Menolak Bayang Diri

kekasih

Kekasih, ada sesuatu yang terasa janggal dalam cara sebagian orang di sekitarku memperlakukan kebenaran. Kebenaran tidak selalu hadir secara utuh. Ia sering kali berubah mengikuti suasana dan siapa yang sedang dihadapi. Aku sering melihat dalam percakapan pribadi antara dua orang, kata-kata muncul secara jujur, tajam, bahkan tanpa ampun. Kejujuran seperti ini tumbuh karena adanya kedekatan yang tidak memerlukan penyaringan kata-kata. Sikap jujur tersebut biasanya langsung diuji ketika seorang akademisi memberikan penilaian terhadap sebuah karya ilmiah milik sang kreator.

Diskusi mengenai karya ilmiah yang baru terbit sering menjadi tempat bagi kejujuran untuk bekerja secara murni. Melalui obrolan empat mata, akademisi itu mengurai kelemahan konsep tersebut secara sangat rinci di hadapanku. Ia menunjukkan argumentasi yang lemah, mempertanyakan metode yang tidak tepat, hingga menimbang manfaat karya yang masih terasa meragukan. Penjelasan tersebut sebenarnya bertujuan menjaga kualitas ilmu agar tidak cacat logika, meskipun ketegasan ini segera diuji oleh perubahan ruang bicara. Namun, kritik yang jernih tersebut nyatanya jarang sekali terdengar sama saat sampai di hadapan publik. Aku menyadari arah kata-katanya mulai berubah ketika pembicaraan berpindah ke forum terbuka dan dihadiri oleh sang kreator. Nada bicara yang tadinya tegas berubah menjadi lunak dan penuh pujian di depan orang banyak. Karya yang sebelumnya dianggap lemah kini disebut menarik dan diberi apresiasi sebagai sumbangan ilmu yang berarti. Pudarnya penilaian yang jujur ini memancing rasa ingin tahuku tentang di mana sebenarnya letak integritas seorang manusia.

Pertanyaan tentang letak integritas itu muncul karena perilaku manusia sering kali terbelah. Seseorang tampak jujur di ruang tertutup. Ia memilih mencari aman saat berada di depan banyak orang. Kebenaran tidak lagi ditentukan oleh isi pemikiran. Kebenaran ditentukan oleh lokasi di mana kata-kata itu diucapkan. Pergeseran wajah ini sebenarnya merupakan cerminan dari sebuah mekanisme batin yang sangat rumit. Namun, kajian psikologi menjelaskan bahwa ketidakkonsistenan ini bermuara pada kondisi disonansi kognitif. Kondisi ini terjadi saat seseorang memiliki dua penilaian berbeda dalam dirinya yang saling bertentangan. Dorongan untuk diterima secara sosial memengaruhi pemilihan kata. Ucapan yang keluar lebih bertujuan menyenangkan orang lain daripada memberikan penilaian yang tepat. Kebiasaan menjaga kesan baik ini kemudian mengkristal menjadi sebuah pola yang merusak kehidupan intelektual.

Pola perilaku tersebut meluas menjadi budaya yang dominan dalam lingkungan yang kusaksikan. Keinginan menjaga hubungan baik berjalan beriringan dengan kebutuhan mempertahankan citra diri. Seseorang bisa menjadi pengkritik yang cermat di satu ruang. Ia menjadi pemberi pujian yang berlebihan di ruang lain. Dualitas peran ini membawa dampak yang jauh lebih buruk daripada sekadar basa-basi sosial. Dampak nyata dari sikap ini adalah tercurinya kesempatan sang kreator untuk memperbaiki kekurangan karyanya. Sang kreator kehilangan ruang belajar yang bermakna karena tidak mendapatkan masukan yang jujur dari rekan sejawatnya. Lingkungan pendidikan pun menerima informasi yang tidak jernih tentang kualitas asli sebuah karya ilmiah. Kepalsuan informasi ini tumbuh subur karena kejujuran memang sering kali tidak membawa kenyamanan bagi telinga yang mendengar.

Namun, ketegangan yang muncul saat menyatakan kebenaran merupakan ujian bagi keteguhan prinsip seorang pemikir. Seorang akademisi harus memilih antara berdiri pada penilaian yang objektif atau mengikuti arah arus yang lebih nyaman. Pilihan sederhana inilah yang menentukan kualitas dari atmosfer intelektual yang kita tinggali sekarang. Lingkungan yang sehat hanya bisa terwujud jika ada keberanian untuk tetap konsisten dalam berkata-kata. Prinsip yang kokoh untuk menyatukan ucapan dan keyakinan sangatlah penting karena tanpa itu kebenaran hanya akan menjadi pajangan yang dipoles. Kebiasaan memoles kebenaran hanya akan melahirkan kepalsuan yang tersusun rapi. Kebenaran tidak benar-benar dihilangkan. Kebenaran ditata sedemikian rupa agar tidak mengusik ketenangan siapa pun. Tata krama yang berlebihan ini menyembunyikan kenyataan pahit bahwa ilmu pengetahuan sedang berhenti bergerak menuju kedalaman.

Kekasih, melihat semua sandiwara di ruang akademik ini membuat pikiranku terbang kepadamu. Bagaimana dengan cinta kita? Jangan-jangan kau pun melakukan hal yang sama di hadapanku. Kau berkata rindu saat menatap mataku, padahal di luarku mungkin kau bercerita tentang kebosanan atau bahkan benci. Aku mulai ragu apakah ketulusan itu memang ada atau kita hanya sedang merapikan kebohongan agar hubungan ini tampak baik-baik saja. Aku takut kita pun sedang menolak bayang diri kita sendiri demi sebuah kenyamanan semu. []


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *