali, membayangkan masa depan yang tak pernah direncanakan, serta bersiap atas kemungkinan luka. Ketika hubungan kandas, kita berkabung bukan hanya karena kehilangan orangnya, melainkan karena rumah impian di dalam kepala gagal menjadi nyata.(Source: kosapoin.com/jatuh)
Di sisi lain, alam tidak pernah pusing dengan drama posisi bawah. Daun gugur karena musimnya selesai, buah jatuh karena ranum, dan hujan turun karena harus kembali pada bumi. Alam tahu bahwa jatuh bukanlah kerusakan, melainkan siklus: daun luruh menjadi humus, tanah memberi makan akar, akar menumbuhkan pohon baru. Manusia saja yang kerap rewel menolak sunatullah itu karena ego ingin terus nangkring di puncak.(Source: kosapoin.com/jatuh)
Tentu saja, tidak semua kejatuhan bisa langsung dipaksa indah lewat kalimat motivasi. Ada luka yang butuh waktu, kehilangan yang tak selesai dalam semalam, dan orang yang belum mampu berdiri hari ini. Justru, yang ia butuhkan sering kali bukanlah nasihat sok tahu, melainkan seseorang yang mau duduk di sampingnya tanpa bertanya kapan ia akan sembuh.(Source: kosapoin.com/jatuh)
Ketika seseorang akhirnya mampu bangkit, ia tidak pernah kembali persis ke tempat semula. Ia telah melihat sesuatu dari sudut pandang tanah: tahu rasanya kehilangan, mengenal berat tubuh sendiri, dan menyadari bahwa riuh tepuk tangan bisa berhenti kapan saja. Pijakannya kini jauh lebih jujur.(Source: kosapoin.com/jatuh)
Hingga akhirnya, ada kejatuhan paling universal yang mengantar kita pada batas akhir: usia. Hari jatuh menjadi malam, masa muda menyelinap ke dalam ingatan, dan tubuh perlahan menagih batasnya. Kematian hadir sebagai garis akhir yang meluruhkan seluruh kesombongan rasional, membawa manusia pada penyerahan yang paling sunyi di hadapan Tuhan—saat kepala menunduk dan doa dimulai bukan karena lemah, melainkan karena manusia akhirnya mengakui keterbatasannya.(Source: kosapoin.com/jatuh)
Ujung-ujungnya, kita semua akan jatuh: dalam cinta, pekerjaan, usia, maupun kehilangan. Namun jatuh tidak pernah berarti kehancuran total. Kadang kita memang harus dihempaskan ke tanah agar sesuatu di dalam diri yang terlalu tinggi runtuh, agar kaki kembali menyentuh bumi yang pas, dan agar kita tahu bahwa hidup tidak menuntut kita menjadi sosok yang tak pernah goyah. Ia hanya meminta kita untuk tidak pernah berhenti mengenali jalan.(Source: kosapoin.com/jatuh)
Dan di antara ruang-ruang sunyi tempat kita memulihkan napas, selalu ada sisa duka yang menggenap. Di tanah itu, tersisa sebuah sajak lama.(Source: kosapoin.com/jatuh)
SAJAK DUKA
– in memoriam Beni R. Budiman(Source: kosapoin.com/jatuh)
Aku
Kehilangan
Engkau(Source: kosapoin.com/jatuh)
Negeriku
Kehilangan
Pulau(Source: kosapoin.com/jatuh)
2002(Source: kosapoin.com/jatuh)

HAKIKAT KRITIK
(Source: kosapoin.com/jatuh)
Negara: Germany (Saxony)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown








