Ketika Tubuh Berhadapan dengan Trauma: Catatan Hendra Setiawan tentang Warisan Bunga Hitam

ketika tubuh berhadapan dengan trauma

JAKARTA — Sebuah teks klasik dapat terus hidup ketika ia menemukan tubuh-tubuh baru untuk menampung pertanyaan-pertanyaannya. Barangkali itulah salah satu hal yang terasa dalam Crossing Text 2.0: Warisan Bunga Hitam, kolaborasi antara Lab Teater Ciputat, Indonesia, dan Theatre Company shelf, Jepang yang dipentaskan di Gedung Kesenian Miss Tjitjih Jakarta, 15-16 Agustus 2026 lalu.(Source: kosapoin.com/ketika-tubuh-berhadapan-dengan-trauma-catatan-hendra-setiawan-tentang-warisan-bunga-hitam)

Bagi Hendra Setiawan, performer dan pegiat teater yang telah membawa praktik artistiknya ke berbagai negara, salah satu kekuatan menarik dari pertunjukan ini terletak pada keberaniannya mengambil fragmen-fragmen dari Macbeth karya William Shakespeare dan mempertemukannya dengan pengalaman personal para aktor serta sejarah yang lebih luas.(Source: kosapoin.com/ketika-tubuh-berhadapan-dengan-trauma-catatan-hendra-setiawan-tentang-warisan-bunga-hitam)

Hendra menyaksikan Warisan Bunga Hitam pada hari kedua pementasan. Dalam pembacaannya yang disampaikan kepada Kosa Poin dalam wawancara, teks-teks tentang mimpi, darah, rasa bersalah, ambisi, dan kematian tidak hanya hadir sebagai jejak dari tragedi Macbeth. Berbagai fragmen tersebut bergerak memasuki pengalaman para pemain dan bersinggungan dengan persoalan trauma.(Source: kosapoin.com/ketika-tubuh-berhadapan-dengan-trauma-catatan-hendra-setiawan-tentang-warisan-bunga-hitam)

Trauma yang hadir pun tidak berhenti sebagai pengalaman individual. Pertunjukan membuka kemungkinan untuk membacanya dalam konteks yang lebih luas: sejarah Indonesia, hubungan Indonesia dan Jepang, hingga ingatan tentang peristiwa 1998. Pertemuan antara pengalaman pribadi dan sejarah kolektif inilah yang menurut Hendra menjadi salah satu lapisan menarik dalam karya tersebut.(Source: kosapoin.com/ketika-tubuh-berhadapan-dengan-trauma-catatan-hendra-setiawan-tentang-warisan-bunga-hitam)

ketika 2
Warisan Bunga Hitam, kolaborasi antara Lab Teater Ciputat, Indonesia, dan Theatre Company shelf, Jepang yang dipentaskan di Gedung Kesenian Miss Tjitjih Jakarta, 15-16 Agustus 2026 lalu. dok. foto Prataya Paramita

Tapi, di tengah kekuatan gagasan itu, Hendra juga melihat sebuah wilayah yang masih dapat terus dipertajam: hubungan antara teks, tubuh, dan pengalaman traumatis.(Source: kosapoin.com/ketika-tubuh-berhadapan-dengan-trauma-catatan-hendra-setiawan-tentang-warisan-bunga-hitam)

Menurutnya, dalam beberapa bagian, trauma lebih banyak disampaikan melalui narasi. Aktor menceritakan atau mengucapkan pengalaman tertentu, sementara tubuh tidak selalu sepenuhnya masuk ke dalam keadaan emosional yang sama. Bagi Hendra, pilihan tersebut bukanlah sebuah persoalan. Justru, jarak antara tubuh dan narasi dapat menjadi kemungkinan artistik yang menarik apabila dibangun dengan kesadaran dan konsistensi.(Source: kosapoin.com/ketika-tubuh-berhadapan-dengan-trauma-catatan-hendra-setiawan-tentang-warisan-bunga-hitam)

“Tubuh tidak harus selalu memperagakan apa yang sedang dikatakan,” kira-kira demikian arah pembacaan yang muncul dari tanggapannya.(Source: kosapoin.com/ketika-tubuh-berhadapan-dengan-trauma-catatan-hendra-setiawan-tentang-warisan-bunga-hitam)

Ia melihat setidaknya terdapat dua kemungkinan pendekatan. Pertama, aktor dapat membawa tubuhnya masuk sepenuhnya ke dalam pengalaman trauma, membiarkan ingatan, emosi, dan narasi bekerja secara bersamaan dalam permainan. Kedua, tubuh justru dapat mengambil jarak dari trauma yang sedang diucapkan.(Source: kosapoin.com/ketika-tubuh-berhadapan-dengan-trauma-catatan-hendra-setiawan-tentang-warisan-bunga-hitam)

Pilihan kedua, menurut Hendra, dapat menghasilkan lapisan dramaturgis yang kuat apabila dikembangkan lebih jauh. Ketika seorang aktor berbicara tentang pengalaman traumatis, tubuhnya tidak harus menangis, gemetar, atau menunjukkan penderitaan secara langsung. Tubuh bahkan dapat melakukan sesuatu yang berlawanan, asing, atau kontradiktif terhadap narasi yang sedang disampaikan.(Source: kosapoin.com/ketika-tubuh-berhadapan-dengan-trauma-catatan-hendra-setiawan-tentang-warisan-bunga-hitam)

ketika 1
Warisan Bunga Hitam, kolaborasi antara Lab Teater Ciputat, Indonesia, dan Theatre Company shelf, Jepang yang dipentaskan di Gedung Kesenian Miss Tjitjih Jakarta, 15-16 Agustus 2026 lalu. dok. foto Prataya Paramita

Kontradiksi itu dapat membuka kesadaran penonton bahwa trauma tidak selalu bekerja secara lurus.(Source: kosapoin.com/ketika-tubuh-berhadapan-dengan-trauma-catatan-hendra-setiawan-tentang-warisan-bunga-hitam)

Seseorang dapat berbicara tentang luka sambil melakukan sesuatu yang tampak biasa. Tubuh dapat bergerak tenang ketika kata-kata justru membawa ingatan tentang kekerasan. Jarak antara suara dan tubuh kemudian bukan menjadi kelemahan, melainkan bahasa artistik tersendiri.(Source: kosapoin.com/ketika-tubuh-berhadapan-dengan-trauma-catatan-hendra-setiawan-tentang-warisan-bunga-hitam)

Bagi Hendra, apabila Warisan Bunga Hitam memilih untuk menggunakan jarak tersebut, maka jarak itu dapat didorong menjadi lebih tegas dan konsisten. Dengan begitu, penonton tidak hanya menerima cerita tentang trauma, tetapi juga mengalami ketegangan antara apa yang mereka dengar dan apa yang mereka lihat.(Source: kosapoin.com/ketika-tubuh-berhadapan-dengan-trauma-catatan-hendra-setiawan-tentang-warisan-bunga-hitam)

Pilihan terhadap fragmen Macbeth sendiri dinilainya memiliki potensi yang kuat. Salah satu yang menarik baginya adalah kehadiran teks mengenai kematian Lady Macbeth serta pengulangan kalimat terkenal, “Tomorrow, tomorrow, tomorrow.”(Source: kosapoin.com/ketika-tubuh-berhadapan-dengan-trauma-catatan-hendra-setiawan-tentang-warisan-bunga-hitam)

Kalimat tersebut membuka pertanyaan yang melampaui tragedi Shakespeare: apa yang dilakukan manusia setelah melewati sebuah kehancuran?(Source: kosapoin.com/ketika-tubuh-berhadapan-dengan-trauma-catatan-hendra-setiawan-tentang-warisan-bunga-hitam)

Bagaimana seseorang melanjutkan hidup setelah trauma?(Source: kosapoin.com/ketika-tubuh-berhadapan-dengan-trauma-catatan-hendra-setiawan-tentang-warisan-bunga-hitam)

Bagaimana tubuh berdiri kembali ketika sejarah telah meninggalkan luka?(Source: kosapoin.com/ketika-tubuh-berhadapan-dengan-trauma-catatan-hendra-setiawan-tentang-warisan-bunga-hitam)

Pertanyaan-pertanyaan itu terasa sejalan dengan dunia Warisan Bunga Hitam, yang tidak hanya berusaha menghadirkan kembali kisah Macbeth, tetapi menggunakan jejak-jejaknya untuk membaca manusia hari ini.(Source: kosapoin.com/ketika-tubuh-berhadapan-dengan-trauma-catatan-hendra-setiawan-tentang-warisan-bunga-hitam)

Simbol-simbol seperti darah, mimpi, bantal, dan pisau pun menjadi jembatan antara dunia Shakespeare, pengalaman para aktor, dan sejarah yang lebih luas. Darah, misalnya, tidak hanya membawa ingatan pada pembunuhan dalam Macbeth, tetapi juga dapat dibaca sebagai jejak kekerasan yang diwariskan, disimpan, dan terus muncul dalam ingatan kolektif.(Source: kosapoin.com/ketika-tubuh-berhadapan-dengan-trauma-catatan-hendra-setiawan-tentang-warisan-bunga-hitam)

Dari pembacaan Hendra Setiawan, terlihat bahwa Crossing Text 2.0: Warisan Bunga Hitam masih menyimpan banyak kemungkinan untuk terus berkembang. Kekuatan pertunjukan berada pada upayanya mempertemukan teks klasik, biografi personal, sejarah, dan trauma dalam satu ruang penciptaan lintas budaya.(Source: kosapoin.com/ketika-tubuh-berhadapan-dengan-trauma-catatan-hendra-setiawan-tentang-warisan-bunga-hitam)

Sementara itu, tantangan yang masih terbuka terletak pada bagaimana tubuh dapat terus menemukan hubungannya dengan kata-kata.(Source: kosapoin.com/ketika-tubuh-berhadapan-dengan-trauma-catatan-hendra-setiawan-tentang-warisan-bunga-hitam)

Apakah tubuh akan larut ke dalam trauma? Ataukah ia justru menjaga jarak, bergerak ke arah yang berlawanan, dan membiarkan kontradiksi itu berbicara?(Source: kosapoin.com/ketika-tubuh-berhadapan-dengan-trauma-catatan-hendra-setiawan-tentang-warisan-bunga-hitam)

Barangkali, di situlah perjalanan Warisan Bunga Hitam belum selesai. Sebab, seperti tubuh yang terus membawa jejak masa lalu, sebuah pertunjukan pun dapat terus bergerak, berubah, dan menemukan bentuk-bentuk baru setelah tirai pertunjukan ditutup.*** (Source: kosapoin.com/ketika-tubuh-berhadapan-dengan-trauma-catatan-hendra-setiawan-tentang-warisan-bunga-hitam)

Rika Rostika Johara

(Source: kosapoin.com/ketika-tubuh-berhadapan-dengan-trauma-catatan-hendra-setiawan-tentang-warisan-bunga-hitam)

(Source: kosapoin.com/ketika-tubuh-berhadapan-dengan-trauma-catatan-hendra-setiawan-tentang-warisan-bunga-hitam)


Apakah artikel ini membantu?
IP: 216.73.216.11
Negara: United States (Ohio)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *