Mangandeuh dalam Syajarotun Sejarah

Mangandeuh dalam Syajarotun Sejarah oleh Widi S Kudo

Syajarotun itu bukanlan sejarah yang kita kenal selama ini sebagai cerita masa lalu entah peristiwa, kisah, foklore atau yang lainnya. Ia hanyalah sebuah istilah. Masa lalu itu komponen tanah, benih, bibit, akarnya, batang, ranting, daun, dahan. Jadinya suatu pohon yang besar, kokoh, rindang, saat ini itulah sebagai sejarah. Proses membentuk pohon itu sangatlah panjang, dan umurnya yang kokoh saat ini mengisyaratkan yang bisa kita lihat. Coba lihat saja itu di sekelilingmu. Pohon yang berdiri tegak hari ini adalah saksi bisu dari jutaan detik yang bergerak dalam diam. Akar-akar tua di bawah tanah sana telah meminum ribuan jenis air, menelan emosi zaman, dan Menyusun ingatan yang tak sempat tertulis oleh manusia. Artinya, prosesi terbentuknya pohon itu mengalami banyak keadaan zaman, mulai dari zaman para dewata, Brahmana, ksatria, sudra, waisya, zaman buta ijo, zaman new order, zaman wis akhir. Periodesasi zaman itu membuat sejarah mempunyai nilai, bentuk dan fungsi yang beragam.

Keberagaman sejarah ini menuntut kita untuk bersikap bijak dalam memandangnya. Tidak bisa yang telah ada itu kita salahkan, seandainya tidak sesuai. Namun tidak bisa pula kita biarkan bila yang telah menjadi itu akan di hancurkan. Di sisi lain, tidak bisa kita paksakan yang baru untuk tumbuh dalam keadaan ekosistem hutan raya yang sudah rusak. Perlu ada pemurnian dalam lahan tanah yang baru. Perlu kita siapkan bibit dan benih baru yang akan kita tanam, serta perlu kita upayakan perencanaan perawatan. Lebih dari itu, perlu kita pikirkan tentang masa panennya itu mau kita jual atau manfaatkan bersama. Terang dan jelasnya itu memerlukan proses yang panjang. Artinya, segala sesuatu yang bernilai itu tidak pernah dilahirkan dari ketergesaan. Sebab, menanam sejarah bukanlah seperti membalik telapak tangan—ia adalah seni bersabar menanti tunas pertama memecah sunyinya tanah. Setiap jengkal pertumbuhannya adalah titipan takdir yang tidak boleh kita paksa mekar sebelum waktunya gelap.

Ikhtiar ini jangan dianggap akan mulus mulus saja, karena tentunya ada “gangguan” yang harus kita kendalikan. Ada mangandeuh yang menempel dalam perjalanan sejarah. Ia menyelinap di antara dahan, mengisap sari pati, dan kadang menyamarkan bentuk asli sang pohon. Ia tumbuh subur dari kelalaian kita yang kerap lupa memeriksa pucuk-pucuk dahan tertinggi. Oleh karena itu, sejarah kita harus diselamatkan, di ruwat, dirawat, dijaga, dan harus digarap dengan lebih teliti. Kesungguhan itu modalnya dalam setiap ikhtiar, sebab mun keyeng tangtu pareng. Wujudnya bisa sejarah tentang teks, naskah, narasi, bisa tentang karakter, bisa sejarah tentang tradisi, seni, budaya, atau bisa berupa bangunan, artepak, petilasan dan seterusnya, yang mewarisi dari generasi ke generasi. Ada cabang dalam sejarah yang itu adalah bagian terpenting dalam syajarotun itu sendiri, sebuah percabangan tempat di mana kebenaran dan mitos sering kali tumbuh dalam melilit.

Namun, jangan pula terburu-buru menganggap buruk manganeuh, sebab itu juga makhluk allah yang harus dikelola. Kehadirannya boleh jadi adalah cara semesta menguji daya tahan sang pohon, sebagaimana belatung yang menggerogoti kulit Nabi Ayub, dan bagaimana Nabi Ayub menyikapinya. Mangandeuh mengajarkan sang pohon untuk memperkuat urat akarnya sendiri, mencengkram bumi lebih dalam agar tidak mudah tumbang oleh beban luar. Begitulah khalifah, begitulah khilafiyahnya, sampai di mana kita sadar bahwa rahmaan-rahiim itu mesti diletakan di wajah khalifah.

Terlalu jauh berbicara khalifah, saya takut disebut sok tahu. Apalagi ketika mengingat dalam suatu forum musyawarah itu. Sangat lancangnya mulutku ini mengatakan kita harus faham antara tugas ulama dan umaro. Umaro harus mengatakan yang benar adalah benar yang salah adalah salah. Ketegasan semacam itu sering kali berbenturan dengan realitas di akar rumput. Meski pada kenyataannya kita manusia desa yang sangat mengutamakan kebijaksanaan, akan tetapi tetap ada kebijakan yang harus dijalankan. Kita harus paham kapan harus mengaliri, kapan harus membatasi. Sebab di tingkat bawah, urusan perut dan ketenangan hidup bernegara sering kali melarutkan garis tegas antara kebenaran mutlak dan kompromi harian.

Dan esok harinya tiba, keadaan itu rupanya masih sama sebagaimana sebelumnya. Saya yang mencoba mengurusi mangandeuh dengan berbagai macam upaya dari berbagai macam pohon, akhirnya tersadar—saking terlalu lamanya mangandeuh itu diam di pohonnya, proses fotosintesinya tak akan merubah dirinya secara instan dalam sekejapan mata. Mengubah tabiat yang sudah mengakar menuntut kesadaran yang melampaui waktu. Kita tidak bisa mencabut paksa parasit yang sudah terlanjur menyatu dengan urat nadi inangnya tanpa risiko membunuh pohon itu sendiri. Maka, biarkanlah ia menunggu ngelilir, menjadi lebih sebagai Syajarotun yang tersadar bahwa sekujur tubuhnya telah diselimuti rambatan itu. Kelak, angin zaman akan meilah sendiri mana dahan yang sejati dan mana benalu yang menumpang mati. Sebab pada simpulnya, pohon yang sejati akan tetap berbuah, sedangkan parasit hanya akan menjadi kayu kering yang rapuh. Husnudzon saja. []

Widi S Kudo

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *