kunjungan penulis pada tahun 2001 ke kediaman Adit Barli.
Kita sedang hidup di sebuah masa di mana perubahan besar datang tanpa suara, bukan melalui dentuman besar yang mengejutkan. Semuanya bergerak secara perlahan namun pasti, hingga tiba saatnya kita tersadar bahwa dunia tidak lagi sama. Dan mungkin di situlah letak masalahnya. Karena di negeri ini, sesuatu yang terlalu jauh melampaui cara berpikir umum sering kali dianggap aneh sebelum akhirnya dipahami. Persis seperti yang pernah saya tulis tentang Dody Satya Ekagustdiman: “Kita kerap terlambat menghargai orang-orang yang berjalan terlalu jauh di depan zamannya.”
Paradoks pergerakan senyap ini terasa nyata di sebuah sudut Bandung, tepatnya di Barli Art Studio, kawasan Museum Barli. Di sana, Sanga Aditya Priagana, atau yang akrab disapa kang Adit Barli, secara konsisten merawat sebuah ekosistem yang melampaui sekadar teknik artistik. Sebagai cucu maestro realisme Indonesia, Barli Sasmitawinata, Adit tidak sekadar mewarisi darah seni, melainkan memikul tanggung jawab metodologis untuk mengenalkan sistem menggambar yang fundamental kepada lintas generasi, dari anak-anak hingga dewasa.
Hari ini, Jumat, 15 Mei 2026, sebuah peristiwa penting terjadi. Kang Adit ditemani adiknya kang Wenda kedatangan tamu dari Malaysia untuk menjalin kerja sama penerbitan buku yang mendokumentasikan coretan-coretan abstraknya. Bagi pengamat yang hanya melihat kulit luar, mungkin akan muncul pertanyaan skeptis, mengapa serangkaian coretan abstrak dianggap begitu krusial untuk dibukukan? Jawabannya terletak pada esensi sosiologis-pedagogisnya. Yang sedang dibukukan bukanlah sekadar estetika visual, melainkan rekonstruksi cara berpikir dan proses kognitif di balik garis-garis tersebut. Ini adalah upaya mendokumentasikan bagaimana manusia memproses rasa menjadi bentuk.
Menariknya, ketertarikan pihak luar terhadap sistem yang dikembangkan di keluarga Barli bukanlah cerita baru. Ada benang merah sejarah yang kembali terhubung hari ini. Pada tahun 2001, Muhyiddin Yassin, yang kala itu menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Malaysia, pernah menginjakkan kaki di tempat yang sama. Ia berdiskusi panjang dengan almarhum Agung Wiwekaputra, ayah kang Adit, dengan sebuah permintaan yang cukup provokatif: meminta izin agar kang Adit ikut membantu membenahi dan melengkapi sistem pendidikan seni di Malaysia.
Di sinilah letak ironi yang memancing refleksi mendalam. Kita sering kali terjebak dalam kebiasaan kolektif yang ganjil; kita cenderung baru memercayai nilai dari milik kita sendiri setelah pihak luar memberikan pengakuan formal. Ketika di tanah air sendiri sistem pendidikan seni sering dianggap sebagai subjek pelengkap yang “kering” dan kaku, negara tetangga justru melihatnya sebagai instrumen vital untuk membangun struktur berpikir masyarakatnya.
Kita harus bertanya secara kritis, apa yang sebenarnya sedang diperjuangkan oleh kang Adit di balik meja gambarnya? Jawabannya bukan sekadar metode arsiran atau proporsi anatomi. Kang Adit sedang mempertahankan ruang kebebasan berpikir di tengah sistem pendidikan yang semakin seragam dan mekanistik. Dalam konteks sosiologis, pendidikan seni yang ia tawarkan berfungsi sebagai antitesis terhadap standardisasi yang sering kali membunuh keunikan individu.
Pendekatan kang Adit mungkin terasa “mengganggu” bagi kemapanan birokrasi pendidikan kita. Hal ini terjadi karena sistem yang hanya hidup dari kepatuhan biasanya tidak terlalu nyaman dengan keberanian berpikir kritis. Menggambar dalam perspektif Barli Art Studio adalah cara untuk hadir secara utuh dalam proses memahami, sebuah proses yang memantik empati dan keterhubungan dengan lingkungan, membangun rasa untuk lengkapi jiwa. Jika pengalaman ini diintegrasikan dengan teknologi digital secara bijak, ia akan menjadi katalisator bagi nasionalisme yang kontekstual, bukan sekadar hafalan lirik lagu wajib.

Kunjungan tamu dari Malaysia hari ini seharusnya menjadi cermin besar bagi kita. Sebagaimana bumi yang bergerak dahsyat tanpa guncangan yang terasa, sistem pendidikan seni yang dirawat kang Adit adalah pergerakan dahsyat di bawah permukaan. Ini adalah upaya menjaga kewarasan dan kemanusiaan kita di era disrupsi.
Pada akhirnya, seperti alat pada umumnya, nilai dari sebuah sistem pendidikan tergantung pada bagaimana ia digunakan. Apakah untuk menekan kreativitas agar tunduk pada pasar, atau untuk melindungi orisinalitas jiwa? Apakah untuk menghukum kesalahan teknis, atau untuk memperbaiki cara manusia memandang dunia? Melalui coretan-coretan “abstrak” itu, kang Adit Barli sedang mengingatkan kita bahwa keadilan dan nasionalisme sejati dimulai dari kemerdekaan tangan untuk menggoreskan apa yang dirasakan oleh hati. Kita hanya perlu belajar untuk “melihat” kembali, sebelum cahaya itu benar-benar diambil oleh orang lain (JBP).









