MENEROPONG KE NEGERI (katanya) GEMAH RIPAH LOH JINAWI

MENEROPONG KE NEGERI katanya GEMAH RIPAH LOH JINAWI

FENOMENA yang cukup menarik dan menjanjikan diawal dekade tahun 2000 adalah sebuah ‘gerakan’ yang secara serentak menjadi tren, yaitu gerakan Cinta Tanah Air. Lebih menarik lagi gerakan ini lahir tidak datang dari propaganda atau himbauan pemerintah, malah muncul dan berkembang secara sporadis dalam masyarakat serta kalangan muda.

Kecintaan terhadap tanah air dimunculkan melalui atribut-atribut ataupun slogan-slogan, seperti misalnya; T-shirt dengan lambang negara, batik berjamaah, atau Aku cinta Indonesia, dan lain-lainnya. Menyenangkan serta menjanjikan sekali apabila fenomena yang lahir, tumbuh dan kembang dari masyarakat. Kita seakan-akan diingatkan untuk menghargai sejarah dan budaya tanah air yang hampir tergeser oleh keberadaan budaya impor, maka dengan serta merta seluruh kawula muda pelosok negeri ini menggemakan ‘rasa’ cinta tanah air dalam bentuk kreatifitasnya, maka bergetarlah Negeri gemah ripah loh jinawi ini dalam ingar-bingar Nasionalisme

Dalam ranah seni budaya sebetulnya sudah lama para seniman dan budayawan yang konsisten berkarya dan berbicara mengenai cinta tanah air ini dalam profesinya, baik dari kalangan yang tua maupun muda. Sebut saja beberapa tokoh dan seniman diantaranya penyair Taufik Ismail, penyair dan cerpenis muda Hanna Fransisca, dari seni musik ada Leo Kristi, Iwan Fals, dan dari seni tari ada Bagong Kussudiardjo, Boy G. Sakti, dari senirupa; Basuki Abdullah, Herry Dim, serta banyak lagi para seniman yang berkarya dalam bidangnya membicarakan tentang cinta tanah air dalam tafsir karya seninya.

Karya seni yang lebih kentara dan lebih dikenal serta bisa dinikmati oleh khalayak secara luas adalah Sinema; karya seni film. Sejak lepas tahun 2005 film-film bertemakan Nasionalisme ini lebih banyak bermunculan, antara lain diawali oleh Film Gie (2005), Denias, Senandung di Awan (2006), King (2009), Tanah Air Beta (2010), Garuda Di Dadaku (2009), Trilogi Merdeka (2009 – 2011), Serdadu Kumbang (2011),  Batas(2011). Tanah Surga… Katanya (2012), Atambua 39⁰ Celcius, 5 Cm (2012), Habibie & Ainun (2013), 9 Summers, 10 Autumns (2013), Mursala (2013),  Tjokroaminoto: Guru Bangsa (2015),   Battle of Surabaya (2015) Film animasi epik berlatar pertempuran 10 November 1945,  Jenderal Soedirman (2015), Kartini (2017), Bumi Manusia (2019), Kadet 1947 (2021), Perang Kota (2025), Merah Putih: One For All (2025) Film animasi Tema cinta tanah air, dan lain sebagainya.

Dari sisi inilah kita sedang meneropong dan diajar tentang sebuah negeri gemah ripah loh jinawi yang sedang carut marut baik sosial budaya, hukum maupun politik. Pembelajaran yang sangat berharga adalah pada saat kita sedang diajarkan oleh sebuah tawaran dari karya-karya seni yang tumbuh dan lahir menjadi sebuah tontonan menjadi tuntunan atau kritikan dalam karya seni film. Upaya telah dilakukan dan dikerjakan secara nyata dalam gagasan yang dibalut dengan kemampuan teknik yang lebih baik oleh para sineas sebagai pertanggungjawaban anak bangsa yang peduli terhadap fenomena yang muncul dari ‘bawah’ akibat dari carur-marut tersebut di atas. Mereka bekerja dan berkarya tak peduli film itu mau laku atau tidak, banyak penonton ataupun tidak; itulah sebuah pertanggungjawaban karya seni.

Terlepas dari beberapa pihak yang menyatakan bahwa Nasionalisme yang tumbuh saat ini lebih pada sebuah kegiatan sentimental ataupun emosi sesaat (semu?), namun para kreator film atau sineas muda ini telah berbicara, bekerja dan berkarya tentang ‘sesuatu’ lewat filmnya mengenai negeri yang sudah hilang ‘ruh gemah ripah loh jinawi’nya ini sebagai negara kesatuan. Hal ini tentu saja lebih baik dari pada fenomena nasionalisme  ini berjalan surut menuju pada  ‘Apatisme’.

Kini pertanyaan dilempar kepada Pemerintah Pusat serta jajarannya: Respon positif serta bantuan apa yang akan dilakukan sebagai pemangku kebijakan dalam meladeni fenomena Nasionalisme yang tumbuh dari ‘bawah’ini, terutama karya-karya film dari anak bangsa? Jangan sampai kita kebakaran jenggot ketika ada ‘sesuatu’ karya anak bangsa di klaim oleh pihak atau negara lain.

“Ini sedang akan diagendakan, bung!”
“Anjrit!” (arti bebasnya: Siap laksanakan!!)

Bandung,  Caladi 2026 (2014)

***

Agus Safari

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *