Di Kantin, sambil makan dalam jam istirahat. Orang-orang di sana sibuk bicara perihal rupiah melemah. Mereka mendadak jadi ekonom, sepertihalnya di musim liga, banyak sudah gantiin Om Manila sebagai komentator sepak bola. Bahkan ada yang bilang jika rupiah mencapai angka 17.845 artinya benar-benar merdeka. Kenapa pula harus panik dengan melemah? Lamat-lamat saya penasaran juga dengan semua isi meja yang topiknya sama persis, perihal rupiah melemah. Meski saya tak bisa berkomentar, soalnya kalau bicara ekonomi patokan saya hanya pada harga gorengan.
Ya, sebagaimana yang sudah-sudah kala BBM naik, harga gorengan ikut naik, itulah ekonomi meski harga BBM turun tapi harga gorengan tak ikut juga turun bahkan dari mulai harga 25 kini 1000 perbijinya. Lamat-lamat saya pun tak bisa menahan diri, akhirnya ikut bicara juga: “Kenapa sih kalian pada panik?” tanya saya pada mereka. Namun dari pandangan mereka yang menatap saya, seolah tengah menatap mangsa. Di mata saya, mereka pun sama seperti segerombolan srigala. Gila. Saya jadi panik sendiri.
“Ya, karena melemah itu jelek!” ucap kawan yang model rambunya meniru Jhon Lenon. Saya mengangguk. Lalu saya ingat pada padanan kata: “Tapi bukankah makna lemah itu tanah?” Taka da yang menjawab, mereka malah kian menatap sinis. Barangkali mereka tak mengerti akan bahasa, pikir saya. Akhirnya saya kembali berucap: “Begini, bukankah makna lemah itu tanah alias bumi? Artinya rupiah itu tengah membumi. Bukankah membumi itu megandung makna yang positif?”
Teman di depan saya berhenti mengunyah, sorot matanya seperti tajam mata elang yang liar mencari mangsa, fokus pandangnya tepat ke arah saya. Ah, barangkali tu hanya perasaan saya saja. sebaiknya saya lanjutkan saja bicara: “Bukankah selama ini orang-orang disuruh membumi? Artinya harus dekat dengan rakyat. Harus menapak tanah. Harus rendah hati. Jadi sebenarnya rupiah itu sedang menjalankan nilai-nilai luhur bangsa? Katakanlah, mungkin atau bahkan ketika semua orang ingin naik setinggi langit atawa naik daun, rupiah memilih turun untuk menapaki bumi?”
Meja kantin mendadak hening. Mereka saling menatap laju fokus semua pandangan menatap saya. Saya bingung dibuatnya. Sampai akhirnya seorang dari mereka berkata sambil menatap struk harga makanannya yang baru saja naik dan sudah bersemayam di perutnya: “Kalau begitu, gaji saya sudah sangat membumi. Bahkan hampir masuk ke dalam tanah beserta segenap isi dompetnya.” Lamat-lamat mereka tertawa sambil menggotong tubuh saya ke luar kantin. []









