BHINNEKA TUNGGAL IKA

bHINNEKA tUNGGAL iKA

Hari ini hampir semua orang mengenal semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Kalimat ini tertulis di lambang negara, diajarkan di sekolah, dan diucapkan dalam pidato-pidato kebangsaan. Namun, menariknya, banyak orang hanya mengenal bagian depannya saja, padahal inti yang paling dalam justru ada pada kalimat berikutnya, yaitu “Tan Hana Dharma Mangrwa”—kalimat inilah yang jarang dibahas.(Source: kosapoin.com/bhinneka-tunggal-ika)

Padahal, di sinilah tersimpan salah satu warisan spiritual terbesar Nusantara. Sebagaimana dijelaskan dalam sejarah, frasa ini berasal dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular dan menjadi dasar lahirnya semboyan Bhinneka Tunggal Ika.(Source: kosapoin.com/bhinneka-tunggal-ika)

APA ARTI “TAN HANA DHARMA MANGRWA”?

Secara sederhana, frasa ini sering diterjemahkan sebagai “Tidak ada dharma yang mendua.” Namun, kalimat ini sebenarnya jauh melampaui sekadar slogan persatuan. Mari kita bedah satu per satu:(Source: kosapoin.com/bhinneka-tunggal-ika)

  • Tan Hana = tidak ada.
  • Dharma = kebajikan, hukum kehidupan, kebenaran yang luhur.
  • Mangrwa = mendua, terpecah, bercabang.

Artinya, kebenaran sejati tidak mendua. Kebajikan sejati tidak bertentangan dengan dirinya sendiri. Dharma tidak terpecah oleh identitas kelompok, melainkan dipahami sebagai hukum ketuhanan atau kebajikan yang utuh.(Source: kosapoin.com/bhinneka-tunggal-ika)

NUSANTARA TIDAK MEMULAI DARI PERTANYAAN: “AGAMAMU APA?”

Coba perhatikan baik-baik. Hari ini manusia sering bertanya:(Source: kosapoin.com/bhinneka-tunggal-ika)

  • “Agamamu apa?”
  • “Kelompokmu apa?”
  • “Mazhabmu apa?”
  • “Organisasimu apa?”

Namun, cara pandang Nusantara masa lampau berbeda. Yang dilihat bukanlah mereknya, melainkan:(Source: kosapoin.com/bhinneka-tunggal-ika)

  • Bagaimana laku hidupmu?
  • Bagaimana perilakumu?
  • Bagaimana kebajikanmu?

Karena bagi para leluhur, seseorang tidak menjadi mulia karena labelnya, melainkan karena dharmanya.(Source: kosapoin.com/bhinneka-tunggal-ika)

SPIRITUALITAS DI ATAS IDENTITAS

Inilah bagian yang sering terlewat. Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar mengajarkan toleransi sosial; ia mengandung lapisan spiritual yang sangat mendalam, karena kalimat itu sebenarnya sedang menegaskan:(Source: kosapoin.com/bhinneka-tunggal-ika)

  • “Boleh berbeda jalan.”
  • “Boleh berbeda cara.”
  • “Boleh berbeda bentuk.”
  • “Tetapi kebajikan sejati tetap satu.”

Bayangkan sebuah sungai: ada sungai besar, ada sungai kecil, ada sungai jernih, ada sungai keruh, namun semuanya menuju laut yang sama. Begitu pula kebajikan. Kejujuran tetaplah kejujuran, kasih sayang tetaplah kasih sayang, keberanian tetaplah keberanian, dan adab tetaplah adab—tidak peduli berasal dari kelompok mana.(Source: kosapoin.com/bhinneka-tunggal-ika)

MENGAPA MANUSIA MUDAH TERPECAH?

Karena manusia sering lebih mencintai identitas daripada kebajikan. Ketika identitas menjadi pusat, maka muncullah sikap:(Source: kosapoin.com/bhinneka-tunggal-ika)

  • “Aku paling benar.”
  • “Kelompokmu paling benar.”
  • “Yang berbeda harus dilawan.”

Di sinilah dharma mulai mendua. Bukan karena kebenaran berubah, tetapi karena ego masuk ke dalamnya. Maka, konflik sering kali lahir bukan karena Tuhan, melainkan karena manusia ingin menjadikan dirinya pusat kebenaran.(Source: kosapoin.com/bhinneka-tunggal-ika)

DHARMA DAN HATI YANG TIDAK MENDUA

Orang yang menempuh jalan kebajikan sejati adalah orang yang hatinya tidak mendua. Ini sangat menarik, karena ternyata persoalan spiritual terbesar bukanlah:(Source: kosapoin.com/bhinneka-tunggal-ika)

  • Berapa banyak kitab yang dibaca, atau
  • Berapa banyak ritual yang dilakukan.

Melainkan:(Source: kosapoin.com/bhinneka-tunggal-ika)

  • Apakah hati masih terpecah?
  • Masih terombang-ambing oleh ego?
  • Masih dikuasai iri hati?
  • Masih dikuasai kebencian?
  • Masih dikuasai rasa paling benar?

Jika ya, maka sebenarnya manusia belum sampai pada dharma.(Source: kosapoin.com/bhinneka-tunggal-ika)

BHINNEKA TUNGGAL IKA BUKAN SEKADAR SEMBOYAN NEGARA

Inilah kesalahpahaman terbesar kita hari ini. Bhinneka Tunggal Ika sering diperlakukan hanya sebagai slogan politik, padahal awalnya ia adalah pandangan hidup, pandangan spiritual, dan pandangan peradaban.(Source: kosapoin.com/bhinneka-tunggal-ika)

Warisan pemikiran ini lahir dari masyarakat yang telah lama bergulat dengan keberagaman budaya, bahasa, keyakinan, dan tradisi. Mereka menyadari satu hal: perbedaan tidak akan pernah hilang, tetapi kebajikan bisa menyatukan semuanya.(Source: kosapoin.com/bhinneka-tunggal-ika)

PESAN YANG MASIH RELEVAN HINGGA HARI INI

Lihat keadaan dunia sekarang: manusia makin pintar, teknologi makin canggih, dan informasi makin cepat. Namun, pertengkaran identitas justru makin besar. Orang bertengkar karena agama, bertengkar karena kelompok, bertengkar karena suku, dan bertengkar karena ideologi.(Source: kosapoin.com/bhinneka-tunggal-ika)

Padahal, para leluhur Nusantara telah meninggalkan pesan sederhana berabad-abad lalu: Tan Hana Dharma Mangrwa—tidak ada kebajikan yang mendua. Karena ketika seseorang benar-benar hidup dalam kebajikan, ia tidak lagi sibuk bertanya “Kelompokmu apa?”, melainkan “Apakah hidupmu membawa manfaat bagi sesama?”(Source: kosapoin.com/bhinneka-tunggal-ika)

Mungkin inilah sebabnya semboyan itu mampu bertahan ratusan tahun. Karena ia bukan hanya berbicara tentang negara, melainkan tentang manusia; bukan hanya tentang persatuan, tetapi tentang kesadaran. Bahwa di balik segala perbedaan identitas, ada satu nilai yang selalu sama: kebajikan yang tulus tidak pernah mendua.(Source: kosapoin.com/bhinneka-tunggal-ika)

Yogyakarta, 11 Agustus 2026(Source: kosapoin.com/bhinneka-tunggal-ika)

Dr. Daniel Pujarsono M.Si

(Source: kosapoin.com/bhinneka-tunggal-ika)


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *