Ilmu yang Kehilangan Keberanian Bertanya

Ilmu yang Kehilangan Keberanian Bertanya

Sore itu sebuah notifikasi WhatsApp masuk dari sahabat saya, Dody Satya Ekagustdiman. Ia mengirimkan sebuah tulisan berjudul Arkeologi Indonesia: Antara Temuan Besar, Klaim Liar, dan Permainan Kekuasaan, karya Mohammad Basyir Zubair (EMBAS). Saya membaca perlahan, semakin jauh membaca, terasa bahwa tulisan itu sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang arkeologi. Tulisan itu sedang berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih mendasar. Yaitu hubungan antara ilmu pengetahuan, kekuasaan, dan keberanian manusia mencari kebenaran.(Source: kosapoin.com/ilmu-yang-kehilangan-keberanian-bertanya)

Zubair mengangkat lima kasus yang tampak berbeda, tetapi sesungguhnya disatukan oleh satu benang merah yang sama. Kisah tentang Hobbit dari Flores, Gunung Padang, misteri Sriwijaya, chattra Borobudur, hingga wacana penulisan ulang sejarah. Hal tersebut memperlihatkan bahwa arkeologi Indonesia, terlalu sering menjadi arena tarik-menarik kepentingan. Di sana, temuan ilmiah tidak selalu bertemu dengan kejujuran ilmiah. Data sering kali harus berhadapan dengan ambisi, simbol politik, identitas nasional, bahkan ego kelembagaan. Ketika ilmu pengetahuan memasuki wilayah kekuasaan, yang dipertaruhkan bukan hanya kesimpulan penelitian, melainkan keberanian untuk mengatakan apa adanya.(Source: kosapoin.com/ilmu-yang-kehilangan-keberanian-bertanya)

Yang paling mengusik pikiran saya, justru bagian terakhir, “Menulis Ulang Sejarah: Ketika Negara Ingin Menjadi Pengarang Tunggal.” Sejarah, yang semestinya lahir dari dialog panjang antara bukti, penalaran, dan kritik, berpotensi diperlakukan sebagai narasi yang harus seragam. Padahal ilmu pengetahuan tumbuh karena keberanian mempertanyakan narasi yang telah mapan. Ketika sejarah hanya boleh ditulis dalam satu suara, sesungguhnya yang sedang dibungkam bukan masa lalu, melainkan masa depan.(Source: kosapoin.com/ilmu-yang-kehilangan-keberanian-bertanya)

Percakapan itu kemudian membawa saya pada kenyataan yang lebih dekat, dunia penelitian kita hari ini.(Source: kosapoin.com/ilmu-yang-kehilangan-keberanian-bertanya)

Beberapa tahun terakhir, proposal penelitian semakin dibakukan secara nasional, format serta bab-babnya seragam. Cara berpikirnya sering kali ikut diseragamkan. Standar tentu diperlukan agar penelitian memiliki mutu dan dapat dipertanggungjawabkan. Namun pertanyaannya, sampai di mana standar membantu ilmu pengetahuan, dan sejak kapan standar mulai mengendalikan cara manusia berpikir?(Source: kosapoin.com/ilmu-yang-kehilangan-keberanian-bertanya)

Bukankah penelitian selalu lahir, dari keberanian mengajukan pertanyaan yang belum pernah diajukan?(Source: kosapoin.com/ilmu-yang-kehilangan-keberanian-bertanya)

Ironisnya, dalam praktik sehari-hari, tidak sedikit peneliti yang justru lebih sibuk memastikan proposalnya sesuai format, dibanding memastikan pertanyaannya benar-benar penting. Energi intelektual habis untuk menyesuaikan margin, menyusun matriks, mengisi tabel luaran, dan memenuhi berbagai persyaratan administratif. Yang mula-mula hendak dicari adalah pengetahuan, namun akhirnya, yang lebih sering dicari adalah tanda tangan persetujuan.(Source: kosapoin.com/ilmu-yang-kehilangan-keberanian-bertanya)

Ketika administrasi menjadi pusat perhatian, kreativitas perlahan bergeser ke pinggir. Penelitian berubah menjadi pekerjaan memenuhi prosedur, bukan lagi petualangan intelektual.(Source: kosapoin.com/ilmu-yang-kehilangan-keberanian-bertanya)

Pada titik ini, saya teringat pada metafora kacamata kuda yang pernah saya tulis. Kuda, sesungguhnya memiliki bidang pandang yang jauh lebih luas daripada manusia, tetapi justru dipasangi penutup agar hanya melihat lurus ke depan, sesuai arah kusir. Bukankah sebagian sistem penelitian kita perlahan sedang bergerak ke sana? Peneliti diberi ruang berpikir, tetapi hanya di dalam koridor yang telah digambar. Mereka bebas berinovasi, selama inovasi itu tetap mengikuti pola yang sudah tersedia. Mereka didorong berpikir kritis, tetapi tidak terlalu kritis terhadap sistem yang sedang mereka jalani.(Source: kosapoin.com/ilmu-yang-kehilangan-keberanian-bertanya)

Mengutip istilah Doni M.N, lamat-lamat, penelitian tidak lagi menjadi ruang menemukan kemungkinan-kemungkinan baru. Penelitian berubah menjadi jalur produksi yang melahirkan laporan-laporan yang rapi, tetapi miskin keberanian.(Source: kosapoin.com/ilmu-yang-kehilangan-keberanian-bertanya)

Di sisi lain, saya juga teringat pada metafora sepasang sepatu. Sepatu yang baik selalu sesuai dengan ukuran kaki pemiliknya. Terlalu sempit akan melukai, terlalu longgar membuat langkah kehilangan keseimbangan. Setiap orang, tentu memerlukan ukuran yang berbeda untuk dapat berjalan dengan nyaman.(Source: kosapoin.com/ilmu-yang-kehilangan-keberanian-bertanya)

Bukankah penelitian pun demikian?(Source: kosapoin.com/ilmu-yang-kehilangan-keberanian-bertanya)

Tidak semua persoalan sosial, dapat diselesaikan dengan metodologi yang sama. Tidak semua pengetahuan lahir melalui format proposal yang identik. Penelitian tentang sejarah, memiliki napas yang berbeda dengan penelitian teknik. Penelitian seni, bergerak dengan logika yang berbeda dari penelitian eksperimental. Ketika seluruh keragaman itu dipaksa mengenakan “sepatu” metodologis yang sama, yang terjadi bukan peningkatan kualitas, melainkan penyempitan imajinasi ilmiah.(Source: kosapoin.com/ilmu-yang-kehilangan-keberanian-bertanya)

Lebih mengkhawatirkan lagi, budaya administrasi yang berlebihan membuka ruang bagi lahirnya berbagai penyimpangan. Ketika proposal menjadi syarat yang semakin rumit, muncullah mereka yang menjadikan kerumitan itu sebagai komoditas. Muncul praktik penyusunan proposal pesanan, perantara yang menawarkan jalan pintas, manipulasi data agar sesuai dengan target luaran. Bahkan tidak sedikit penelitian yang sejak awal sudah mengetahui kesimpulan apa yang ingin dibuktikan.(Source: kosapoin.com/ilmu-yang-kehilangan-keberanian-bertanya)

Ilmu pengetahuan perlahan berubah menjadi transaksi.(Source: kosapoin.com/ilmu-yang-kehilangan-keberanian-bertanya)

Penelitian kehilangan kejujuran, bukan karena para penelitinya tidak cerdas, melainkan karena sistem lebih menghargai kepatuhan administratif daripada integritas intelektual.(Source: kosapoin.com/ilmu-yang-kehilangan-keberanian-bertanya)

Padahal esensi penelitian bukanlah membuktikan bahwa kita benar. Esensinya adalah kesiapan menerima kemungkinan, bahwa kita selama ini keliru. Seharusnya, di situlah letak martabat seorang peneliti. Ia tidak membela egonya, namun membela kebenaran, sejauh dapat dijangkau oleh bukti dan nalar.(Source: kosapoin.com/ilmu-yang-kehilangan-keberanian-bertanya)

Karena itu, yang sesungguhnya perlu dibangun bukan sekadar pedoman penelitian yang semakin tebal, melainkan ekosistem ilmiah yang semakin dewasa. Ekosistem yang memberi ruang bagi pertanyaan-pertanyaan yang tidak populer. Yang menghargai perbedaan metodologi.(Source: kosapoin.com/ilmu-yang-kehilangan-keberanian-bertanya)

Yang melindungi peneliti ketika hasil temuannya tidak sesuai dengan kepentingan politik, ekonomi, maupun kelembagaan.(Source: kosapoin.com/ilmu-yang-kehilangan-keberanian-bertanya)

Yang menganggap kritik sebagai vitamin ilmu pengetahuan, bukan ancaman.(Source: kosapoin.com/ilmu-yang-kehilangan-keberanian-bertanya)

Bangsa yang besar tidak dibangun oleh penelitian yang selalu menghasilkan jawaban yang menyenangkan penguasa. Bangsa yang besar dibangun oleh keberanian mempertanyakan apa yang selama ini dianggap selesai. Roda sejarah intelektual manusia, digerakkan oleh kerendahan hati sekaligus keberanian moral untuk meragukan diri sendiri. Perkembangan ilmu pengetahuan, tidak terjadi karena suatu kepastian. Namun, karena adanya orang-orang yang berani bertanya dengan lantang bagaimana jika jalan yang kita tempuh selama ini keliru?”(Source: kosapoin.com/ilmu-yang-kehilangan-keberanian-bertanya)

Itulah pelajaran terbesar yang saya pahami, setelah membaca tulisan tentang arkeologi sore itu. Persoalannya bukan hanya tentang fosil, candi, atau sejarah yang diperebutkan. Persoalannya adalah, apakah kita masih memiliki keberanian mempertahankan penelitian sebagai ruang pencarian kebenaran. Atau justru membiarkannya berubah menjadi panggung. Tempat format, kepentingan, dan kekuasaan bergantian mengenakan “kacamata kuda” kepada para peneliti, lalu memaksa mereka berjalan dengan “sepatu” yang ukurannya tidak pernah benar-benar sesuai.(Source: kosapoin.com/ilmu-yang-kehilangan-keberanian-bertanya)

Jika itu yang terjadi, maka yang sesungguhnya sedang hilang bukan hanya kebebasan akademik, melainkan keberanian sebuah bangsa untuk berpikir merdeka. (jbp 06/07/2026)(Source: kosapoin.com/ilmu-yang-kehilangan-keberanian-bertanya)

Jossy Belgradoputra M.H.

Apakah artikel ini membantu?
IP: 216.73.216.90
Negara: United States (Ohio)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *