Raden Aria Wangsakara (1615-1681), pada November 2021, ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo. Beliau digelari pahlawan karena perjuangannya dalam membantu dan memimpin pasukan kesultanan Banten melawan Belanda, dan juga sekaligus sebagai pendiri Tangerang. Raden Aria Wangsakara dinyatakan wafat pada tahun 1681, setelah berperang melawan VOC di Ciledug. Raden Aria kemudian dimakamkan di Lengkong Kyai, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang.(Source: kosapoin.com/aria-wangsakara-teureuh-sumedang-nu-ngadegkeun-tangerang)
Raden Aria Wangsakara merupakan keturunan Kerajaan Sumedang Larang, dan lahir di Sumedang sekitar tahun 1615 dari pasangan Pangeran Wiraraja I dan Nyi Mas Cipta Putri (kalau dihitung waktu pada tahun 1600-an, besar kemungkinan Pangeran Wiraraja I adalah Raden Aria Wirareja, putra kedua Pangeran Geusan Ulun dengan Nyi Mas Cukang Gedeng Waru). Bersama keluarganya dan dua kerabat yakni Aria Santika dan Aria Yuda Negara, pada tahun 1632, memilih untuk meninggalkan Sumedanglarang dan kemudian pergi ke wilayah yang sekarang dikenal sebagai Tangerang di tepi Sungai Cisadane.(Source: kosapoin.com/aria-wangsakara-teureuh-sumedang-nu-ngadegkeun-tangerang)
Ditempat tersebut, beliau diberi izin untuk melindungi daerah ini oleh Sultan Abul Mafakhir, dan mendirikan pemukiman baru, yakni Kesultanan Lengkong Sumedang, di tepi barat Sungai Cisadane dengan dirinya sebagai sultan daerah dengan nama Sultan Lengkong dibawah kesultanan Banten. Selama memerintah di sana, dia dikatakan telah bekerja untuk menyebarkan Islam di wilayah sekitarnya, serta mendirikan pesantren pada tahun 1640-an.(Source: kosapoin.com/aria-wangsakara-teureuh-sumedang-nu-ngadegkeun-tangerang)
Pada awal tahun 1636 diutus ke Mekkah oleh Sultan Banten saat itu, Sultan Abul Mafakhir untuk memohon legitimasi keagamaan bagi Sultan Banten, dan menyalin sejumlah kitab-kitab terutama dalam bidang tasauf dan mempelajarinya di bawah bimbingan sejumlah ulama Mekkah. Peran menonjol Aria Wangsakara dalam misi ini adalah berhasil menyalin kitab-kitab tasauf, Insan Kamil Karya Syeikh Abdul Karim al-Jilli dan menterjemahkannya ke bahasa Jawa-Banten dan sejumlah kitab pelajaran Islam lainnya. Aria Wangsakara menjadi salah satu utusan Raja Banten, Mahmud Abdul Qodir untuk pergi bertemu dengan pemimpin di Mekah bernama Sultan Syarif Zaid bin Muhsin. Raden Aria berangkat bersama rekannya bernama Lebe Panji dan Tisnajaya. Tujuan utamanya adalah agar Banten mendapat pengakuan sebagai kesultanan Islam di tanah Jawa.(Source: kosapoin.com/aria-wangsakara-teureuh-sumedang-nu-ngadegkeun-tangerang)
Pada awal 1650-an, Perusahaan Hindia Timur Belanda membangun sebuah benteng di tepi seberang dari pemukimannya untuk menandakan batas wilayah kekuasaan mereka di daerah tersebut (wilayah Angke). Di Angke itu, masing-masing pasukan awalnya hanya menahan diri meski dekat dan saling berhadap-hadapan. Baru pada hari ke delapan pertempuran keduanya pecah. Wangsakara memimpin doa agar pasukan Banten memenangkan perang dan menghancurkan kompeni. Setelah perang sehari, kedua pasukan kemudian jeda selama tiga hari.(Source: kosapoin.com/aria-wangsakara-teureuh-sumedang-nu-ngadegkeun-tangerang)
Aria Wangsakara diberi mandat oleh Sultan Ageng Tirtayasa untuk memimpin peperangan melawan VOC Mei 1658 – Juli 1659. Bahu-membahu dengan Raden Senapati Banten, ia melakukan koordinasi seluruh kekuatan perang dan logistik dalam menghadapi pasukan kompeni di Tangerang.(Source: kosapoin.com/aria-wangsakara-teureuh-sumedang-nu-ngadegkeun-tangerang)
Pasukan Banten kemudian sepakat menggunakan strategi perang dadali dengan menyebar pasukan mengelilingi daerah musuh. Ada yang ke arah timur mengelilingi Jakarta bahkan ada yang bertugas membakar perkebunan. Strategi ini rupanya berhasil dan pasukan Banten dapat merebut beberapa benteng pertahanan milik Belanda. Ada yang menguasai benteng Belanda di Sudimara, hingga ada yang bisa menerobos ke timur Ciangke.(Source: kosapoin.com/aria-wangsakara-teureuh-sumedang-nu-ngadegkeun-tangerang)
Ratusan orang meninggal dunia, sebagian besar mereka memiliki anak dan istri, yang tentu perlu dipikirkan nasibnya pasca kematian suami mereka. Raden Aria Wangsakara kemudian membentuk sebuah taskforce, semacam kelompok kerja untuk meregistrasi jumlah yatim dan janda, kemudian memberikan santunan kepada mereka secara rutin. Pertempuran tak henti-henti berlangsung selama tujuh bulan. Namun, warga Tangerang juga tak pernah patah arang dan memaksa Batavia untuk berunding mengakhiri peperangan yang merugikan mereka. Hingga akhirnya, mereka berhasil mempertahankan Lengkong dari Belanda.(Source: kosapoin.com/aria-wangsakara-teureuh-sumedang-nu-ngadegkeun-tangerang)
Pertempuran itu berakhir begitu ada perjanjian damai pada Juli 1659. Salah satu perjanjian itu menyepakati batas wilayah kekuasaan antara Kesultanan Banten dan kompeni Belanda yang menguasai Batavia. Salah satu pasal dari sepuluh pasal dalam perjanjian damai yang ditandatangani pada 10 Juli 1659 itu disebutkan kedua belah pihak bersepakat untuk menentukan batas wilayah Banten dan Batavia dengan tapal batas Sungai Cisadane sejak dari muara, daerah pegunungan sampai Angke-Tangerang yang jatuh ke tangan kompeni.(Source: kosapoin.com/aria-wangsakara-teureuh-sumedang-nu-ngadegkeun-tangerang)
Wangsakara adalah seorang dalem (Sultan negeri bawahan), ulama dan pejuang Muslim keturunan Kerajaan Sumedang Larang yang dianggap sebagai pendiri Tangerang. Sebagai pendiri Tangerang, sebuah jalan besar di kota ini dinamai menurut namanya (Jalan Arya Wangsakara). Makamnya, yang dikelilingi oleh makam ulama lain dari daerah itu, juga dijadikan situs sejarah resmi oleh Kabupaten Tangerang dan telah lama dikunjungi secara rutin oleh para peziarah. Banyak penduduk Banten juga mengaku sebagai keturunannya, termasuk sejumlah ulama yang mengaku sebagai keturunannya dan kelompok pengikut aslinya.(Source: kosapoin.com/aria-wangsakara-teureuh-sumedang-nu-ngadegkeun-tangerang)

