Ngobrol Salse Bersama Mantan Santri Kalong

Ngobrol Salse Bersama Mantan Santri Kalong 1

Memang, kalau bertemu spontan dengan teman lama yang pernah jadi santri kalong itu seringkali mendapatkan obrolan tak diduga yang mengalir begitu saja secara spontan. Hal ini bagi saya sangat unik dan menarik. Meski dalam suasana “ngobrol salse”. 

Obrolan hangat perlahan mengalir begitu saja seperti sebuah diskusi panjang mengenai banyak hal. Dimulai dari perihal berbagai tayangan dokumenter budaya di media sosial sampai perspektif syariat islam mengenai tayangan tersebut.

Memang, tak bisa dipungkiri, dalam dinamika modern saat ini, sering kali muncul visualisasi ekspresi penghormatan terhadap simbol atau benda tertentu yang memicu ruang dialog menarik di masyarakat mengenai batasan antara pelestarian adat dan tuntunan keyakinan.

“Saya mah jadi inget waktu zaman masantren,” ucap teman lamaku itu. “Di dalam Al-Qur’an itu sebenernya ada dua model ungkapan perihal sujud kepada selain Allah. Pertama, ada yang bentuknya perintah: Yaitu pas Allah memerintahkan para malaikat untuk sujud kepada Nabi Adam. Nah, di sini para ulama ahli tafsir sebagian berkesimpulan: perintah sujud tersebut bukan sebagai perintah untuk menyembah Nabi Adam, tapi murni untuk memberikan penghormatan. Ada juga sebagian ulama yang menafsirkeun bahwa sujud kepada Nabi Adam itu sebagai bentuk syariat dan aturan yang mesti dilaksanakan pada zaman itu, tapi, aturan itu sudah tidak berlaku lagi saat ini. Ada juga yang menyebutkan perintah sujud itu untuk menunjukkan bahwa Allah sebetulnya tidak membutuhkan sujud makhluk-Nya.”

“Kedua, di Al-Qur’an juga model ungkapan sujud kepada selain Allah itu disampaikan juga dalam bentuk larangan saklek. Conto ayat: Laa tasjuduu lis-syamsi walaa lil-qomar. Yang artinya janganlah kalian sujud kepada matahari dan jangan pula sujud kepada bulan. Nah, ayat inilah yang jadi pegangan syariat kita sekarang. Dan dari ayat ini juga lahir hukum syariat haram bersujud kepada selain Allah. Dan keharamannya pun bersifat mutlak, dan gerakan sujud itu hanya diperuntukkan kepada Sang Pencipta sebagai bentuk penghambaan dan ketauhidan. Tapi jika hanya sekedar membungkukkan badan dan tidak sampai pada posisi sujud yang bertujuan sebagai penghormatan atau sopan santun maka itu masih diperbolehkan.”

“Lalu bagaimana jika posisi sujud kepada selain Allah itu dilakukan oleh para ahli tasowwuf? Maka hal itu sudah termasuk kepada kategori ‘Ghuluww’ atau berlebihan. Dan ini termasuk pada kategori bid’ah, sebab sudah bertentangan dengan aturan syariat.”

“Maka dari itu tasawwuf juga tidak bisa sambarangan. Amaliah tasawwuf itu harus sesuai dengan syariat dan fiqih. Jika tidak sesuai bisa menjerumuskan seseorang ke dalam kategori ‘Zindiq’. Prinsipnya, ekspresi spiritualitas juga harus sesuai dan beriringan dengan syariat,” tegas teman lamaku itu.

“Wah, obrolan tasawwuf atau obrolan tentang keilmuan sufi ini ternyata unik dan menarik, ya. Sangat mencerahkan untuk memandang fenomena simbolik yang berkembang di ruang publik saat ini,” timpalku.

“Ya… Hanya sekadar ingat waktu zaman masantren… Hahaha,” dia tertawa spontan gembira. “Ya, seingatku itu yang saya ingat sampai sekarang,” lanjutnya.

“Terus, bagaimana arti simbol posisi tubuh saat solat? Dari mulai berdiri tegak, terus mengangkat kedua tangan mengucapkan takbir, terus ruku’, kemudian sujud, dan terus posisi duduk tahiyat? Apa makna dibalik gerak tersebut?,” tanyaku.

“Semua sebagai simbol syukur, ta’dzim mengagungkan, takrim memuliakan, ta’abbud penghambaan, tahrim penghormatan. Satu lagi: tadloorru’ merendahkan diri dan rendah hati,” jawabnya.

“Pada intinya mah begini: syariat Islam itu tidak hanya berkutat pada simbol yang bisa dimaknai. Tapi ada banyak juga syariat islam itu sebagai aturan yang tidak harus dipertanyakan dan tidak harus menuntut logika supaya mengerti,” lanjutnya sambil sedikit tertawa. “Sebab ranah ibadah itu adalah wujud kepatuhan yang tulus.”

“Silakan saja perhatikan, rakaat solat emang bisa dilogikakan? Terus waktunya emang bisa dilogikakan? Terus perintah Allah kepada Nabi Musa ketika diminta untuk mencari pembunuh tapi Allah malah memerintahkan untuk mencari sapi betina berwarna kuning, emang bisa dilogikakan? Haha… Kan semua juga di luar logika.” terangnya kemudian.

“Jadi ingat kepada Guru Saya, yang pernah berbicara begini: Makanya kalau nanya urusan syariat itu jangan sembarangan. Apalagi jika dicocokologikan secara keliru dengan budaya… Hahaha… Sebab syariat mah saklek, kudu berdasar sanad dan sumbernya,” lanjutnya.

“Namun persoalan seperti ini teh memang membutuhkan pemahaman yang mendalam. Terutama dalam menempatkan porsi aturan agama dan aturan bernegara secara proporsional.”

“Makanya bagi saya pribadi: Pancasila mah Pancasila saja sebagai falsafah bernegara. Hukum Islam mah ya hukum Islam saja sebagai panduan syariat. Keduanya memiliki ruang dan fungsinya masing-masing. Heuheu… Gimana tah menurut akang? Heuheu…” ia pun bertanya.

“Betul… Kalau disambung-sambungkan ke Hukum Syariat Fiqih mah saklek pisan… Tapi kadang kalau dibawa ke dalam masalah tauhid tasawuf, ada sebagian kalangan yang menilai bahwa tasawuf mah tidak memiliki sandaran yang kuat karena tidak dibahas eksplisit di dalam haditsnya… Tapi kalau ditanya oleh kita dan dibalikkan lagi: Apa sebabnya di dalam Kitab Suci Al-Qur’an tidak ada dua Kalimat Syahadat secara tekstual yang langsung menyatu? Tidak ada kecap Muhammad yang digandeng langsung dalam susunan kalimat itu, adanya juga Rasul… 300 Tahun setelah Kanjeng Rasul Wafat, baru deh di dalam hadis kodifikasinya secara eksplisit menyatukan dua kalimat syahadat,” jawabku.

“Ah, itu mah pandangan yang umum dari sebagian kalangan saja… Kami mah tetap melihat bahwa tasawuf itu harus sesuai dan sejalan dengan syariat,” timpalnya.

“Di dalam Al-Qur’an juga sebenarnya banyak kalimat laa ilaaha illallaah itu… Ada yang langsung dan ada yang memakai kata ganti… Dan di Al-Qur’an juga ada kata Muhammad… Tinggal cari ayat: muhammadur-rosuulullaah wal-ladziina ma’ahuu asyiddaa’u ‘alal kuffaar ruhamaa’u bainahum,” lanjutnya.

“Hadis juga kan sebenarnya sudah ada ketika Kanjeng Rasul masih hidup… Hanya saja baru dikumpulkan di akhir abad kedua Hijriah… Itu juga tidak sembarangan… Seleksinya juga ketat… Makanya kenapa ada ilmu musthalah hadis, rijalul hadits dan sebagainya,”

“Yang lucu itu, kalau ada sebagian orang di jaman sekarang yang dengan mudah menilai dlo’if hadis yang kedudukannya sudah jelas sahih sekaligus mutawatir,” tegasnya sambil tersenyum.

“Kalau ayat: muhammadur-rosuulullaah wal-ladziina ma’ahuu asyiddaa’u ‘alal kuffaar ruhamaa’u bainahum… Itu adanya di Surat apa?” tanyaku padanya.

“Ada di surah Al-Fath… Ayat 29…” jawabnya.

“Mohon maaf Kang.. belum terjawab… perihal solat secara semiotika…? Ini menurutku sangat menarik untuk dikaji, secara makna simbol gerak rupa bunyi… Bagaimana meletakkan esensi ketauhidan ini agar pemaknaan budaya dan spiritualitas kita tetap berada di jalurnya masing-masing?,” tanyaku kemudian.

“Takbiratul ihram itu simbol penghormatan dan pengagungan sekaligus pengakuan… Berdiri simbol pengakuan dan syukur… Rukuk simbol pengagungan… Sujud simbol penghambaan… Duduk di antara dua sujud simbol merendahkan diri dan menghadap dan memohon kepada Allah… Tahiat akhir simbol pengakuan dan penerimaan… Salam simbol rahmat untuk semua alam…” jawabnya.

“Tinggal resapi saja makna semua bacaan di dalam setiap gerakan solatnya… Dari situ juga ketemu isinya…” lanjutnya.

“Bacaan solat juga kan tidak ada di dalam Al-Qur’an mah. Kalau selain Al-Fatihah mah… Kalau perintah gerakan nya mah ada banyak di dalam Al-Qur’an juga… Hanya saja tidak diurutkan ketertibannya harus bagaimana,” tegasnya.

“Tapi ada keterangan seperti begini;

• ALLAH = ALIF, LAM, LAM, HA = BERDIRI, RUKUK, SUJUD… = Tegakkan Laku Lampah Baik… • Takbiratul Ihram = TASYDID…

• MUHAMMAD = MIM – HA – MIM – DAL = ar-Rahman – ar-Rahim – Maliki – yaumid-Din,” kataku.

“Itu juga bisa… Dan ada sumbernya juga dari beberapa ahli tarekat seperti Syattariyah, Tijaniyah, Qusyairiyah, Qadiriyah, Naqsyabandiyah, dan tarekat Ibnu Arabi,” jawabnya.

“Namun semua aliran tarekat juga tidak ada yang meninggalkan solat secara syariat yang diatur di dalam fiqih… Jadi jangan mentang-mentang sudah mengamalkan sebagian makna dari simbol solat lalu solatnya sendiri tidak dilakukan. Dan jangan mentang-mentang sudah mengamalkan makna simbol solat yang universal tapi syariat yang lainnya masih saja dilanggar… Sebab esensi batiniah harus selaras dengan ketertiban lahiriah,” lanjutnya.

Gerakan solat juga kan ada simbol Muhammad—mim, ha, mim, dal… Itu juga menunjukkan bahwa mengikuti Muhammad itu bukan hanya sekadar mengikuti nilai moral universal saja… Termasuk di dalamnya juga tata cara ibadahnya… Ya begitu juga sebaliknya, untuk yang sudah mengikuti Muhammad di dalam tata cara ibadah jangan berhenti di situ, tapi ikuti juga nilai universal luhur Kanjeng Nabinya,” lanjutnya.

Rahman, Rahim, Maliki Yaumiddin itu maknanya bukan hanya sekadar menyayangi yang tampak di permukaan… Tapi juga di dalamnya menyimpan kebijakan dan aturan yang tegas… Jangan dikira yang memberikan teguran terhadap hal yang kurang tepat tidak rahman rahim... Itu juga sama rahman rahim sekaligus ingat kepada maliki yaumiddin… Jangan dikira juga yang menyampaikan aspirasi kebaikan itu tidak rahman rahim... Itu juga rahman rahim sekaligus maliki yaumiddiin… Dan jangan juga dikira yang memberitahu kepada yang belum tahu itu tidak rahman rahim… Itu juga aplikasi dari rahman rahim sekaligus maliki yaumiddin,

“Jadi intinya… Tegakkan laku lampah baik itu harus punya timbangan yang jelas juga… Laku lampah baik kata siapa…? Kata Allah…? Kata Rasul…? Kata perasaan? Kata keinginan? Atau kata nafsu?”

“Sama perkaranya ketika meminta petunjuk jalan yang lurus… Jalan lurus kata siapa? Sebab ekspresi visual atau kebiasaan budaya di tengah masyarakat, harus tetap diletakkan di bawah timbangan nilai yang sahih agar tidak melenceng,”

“Soalnya, hari ini mah agak tipis-tipis membedakan mana laku lampah baik kata Allah dan Rasul dengan laku lampah baik kata nafsu, kata budaya, kata adat, kata komunitas, kata netizen, dan kata tren di media sosial teh... heuheu…,” pungkasnya sambil tertawa tipis.

Hatur Nuhun, kang. Ya… begitulah keseimbangan di dalam Syariat, Hakikat, Tarekat, dan Makrifat harus dilakukan… di dalam hasilnya; penyayang, pengasih, dan mencintai (mencapai target hakikatnya ar-Rahman ar-Rahim)… Lewat obrolan ini, kita bisa lebih bijak memandang luar luasnya khazanah budaya, dengan tetap menjaga kemurnian nilai-nilai ketauhidan yang saklek.

Sekian Terima Kasih;
Bandung, 05 Juni 2026

ENIGMA LIMA KUNCI
Baca Tulisan Lain

ENIGMA LIMA KUNCI

Dody Satya Ekagustdiman

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *