SKETSA PADA SUATU PERISTIWA

cerpen SKETSA PADA SUATU PERISTIWA karya Agus Safari

            Seruan itu bagaikan sebuah hipnotis. Membuat semua orang bergerak dan bertindak diluar kesadarannya masing-masing. Sambil membawa senjata tajam mereka melakukan serangan terhadap desa tetangganya. Sementara itu di desa yang akan dituju, orang-orang sembunyi dan lari menyelamatkan diri masing-masing; takut dan ngeri.

            Rombongan orang-orang kalap itu merangsek masuk desa, sambil berteriak-teriak liar. Apa yang ada di depan mereka; disabet parang dan dihancurkan. Para penduduk setempat kocar-kacir menyelamatkan diri ke dalam hutan, sementara yang lain ada juga yang sembunyi di rumahnya, menunggu kemalangan datang.

            Keliaran mereka sepertinya tak surut padam, bahkan ketika mereka mendapatkan lima ekor kambing, dibabat dan dicincang sampai hancur. Daging berserakan, kepala kambing terpisah lalu ditancapkan di atas pagar bambu dekat kandang kambing itu. Tentu saja pemandangan itu sangat mengerikan. Binatang yang tak berdosa pun dibantai. Dan lebih sadis lagi, ketika seorang kakek tua berlari perlahan memasuki rumahnya, namun ia dihalau dan digusur dengan kasar oleh mereka ke tempat yang lebih luas. Semua orang bersorak-sorai. Dan Cras! Cras! Tubuh kakek itu sudah bersimbah darah. Mereka tak peduli teriakan kakek itu minta ampun dan minta tolong. Pada kondisi seperti ini siapa yang mau menolong?

            Dan lagi-lagi seruan itu bagaikan sebuah hipnotis. Mereka serentak menyiram kakek itu dengan kepuasaan yang sangat, dan seseorang menyalakan korek api,

Lalu… byaaar..! Semuanya menutup hidung karena bau yang sangat menyengat dari pembakaran tubuh yang berkelojotan, dan mereka pun meninggalkan tubuh itu untuk mencari mangsa lain.

            Seluruh desa itu di obok-obok dengan keliaran masal. Penduduk desa berlarian, menangis, menjerit-jerit dan melolong kesakitan…… 

Kemudian entah bagaimana mereka menemukan persembunyianku. Dengan sebuah seruan, mereka mengejarku dalam ayunan senjata-senjata tajam. Melihat kengerian manusia yang telah berubah wujud itu, aku lari menyelamatkan diri. Tujuanku adalah hutan. Mereka mengejarku dengan teriakan-teriakan histeris yang membuatku merinding. Tiba-tiba aku terperosok sebuah lubang dan kakiku terkilir, dengan merayap aku mencoba untuk menyelamatkan diri, namun apa daya tenagaku terkuras habis hingga aku pun terkulai pasrah. Sementara orang-orang itu dengan keliarannya makin mendekati. Dalam sekejap aku sudah dikelilingi manusia-manusia liar ini dengan senjata tajam di tangan masing-masing. Dan lagi-lagi seruan itu bagaikan sebuah hipnotis. Serentak dengan keliarannya mereka mengayunkan senjatanya ke tubuh yang sudah terkulai ini, lalu senjata-senjata itu makin mendekati tubuhku dan….

            “Aaaaaaaaaakkhhh….!!” Tiba-tiba aku terbangun bersimbah keringat  membasahi bantal, tempat tidur dan bajuku. Dengan nafas yang terengah-engah aku mencoba untuk mengatur secara perlahan-lahan, hingga akhirnya mulai tenang.

            “Aaah, lagi-lagi mimpi buruk….,” bisikku sambil melihat jam dinding yang telah menunjukkan pukul 02.23. Kuraih rokok lalu kunyalakan. Satu hisapan rokok dengan perasaan lega dan lelah menemani istirahat dari mimpi buruk ini. Memang mimpi ini acapkali selalu hadir dalam setiap tidurku. Sudah lama hal ini berlangsung, hingga aku sendiri tak ingat, ini malam keberapakalinya.

            Memang sejak selamat dari peristiwa kejaran orang-orang suku Dayak yang membantai orang Madura, aku selalu dilanda mimpi buruk itu. Bahkan saat ini pun aku masih belum bisa makan, karena selalu mual perutku bila diisi.

            Kata orang-orang yang membawaku ke aula yang jadi rumah sakit dadakan ini, mereka urung menghabisiku karena dari bau tubuhku bukan orang Madura, hingga aku dilepaskan oleh mereka. Dan selanjutnya aku sudah di sini.

            “Kenapa manusia hanya dalam sekejap bisa berubah menjadi animalian? Apa mereka sudah tidak punya kendali lagi?. Aku tidak tahu apa yang menyebabkan semua itu; berubah wujud. Homo homini lupus. Aku ingat seorang kawan mengatakan tentang situasi seperti ini. Katanya masyarakat sekarang sudah terjangkit semacam penyakit psikopat agresif. Masyarakat sudah tak punya kontrol sosial lagi karena banyak faktor, lalu yang muncul adalah agresifitas diluar kontrol dirinya sendiri dan ujungnya adalah keliaran.”

            Kupejamkan mataku sambil berbaring lagi. Aku ingat betul bagaimana sahabatku diburu dan digusur ke tengah jalan, lalu dibantai dan kemudian kepalanya tiba-tiba saja menggelinding terpisah dari tubuhnya, dan di simpan di atas tugu tembok batas desa. Sementara aku hanya melihat saja tak berbuat apa-apa di tempat persembunyian yang akhirnya mereka temukan juga.

            Berpuluh-puluh bahkan beratus manusia dibantai oleh sebuah seruan yang membuat seseorang bahkan puluhan orang terhipnotis. Keliaran-keliaran yang tampil adalah sebuah wujud dari masa lalu yaitu; purba. Manusia kembali pada wujud peradaban lama, hingga tak jelas lagi sosoknya. Mereka semuanya menyatakan bahwa mereka yang benar dengan penuh emosional, padahal mereka tidak menyadari secara perlahan mereka sudah berubah wujud, menjadi manusia berkepala binatang. Binatang tidak punya kontrol; sekali serang mangsa harus dapat tanpa ampun, begitu hukumnya.

            Di sebelahku tergeletak sesosok tubuh yang sangat demikian parahnya. Tangan kiri dan kakinya entah di mana. Ia bisa diselamatkan karena kebetulan polisi menghalau para animalian itu. Ia tidak bisa bicara, hanya pandang matanya saja yang nanar dan kosong. Tentu saja ia tidak mengerti kenapa ini, ada apa ini? Yang tadinya rukun dan saling membutuhkan, kini berubah jadi arena pembantaian. Ah, pertiwiku yang sudah tidak bhineka lagi. Bercerai berai. Entah siapa yang tertawa penuh kepuasaan melihat ini semua.

            Sebenarnya aku sudah boleh pergi, karena aku relatif tak mengalami luka hanya tergoncang saja. Namun mereka membutuhkan tenaga sukarelawan untuk di bangsal ini, tenaga sangat kekurangan karena sebagian pada pergi meninggalkan tempat ini takut jadi korban. Tanpa kuasa aku menolak permohonan mereka, maka akupun mengurungkan niat untuk kembali ke Rajapolah, kota kecil pusat kerajinan yang tenteram di Tasikmalaya Jawa Barat. Hei, apa kabar jakarta? Apa di sana tergerak atau tersentak dengan keliaran di sini? Atau sama saja di jakarta juga lebih liar hanya mungkin terbungkus dengan sangat manis, ya? Udara di sini pun sudah tak ada yang bersih, semuanya sesak bau kebencian. Ah, tentu saja udara Jakarta berbeda kan? Di sana udara sudah berbau duit, ya. Wah, gawat dong, kalau udaranya sudah begitu, tidak bakalan tersentak dengan peristiwa di sini. Pastinya juga hanya rame sesaat, kan? Setelah itu kembali pada udara itu lagi kan? Sinting, betul-betul sinting!

            Tiba-tiba monolog ini terputus oleh sebuah teriakan histeris dari lolongan panjang. Aku bangun dan keluar bersama tiga orang tenaga sukarelawan lainnya. Dan lagi-lagi kudengar dengan sangat jelas sekali sebuah seruan yang membuat orang-orang terhipnotis. Maka dengan keyakinan dan sedikit rasa kemanusiaan yang tersisa, aku dan tiga orang itupun menerobos memasuki kegelapan subuh ini dengan ketidakpastian, persis seperti negeri ini penuh dengan ketidakpastian. Maka dengan harapan yang tak pasti itu pun kami menembus sebuah seruan yang membuat orang-orang terhipnotis dengan naluri kemanusiaan. Kemanakah arah tujuan ini?

Entahlah. []

RUMAH TAK LAYAK HUNI
Baca Tulisan Lain

RUMAH TAK LAYAK HUNI

Agus Safari

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *