Matahari di Salopa mulai condong ke barat. Gemercik riak air menemani dialog saya dengan seorang pria yang selama tujuh tahun terakhir menjadi salah satu kompas spiritual dalam hidup saya. Sebut saja Kang Asep Kurnia. Beliau bukan akademisi dengan gelar yang berderet, bukan atlet dengan medali yang memenuhi lemari, dan bukan pula orang kaya yang mendominasi panggung sosial dengan kekuatan materi. Namun, dalam kesederhanaannya, saya justru menemukan kemewahan makna: hirup nu saestuna (makna hidup yang sesungguhnya).(Source: kosapoin.com/kosyaqata-membumikan-al-quran-berbasis-budaya-sunda)
Sejak 2019, Kang Asep mendedikasikan sebagian besar energi dan pikirannya untuk menghidupkan kembali sebuah komunitas yang belum banyak dikenal masyarakat maupun media. Komunitas itu bernama KOSYAQATA, singkatan dari Komunitas Syarhil Quran Kota Tasikmalaya. Komunitas yang mulai dirintis sekitar 2014 tersebut sempat meredup sebelum kembali bergerak, bahkan sangat pesat dengan ikhtiar Kang Asep. Melalui komunitas ini anak-anak yang memiliki potensi dibidang dakwah dari Kota dan Kabupaten Tasikmalaya dibina agar mampu memahami, menyusun, dan menyampaikan pesan-pesan Al-Quran melalui syarhil Quran.(Source: kosapoin.com/kosyaqata-membumikan-al-quran-berbasis-budaya-sunda)
Mengenal Syarhil Quran(Source: kosapoin.com/kosyaqata-membumikan-al-quran-berbasis-budaya-sunda)
Sebelum mengulas lebih jauh, kita perlu memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan Ayarhil Quran. Syarhil Quran merupakan bentuk penyampaian kandungan Al-Quran yang melibatkan tiga unsur utama: pensyarah yang menjelaskan isi naskah, kecuali ayat dan terjemahannya; qari atau qariah yang bertugas melantunkan ayat; serta sari tilawah yang menyampaikan terjemahan ayat.(Source: kosapoin.com/kosyaqata-membumikan-al-quran-berbasis-budaya-sunda)
Sekilas, syarhil Quran memang tidak jauh berbeda dari ceramah pada umumnya. Namun, sebenarnya terdapat perbedaan pada struktur dan karakter penyampaiannya. Jika ceramah umumnya berfokus pada nasihat keagamaan untuk menguatkan iman dan ketakwaan, syarhil Quran memiliki corak yang lebih tematik dan argumentatif. Karena itu, naskah syarhil Quran memiliki karakter yang berbeda dari naskah ceramah biasa.(Source: kosapoin.com/kosyaqata-membumikan-al-quran-berbasis-budaya-sunda)
Uniknya, sebagai penyunting dan penulis naskah syarhil Quran, Kang Asep tidak hanya menyusun naskah berdasarkan isu-isu aktual, mulai dari persoalan sosial di tingkat lokal hingga sengkarut masalah nasional. Premis setiap naskah disusun berdasarkan data faktual dari sumber-sumber yang kredibel, kemudian dibedah melalui perspektif Al-Quran, hadis, dan tafsir. Pembahasan tersebut selanjutnya diarahkan pada solusi yang berpijak pada kearifan budaya Sunda, sebuah dimensi yang kerap diabaikan dalam syiar agama kontemporer.(Source: kosapoin.com/kosyaqata-membumikan-al-quran-berbasis-budaya-sunda)
Salah satu tema yang ditulis kang Asep dan akan ditampilkan pada Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) cabang Syarhil Quran Tingkat Provinsi Jawa Barat Tahun 2027 yang akan datang ialah ketahanan pangan dan kedaulatan agraria. Persoalan terkait kerusakan lingkungan, eksploitasi sumber daya, dan ancaman terhadap pangan dibaca melalui QS. Ar-Rum ayat 41 tentang kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan manusia, kemudian diperkuat dengan QS. Al-A‘raf ayat 56 tentang larangan membuat kerusakan di muka bumi. Ayat-ayat tersebut dipertemukan dengan penjelasan tafsir klasik karya Ibnu Katsir dan tafsir modern karya Quraish Shihab.(Source: kosapoin.com/kosyaqata-membumikan-al-quran-berbasis-budaya-sunda)
Menariknya, naskah tersebut kemudian menawarkan solusi yang dikaitkan dengan nilai budaya Sunda, yaitu melalui prinsip Panca Niti: Niti Harti, Niti Surti, Niti Bukti, Niti Bakti, dan Niti Sajati. Nilai tersebut digunakan sebagai kerangka etis untuk membangun cara pandang yang lebih bertanggung jawab dalam mengelola tanah, pangan, dan sumber daya alam. Dengan demikian, ketahanan pangan tidak hanya dipahami sebagai persoalan produksi dan distribusi, tetapi juga sebagai persoalan moral, sosial, ekologis, dan kebudayaan.(Source: kosapoin.com/kosyaqata-membumikan-al-quran-berbasis-budaya-sunda)
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa kearifan lokal dapat menjadi medium untuk menerjemahkan pesan Al-Quran ke dalam praktik kehidupan masyarakat. Dalam tradisi masyarakat Sunda, pengelolaan pangan juga memiliki hubungan dengan pengetahuan lokal, pola hidup, serta mekanisme kebersamaan. Kajian yang pernah dilakukan misalnya, mengenai masyarakat Sunda Kasepuhan Ciptagelar, misalnya, menunjukkan peran leuit, saung lisung, dan goah dalam menjaga distribusi serta keberlanjutan pangan masyarakat.(Source: kosapoin.com/kosyaqata-membumikan-al-quran-berbasis-budaya-sunda)
Penulis tertegun melihat keberanian Kang Asep dalam memadukan agama dan budaya secara terbuka. Di tengah zaman yang sering kali mempertentangkan iman dengan tradisi, beliau justru menunjukkan bahwa agama tidak selalu harus hadir sebagai kekuatan yang memutus akar sosial. Sebaliknya, budaya juga tidak selalu berarti warisan yang harus diterima secara naif. Keduanya perlu dipertemukan secara kritis. Agama memberikan arah moral, sedangkan budaya memberikan bentuk konkret agar nilai-nilai tersebut dapat hidup dalam keseharian manusia.(Source: kosapoin.com/kosyaqata-membumikan-al-quran-berbasis-budaya-sunda)
Akhirnya, sore itu di tepi Sungai Salopa penulis melayangkan dua pertanyaan. Pertama, mengapa Kang Asep mendedikasikan begitu banyak waktu dan energi untuk sebuah komunitas yang tidak memberikan keuntungan materi secara langsung? Kedua, mengapa dalam naskah-naskah syarhil Quran yang disusunnya, solusi atas persoalan yang diangkat kerap dirumuskan melalui nilai-nilai budaya Sunda?(Source: kosapoin.com/kosyaqata-membumikan-al-quran-berbasis-budaya-sunda)
Silih Asah, Silih Asih, dan Silih Asuh sebagai Misi Khalifah(Source: kosapoin.com/kosyaqata-membumikan-al-quran-berbasis-budaya-sunda)
Jawaban yang mengalir dari bibirnya sore itu meruntuhkan logika transaksional manusia modern. “Hidup ini bukan selalu tentang mencari keuntungan berupa harta,” tuturnya. Bagi Kang Asep, ada kebahagiaan yang jauh melampaui tumpukan uang, yaitu mengantarkan anak-anak potensial di Tasikmalaya menuju mimpi besar mereka. Mimpi anak-anak itu telah bertransformasi menjadi mimpi besarnya sendiri.(Source: kosapoin.com/kosyaqata-membumikan-al-quran-berbasis-budaya-sunda)
Secara teologis, Kang Asep sedang membumikan konsep khalifah. Manusia diciptakan ke bumi bukan untuk menjadi makelar harta semata, melainkan menjadi mandataris Tuhan yang mengemban misi memakmurkan bumi (‘imaratul ardh) dan membawa rahmat bagi semesta. Akan tetapi, konsep ini tidak cukup dipahami sebagai slogan moral yang indah. Ia harus diuji dalam kehidupan nyata: apakah manusia sungguh memakmurkan bumi, atau justru merusaknya dengan keserakahan, egoisme, dan rasa superioritas? Di titik inilah Kang Asep memilih jalan yang berbeda. Ia memaknai kekhalifahan bukan sebagai posisi yang meninggikan diri, tetapi sebagai tanggung jawab untuk menebarkan manfaat sebagai hamba, salah satunya melalui menulis naskah syarhil Quran.(Source: kosapoin.com/kosyaqata-membumikan-al-quran-berbasis-budaya-sunda)
Ketika ditarik ke dalam ranah tanggung jawab kemanusiaan lokal, konsep khalifah ini berkelindan erat dengan kosmologi masyarakat Sunda: silih asah, silih asih, dan silih asuh. Kang Asep mempraktikkan ketiganya. Beliau bergerak atas dasar cinta kasih yang tulus (silih asih), guna mencerdaskan dan mengasah potensi anak-anak muda (silih asah), sekaligus membimbing serta menjaga mimpi-mimpi mereka agar tidak padam (silih asuh). Di sini budaya Sunda tidak hadir sebagai tempelan romantis, melainkan sebagai etika sosial yang hidup dan bekerja nyata.(Source: kosapoin.com/kosyaqata-membumikan-al-quran-berbasis-budaya-sunda)
Warisan Budaya Lokal dan Nilai Al-Quran untuk Menjawab Persoalan Zaman(Source: kosapoin.com/kosyaqata-membumikan-al-quran-berbasis-budaya-sunda)
Ketika ditanya mengapa solusi dalam naskah syarhil Quran yang disusunnya kerap berbasis budaya Sunda. Kang Asep menjelaskan bahwa budaya tidak lahir dari ruang hampa. Ia diwariskan oleh para karuhun dan dijaga melalui tatali paranti karuhun. Nilai-nilai tersebut dirundingkan, disepakati, diuji oleh waktu, lalu diwariskan sebagai kearifan kolektif yang membentuk cara pandang masyarakat Sunda.(Source: kosapoin.com/kosyaqata-membumikan-al-quran-berbasis-budaya-sunda)
Namun, budaya tidak suci dengan sendirinya. Ia dapat memuliakan manusia, tetapi juga berpotensi membungkam manusia apabila tidak dibaca secara kritis. Karena itu, menyandingkan Al-Quran dengan budaya Sunda bukan berarti menempatkan tradisi di atas wahyu Hal demikian justru merupakan ikhtiar untuk menghadirkan pesan wahyu dalam bahasa yang dapat dipahami oleh masyarakat yang hidup di dalam tradisi tersebut.(Source: kosapoin.com/kosyaqata-membumikan-al-quran-berbasis-budaya-sunda)
Agama memberikan kompas moral, sedangkan budaya menyediakan tubuh, bahasa, rasa, dan estetika agar pesan agama tidak berhenti sebagai gagasan yang mengawang. Mengawinkan keluhuran ayat suci dengan kehalusan budi pekerti Sunda dapat menemukan bentuk yang lebih dekat dengan pengalaman masyarakat.(Source: kosapoin.com/kosyaqata-membumikan-al-quran-berbasis-budaya-sunda)
Namun, strategi ini tetap membutuhkan kewaspadaan. Agama tidak boleh direduksi menjadi formalitas, sementara budaya tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan seluruh tradisi tanpa kritik. Keduanya harus saling mengoreksi, bukan saling meninabobokan.(Source: kosapoin.com/kosyaqata-membumikan-al-quran-berbasis-budaya-sunda)
Berkaca dari KH Ahmad Sanusi menunjukkan bahwa tafsir kerap berinteraksi dengan bahasa, adat, dan problem sosial masyarakatnya. Sebagaimana karyanya yaitu, kitab Tafsir Malja’ aṭ-Ṭalibin fi Tafsir Kalam Rabb al-‘alamin, yang juga dikenal dengan Pangadjaran Bahasa Sunda. Kitab tafsir berbahasa Sunda dengan aksara Pegon ini disusun sebagai ikhtiar untuk merespons polemik keagamaan yang berkembang di wilayah Priangan. Melalui karya tersebut, KH Ahmad Sanusi memperlihatkan eratnya hubungan antara penafsiran Al-Quran, bahasa lokal, dan nilai-nilai budaya Sunda.(Source: kosapoin.com/kosyaqata-membumikan-al-quran-berbasis-budaya-sunda)
Dalam konteks yang berbeda, semangat serupa tampak dalam naskah-naskah syarhil Quran yang dikembangkan Kang Asep pada KOSYAQATA. Al-Quran tidak diletakkan jauh dari kehidupan masyarakat, tetapi dibaca untuk menjawab persoalan yang mereka hadapi dengan bahasa yang dekat dengan kesehariannya.(Source: kosapoin.com/kosyaqata-membumikan-al-quran-berbasis-budaya-sunda)
Merawat Nyala Pengabdian(Source: kosapoin.com/kosyaqata-membumikan-al-quran-berbasis-budaya-sunda)
Dari Kang Asep dan KOSYAQATA, kita belajar bahwa merawat generasi bukanlah perkara seberapa besar panggung yang kita miliki atau seberapa luas liputan media yang kita dapatkan, melainkan tentang ketekunan menjaga nyala api di ruang-ruang kecil, keberanian bekerja dalam diam, dan kesediaan mengabdi tanpa selalu menunggu pengakuan. Kang Asep mengajarkan bahwa dakwah juga dapat hadir dalam bentuk pendampingan, pendidikan, penulisan naskah, dan kesetiaan menemani anak-anak muda menemukan potensi terbaik dalam diri mereka.(Source: kosapoin.com/kosyaqata-membumikan-al-quran-berbasis-budaya-sunda)
Di tepi Sungai Salopa sore itu, saya pulang membawa keyakinan baru: Al-Quran akan selalu menemukan jalan untuk membumi. Ia dapat bersuara melalui bahasa lokal, menyentuh pengalaman masyarakat, dan menemukan bentuk yang akrab dengan kebudayaan tempat manusia hidup.(Source: kosapoin.com/kosyaqata-membumikan-al-quran-berbasis-budaya-sunda)
Membumikan Al-Quran berbasis kearifan budaya Sunda bukan berarti mengubah wahyu agar tunduk kepada tradisi. Ia adalah upaya menghadirkan pesan ilahi melalui bahasa kebudayaan yang hidup, sekaligus memastikan bahwa budaya tetap dibaca, diarahkan, dan dikritik oleh nilai-nilai Al-Quran. Dengan cara itulah, wahyu tidak hanya dipahami, tetapi juga dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.(Source: kosapoin.com/kosyaqata-membumikan-al-quran-berbasis-budaya-sunda)
Negara: United States (Ohio)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown

