Muncul Witri Cahyaning Buwono, (WCB). Seorang selebriti, artis teater dan perias juga EO yang pernah kondang.
(Kepada penonton)
Aku terpaksa bertahan dalam kabut. Maksudnya apa? Pasti ada yang bertanya penasaran. Begini, Aku Witri Cahyaning Buwono (WCB. Ingin berkisah sebagai Siti Panggung. Dulu aku seorang penari di kota Kraton. Aku suka dipanggil Si Srimpi. Hingga aku remaja. Aku dikagumi seorang pemuda namanya Suwondo, aku memanggilnya Mas Wondo. Dia sangat tampan, tinggi atletis, masih keturunan trah bangsawan. Aku suka diantar pulang ke Semaki.
Pertama kali aku dicium laki-laki, Mas Wondo rasanya terbang ke bulan, (Tertawa). Sejak itu ciuman demi ciuman Mas Wondo datang dan aku terbuai. Dalam hati, inilah calon pendamping hidupku.
Tibalah pada suatu hari Mas Wondo mengajakku menikmati pemandangan ke Tawangmangu, untuk istirahat. Menyewa sebuah villa kecil. Antara sadar dan tidak karena air degan yang sudah dicampur apa, aku tidak tahu. Mas Wondo memperkosaku. Aku menangis. (Diam). Aku ingin nanti untuk malam pertama, pengantin kita! Bukan sekarang. (Teriak) Mas Wondo diam, lalu membelaiku dan berbisik (Merubah suara). Aku terlalu cinta pada kamu Witri, kamu cahaya hidupku. Aku mengangguk dengan sesal. Aku meminta dia segera melamarku ke orangtuaku.
Tentu saja, bapakku dan ibuku kaget sekali. Tapi disimpan dalam-dalam. Jadilah kami menikah dan diberi satu kamar di rumah antik di kota gede. Milik orangtuanya. Tapi aku gak tahan dengan gaya ningrat keluarga Mas Wondo. Aku meminta dia pindah, gak apa di rumah sederhana pun. Setelah berdebat segera aku diam “Kau katakan aku terlalu mencintaimu Witri, buktikan itu!”
Akhirnya kami pindah ke rumah tua yang lain di rumah yang selama ini diurus Mbak Tari pengasuh Mas Wondo sejak kecil. Aku tahu dari Mbak Tari bahwa Mas Wondo anak pintar tapi manja.
Aku ingin memanjakannya, memasak kesukaannya. Krecek kulit melinjo. Sementara kandunganku bertambah membesar. Aku lebih tenang sekarang. Akhirnya tiba aku melahirkan anak laki-laki sehat dan tampan seperti ayahnya. Kuberi nama Samiaji Kalimasada Buwono. Aku melarang pakai belakangnya Notomargono nama ayahnya. Ini bentuk perlawananku diam-diam pada Mas Wondo, Mas Wondo tidak mendebat, rupanya dia menyadari kesalahannya.
Mas Wondo selesai sarjana dari gama, kami pindah ke kota kembang. Aku kembali mengandung, kami menyewa rumah kawannya Mas Wondo yang sudah lebih mandiri di Kircon dekat keramik Wak Ubed. Sami anak sulungku suka bermain dengan anaknya Wak Ubed yaitu Komar, syukurlah Mas Wondo mendapat pekerjaan di perusahaan komunikasi di Supratman.
Sementara aku mengandung aku mencari pekerjaan. Akhirnya aku di terima di sekolah menengah kesenian di Bubat sebagai guru bantu, membantu Bu Maya Dania, seorang keturunan Cina yang baik hati. Bu Maya Dania sudah seperti ibu. Sampai anak keduaku lahir, kuberinama Herjun Janaka, panggilannya Jun, tidak jangkung seperti Sami tapi kecil seperti bapakku pak Buntaran. Tentu saja bapakku sangat senang ketika foto Jun kuberikan. Aku sekarang suka diajak nonton teater oleh Bu Maya Dania yang ternyata suka ikut menari di grup teater kembang. Dalam sebuah produksi Jayaprana dan Layonsari, sutradara pak Kalam tahu aku penari, langsung diberi peran Layonsari padahal aku belum pernah bermain teater, kecuali menonton ketoprak dan wayang wong. Tapi tidak ada salahnya kucoba. Aku menerima peran itu. Ada bagusnya semua penasaran. (Menuangkan kopi dan mengoceknya). Kalau ngocek kopi menurut Mbah putriku. Nah, ini caranya. Nyruput (Menuangkan kopi ke pisin dan menyeruputnya perlahan). Ini sama dengan di dunia panggung teater, menyeruput perlahan, peran-peran kecil sampai peran utama. Oh nya, ketika aku jadi Layonsari yang jadi Jayaprananya seorang pemuda tampan namanya Beib Bastaman, panggilannya Beibas. Ternyata dia perjaka ting-ting, dia juga naksir padaku. Hingga pada suatu kesempatan di belakang panggung di tempat yang agak gelap, kami berciuman. Gairah malam itu berbuah skandal. Mas Wondo hanya tersenyum ketika ada yang melihat aku dan Beibas berpacaran di bioskop. Dia hanya bertanya. (Merubah suara laki-laki) Kamu ke bioskop?
Aku kaget sekali, tapi aku mengangguk dan berkata “Ya ramai-ramai” Mas Wondo hanya mengangguk dan terus asyik dengan pekerjaannya.
Sejak itu, pacaranku dengan Beibas benar-benar bebas. Seperti kuda lepas dari kandangnya. Berpacaran dalam nafsu. Jadilah skandal di balik panggung.
(Minum) Tapi tak lama, Beibas melanjutkan studinya, pindah ke Betawi. Dua anakku sudah mulai tumbuh. Aku sekarang punya pembantu namanya Salmiah. Salmiah berkulit sawo matang. Suamiku banyak mengerjakan pekerjaan di rumah. Sementara aku diluar rumah, mengajar dan bermain teater. Kejadian tak kuharapkan terjadi. Suamiku pergi ke luar rumah, dipanggil bosnya. Anak-anak sudah tidur. Ketika aku lewat kamarnya, terdengar tangisan kecil. Aku curiga. Aku buka perlahan dan Salmiah menjerit menubruk tubuhku. (Menirukan suara Salmiah). Maafkan aku Bu. Aku menduga-duga. “Kamu-bapak?” Salmiah mengangguk. “Pemburu perawan” Aku memaki dalam hati. Ku dekap Salmiah. Salmiah ku pulangkan ke kampunngnya. Sejak itu aku pisah ranjang. Laki-laki pemburu perawan itu ku suruh tidur di mana saja, kecuali di kamarku dengan anak-anakku.
Bertahan dalam kabut rumah tanggaku pabaliut. Aku menenggelamkan diri berbagi makanan untuk latihan. Tahu bacem kesukaanku waktu di kota Kraton. Semua anak panggung suka tahu bacemku. Apalagi paket khusus untuk pak Obong penjaga gedung, selain becem tahu, juga rokok klembak. Pak Obong sangat suka.
(Merubah suara berat) Nyi Witri terimakasih bacem dan lisongnya ya.
Aku mengangguk senang. Ah ya, suka duka jadi anak panggung kulalui dengan berbagai peran-perankku selalu jadi primadona alias peran utama.
Jadi ratu (Berperan sebagai ratu)
“Pengawal cepat bawa seluruh harta ke luar istana!” (Bergerak)
Jadi putri (Berperan sebagai putri)
“Aku tidak mau di jodoh-jodohkan, tante!”
(Bergerak) Jadi Nyonya besar perkebunan (Berperan sebagai Nyonya)
“Anakku sebentar lagi matahari akan terbit. Oh ternyata itu kebakaran!”
(Kepada penonton)
Ya, peran-peran yang menggairahkankku, kini tinggal kenangan indah. Sedangkan kehidupanku di rumah tetap bertahan dalam kabut dan akhirnya harus ku akhiri dengan perceraian yang kupaksakan, walaupun suamiku tidak ingin menceraikanku, aku memaksa.
“Mas Wondo, dulu kau memaksaku, memperkosaku, padahal aku ingin malam pertamaku berkesan. Tapi kau paksa!”
“Mas Wondo, sekarang aku memaksa, ceraikan aku, biar anak-anak kubawa pergi, kau pergilah dengan istri barumu yang lebih muda dan semok!”
“Mas Wondo aku tahu kau memaksa gadis itu, hingga hamil, berbeda dengan Salmiah pembantu kita. Dia melahirkan anakmu. Tapi dia bukan anak tentara, dia anak petani!”
“Kau pilih racun bagi hidupmu, obsesimu mendapatkan sejumlah anak perawan, memang ada batasnya! Aku cerai!”
(Merokok) Lisong klembak kesukaan Mbahku dulu, juga pak Obong yang kini sudah berpulang. Aku kini hidup sendiri di sebuah rumah kecil, rumah sederhana. Pemberian anak sulungku Samiaji. Sementara Herjun tinggal di Depok jadi dosen swasta. Aku kini tidak bertahan dalam kabut lagi, aku buang kabut itu, aku melihat edelwais yang indah. Slamat tinggal masa lalu. Aku sekarang jadi pengiring pengantin. (Berkidung) Kidung Kolosebo.
Rumekso ingsun laku nisto ngoyo woro
Kelawan mehak lowo
Howo kang dan angkoro senandyan setan gentayangan
Tuasah gowe rubeda
Hinggo pupusing jaman
Kujaga dirikso dari berbuat nista sekehendak
Melawan/mengendalikan hawa, hawa nafsu yang diliputi angkara.
Meskipun setan gentayangan masih saja.
Selalu membuat gangguan hingga akhir jaman.
(Tembang menghilang)
Tamat
1 Agustus 2023









