Evolusi Struktur dan Budaya Politik

evolusi struktur dan budaya politik

Demak–Mataram dan pada Awal Politik Sentralisasi Jawa(Source: kosapoin.com/evolusi-struktur-dan-budaya-politik)

Kesultanan Demak dan kemudian Kesultanan Mataram membangun model kekuasaan yang cukup berbeda dari banyak pola politik Nusantara sebelumnya. Di banyak wilayah Nusantara lama: kekuasaan lebih cair, berbasis konfederasi, maritim, dan relatif plural. Sebagai contohnya: jaringan pelabuhan Melayu, Sunda Pajajaran, Bugis-Makassar, Bali, atau masyarakat adat pedalaman. Sedangkan Mataram membangun model; teritorial, agraris, hierarkis, dan sangat terpusat pada raja. Raja dipandang sebagai pusat kosmos dan legitimasi politik.(Source: kosapoin.com/evolusi-struktur-dan-budaya-politik)

Di sini lah mulai muncul pola; sentralisasi, kontrol wilayah, homogenisasi budaya, dan perluasan pengaruh Jawa ke daerah lain. VOC Tidak Menghapus Struktur Itu — Dan justru memanfaatkannya, VOC itu tidak selalu menghancurkan struktur lokal. Dalam banyak kasus, VOC justru: memakai elit lokal, memanfaatkan konflik kerajaan, dan mempertahankan aristokrasi pribumi sebagai alat administrasi kolonial.(Source: kosapoin.com/evolusi-struktur-dan-budaya-politik)

Dalam konteks Jawa: VOC menemukan bahwa sistem birokrasi Mataram sangat efektif untuk kontrol rakyat. Akibatnya terjadi simbiosis; kolonialisme Eropa, dengan feodalisme lokal. Ini penting. Karena kolonialisme di Indonesia bukan murni kekuasaan asing, tetapi juga hasil kolaborasi antara: modal kolonial, birokrasi lokal, bangsawan, dan elite priyayi.(Source: kosapoin.com/evolusi-struktur-dan-budaya-politik)

Lahirnya “Jawanisasi” Kekuasaan(Source: kosapoin.com/evolusi-struktur-dan-budaya-politik)

Istilah “Jawanisasi” sering dipakai untuk menggambarkan dominasi; simbol, bahasa politik, birokrasi,
dan cara pandang kekuasaan Jawa dalam negara modern Indonesia. Ini tidak selalu berarti dominasi etnis Jawa secara biologis, tetapi dominasi; kultur politik, mentalitas birokrasi, dan simbol kekuasaan ala Mataram. Sebagai contohnya: konsep pusat–daerah yang sangat hierarkis, budaya paternalistik, pemimpin sebagai “bapak”, harmoni di atas konflik terbuka, dan kecenderungan kontrol terhadap pinggiran.(Source: kosapoin.com/evolusi-struktur-dan-budaya-politik)

Banyak analis melihat pola ini kuat pada era: Sukarno, tapi terutama Suharto, yakni; Pada masa Orde Baru, negara sangat sentralistik: Jakarta menjadi pusat makna nasional, daerah sering diposisikan sebagai objek pembangunan, budaya lokal diseragamkan, dan kritik dianggap ancaman stabilitas. Dalam banyak kajian poskolonial, ini disebut: kolonialisme internal.(Source: kosapoin.com/evolusi-struktur-dan-budaya-politik)

Apakah Jejak Itu Masih Ada Hari Ini?(Source: kosapoin.com/evolusi-struktur-dan-budaya-politik)

Dalam beberapa aspek, ya … Misalnya: Sentralisasi ekonomi dan politik, ketimpangan pusat–daerah,
dominasi oligarki, kontrol sumber daya dari pusat, dan cara negara menghadapi wilayah adat atau pinggiran. Dan Kasusnya: Papua, konflik agraria, eksploitasi sumber daya, atau proyek strategis nasional, sering dibaca sebagai kelanjutan logika lama: pusat mengatur pinggiran demi stabilitas dan pertumbuhan.(Source: kosapoin.com/evolusi-struktur-dan-budaya-politik)

Tetapi Indonesia hari ini juga jauh lebih kompleks. Karena adanya; demokrasi, gerakan masyarakat sipil, kebangkitan identitas lokal, desentralisasi, dan kritik terhadap Jawa-sentrisme. Jadi wujud dari warisan itu tidak absolut dan terus diperdebatkan.(Source: kosapoin.com/evolusi-struktur-dan-budaya-politik)

Penting Menghindari Penyederhanaan:(Source: kosapoin.com/evolusi-struktur-dan-budaya-politik)

Yang perlu hati-hati: jangan sampai kritik terhadap “Jawanisasi kekuasaan” berubah menjadi kebencian etnis terhadap orang Jawa. Karena: banyak orang Jawa sendiri menjadi korban sistem kekuasaan, dan budaya Jawa juga sangat beragam. Bahkan dalam tradisi Jawa sendiri ada kritik terhadap kekuasaan: serat-serat mistik, ajaran kebatinan, wayang, hingga karya Goenawan Mohamad atau W.S. Rendra. Artinya: budaya Jawa tidak tunggal. Ada sisi feodal, tetapi juga ada tradisi kritik dan spiritualitas pembebasan.(Source: kosapoin.com/evolusi-struktur-dan-budaya-politik)

Kesimpulan Filosofis:(Source: kosapoin.com/evolusi-struktur-dan-budaya-politik)

Yang mungkin bertahan sampai hari ini bukan “kerajaan Mataram”-nya, melainkan; mentalitas kekuasaan, pola sentralisasi, dan logika kontrol terhadap wilayah dan rakyat. Kolonialisme modern sering bekerja bukan melalui penjajahan asing langsung, tetapi melalui; birokrasi, oligarki, pembangunan ekstraktif, dan dominasi pusat terhadap pinggiran. Karena itu banyak karya seni-politik Indonesia modern— termasuk “Pesta Babi” dan “Amangkurat–Amangkurat”— membaca sejarah Indonesia sebagai; rantai panjang perebutan kuasa antara pusat dan manusia-manusia yang hidup di pinggirnya.(Source: kosapoin.com/evolusi-struktur-dan-budaya-politik)

Sekian Terima Kasih
Bandung, 15.Mei.2026(Source: kosapoin.com/evolusi-struktur-dan-budaya-politik)

(Source: kosapoin.com/evolusi-struktur-dan-budaya-politik)


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *