Malam itu, di sebuah kedai tua pinggir jalan pertelon, sebagaimana biasanya ruang-ruang kedai tua tersebut tak pernah lepas dari kepulan asap rokok, dan tentu saja ragam narasi mengalir dari orang-orang yang ada di sana. Seperi halnya racau yang meluncur nyaring dari mulut seorang pemuda yang tiba-tiba saja menggebrak meja, sembari menatap botol di tangannya dengan pandangan kosong;
“Kini aku tak percaya lagi pada yang ngomong perihal minuman yang berbusa itu bisa memabukkan. Kalau memang jenis itu dapat memabukkan kenapa pula dijadikan jamuan istimewa dalam rampak bersulang dengan dalih untuk kesehatan? Artinya, selama ini aku dibodohi. Bagaimana tidak? Nyata sudah penggilingan besar-besaran dalam hasil razia oleh stum tak ubahnya trik dan intrik pada sebuah pertunjukan. Tontonan teatrikal yang megah, lengkap dengan kamera wartawan dan wajah-wajah pasrah para pedagang kecil yang barang dagangannya digilas besi, sementara di tempat lain, gelas-gelas kristal berisi cairan serupa tetap berdenting meriah di ruang ber-AC.” Tandasnya laju menegak cairan yang tersimpan dalam botol yang dipegangnya itu.
Seorang tua yang ada di sampingnya tertawa ngakak, tapi seorang muda itu tak menghiraukannya, justru racaunya kian menjadi: “Dengarlah, tak perlu menunggu sejahtera dulu untuk meminumnya. Ya, bukankah dalam memetik sejahtera itu diperlukan tubuh yang sehat? Diperlukan jiwa yang sehat? Diperlukan pikiran yang sehat? Maka jelas sudah bahwa fungsi minuman itu untuk kesehatan, iya bukan? Baiklah, kalian boleh membantahnya dan masih percaya dengan jawabannya itu: bukan. Iya kan? Kini soalnya itu adalah, kalau memang bukan, kenapa di zaman digital ini, yang mana di saban penjuru bumi, kita bisa menyaksikan peristiwa itu berlangsung. Semua terpampang nyata di layar ponsel kita: parade kemunafikan yang disiarkan langsung secara gratis, di mana aturan dibuat seolah untuk dilanggar oleh pembuatnya sendiri, dan logika diputarbalikkan demi sebotol legalitas.”
Seterusnya seorang mud aitu mengenakan jaketnya, kemudian naik ke atas meja, lakunya menirukan gaya penyanyi legendaris rock n’roll, tapi kiranya ia tak pandai menyanyi hanya menirukan Gerakan mulutnya saja: “Maafkanku wahai orang tua, aku pergi tanpa kepala, sebab kini kepala itu perlu disimpan, guna bisa merasakan betapa sakitnya ruang pikir. Ya, dalam situasi dan kondisi yang tak seimbang ini, siapakah sesungguhnya yang kini harus bisa dipercaya? Mungkin besok kita akan mendengar kabar bahwa pestisida pun baik untuk pencernaan, dan kita semua—dengan patuh—akan bersulang merayakannya.”
Aku tak mengerti dengan racaunya seorang muda itu, toh aku datang ke kedai tua itu, katanya ada pentas monolog dan aku ingin menontonnya. []









