SATU SURO

ESSAI satu suro

Ada yang aneh dengan cara zaman modern memandang bulan Suro. Begitu mendengar kata “Suro”, banyak orang langsung membayangkan: hantu, ritual menyeramkan, malam angker, pantangan, atau kisah-kisah horror yang dipenuhi teror. Film-film modern ikut memperkuat stigma itu. Media sosial mempercepatnya. Narasi tertentu terus mengulangnya. Sampai akhirnya bulan Suro yang dulu sakral dan penuh makna batin, perlahan berubah di mata generasi muda menjadi bulan pamali. Padahal kalau kita mau jujur menelusuri akar budayanya, Suro sama sekali bukan tentang horror. Ia adalah bulan hening, perenungan, dan penyucian diri.

ASAL-USUL BULAN SURO

Bulan Suro berasal dari penanggalan Jawa yang disusun pada masa Sultan Agung Mataram. Beliau menyatukan unsur penanggalan Jawa kuno dengan kalender Hijriyah Islam, sehingga lahirlah sistem penanggalan Jawa yang masih dipakai hingga sekarang. Dalam kalender Hijriyah, bulan pertama disebut Muharram. Sedangkan dalam kalender Jawa, bulan itu disebut Suro.

Menariknya, kata “Suro” diduga punya akar dari kata “Sura” dalam Sanskerta. Dan “Sura” bukan berarti horor. Justru artinya kebaikan, cahaya, kebijaksanaan, atau sifat luhur. Lawan katanya adalah “Asura” — simbol keserakahan, kegelapan, dan hawa nafsu. Jadi secara makna filosofis, Suro justru adalah bulan untuk kembali pada sifat luhur manusia. Bukan bulan untuk menebar ketakutan.

KENAPA BULAN SURO TERKESAN ANGKER?

Ini yang menarik untuk dipahami. Stigma negatif terhadap Bulan Suro sebenarnya tidak muncul begitu saja. Ia dibentuk perlahan oleh narasi media, film horror, urban legend, dan framing modern yang lebih suka menjual ketakutan daripada makna budaya.

Coba perhatikan, setiap masuk Suro televisi dan media sering dipenuhi: kisah makhluk gaib, ritual mistik yang dilebih-lebihkan, dan cerita penumbalan yang menyeramkan. Padahal dalam tradisi Jawa asli, Suro justru identik dengan tirakat, hening, eling, dan refleksi diri.

Bulan ini dipakai untuk muhasabah, membersihkan batin, dan menata hidup untuk tahun yang baru. Karena bagi leluhur Jawa, awal tahun bukan saat pesta besar-besaran. Tetapi saat manusia diam sejenak dan melihat dirinya sendiri.

MISTIS BUKAN BERARTI SESAT

Salah satu kesalahpahaman terbesar hari ini adalah tentang kata “mistis”. Banyak orang langsung menganggap mistis itu gelap, jin, setan, atau kesesatan. Padahal secara makna, mistis atau mistisisme adalah usaha manusia memahami hubungan antara dunia nyata dan dunia yang tak terlihat.

Dan kalau dipikir baik-baik semua agama juga punya unsur mistis. Doa kepada Tuhan yang tak terlihat, meditasi, dzikir, tirakat, kontemplasi, ritual sakral, semua itu bagian dari pengalaman mistik manusia. Jadi mistis bukan otomatis negatif. Yang negatif adalah ketakutan yang dibangun tanpa pemahaman. Akibatnya, tradisi leluhur yang penuh makna malah dicap seram, sesat, atau menakutkan.

KERIS BUKAN BENDA KLENIK

Salah satu simbol yang paling sering disalahpahami di Bulan Suro adalah keris. Hari ini banyak film menggambarkan keris seolah benda angker. Padahal dalam budaya Jawa, keris adalah simbol jati diri, kehormatan, dan kesadaran manusia.

Keris bukan sekadar senjata. Ia adalah perlambang ketajaman rasa, keberanian, dan pengendalian diri. Makanya saat pusaka dibersihkan di Bulan Suro, maknanya bukan “memberi makan makhluk gaib”. Tetapi simbol membersihkan diri sendiri. Karena pusaka dianggap mewakili pemiliknya. Kalau keris dibersihkan, maka manusianya juga diingatkan untuk membersihkan batin, pikiran, dan niat hidupnya.

RITUAL SURO SEBENARNYA BUKAN HORROR

Tradisi seperti tirakat, tapa bisu, mubeng benteng, jamasan pusaka, atau semedi, sebenarnya memiliki nilai yang sangat luhur. Intinya bukan memanggil makhluk halus. Namun mengheningkan ego manusia.

Bayangkan, di tengah dunia yang makin bising, leluhur justru mengajarkan diam, hening, dan introspeksi. Karena manusia yang terlalu ramai di luar, sering kehilangan suara batinnya sendiri. Maka Bulan Suro adalah ruang untuk eling lan waspada. Ingat pada asal diri, dan sadar terhadap langkah hidupnya sendiri.

GENERASI MUDA MULAI BANGKIT

Ada kabar baik, hari ini mulai banyak generasi muda, termasuk di kampus-kampus, komunitas budaya, dan ruang akademik, yang bergerak menjaga akar tradisi Nusantara. Mereka mulai sadar budaya bukan barang kuno yang memalukan, tetapi fondasi identitas bangsa.

Kajian tentang keris, wayang, gamelan, ritual Nusantara, hingga filosofi Jawa, mulai kembali hidup. Dan menariknya dunia internasional mulai mengakui kekayaan budaya Indonesia sebagai kekuatan peradaban. Bukan sekadar eksotisme, tetapi nilai hidup gotong royong, welas asih, harmoni, dan kesadaran kolektif. Karena bangsa yang kehilangan budayanya, perlahan akan kehilangan arah dirinya sendiri.

SURO ADALAH AJAKAN MENGENAL JATI DIRI

Suro bukan tentang takut keluar malam. Bukan tentang bulan sial dan bukan tentang horror murahan yang dijual demi tontonan. Suro adalah panggilan untuk pulang ke dalam diri. Pulang pada hening, kesadaran, dan kejernihan rasa. Karena yang paling menyeramkan sebenarnya bukan malam satu Suro, tetapi manusia yang kehilangan akar budayanya sendiri, lalu takut pada warisan leluhurnya tanpa pernah mencoba memahaminya.

Maka mungkin sudah waktunya generasi hari ini berhenti melihat Suro sebagai bulan angker. Dan mulai melihatnya kembali sebagai bulan kebijaksanaan. “Suro bukan tentang memuja kegelapan. Tapi tentang membersihkan diri agar cahaya kesadaran kembali menyala.”

Dr. Daniel Pujarsono M.Si

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *