MENCARI HIJAU

MENCARI HIJAU

Tema: Kelestarian Alam

(Lampu panggung redup.Terdengar suara hutan: burung, angin, gemericik air. Perlahan suara berubah menjadi bising mesin, gergaji, klakson, dan ledakan. Lampu menyala. DIAN berdiri di tengah panggung, membawa poster bertuliskan: “BUMI BUKAN WARISAN, TAPI TITIPAN”. Wajahnya lelah, tapi penuh amarah yang tertahan)

DIAN:
(tenang, pelan)
Apakah kalian masih ingat…
bau tanah setelah hujan?

(pause)

Bau yang sederhana…
tapi selalu berhasil membuat hati kita tenang…
Apakah kalian masih ingat…
suara daun yang tertiup angin?
Atau jangan-jangan…

(sejenak menatap penonton)

…kita sudah terlalu sibuk mendengar suara uang
sampai lupa suara alam?

(lebih tegas)

Saya berdiri di sini bukan sebagai pahlawan.
Saya bukan orang suci.
Saya juga bukan orang yang paling benar.
Saya hanya… manusia yang lelah.

(lembut)

Lelah melihat sungai berubah warna…
Lelah melihat hutan berubah jadi angka…
Lelah melihat gunung berubah jadi proyek…

(emosi naik)

Dan yang paling melelahkan…
melihat manusia berubah jadi serigala bagi rumahnya sendiri!
(suara tepukan tangan demonstran imajiner)

(mulai berorasi)
Mereka bilang ini pembangunan!
Mereka bilang ini kemajuan!
Mereka bilang ini demi masa depan!

(marah)

MASA DEPAN SIAPA?!
Kalau udara saja kita racuni? Kalau air saja kita kotori? Kalau tanah saja kita racuni?
Apa yang mau kita wariskan?!
Debu?!
Asap?!
Atau… penyakit?!

(pelan, getir)
Lucu ya…
Kita sekolah tinggi-tinggi… kita belajar teknologi… kita bicara kecerdasan buatan…
tapi…
kita gagal menjaga hal paling sederhana:
RUMAH KITA SENDIRI.

(pause panjang)

Bumi ini tidak pernah meminta kita jadi hebat.
Bumi hanya meminta kita… tidak serakah.

(DIAN berjalan perlahan)

Saya pernah masuk ke sebuah desa. Bertemu dengan seorang kakek yang mendongeng tentang masa lalu.
“Dulu… di sana ada hutan lebat, yang bisa melindungi desa dari longsor dan banjir”
Si nenek yang berada di samping ikut nimbrung dalam obrolan. “Betul! Dulu desa kita dikelilingi hutan lebat. Tapi Sekarang?
Yang tersisa hanya papan: “Tanah ini milik perusahaan.”

Hutannya hilang.
Hewannya hilang.
Airnya kering.
Dan manusianya?
(pahit)
Menjadi buruh di tanah yang dulu milik mereka.
(naik emosi)
INI BUKAN KEMAJUAN!
INI PERAMPASAN YANG DIBUNGKUS IZIN!
(menatap tajam penonton)
Kalian tahu apa yang paling menyakitkan?
Bukan alat berat.
Bukan gergaji mesin.
Bukan tambang.
Tapi…
diamnya orang-orang baik.

(pelan)

Karena kerusakan alam… tidak hanya terjadi karena orang jahat…
tapi juga karena orang baik… memilih diam.

(hening beberapa detik)

Hari ini saya tidak minta kalian jadi aktivis.
Tidak.
Saya hanya minta satu hal…
Kalau kalian melihat pohon ditebang sembarangan…
jangan pura-pura tidak lihat.
Kalau kalian melihat sungai dijadikan tempat sampah…
jangan ikut membuang.
Kalau kalian melihat alam dirusak…
jangan bilang:
“Itu bukan urusan saya.”

(tegas)

Karena nanti…
ketika banjir datang…
ketika udara tak bisa dihirup…
ketika air harus dibeli…
alam juga bisa bilang:
“Itu bukan urusan saya.”

(lampu sedikit redup)
(pelan, emosional)

Saya tidak takut kalah.
Saya tidak takut ditertawakan.
Saya tidak takut dianggap gila.
Kalau mencintai bumi dianggap gila…
maka biarkan saya jadi orang paling gila di tempat ini!
(berteriak penuh tenaga)

KARENA SAYA TIDAK MAU ANAK SAYA NANTI…
MELIHAT POHON HANYA DARI BUKU GAMBAR!
TIDAK MAU MEREKA MENGENAL SUNGAI HANYA DARI CERITA!
TIDAK MAU MEREKA BERTANYA:

“Ibu… Ayah… kenapa dulu manusia menghancurkan bumi?”

(suara pecah, hampir menangis)

Dan kita…
tidak punya jawaban.

(hening)
(pelan)

Saya hanya ingin…
ketika suatu hari saya mati…
bumi masih hijau.
Langit masih biru.
Dan manusia…
akhirnya belajar bersyukur.

(menarik napas panjang)

Karena kita semua…
sebenarnya sedang mencari satu hal yang sama.
Bukan kekayaan.
Bukan kekuasaan.
Tapi…
tempat hidup yang layak.

(tempatkan tangan di dada)

Dan hijau…
bukan sekadar warna.
Hijau adalah harapan.
Hijau adalah kehidupan.
Hijau adalah pilihan…
apakah kita mau jadi penjaga…
atau penghancur.

(DIAN mengangkat poster tinggi-tinggi)
(terakhir, tegas)

Saya Dian!
Saya mungkin sendiri!
Tapi suara saya tidak akan berhenti!
Selama masih ada pohon tumbang!
Selama masih ada sungai menangis!
Selama masih ada bumi yang disakiti!
Saya akan terus berdiri!
Saya akan terus bicara!
Saya akan terus melawan!
(berteriak)

KARENA BUMI TIDAK BUTUH KITA!
KITALAH YANG BUTUH BUMI!!!

(lampu meredup. DIAN duduk. Suasana berubah hening. Lalu DIAN mulai menyanyikan lagu penutup dengan nada sederhana seperti lagu perjuangan.)

LAGU PENUTUP (5 BAIT)

Hijau dulu pernah ada
Di hutan dan di desa
Kini hilang satu-satu
Karena tangan manusia

Air jernih kini keruh
Langit biru jadi kelabu
Jika kita tetap diam
Apa jadinya esok harimu?

Mari jaga pohon tua
Mari jaga tanah kita
Bumi ini bukan milik
Kita hanya penjaganya

Jika bukan kita sekarang
Siapa lagi yang berjuang
Jika kita masih diam
Alam akan terus hilang

Genggam tangan bersama
Jaga bumi tercinta
Selama napas masih ada
Hijau akan kita jaga

(Lampu mati. Suara angin dan burung kembali terdengar. Tirai.)

Bandung 31 Maret 2026

SITI PANGGUNG
Baca Tulisan Lain

SITI PANGGUNG

Yusef Muldiyana

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *