SITI JELAGA

Siti Jelaga

(Muncul Siti Jelaga dengan segala perlengkapannya)

Bapa Arang

Anak Arang

Mencari hutan yang masih perawan

Mencari pohon-pohon yang mengering yang hangus terbakar karena petir.

(Pada Penonton)

Ya, itulah kami manusia arang. Bapakku si petualang arang, pedagang arang sepanjang hidupnya sampai tua. Sampai mendapatkan julukan Pak Jelaga si arang-arang hutan.

Kami pagi-pagi sekali membawa keranjang dan tali-tali, parang besar, palu gadam, topi lebar, dan dendeng serta beras ketan dan panci.

Bapak berjalan di depan mencari pohon terbakar petir.

(Suara)

Sobat, jangan jadi siput!

Bapakku memanggil.

(Teriak)

Ya, ama, aku bukan siput!

(Bergegas mengelilingi panggung)

Aku bergerak cepat, kakiku terasa diatas tanah. Seperti ular sanca bunga bergerak diantara pohon-pohon dan semak-semak.

Akhirnya sampai. Bapakku melirik tersenyum. Dia menunjuk ke pohon terbakar petir.

(Kepada bapak)

Pohon apa ama?

(Suara)

Pohon Meranti tua pencakar langit, kita beruntung!

(Kepada penonton)

Itulah kenanganku bersama ama, ayahku pak Jelaga. Si arang-arang hutan.

(Diam)

Kini ayahku sudah tiada, tenang di pemakaman bukit Jelaga. Tanah yang dibeli Amak untuk keluarganya dalam peristirahatan terakhir. Ibuku juga jadi di pindahkan ke bukit kecil itu. Ku tanami pohon kemboja merah dan putih.

Kalau aku rindu mereka aku datang ke bukit Jelaga. Hingga suatu hari mendengar alunan saluang, entah darimana. Kucari asal suara indah itu, dari bukit Jelaga turun ke arah timur.

(Bergerak mengelilingi panggung)

Aku lihat di danau tua, seorang pemuda meniup saluang dengan lantang, dia tahu ada yang datang. Dia berhenti.

(Kepada pemuda)

Indah nian saluang abang. Darimana asal abang? Rasanya aku baru melihat dan ada peniup saluang di daerah timur ini?

(Mendekat)

Tapi astaga dia berlari cepat dan menghilang seperti asap ditiup angin!

Aku teriak!

(saluang abang saluang abang!)

Dia menghilang, apakah dia manusia atau mambang?

(Teriak)

Kau manusia atau mambang?

Aku kembali ke bukit Jelaga, tapi suara saluang itu terasa masih tersimpan di telinga.

Aku pulang ke rumah warisan, oh ya kalau tidak membuat arang karena persediaan masih banyak dan tengkulak belum datang. Aku menolong tetangga atau kampung sebelah memetik kelapa. Aku tidak naik sendiri, aku punya warisan dari mak Arang ibuku, yaitu Si Beruk yang panggilannya Si Qunut. Karena ditemukan mak Arang setelah sholat Subuh di sudut langgar, di pelihara dan dilatihkan pada tetua Beruk pak Jamali.

(Mengambil si Qunut secara imajinasi)

Ayo Qunut kita kerja. Oh kamu ingin di pantunkan ya.

Saiyo sakoto

Naik pedati

Menanak nasi bisa di campur air kelapa

Ayo, ayo naik hati-hati

Tidak hati-hati bisa tak teratur petik kelapa.

(Suara Beruk)

Ya, ayo kita kerja!

(Lampu perlahan redup lalu gelap)

II

Malam hari di rumah Siti Jelaga. Ada lampu laut dan duwegan. Siti Jelaga mengisap cerutu pemberian Datuk Sambilata.

Siti Jelaga : Si Qunut pasti sudah tidur. (Menyedot cerutu) pantesan Datuk Sambilata menjadi pengisap cerutu mahal, habis enak, mantaplah….!

Tapi, tadi Datuk Sambi bilang, melihat seorang bujang main saluang di belakangku, ketika si Qunut sedang metik kelapa? Aku diam tapi kaget juga.     

Bujang saluang, kalau begitu dia ada, tapi dia seorang mambang. Aku ada akal. Ku sisakan cerutu ini, kalau di hisapnya berarti dia manusia yang bisa ke dua dunia, begitu kata ayahku pak Arang.

(Menyedot cerutu dan menyimpannya di piring seng)

Aku harus pergi, mengintipnya. (Pergi ke sudut panggung mengintip) Apakah dia akan muncul?

(Bujang tidak muncul, hanya suara saluangnya saja terdengar jelas)

(Bergerak ke dekat cerutu)

Bujang saluang! Hanya saluangmu! Aku punya cerutu dari Datuk Sambi!

(Suara saluang menghilang)

(Seperti mendapat ide)

Ah sepertinya aku harus bikin kacamata batok kelapa, seperti kata mak Arang kalau mau masuk ke taman mambang  di bukit Gendang.

(Mengambil kembali cerutu)

Sudahlah kalau kau malu! Aku nikmatin lagi. (Tertawa kecil)

(Perlahan lampu redup dan akhirnya gelap)

III

Siti Jelaga memandang pelangi di dangaunya. Muncul si Bujang Saluang dengan mengisap cerutu. Sambil tersenyum terdengar suara saluang menjadi ilustrasi.

Siti Jelaga : Kau abang saluang kah?

(Si Bujang Saluang tidak bicara, hanya mendekat sambil mengisap cerutu, asapnya menyebar)

Siti Jelaga : Bicaralah, apa kau ini?

(Si Bujang Saluang tidak bicara, hanya memberi bisikan lalu pergi)

Siti Jelaga : Bener ini? (Terbangun, ternyata mimpi). Ah, mimpi rupanya. (Minum). Dia berbisik banyak pohon kena petir, cepat jadikan Arang! (Menggeliat) Besok pagi aku ke hutan Badalih.

Lampu redup lalu padam.

IV.

Muncul Siti Jelaga terkaget-kaget sesampainya ke hutan Badallih.

Siti Jelaga : Astaga, pohon kena petir sudah tumbang sendiri! (Melihat ke arah timur). Itu juga, bisikan Abang Saluang itu benar. (Terdengar Saluang sayup-sayup). Aku harus mulai membuat arang. Aku mulai yang itu!

(terdengar suara saluang)

(Terdengar bicara sendiri Siti Jelaga)

Dari pohon ke pohon

Ku belah tanpa lelah

Pohon kena petir

Sepertinya ku sisir

Aku bekerja dibantu mambang hutan yang baik hati

Memilihkan pohon kena petir

Suara saluangnya tetap mengiringi ketika kerjaku membuat arang.

(Perlahan padam)

Siti Jelaga tengah di dekat api unggun. Dia menyedot cerutu

Siti Jelaga : Datuk Sambi memberi sekotak cerutu, karena puas atas kerjaku. Kebun kelapanya yang luas dipanen oleh si Qunut dengan cepat dan trampil. Dan dia melihat seorang Bujang peniup saluang di belakangku. (Memakai kacamata batok kelapa). Astaga! Kamu abang saluang? Sudah lama disini! (Di bayangkan ada). Kenapa datang dalam mimpi dan sekarang disini?

(Suara Bujang)

Siti Jelaga tak usah gundah. Aku hanya terlihat tapi tak tersentuh. Aku dari dunia lain, dunia mambang. Aku dikenal sebagai mambang saluang.

Aku senang kau bisa melihatku dengan kacamata batok kelapa yang caranya diwariskan mak Arang ibumu. Selamat jadi pedagang arang dan pemetik kelapa, walau dibantu si Qunut. Kenanglah aku si mambang saluang!

(Membuka kacamata)

Siti Jelaga : Terimakasih mambang saluang akan ku kenang kau.

Tamat

16 Juli 2023

SITI MATAHATI
Baca Tulisan Lain

SITI MATAHATI


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *