BATU YANG TAK PERNAH SELESAI merupakan sebuah pertunjukan monolog reading yang dibawakan oleh Giri Mustika Roekmana dalam rangka Festival Teater Dosen Indonesia 2026 yang diselenggarakan oleh Jurusan Teater, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Yogyakarta. Pertunjukan ini dilaksanakan pada 28 Agustus 2026 di Teater Arena Fakultas Seni Pertunjukan Jurusan Teater ISI Yogyakarta. Dalam kesempatan tersebut, Giri Mustika Roekmana mewakili Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan, FKIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Provinsi Banten.(Source: kosapoin.com/batu-yang-tak-pernah-selesai-studi-penciptaan-interteks-mitologi-yunani-sisyphus-dan-pikukuh-baduy-dalam-perenungan-manusia)
Pertunjukan ini merupakan sebuah penciptaan puitika naratif dramatik yang mempertemukan dua ruang kebudayaan yang secara geografis, historis, dan filosofis tampak berjauhan, yakni mitologi Yunani tentang Sisyphus dan Pikukuh Baduy sebagai pandangan hidup masyarakat adat Baduy. Pertemuan keduanya tidak semata-mata menghadirkan perbandingan dua kebudayaan, tetapi menciptakan sebuah ruang intertekstual untuk membaca kembali persoalan manusia: tentang kerja, penderitaan, keteguhan, kepatuhan, kegagalan, kehidupan, serta pencarian makna yang tidak pernah benar-benar selesai.(Source: kosapoin.com/batu-yang-tak-pernah-selesai-studi-penciptaan-interteks-mitologi-yunani-sisyphus-dan-pikukuh-baduy-dalam-perenungan-manusia)
Dalam mitologi Yunani, Sisyphus dihukum untuk mendorong sebuah batu besar menuju puncak gunung. Namun, setiap kali batu itu hampir mencapai puncak, batu tersebut kembali jatuh ke bawah. Sisyphus kemudian harus mengulang kembali pekerjaannya tanpa akhir. Albert Camus, dalam pemikirannya mengenai absurditas, memandang Sisyphus sebagai gambaran manusia yang berhadapan dengan dunia yang tidak selalu memberikan kepastian dan jawaban atas pencarian makna hidup. Dalam pembacaan modern, terutama melalui pemikiran absurditas, mitos Sisyphus menjadi metafora tentang manusia yang terus menjalani kehidupan meskipun sering kali tidak mampu menemukan kepastian atas hasil perjuangannya. Manusia bekerja, membangun, gagal, jatuh, lalu kembali memulai. Kehidupan bergerak dalam putaran yang terkadang terasa absurd, melelahkan, bahkan tidak masuk akal.(Source: kosapoin.com/batu-yang-tak-pernah-selesai-studi-penciptaan-interteks-mitologi-yunani-sisyphus-dan-pikukuh-baduy-dalam-perenungan-manusia)
Namun, BATU YANG TAK PERNAH SELESAI tidak berhenti pada kesimpulan tentang penderitaan dan absurditas manusia. Melalui perjumpaannya dengan Pikukuh Baduy, batu yang terus didorong Sisyphus mendapatkan lapisan makna yang berbeda. Pikukuh Baduy menghadirkan kesadaran tentang keteguhan dalam menjalani kehidupan berdasarkan hukum alam, aturan leluhur, dan prinsip keseimbangan. Dalam konteks ekologi, pemikiran Fritjof Capra relevan untuk membaca hubungan manusia dengan alam. Capra menekankan bahwa kehidupan perlu dipahami sebagai suatu jaringan yang saling berkaitan. Manusia tidak hidup terpisah dari lingkungan, melainkan menjadi bagian dari sistem kehidupan yang lebih luas.(Source: kosapoin.com/batu-yang-tak-pernah-selesai-studi-penciptaan-interteks-mitologi-yunani-sisyphus-dan-pikukuh-baduy-dalam-perenungan-manusia)
Kepatuhan masyarakat Baduy terhadap pikukuh dapat pula dibaca sebagai sebuah bentuk “keabsurdan” dalam pandangan manusia modern. Ketika dunia bergerak semakin cepat melalui teknologi, eksploitasi, dan perubahan yang terus-menerus, masyarakat Baduy justru mempertahankan batas. Mereka memilih hidup dalam keteraturan yang diwariskan leluhur. Mereka menahan diri agar manusia tidak melampaui batas kehidupannya sendiri. Dalam konteks inilah, sesuatu yang tampak keras, kaku, dan konsisten justru dapat dibaca sebagai pondasi keselamatan manusia. Batu dalam pertunjukan ini kemudian tidak hanya menjadi milik Sisyphus. Batu menjelma menjadi simbol tanggung jawab manusia terhadap kehidupan. Ia dapat berupa beban, penderitaan, kewajiban, kesalahan, ingatan, bahkan warisan yang harus terus dijaga. Sementara Pikukuh Baduy menjadi semacam kekuatan untuk mempertanyakan: sampai sejauh mana manusia mampu menjaga keseimbangan ketika keinginan untuk terus bergerak dan menguasai alam semakin besar?(Source: kosapoin.com/batu-yang-tak-pernah-selesai-studi-penciptaan-interteks-mitologi-yunani-sisyphus-dan-pikukuh-baduy-dalam-perenungan-manusia)
Melalui pendekatan teater tutur Macasyech Banten, kekuatan pertunjukan bertumpu pada tubuh dan kata. Tuturan tidak sekadar berfungsi menyampaikan cerita, tetapi menjadi peristiwa itu sendiri. Kata memiliki irama, tekanan, jeda, dan tenaga. Mantra, repetisi, bunyi tubuh, serta perubahan kualitas suara menghadirkan suasana yang mempertemukan tradisi lisan dengan kesadaran manusia modern. Tubuh aktor menjadi ruang tempat Sisyphus dan manusia Baduy saling berbicara, sementara suara menjadi jembatan antara mitologi, tradisi, dan pengalaman manusia masa kini.(Source: kosapoin.com/batu-yang-tak-pernah-selesai-studi-penciptaan-interteks-mitologi-yunani-sisyphus-dan-pikukuh-baduy-dalam-perenungan-manusia)
Dalam bentuk monolog reading, pertunjukan ini juga menciptakan hubungan yang khas antara penyaji dan penonton. Penonton diajak memasuki pertanyaan-pertanyaan tentang batu yang selama ini mereka dorong dalam kehidupan masing-masing. Batu itu mungkin berupa pekerjaan yang tak selesai, perjuangan keluarga, kegagalan yang terus berulang, kerusakan lingkungan, atau tanggung jawab sosial yang semakin berat.(Source: kosapoin.com/batu-yang-tak-pernah-selesai-studi-penciptaan-interteks-mitologi-yunani-sisyphus-dan-pikukuh-baduy-dalam-perenungan-manusia)
Di titik inilah pertunjukan membangun perenungan kolektif. Dialog tidak selalu terjadi melalui percakapan langsung antara penyaji dan penonton, tetapi hadir dalam kesunyian batin. Penonton dan penyaji berada dalam satu kesadaran untuk mempertanyakan kembali kehidupan manusia hari ini: mengapa manusia terus merusak apa yang sesungguhnya menopang kehidupannya sendiri? Gunung yang dieksploitasi, hutan yang ditebang, sungai yang dicemari, mata air yang dikotori, dan tanah yang terus dikuras pada akhirnya menjadi “batu” yang kelak harus didorong kembali oleh manusia. Bencana bukan hanya sebuah peristiwa alam yang datang secara tiba-tiba, tetapi dapat pula menjadi akibat dari ketidakseimbangan yang diciptakan manusia. Dalam perspektif ini, Pikukuh Baduy menghadirkan pesan penting tentang kepatuhan terhadap hukum kehidupan. Manusia harus memahami bahwa menjaga alam bukan sekadar tindakan pelestarian, melainkan cara menjaga keberlangsungan hidupnya sendiri.(Source: kosapoin.com/batu-yang-tak-pernah-selesai-studi-penciptaan-interteks-mitologi-yunani-sisyphus-dan-pikukuh-baduy-dalam-perenungan-manusia)
BATU YANG TAK PERNAH SELESAI pada akhirnya menghadirkan pertemuan antara dua bentuk perenungan. Sisyphus memperlihatkan manusia yang terus berhadapan dengan pekerjaan tanpa akhir. Pikukuh Baduy memperlihatkan manusia yang memilih untuk tetap memegang prinsip agar kehidupan tidak kehilangan keseimbangannya. Yang satu berbicara tentang absurditas perjuangan, yang lain berbicara tentang keteguhan menjaga keteraturan. Dari perjumpaan tersebut lahir sebuah pertanyaan yang terus bergema: apakah manusia terus mendorong batu karena hidup memang tidak pernah selesai, atau karena manusia sendiri terus menjatuhkan batu itu melalui ketidakmampuannya menjaga keseimbangan?(Source: kosapoin.com/batu-yang-tak-pernah-selesai-studi-penciptaan-interteks-mitologi-yunani-sisyphus-dan-pikukuh-baduy-dalam-perenungan-manusia)
Pertunjukan ini menempatkan kehidupan sebagai sebuah perjalanan yang tidak pernah selesai. Manusia terus berjalan, jatuh, bangkit, lalu kembali memikul kehidupannya. Namun, ketidakselesaian itu tidak selalu harus dimaknai sebagai kutukan. Dalam perjalanan yang berulang itulah manusia dapat menemukan kesadaran tentang dirinya, tentang sesamanya, dan tentang alam tempat ia hidup. Mungkin manusia memang tidak akan pernah sampai pada puncak yang benar-benar final. Akan tetapi, manusia selalu memiliki kesempatan untuk memilih cara dalam mendorong batunya: dengan keserakahan atau kesadaran, dengan penghancuran atau keseimbangan, dengan lupa atau dengan ingatan terhadap leluhur dan alam.(Source: kosapoin.com/batu-yang-tak-pernah-selesai-studi-penciptaan-interteks-mitologi-yunani-sisyphus-dan-pikukuh-baduy-dalam-perenungan-manusia)
Karena itu, BATU YANG TAK PERNAH SELESAI bukan sekadar kisah tentang seseorang yang mendorong batu menuju puncak. Pertunjukan ini adalah perenungan tentang manusia yang terus-menerus berhadapan dengan kehidupannya sendiri. Sebuah kesadaran bahwa kehidupan memang selalu bergerak, tidak pernah benar-benar selesai, dan justru di dalam perjalanan yang tak pernah selesai itulah manusia mungkin menemukan makna paling mendasar tentang keberadaannya. Batu itu tetap berat. Jalan tetap menanjak. Manusia tetap jatuh dan bangkit. Tetapi selama manusia masih memiliki kesadaran untuk menjaga dirinya, sesamanya, dan alam yang menopangnya, perjalanan itu tidak akan menjadi sia-sia. [](Source: kosapoin.com/batu-yang-tak-pernah-selesai-studi-penciptaan-interteks-mitologi-yunani-sisyphus-dan-pikukuh-baduy-dalam-perenungan-manusia)

PERSAHABATAN ANTAR SENIMAN PEKERJA TEATER
(Source: kosapoin.com/batu-yang-tak-pernah-selesai-studi-penciptaan-interteks-mitologi-yunani-sisyphus-dan-pikukuh-baduy-dalam-perenungan-manusia)
Negara: United States (Ohio)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown

