KARESMEN LASKAR PANGGUNG BANDUNG

karansemen laskar panggung bandung

Yusef Muldiana. pendiri Laskar Panggung Bandung dok foto YM.(Source: kosapoin.com/karesmen-laskar-panggung-bandung)

Saat sedang beres-beres arsip-arsip yang sudah lama di Hardisk eksternal untuk dihapus, tak sengaja terlihat sebuah file SMS yang menyita perhatian saat membacanya;(Source: kosapoin.com/karesmen-laskar-panggung-bandung)

“Kami mengundang anda dalam acara 12 th Laskar Panggung Bandung, 20 – 11- 2007 pkl.15.30 – 22.30, di GK Rumentang Siang Bdg. Pengisi acara Parikesit, Orkes Keroncong Hilang Masa Muda, Superstar, Teater Toneel, Sanggar Teman, Kelompok Musik Asal Sada, Studiklub Teater Bandung, Lakon Teater UPI, Cassanova dan Laskar Panggung.Terimakasih atas segala perhatiannya. Salam Teater.” (Dedy Koral).(Source: kosapoin.com/karesmen-laskar-panggung-bandung)

Begitu  kalimat  SMS  yang  memberitahu  dan  sekaligus  mengundang dalam  perhelatan  Laskar  Panggung  Bandung  (LPB)  yang  ke  12.  Duh…sayang tidak bisa hadir dalam acara tersebut, karena saya sedang di Banten lalu lanjut ke Yogyakarta menunggu Pejabat Provinsi untuk presentasi program sebuah kegiatan seni budaya.  Wah,  sayang  tak  bisa  hadir.   Rasanya  ingin  terbang  saja  ke Bandung, namun itu hanya sebuah harapan untuk sebuah kelangenan, lagi- lagi jarak tak bisa diatasi dengan keinginan.(Source: kosapoin.com/karesmen-laskar-panggung-bandung)

Akhirnya pikiran saya pun mengembara ke masa 19 tahun silam, di mana kami pernah  bersentuhan  dalam  kreatifitas  seni teater  bersama  LPB. Dan yang paling berkesan bagi saya saat itu, adalah diskusi dengan seorang sahabat, yaitu Ari Nurtanio (hey, apa kabar kawan?). Diskusiitu adalah LPB akan mewakili Propinsi Jawa Barat dalam Pertemuan Teater Nasional ke XI tahun1999 di Yogyakarta, dan gilanya saat inipun saya sedang di Kota Gudeg.(Source: kosapoin.com/karesmen-laskar-panggung-bandung)

Sempat saya, Ari dan Yusef sebagai tokoh sentral di LPB yang akan menggarap  pergelaran  dipertemuan  teater tersebut. Berdiskusi  memperbincangkan  garapan ini sampai jauh malam. Dalam rembugan; apa dan bagaimana naskah yang akan digarap. Kesepakatan pun diambil dengan berbagai  pertimbangan,  maka  naskah  Yusef  yang  menjadi  juara  3 dalam lomba naskah sandiwara oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), yaitu Bulan dan Kerupuk tahun 1998 dipilih  untuk  garapan  dalam  Pertemuan Teater Nasional ke XI tersebut.  Lalu  dalam  diskusi berikutnya, Yusef mau terus mengembangkan  konsep ‘dolanan’ dalam ber- teaternya.(Source: kosapoin.com/karesmen-laskar-panggung-bandung)

Dolanan  bagi  saya  sudah  tidak  begitu  asing  lagi karena  dari awal; saya,  Ari,  dan  Yusef  diperkenalkan  teater  dengan  ‘dolanan’nya  oleh  Yessi Anwar (Yesmil Anwar) pada saat kami di Teater Ge-Er (sekarang Teater  Bel).  Unsur  penting  dalam  dolanan,  yaitu  dunia  dongeng  dan permainan. Dalam dunia inilah Yusef saya pikir menemukan  ‘keasyikannya’ dalam berkarya,  ia mengembangkan  dolanan  lebih jauh dalam bentuknya. Baginya dunia dongeng dan permainan sudah menjadi begitu akrab dengan dirinya.  Seperti  kita  tahu,  bahwa  dunia  dongeng  dan  permainan  sifatnya cepat berubah.   Imaji, ruang dan waktu bisa dengan sangat cepat berubah dalam  hitungan  detik,  dan  itu  kelebihan  serta  keberanian  Yusef  untuk merubah  ruang  dan  waktu  dalam  pertunjukannya  dengan  menggunakan media para pemainnya, hingga imaji yang hadir dalam pikiran penonton pun asyik-asyik saja. Inilah Gaya Estetik menjadi ciri khas LPB  dengan ‘gaya’ pertunjukan yang lugas,  kritik sosial-politik, dalam gaya humor, parodi, dan realisme simbolis.  Maka dengan dolanan ini pulalah LPB bisa memainkan teaternya di mana saja dan waktu kapan saja.(Source: kosapoin.com/karesmen-laskar-panggung-bandung)

Seperti apa yang diucapkan Yusef saat itu: bagi LPB, teater itu adalah permainan, karena konsep yang dianut adalah teater ‘bebas’. Karena bebas, maka ia tak akan punya batas, karena tak punya batas, maka ia akan bebas. Bebas   berdekonstruksi,   bebas   berekspresi,   bebas   bereksplorasi,   bebas bereksperimentasi,  bebas  berorientasi,  dan  bebas  berideologi.  Tapi  tidak bebas berargumentasi. Lho, memang kenapa? Tentu saja argumen bagi Yusef hanya sebuah pembelaan dalam ketidakmampuan pemain saat berperan atau dalam mengekspresikan perannya, hingga argumentasi menjadi senjata pamungkas untuk hal itu, hingga akting atau permainan mereka akan menjadi lebih teknis atau mekanistis, begitu Yusef mengungkapkan. Artinya, LPB tidak menutup   peluang   untuk   berargumentasi   saat   membedah   naskah   dan karakter, namun dalam proses pencarian dan pembentukan peran sepertinya argumen tidak diperlukan lagi. Penyadapan yang penting, katanya lagi. Dalam Dolanan dan permainan yang utama adalah keriangan, sehingga akan lahir ketulusan yang mengalir terus-menerus  tanpa kepura-puraan  atau artifisial. Dan panggung sebagai tempat berlangsungnya pertunjukan merupakan pertaruhan dua sisi tadi; riang atau pura-pura.(Source: kosapoin.com/karesmen-laskar-panggung-bandung)

Tiba-tiba lamunan saya terputus dengan masuknya SMS: “Gus, kamu dapat undangan si Yosef nggak? Kita temuan di GK RS ya..?” Lantas saya jawab tidak bisa datang karena lagi di luar Bandung. Aduh, rasanya ingin sekali  saya terbang  dan  kumpul  dalam  sebuah  kelangenan  di Rumentang Siang bersama kawan-kawan.          Lagi-lagi saya terjebak dalam ruang dan waktu yang tak bisa saya lakukan seperti ‘dolanan’ nya Yusef, yang dengan serta merta bisa berubah dengan cepat tanpa jeda ruang dan waktu ini. Ha ha ha ini kan logika dongeng, anda hidup bukan di dunia diongeng bung! Saya tertawa  sendirian.  Iya, ya, ruang dan waktu tak bisa diatasi  oleh sebuah keinginan dengan cepat.(Source: kosapoin.com/karesmen-laskar-panggung-bandung)

Maka sambil menunggu untuk presentasi,  saya melanjutkan  kembali melanglang masa lalu. Sandiwara bukanlah kehidupan, ia hanya sebuah tontonan, tapi sandiwara bisa menjadi tuntunan kehidupan. Hal ini menjadi ciri  bahasa  ungkap  LPB,  mudah  dipahami   dan  tidak  dengan  sengaja memberat-beratkan  tema  meski  di  dalam  pementasannya  kadang-kadang menyelipkan  hal-hal  berbau  falsafah  kehidupan  tapi  semua  ungkapan  itu dijabarkan   dengan   sangat   sederhana,   kreatif   dan   menghibur,   hingga penonton  seakan  diajak  untuk  mengevaluasi,  berinteraksi  dengan  dirinya sendiri.  Dan  tak  terasa  bahwa  kita  sedang  menertawakan  diri  sendiri.     Ungkapan tak jauh berbeda dengan Max Arifin dari Teater Api Surabaya, yang saat itu sempat berdiskusi ringan setelah menonton LPB di Yogyakarta: Kalau boleh saya sandingkan LPB dengan Teater Kubur-nya  Dindon, secara tema keduanya  sama namun  bahasa  ekpresi  yang berbeda.  Teater  Kubur berat   sedang   LPB   mudah   dipahami   dan   filosofi   disampaikan   dengan menghibur, ini yang tidak mudah dilakukan, Yusef melakukannya dengan mengalir dan ‘enjoy’. Saya suka itu.(Source: kosapoin.com/karesmen-laskar-panggung-bandung)

Untuk pencapaian seperti itu tidaklah mudah. Tidak hanya semangat yang keras dari seluruh pendukungnya namun ada daya yang kuat melandasi dalam  proses  kreatifnya,  semua  itu  ditularkan  pada  aktor  dan  seluruh pendukung dalam proses yang terus-menerus. Semangat laskar? Ya, barangkali  semangat  laskar  dalam  dolanannya  ini  yang  menjadikan  Yusef terus bertahan  dalam  kiprah  teaternya.  (Source: kosapoin.com/karesmen-laskar-panggung-bandung)

Barangkali  kalau  pilihannya  bukan ‘dolanan’, saya yakin LPB tidak akan bertahan sampai tahun ke 12 (tahun ini ke 31). Seperti diungkapkan di awal, bahwa dengan dolananlah Yusef bisa mengekspresikan seluruh gagasannya dalam sebuah kekuatan ‘daya’ dongeng dan permainan, bukan ‘gaya’ dongeng atau permainan yang sudah begitu akrab dengan dirinya.(Source: kosapoin.com/karesmen-laskar-panggung-bandung)

Dongeng kontemporer.(Source: kosapoin.com/karesmen-laskar-panggung-bandung)

Lakon-lakon  Yusef keseluruhannya  merupakan dongeng kontemporer masa kini. Hal-hal yang sangat aktual di negeri tercinta ini menjadi lahan naskah baginya. Entah itu tentang kebobrokan birokrasi pemerintahan, moral para pejabat, kemiskinan dan keprihatinan rakyat jelata, kesemrawutan politik dan lain-lain, semua itu ia sadap dan ia ungkapkan dalam sebuah pengejawantahan dengan muatan ‘daya’ dongengan dan permainan sebagai bentuk akhirnya.(Source: kosapoin.com/karesmen-laskar-panggung-bandung)

Dengan  kebebasan  inilah  ia  membentuk  aktornya  dalam  semangat laskar  yang  sangat  sulit  ditemukan  dalam  kondisi  per-teateran  saat  ini,(Source: kosapoin.com/karesmen-laskar-panggung-bandung)

misalnya dimana para aktor dirayu oleh peluang-peluang  bermain sinetron yang sangat mudah dan praktis dalam berakting, dibanding dengan proses pentas teater yang banyak menghabiskan energi bahkan materi sendiri keluar dari   kocek   masing-masing   aktor   dan   aktrisnya.   Maka   sangatlah mengherankan sebuah kelompok teater bisa bertahan sampai ke 12 tahun 2007, jika kita bandingkan dengan kelompok-kelompok teater lainnya di Bandung pada dasawarsa 1990-an sampai saat ini.(Source: kosapoin.com/karesmen-laskar-panggung-bandung)

Perjalanan   12   tahun   adalah   sebuah   perjuangan   yang   dilandasi ketulusan para pengabdinya yang menjadi kelangenan dalam pilihannya berkarya.  Namun  bagi  saya  ada  yang  sangat  berjasa  dan  tak  kalah pentingnya bagi keberadaan LPB diawal kelahiran serta keberlangsungannya, yaitu  orang  yang  telah  memberikan  kontribusi  secara  konsisten  saat  itu, yaitu Donny Ahmad (alm.) dan Yanuar. Siapa Donny dan Yanuar? Mereka adalah para Pengusaha  yang  menyukai  seni  teater.  Aneh  memang,  bisnisman  mau bersusah payah mendukung teater, tapi itulah mereka sama gilanya dengan Yusef. Saya pikir tanpa 2 orang ini LPB akan terus jadi bayi, tak akan bisa berdiri  dan  bisa  berjalan  seperti  sekarang  ini.(Source: kosapoin.com/karesmen-laskar-panggung-bandung)

Saya  masih  ingat  betul  saat  keinginan  Donny  dan  Yanuar,  kenapa mereka ingin berpartisipasi  dalam dunia teater? Kedua orang Pengusahan ini menawarkan pola manajemen tontonan teater bisa dinikmati oleh masyarakat biasa, karyawan, anak sekolah dan lain-lain, Jadi tidak perlu diberat-beratkan. Kenapa Teater Koma saja bisa, saya suka nonton ke Jakarta bila Teater Koma tampil, kata Donny kala itu.             Saya pikir ini sebuah ajakan sekaligus tantangan, dan tantangan ini dilayani oleh Yusef, maka gayung pun bersambut, jadilah LPB dengan pergelaran perdananya yang membuat heboh, yaitu Manusia Dalam Botol. Di mana dalam pementasan ini bentuk ‘dolanan’ Yusef dalam LPB mulai diperkenalkan, semua disuguhkan dalam kesederhanaan dan mudah dipahami meski menyelipkan falsafah kehidupan. Inilah andil terbesar Donny dan Yanuar saat itu dalam kelahirannya LPB.(Source: kosapoin.com/karesmen-laskar-panggung-bandung)

Angka 12 (2007), saat ini angka 31 (2026) LPB masih eksis adalah sebuah perjalanan yang tak mudah dilalui, dengan segala langkah, upaya yang dilakukan sebuah kelompok teater. Artinya ada sesuatu di sana yang dapat bertahan dan berkiprah; Dolanan dan Dongengannya.(Source: kosapoin.com/karesmen-laskar-panggung-bandung)

Tiba-tiba seseorang menyapa dengan lembut dan merdu: “Mas Agus(Source: kosapoin.com/karesmen-laskar-panggung-bandung)

Safari, anda ditunggu di ruang meeting…”. Sambil mengucapkan terima kasih saya dan rekan masuk ruang untuk mempresentasikan  program,  saat yang  bersamaan  sebuah  SMS  nyelenong  lagi:  “Gus,  dupi  Donny  sareng Yanuar diulem teu?”(Source: kosapoin.com/karesmen-laskar-panggung-bandung)

Nah, loh..!***(Source: kosapoin.com/karesmen-laskar-panggung-bandung)

Bandung, 27 Agustus 2026 (Serang, Banten melaju ke Yogyakarta, November 2007)(Source: kosapoin.com/karesmen-laskar-panggung-bandung)

Agus Safari

Apakah artikel ini membantu?
IP: 114.122.77.177
Negara: Indonesia (West Java)
Device: Mobile
OS: Linux, Browser: Chrome

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *