Ku berikan kau nyala api. Tiuplah.
Dan kau meniupnya—pelan, lalu keras, sampai api itu membesar, menjilat wajahku, membakar kulitku hingga terkelupas seperti kertas basah.
Aku tidak berteriak. Aku terperangkap. Sakit. Dan anehnya—aku menikmatinya.
Pertama kali aku sadar ada yang salah adalah saat aku melihat tubuhku sendiri di cermin: tidak utuh. Ada bagian yang hilang, seperti dipotong dengan rapi, seperti seseorang yang tahu persis di mana harus menyayat agar tidak langsung membunuh.
Darah mengalir, tapi tidak deras. Seolah-olah luka itu sengaja dipelihara.
“Masih mau lanjut?” katamu, santai, seperti menanyakan kopi atau teh.
Aku mengangguk.
Selalu begitu. Selalu aku yang mengangguk.
Kita menyebut ini permainan. Seperti ekonomi. Seperti yang Niccolò Machiavelli bilang tentang kuasa—yang penting menang, bukan bagaimana caranya.
Kau tahu kapan harus menarik.Kau tahu kapan harus melepas. Aku? Aku hanya tahu bagaimana tetap tinggal.
Aku sering bertanya: kenapa aku selalu memilih yang sama? Wajah berbeda, suara berbeda, tapi pola yang sama. Luka yang sama. Permainan yang sama.
Aku menyebutnya kutukan. Kau menyebutnya: “pilihanmu sendiri.”
Suatu hari, kita duduk berdampingan, layar ponsel menyala di tanganmu. Sebuah halaman berita terbuka. “Merayakan Indonesia,” katamu sambil tersenyum kecil. Di pojok layar, ada kolom kecil—grafisnya menarik, seperti karikatur buatan mesin. Rapi, penuh warna, mudah diakses. Di bawahnya, judul-judul berjejer seperti antrean korban.
Headline hari itu: “Kedatangan Prabowo pada May Day di Monas memperlihatkan keberpihakan pemerintah kepada buruh.”
“Ya… ya… ya…” kau bergumam. Aku tertawa. Atau mungkin itu suara tulangku yang retak.
Indonesia, kataku dalam hati, seperti kita. Jelas-jelas seperti ini. Tapi tetap kucintai. Tetap kubanggakan.
Bukan cinta selembut awan. Ini cinta yang menggigit. Cinta yang meninggalkan bekas.
“Kenapa kamu selalu minta aku mulai?” tanyaku.
Kau tidak menoleh. “Kamu kan kuat.”
Aku ingin tertawa, tapi darah mengisi mulutku.
“Kamu itu ingin,” kataku pelan, “tapi tidak mau terlihat meminta.”
Kau akhirnya menatapku. Matamu dingin. “Dan kamu,” katamu, “selalu datang meski tahu akan hancur.”
Di kepalaku, berita-berita itu berputar:
Indonesia kehilangan investor—padahal peluang ada. Pabrik baterai kendaraan listrik yang batal masuk karena regulasi tak pasti.
Relokasi industri yang lebih memilih Vietnam. Janji-janji yang terlalu lama menggantung.
Misi sekolah rakyat digembar-gemborkan—menyelamatkan anak-anak dari jalanan ibu kota. Tapi di rumah, anak-anak itu dijajah layar.
Screen time jadi penjajah baru. Pemerintah memperingatkan. Tapi pasar gadget dibiarkan membanjir.
“Ini tanggung jawab individu,” kata mereka.
Cuci tangan.
Persis kamu.
Aku menyentuh leherku. Bekas gigitan lama masih ada—menghitam, membusuk sedikit di pinggirnya. “Kamu yang meninggalkan jejak,” kataku.
“Kamu yang terlalu terlihat,” jawabmu cepat.
“Bukan aku.”
Kau berdiri, gelisah. Selalu begitu. Panik. Menutup-nutupi.
Padahal dulu, mengantarku pulang itu biasa saja. Sekarang? Seolah dunia harus dibohongi.
Aku melihat tanganku. Ada sebongkah batu di sana. Entah sejak kapan. Berat. Nyata.
“Kalau aku lempar ini,” kataku pelan, “kepalamu akan pecah.”
Kau tersenyum. “Coba saja.”
Aku tidak melempar. Tentu saja tidak.
Karena permainan ini bukan tentang menang dengan menghancurkanmu. Ini tentang bagaimana aku selalu kalah… tanpa benar-benar mati.
Tubuhku semakin hancur. Kulit terkelupas. Daging terbuka. Beberapa bagian seperti hilang—bukan dipotong kasar, tapi diambil perlahan, seperti seseorang menikmati prosesnya.
Aku masih hidup. Masih mencintaimu. “Aku bahagia,” kataku tiba-tiba.
Kau mengangkat alis.
“Aku sudah bahagia sebelum kamu.”
“Lalu kenapa masih di sini?” tanyamu.
Aku terdiam. Karena itu pertanyaan yang tidak ingin kujawab.
Aku pecundang. Bukan karena aku kalah. Tapi karena aku tidak tahu cara berhenti bermain.
Api itu masih menyala di antara kita. Kau meniupnya lagi. Dan lagi. Dan lagi. Sampai aku hampir habis.
“Sudah,” kataku akhirnya.
“Sudah?” ulangmu.
Aku mengangguk. Darah menetes dari daguku.
“Aku akui,” bisikku, “kamu yang menang.”
Kau tersenyum. Dan untuk pertama kalinya, aku melihatnya dengan jelas—Bukan kemenangan. Tapi kehampaan.
Aku jatuh. Tubuhku hancur di lantai. Tapi di detik terakhir sebelum gelap—aku sadar sesuatu: Permainan ini tidak pernah tentang kamu.
Ini tentang aku … yang selalu memilih untuk Kembali ke api yang sama.***









