UNGGUT KIWA

unggut kiwa oleh Bambang Subarnas

Kolaborasi musik death metal dengan seni rupa

Unggut kiwa (Sunda: anggukan kiri) adalah judul peristiwa seni yang digunakan oleh perupa Aria Sudrajat dan Vincent Rumahloine dalam kolaborasi antara musik deathmetal dengan aksi melukis (action painting) Aria Sudrajat. Frasa Unggut Kiwa dipilih untuk menegaskan pilihan ideologis ini di jalur kiri, sebuah jalur “perlawanan kiri” non kapitalistik.

unggut kiwa

Bertempat di sebuah galeri di kampung Jelekong, Kabupaten Bandung, pada Sabtu malam, 30 Mei 2026. Bangunan yangng berfungsi sebagai galeri dan rumah singgah itu didirikan tahun lalu oleh Yayasan Bubuara Jelekong Indonesia (YBJI) yang didirikan oleh kedua perupa tersebut. Melalui program-programnya YBJI  bercita-cita untuk memajukan seni dan budaya Jelekong pada era kontemporer ini dengan jargon “jelekongisme”.  imbuhan isme pada nama jelekong  itu menunjukkan wawasan ideologis yang menegaskan bahwa lukisan jelekong sebagai sebuah kubu estetik yang memiliki sejarahnya sendiri.  Untuk itu mereka telah membangun suprastrukturnya berupa lembaga yayasan, dan infrastrukturnya berupa galeri dan rumah singgah bagi seniman.

Jelekong -seperti yang sudah banyak diketahui – adalah sebuah kampung sentra seni lukis dan pedalangan wayang golek. Asep Sunandar Sunarya (alm), salah satu dalang wayang golek terkemuka berada di Jelekong. Terletak di pinggiran kota Bandung bagian selatan, wilayahnya dikelilingi oleh pabrik-pabrik dan perumahan yang menggantikan pesawahan. Bisa dibayangkan bagaimana kondisi sosial budaya di kawasan itu, sebuah transisi kritis dari masyarakat tani menjadi masyarakat urban.

Lukisan dari Jelekong dikenal sebagai “lukisan Jelekong” karena gaya lukisannya yang khas yaitu pemandangan alam yang indah: gunung biru tersaput awa, sawah menguning, air sungai mengalir jernih dan pepohonan yang rimbun. Gaya lukisan pemandangan seperti itu juga terdapat di Banyumas, Jawa Tengah dikenal sebagai lukisan Sukaraja.  Di dalam sejarah seni rupa Indonesia, lukisan pemandangan seperti itu pernah dikritik sebagai lukisan dengan sudut pandang kolonial yang tidak mencerminkan kenyataan bangsa Indonesia yang tengah menderita akibat penjajahan.  Soedjojono (1913-1985) salah seorang pendiri kelompok PERSAGI pernah menyindir lukisan pemandangan seperti itu dengan sebutan “lukisan mooi indie” (Indonesia Indah), lukisan “kebelanda-belandaan”.

unggut kiwa 2
Perupa Vincent Rumahloine (kiri) dan Aria Sudrajat (kanan).

Di tengah tradisi lukis jelekong, ini merupakan gagasan yang mencuat (sunda : mecel; jawa: nylentha) dari status quo lukisan jelekong sepanjang perjalannya sejak 1970-an. Mengikuti pemikiran Michel Focault dalam pembentukan sistem pengetahuan, fenomena seperti ini disebut sebagai retakan (rapture), yaitu cuatan pemikiran baru yang tidak harus linier dengan paradigma yang sedang berjalan. Cuatan yang bersifat diskontinyu dari sejarah seni lukis Jelekong yang tengah berjalan. Tentu, proklamasi jelekongisme itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang – bukan hanya – memiliki keberanian, tetapi juga yang memiliki wawasan yang cukup tentang keseni rupaan. Biarlah waktu yang akan menjadi penguji gagasan itu. Sejalan dengan hal itu, keberadaan Yayasan yang didirikan tahun 2025 itu telah menjadi bagian dari ekosistem seni lukis jelekong dan menambah simpul komunitas seni yang mulai bertumbuhan di kawasan Bandung Selatan.

unggut kiwa 4


Ihwal kolaborasi semalam (30 Mei 2026), boleh dikata merupakan eksperimen menarik, khususnya bagi masyarakat Jelekong. Saya menyebutnya eksperimen karena – seperti dikatakan oleh Vincent- idenya bermula dari tongkrongan warung kopi yang saat bertemu dengan kelompok musik death metal Porriture yang kemudian bersepakat untuk berkolaborasi dengan seni rupa sambil bertanya apa jadinya 2 media seni itu digabungkan. Maka jadilah peristiwa kolaborasi  malam itu.

Sekira pukul 20.00 malam itu acara yang ditunggu dimulai. Di dalam ruang galeri ukuran sekira 6 x 6 m sebuah tirai plastik transparan menggantung di tengah ruangan membentuk kubus. Didalam kubus plastik itu Aria Sudrajat duduk diatas alas kanvas. Pertunjukan dimulai dengan satu nomor pembuka yang dibawakan oleh kelompok musik Popriture dari Kabupaten Bandung. Dibawah sorotan lapu berwarna merah, musik meraung-raung didalam ruangan. Melalui soundsystem sedang di dalam ruangan seukuran itu, suara musik deathmetal terasa menghentak padat. Pada musik nomor kedua tiba-tiba cat menghambur keluar melintasi kubus plastik itu. Terlihat Aria Sudrajat menggebukan ikatan kain yang sudah dicelupkan kedalam cat. Aksinya penuh tenaga. Ia tidak berada diluar kanvas, tetapi berdiri diatasnya. Gerakannya memutar, menghantam, menggosok mengikuti raungan musik death metal, hingga Aria terkapar di ujung nada terakhir musik. Aksi itu berlangsung sekira 20 menit, terasa terlalu panjang menyebabkan Aria nampak nyaris kehabisan momen ekspresifnya.  Hasilnya? Personil musik Bermandi keringat, pakaian aria berlumuran cat, dan audiens menghembuskan nafas panjang: hhhhhh…. sementara kanvas yang dilumuri cat itu masih berada didalam kubus plastik hanya bisa terlihat samar. Cat masih basah. Bagi saya, hasil action painting itu kira-kira sudah terbayang, yang – boleh dibilang – berharga adalah pengalaman audiens yang terlibat secara emosional dalam skena itu. Lukisan hanya jejak, tapi peristiwa bersama, itulah yang dibawa oleh audiens hingga ke alam mimpi. Rrrrrroooooaaaarrrr…… [30/05/2026]

Bambang Subarnas

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *